Selasa 4 Maret

Saya tertidur tidak lama setelah bus yang membawa rombongan kami dari
Asrama Haji Pondok Gede 1] memasuki jalan tol Sedyatmo. Saya memang agak
letih, karena setengah jam menjelang keberangkatan ke Asrama Haji sehari
sebelumnya, masih �berkutat� dengan laptop saya untuk menyelesaikan
bahan-bahan yang akan saya emailkan ke rekan-rekan saya yang mulai hari
itu mengadakan rapat regional bulanan dan workshop selama sepekan di
Kuta, Bali.

Saya terbangun ke tika bus sudah memasuki kompleks Bandara Udara
Sukarno-Hatta. dari belakang melintasi apron menuju Terminal A yang
selama musim haji digunakan sebagai Terminal Haji Embarkasi Jakarta dan
Jawa Barat. Bus berhenti dan menurunkan kami di pintu kedatangan,
sehingga dengan hanya menaiki sebuah tangga kami sudah sampai di pintu
ruang tunggu keberangkatan. Satu-satunya pemeriksaan yang kami jalani
sebelum memasuki ruang tunggu hanyalah pemerikasaan barang bawaan kami,
yaitu  tas tangan---yang antara lain berisi pakaian ihram yang akan
dikenakan jemaah di Bandara  King Abdul Azis, Jedah 2]---dan tas paspor
dengan peralatan Sinar X.. Pemerikasaan paspor dan pemotongan boarding
pass sudah dilakukan sebelumnya  di atas bus, tidak lama sesudah bus
meninggalkan Asrama Haji. Sedangkan penimbangan dan pembagasian koper
pakaian diurus sepenuhnya oleh Yayasan. Benda tajam yang terdeksi,
termasuk gunting dan pisau lipat, langsung disuruh dikeluarkan dan
ditahan. Kami memasuki ruang tunggu sekitar jam 5.30 petang, dua
setengah jam menjelang keberangkatan.

Sebagai seorang yang sejak 1984 sering bepergian dengan pesawat terbang
karena tugas, ruang tunggu Terminal A tidak asing bagi saya, terutama
ketika perusahan penerbangan Sempati milik Tommy Suharto sedang
jaya-jayanya. Tetapi petang itu saya seperti berada di tempat lain.
Tepat jam 8.00 malam, Boeing 747-200 Garuda yang akan membawa lebih
kurang 460 jemaah Kloter 61 DKI Jakarta---termasuk kafilah kami---ke
Jedah mulai bergerak, take-off dan membubung tinggi membelah angkasa
malam. Sepanjang penerbangan kembali perasaan aneh sewaktu-waktu
menyelimuti diri saya, seakan-akan kami sedang terbang ke suatu tempat
yang tidak berada di alam nyata.

Kami tiba di Bandara  King Abdul Azis, Jedah jam 2 dinihari waktu
setempat sesuai dengan jadwal (terdapat perbedaan waktu 4 jam antara
Jakarta dan Jedah), setelah terbang selama hampir 10 jam. Pemerikasaan
badan, buku kesehatan, paspor dan bagasi di sini ternyata tidak
�seseram� informasi yang kami peroleh sebelumnya, meskipun cukup memakan
waktu karena harus antri. Bahkan koperpun tidak dibuka sama sekali,
sehingga kekhawatiran kami bahwa rendang dan teri belado yang ditaruh
Kur  di dalam koper akan ditemukan dan ditahan imigrasi Saudi---yang
konon suka �mengobrak abrik� koper jemaah---tidak jadi kenyataan.

Setelah seluruh pemeriksaan selesai kami masuk keruangan
istirahat---ruangan yang sangat luas tanpa kursi dengan atap tinggi
berarsitektur tenda, yang dikapling menurut negara masing-masing. Kami
beristirahat di atas permadani yang diperuntukkan bagi kafilah kami
sambil menunggu waktu subuh dan saat  berihram. Di sini kami mendapat
makanan dalam boks, air kemasan dan buah dari Panitia Haji Indonesia.
Sebenarnya Bandara  King Abdul Azis bukan tempat ideal untuk berihram,
karena memang tidak didesain untuk keperluan itu. Kamar mandi merangkap
WC tempat kami mengganti seragam kami dengan pakaian ihram 3], kurang
penerangan dan kurang bersih. Karena sudah melakukan mandi sunat ihram
ketika masih berada di Asrama Haji Pondok Gede, sebagian besar jemaah,
termasuk saya, hanya berwuduk untuk salat subuh dan salat sunat ihram.

Selesai salat sunat ihram kami dikumpulkan untuk melafazkan niat ihram
dipimpin oleh ustazd pembimbing. Sekalipun selama bimbingan manasik sang
ustazd  menekankan untuk melafazkan niat yang singkat saja:
�Labaikallahuma umratan�, tetapi mungkin karena �grogi� menyaksikan
kafilah lain melafazkan niat yang panjang, ikut-ikutan melafazkan niat
yang panjang yang tidak pernah saya hapal, sehingga giliran saya yang
�grogi�. Walhasil suasana di miqat terasa cair. Hal ini mungkin juga
disebabkan  sebelumnya saya terlalu hanyut kepada romantisme pemaknaan
intelektual Iran Ali Syariati terhadap miqat: �Di Miqat  apapun ras dan
sukumu, lepaskankanlah semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari
sebagai serigala (yang melambangkan kekejaman dan penindasan), tikus
(yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya),
atau domba (yang melambangkan penghambaan)� dan di bagian lain
dilanjutkannya �Di Miqat ia mengalami kematian dan kebangkitannya
kembali�. Sementara ustadz kami hanya mengulangi hal-hal yang tidak
boleh dilakukan selama berihram.

Tidak lama kemudian kami menuju pintu keluar untuk menaiki bus-bus yang
dikirim maktab, yang akan membawa kami ke kota suci Makkah al
Mukarramah.

Saat itu matahari sudah mulai naik.

(bersambung)

Salam, Darwin

1] Seluruh jemaah haji �biasa� diharuskankan menjalani karantina selama
lebih kurang 24 jam di Asrama Haji Pondok Gede. Selain menerima Buku
Kesehatan, Paspor dan boarding pass yang dicantolkan ke Paspor, setiap
jemaah juga menerima gelang identitas haji dan living cost sebesar 1.500
real. Menurut hemat saya keharusan ini cukup baik. Sayangnya asrama haji
ini, terutama kamar-kamar tidurnya kurang terawat dan kurang nyaman
karena hanya dilengkapi kipas angin. Kamar mandi dan airnya juga agak
kotor. Sebelum memasuki Asrama Haji, Yayasan yang mengurus perjalanan
kami menyelengarakan acara singkat di Plaza Bank Mandiri. Para pengantar
hanya diperpolehkan mengantar sampai di sini. Koper-koper juga
diserahkan di sini untuk diurus oleh yayasan.  Setiap jemaah mendapat
dari perusahaan penerbangan satu buah koper, tas tangan dan tas paspor
yang biasanya digantungkan di leher.

2] Jemaah haji pemberangkatan gelombang II seperti kami yang setibanya
di Tanah Suci langsung berihram umrah haji (bagi yang memilih haji
tamattu) atau berihram haji dan umrah sekaligus (haji Qiran) dan
berihram haji saja karena sudah berumrah sebelumnya (Haji Ifrad)
bermiqat makani di Bandara  King Abdul Azis Jeddah. Sedangkan bagi
jemaah pemberangkatan gelombang I yang berziarah terlebih dulu ke
Madinah bermiqat di Bir Ali (Dzulhulaifah). Sebenarnya jemaah haji
Indonesia harus bermiqat di Qarnul Manazil yang dilewati oleh pesawat
yang mengakut jemaah. Tetapi karena berihram di atas pesawat sukar
dilakukan, MUI mengeluarkan fatwa yang memperbolehkan jemaah haji
Indonesia bermiqat di Bandara  King Abdul Azis, Jedah.

3] Pakaian ihram pria terdiri dari dua potong kain tanpa
jahitan---dusunahkan berwarna putih---yang satu dijadikan sarung, yang
lain dijadikan selendang untuk menutupi bagian atas badan, tanpa lapisan
apapun di dalamnya. Juga tidak diperbolehkan memakai tutup kepala
seperti peci, sorban dan lain-lain. Tetapi memakai payung, ikat
pinggang�jemaah biasanya mengunakan yang ada
kantong-kantongnya---dompet, cincin, kacamata dan benda-benda sejenis
diperbolehkan. Pakaiaan ihram wanita berupa busana muslim biasa yang
menutupi seluruh tubuh dengan wajah dan telapak tangan (wajib) terbuka.
Jemaah wanita tentu saja diperbolehkan, bahkan sangat �berbahaya�, jika
tidak memakai pakaian dalam.



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke