Assalamulaikum ww Koto dalam Koto Piliang berasal dari bahasa sangsekerta "Kertha" sedangkan Piliang berarti Piliahan para Hiyang (katanya sih gituuu?)
Koto Piliang bukan namo sebuah koto atau nagari tetapi sistem pemerintahan adat yang diciptakan oleh Dt. Katumangguangan 1000 tahun yang lalu yang disebut Kelarasan Koto Piliang" Sistem lainnya adalah Kalarasan Bodhi Caniago yang disusun oleh Dt. Perpatiah nan Sabatang Sistem lain yang berpusat di Padang Panjang adalah Kalarasan Nan Panjang oleh Dt. nan banego-nego sebagaimana dikatakan " Pisang sikalek-kalek utan, pisang timbatu nan bagatah, Bodi Caniago inyo bukan, Koto Piliang Inyo antah * Dibawah ini pernah di postingkan beberapa waktu lalu (so, bagi nan alun, silahakan refresh bagi nan alah, mohon maaf didilet sajo pun jadih juo) wasalam mak malin nak rang kotomarapak 4 angkek padusunan piaman laweh -----Original Message----- From: Kasmir Sent: Friday, March 28, 2003 11:38 AM To: Arman Bahar Subject: RE: from berita duka to melayu minangkabau Pak Haji...dulu Pak Haji pernah mengirim silsilah / tambo keturunan raja2 Minang Kabau , tapi setelah saya cari2 tak jumpa lagi , padahal saya simpan di Personal Folder saya bersama Mail yang ini , ini adalah Mail yang Pak Haji kirim juni 2001. Kalau Pak Haji masih ada filenya tolong dikirimi saya lagi supaya lengkap kembali perpustakaan Minang Kabau dalam file saya . Terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih banyak. Thank.. Kasmir # 13457 Process / Energy Mngt.Coord. Patin Building - P19 Phone : 24112 -----Original Message----- From: Arman Bahar Sent: Tuesday, June 05, 2001 5:46 AM To: Arman Bahar Subject: from berita duka to melayu minangkabau fyi Melayu Minangkabau (ABP) EXODUS DARI ASIA MUKA Jauh sebelum tarikh Masehi ketika orang-orang di benua Eropa masih terkebelakang, di daratan Asia telah terdapat masyarakat dengan peradaban tinggi seperti Macedonia, Mesir Kuno, Parsi, Arab, India, Mongolia dan Cina. Dataran subur Asia Muka di kawasan Campha, Kocin, Peghu, Annam dan kawasan Khasi dan Munda disebelah Tenggara anak benua India merupakan kantong2 pemukiman yang kelak dengan berbagai motivasi melakukan exodus kearah Selatan yang selanjutnya melalui proses yang sangat panjang dan sulit telah tersebar dikepulauan Nusantara dan pulau2 lain yang diapit oleh dua Samudra Hindia dan Pasifik yang kelak menjadi cikal bakal nenek moyang bangsa serumpun sementara itu perpindahan lokal terus berlangsung hingga ditemukan tanah idaman yang subur dan menjanjikan untuk kehidupan yang lebih layak. Bagi orang-orang zaman dulu puncak gunung yang tinggi, indah dan nyaman diyakini sebagai tempat yang suci sebagaimana puncak gunung Mahameru salah satu puncak pegunungan Himalaya di anak Benua Asia, puncak gunung yang sedemikian itu dianggap lebih dekat ke Nirwana tempat bersemayam Sang Hyiang Tunggal bersama para Dewata lain, untuk itu puncak yang indah seperti Bukit Siguntang dan Puncak Merapi menjadi tanah idaman. Gunung Merapi di Ranah Minang pada hari Senin tanggal 16 April 2001 jam o8:20 meletus dan menghamburkan material padat dan debu serta awan panas hingga ketinggian 3 kilometer dari puncaknya, udara yang berbau belerang yang sangat menyengat dan memedihkan mata merayap keperkampungan disekitarnya. Menurut catatan puncak Merapi yang dianggap suci ini pernah didiami oleh Dapunta Hyang beserta jemaahnya sekitar 250 tahun sebelum masehi, melalui sebuah perjalanan yang panjang dan melelahkan dengan memudiki sungai Kampar untuk mewujudkan sebuah tempat suci yang identik dengan kampung halaman yang ditinggalkan berakhir dipuncak ini sebagai tempat yang dianggap lebih dekat dengan Nirwana tempat Para Hyang dan Dewa Dewi, ber-abad2 lamanya Puncak dan Parahyangan Padangan Panjang di Lereng Merapi menjadi pusat pemujaan Sang Hyiang Tunggal hingga abad ke 5 diutus Sri Jayanaga (603 M) turun gunung melewati Sungai Dareh Pulau Punjung terus meluaskan ajaran dan pengaruh keselatan hingga ke daerah Shan Fuo Thsie (Tembesi - Muara Tembesi Jambi) dengan memudiki anak Sungai Batanghari yang berhulu dari Danau Diatas antara Solok dan Sawah Lunto Sijunjuang) dan terus ke Phoh Lan Fou Hwang (Tulang Bawang) dan Shou Lie Fho Chien (Sriwijaya). Dengan gemerlapnya Kerajaan di wilayah Selatan Pulau Andaleh ini dan mulai masuk pengaruh Islam terutama dimasa Sri Maharaja Lokitawarman (699 M) dan masuk Islam pula salah seorang pucuk pimpin ketika itu Sri Maharaja Inderawarman (730 M) yang tewas dalam suatu revolusi istana maka lereng Merapi menjadi sepi kembali. Keindahan tempat2 suci Parahyiangan Padang Panjang dan Gua2 Batu disekitar Puncak Merapi sudah tersebar hingga kepusat ajaran di Tanah Basa Anak Benua India Istana Kalingga Chalukia sehingga sang Maharaja mengirim expedisinya hingga salah satu kelompok ekspedisi berhasil menemukan Muara Sungai Kampar dan terus memudiki hingga kehulu yang akhirnya diyakini telah menemukan tanah idaman untuk pemujaan Bathara Dewa. Dengan dukungan kuat dari Istana Kaliang Gaca ini didirikan sebuah Candi di Dataran Tinggi Hulu Batang Kampar Muaro Takus. Keindahan dan kesucian Kota Lama Muara Takus mengundang Penguasa2 diselatan untuk menguasainya hingga ketenangan dan kesucian candi ini menjadi terganggu terlebih penguasa Sriwijaya yang sedang gencar melakukan ekspansionismenya, hal ini mendorong penganut dicandi ini mencari tempat idaman pemujaan yang baru. Dengan mengendarai ber-puluh2 ekor gajah yang biasa berkumpul disekitar candi terutama tiap bulan purnama, dimulailah perjalanan panjang mencari tempat pemujaan yang baru, setelah berbilang bulan dan tahun mendaki dan menuruni lembah dipegunungan bukit barisan dari jauh terlihatlah sebuah puncak yang tinggi "Sagadang Talua Itiak" sebuah harapan yang membangkitkan semangat baru untuk mencapainya yang berkat perjuangan yang amat berat ini sekali lagi Puncak Merapi mulai kembali deutnya sebagai pusat kebudayaan seperti dibunyikan dalam pituah urang tuo2 kito "Dari mano titiak palito dibaliakTangluang nan barapi, Dari mano asa niniak kito dari Puncak Gunuang Marapi" Kelompok demi kelompok exodus lain dari dekade ke dekade, baik dengan memudiki Batanghari, Kampar, Siak dan Rokan maupun dengan menyusuri sepanjang pantai Sumatera disebelah Barat mempertemukan sebagian mereka dipedalaman Pulau Andalas ini dan tentu saja terjadi pergeseran dan sekaligus penyesuaian budaya satu sama lain. Kota Suci Muara Takus semakin terkenal namun ekspansionisme Penguasa2 Sriwijaya mulai mengusik ketenangan anak negeri, mendorong untuk mencari tanah idaman baru yang lebih aman hingga pada suatu saat dibawah kepemimpinan sang Maharaja ditemukan tanah idaman baru Dipuncak Gunung Merapi dengan kehidupan yang lebih menjanjikan, selanjutnya Datuak Maharajo Dirajo mendirikan Istana Kerajaan Koto Batu Dilereng Merapi dimana ketika itu belum disusun aturan2 yang mengikat bersama, tali pengikat hanya kewibawaan dan kearifan Datuak itu sendiri. Kerajaan Minangkabau Tua yang belum bernama Minangkabau ini bertahan ratusan tahun sepanjang umur Datuak Maharajo Dirajo yang diyakini sebagai manusia Setengah Dewa yang dianugrahi umur ratusan tahun, setelah beliau mangkat pemerintahan dilanjutkan oleh Datuak Suri Dirajo Penghulu kepercayaannya. Salah seorang Janda Datuak Maharajo Dirajo yang bergelar Puti Indo Julito dikawini oleh Cati Bilang Pandai orang kepercayaan almarhum yang kemudian memboyong keluarga beserta anak2nya Jatang Sutan Balun, Puti Jamilan, Sutan Sakalap Dunia, Puti Reno Sudah dan Mambang Sutan ke Dusun Tuo Limo Kaum, selanjutnya setelah mereka dewasa Datuak Suri Dirajo bermufakat bersama staff ahli beliau Cati Bilang Pandai untuk mengangkat Sutan Paduko Basa dengan gelar Datuak Katumangguangan dan Jatang Sutan Balun dengan gelar Datuak Perpatiah Nan Sabatang serta Sutan Sakalap Dunia dengan gelar Datuak Surimarajo Nan Ba-nego2 sebagai Penghulu2 yang akan membantu beliau, keputusan ini dimufakati diatas Batu Nan Tigo dengan meminumkan air keris Si Ganjo Erah dengan sumpah setia "Bakato bana babuek baiak mahukum adia bilo dilangga kaateh indak bapucuak kabawah indak baurek di-tangah2 digiriak kumbang", Ibunda Puti Indo Julito menyerahkan pusaka keris Siganjo Erah dan Siganjo Aia serta Tungkek Janawi Haluih kepada Datuak Ketumangguangan sedangkan Datuak Parpatiah Nan Sabatang menerima keris Balangkuak Cerek Simundam Manti dan Simundam Panuah serta Payuang Kuniang Kabasaran (pertama Ranah Minang menerapkan warisan dari ibu) dan selanjutnya Istano Dusun Tuo menjadi pusat pemerintahan melanjutkan kepemimpinan Datuak Suri Dirajo yang meghabiskan masa tua di Istano Koto Batu. Mengambil tempat diatas Batu Panta mulai disusun peraturan2 pemerintahan yang selanjut dihasilkan 22 aturan yang terdiri dari 4 perangkat Undang2 Adat, 4 Undang2 Nagari, 4 Undang2 Koto, 4 Undang2 Luhak dan Nagari, 4 Undang2 Hukum dan 2 Undang2 Cupak yang kesemuanya disahkan dengan persumpahan yang masing2 meminum air keris Siganjo Erah diatas Batu Kasua Bunta di Dusun Tuo Limo Kaum. Setelah Undang2 nan 22 tersebut disahkan, di Dusun Tuo dibentuk 4 Suku dengan Pangulu masing2 iaitu Suku Caniago dipimpin Datuak Sabatang, Suku Tujuah Rumah Dt.Rajo Saie, Suku Korong Gadang Dt.Intan Sampono dan Suku Sumagek oleh Dt.Rajo Bandaro, pada saat itu juga dilantik 2 orang Dubalang iaitu Sutan Congkong Tenggi dan Sutan Balai Sijanguah kesemuanya dilantik dibawah pasumpahan Datuak Parpatiah Nan Sabatang sedangkan Datuak Katumangguangan meminumkan Air Keris Siganjo Aia. Tidak berapa lama kemudian disusul pula pembentukan 8 Suku lengkap dengan Pangulunya di daerah Pariangan iaitu Suku Piliang dipimpin oleh Datuak Sinaro Nan Bagabang, Koto Dt. Basa, Malayu Dt. Basa, Pisang Dt.Kayo, Sikumbang Dt.Maruhun, Piliang Laweh Dt.Marajo Depang, Dalimo Dt.Suri Dirajo dan Limo Panjang Dt.Tunaro kemudian disusul 5 Suku di Padang Panjang iaitu Suku Kuantan dipimpin oleh Datuak Amat Dirajo, Piliang Dt. Maharajo Basa, Dalimo Dt. Jo Basa, Piliang Laweh Dt. Indo Sajati, Dalimo Panjang Dt. Maharajo Suri kemudian disusul 6 Suku di daerah Guguak iaitu Suku Piliang dipimpin oleh Datuak Rajo Mangkuto, Malayu Dt.Tunbijo, Koto Dt.Gadang, Dalimo Dt.Simarajo, Pisang Dt.Cumano, Piliang Laweh Dt.Rajo Malano, selanjutnya 3 Suku di daerah Sikaladi iaitu Suku Sikumbang dipimpin oleh Datuak Tumbijo, Dalimo Dt.Barbangso dan Suku Koto Dt.Marajo ke 22 orang Pangulu Suku ini dilantik oleh oleh Datuak Katumangguangan sedang pasumpahan dengan meminumkan Air Keris Sampono Ganjo Aia oleh Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Setelah peresmian Suku yang 22 ini Datuak Berdua menugaskan Suku Korong Gadang untuk memelihara Batu Panta sedangkan Batu Kasua Bunta tangguang jawab Suku Tujuah Rumah dan Batu Pacaturan oleh Suku Sumagek (ketiga batu bersejarah ini sampai sekarang masih terawat dan dapat dilihat di Dusun Tuo Limo Kaum Batu Sangkar). Walaupun pembentukan Luhak Nan Tigo sudah digariskan sejak kepemimpinan Datuak Maharajo Dirajo Dipuncak Merapi namun ketegasan batas2 belum ada, maka kedua Datuak membuat ketegasan yang ditandai dengan mengeping sebuah batu menjadi 3 bagian yang tidak putus dipangkalnya yang bermakna Luhak nan Tigo berbagi tidak bercerai namun belum diikuti dengan pembagian Suku (batu ini dapat dilihat di Dusun Tuo Limo Kaum) dimana sebelum diadakan pembagian Suku untuk Luhak nan Tigo Datuak Katumangguangan memancang tanah dan membuat sebuah nagari yang kemudian diberi nama Sungai Tarab dan menempatkan adiknya Puti Reno Sudah bersama 8 Keluarga sekaligus membentuk 8 Suku lengkap dengan Pangulu iaitu Suku Piliang Sani dibawah Datuak Rajo Pangkuto, Piliang Laweh Dt.Majo Indo, Bendang Dt.Rajo Pangulu, Mandailiang Dt.Tamani, Bodi Dt.Sinaro, Bendang Dt.Simarajo, Piliang Dt.Rajo Malano dan Suku Nan Anam dibawah Datuak Rajo Pangulu yang kesemuanya dilantik di Kampuang Bendang dan selanjutnya beliau menunjuk kemenakan beliau anak Puti Reno Sudah yang bergelar Datuak Bandaro Putiah sebagai Pangulu Pucuak yang pelantikan dilakukan oleh beliau sendiri diatas Batu 7 Tapak dengan pasumpahan meminum Air Keris Siganjo Aia (Batu 7 Tapak ini bisa dilihat di rumah salah seorang penduduk di Sungai Tarab), selanjutnya Datuak Ketumangguangan memerintahkan Datuak Bandaro Putiah bersama 8 Pangulu Sungai Tarab lainnya agar disekeliling Nagari Sungai Tarab dibangun 22 Koto sebagai benteng dan kubu pertahanan antara lain 8 Koto Kapak Radai (Pati, Situmbuak, Selo, Sumaniak, Gunuang Medan, Talang tangah Guguak dan Padang Laweh), 2 Ikua Koto (Sijangek dan Koto Panjang), 2 Koto Dikapalo (Koto Tuo dan Pasia Laweh), 1 Koto Dipuncak (Gombak Koto Baru), 1 Koto sebagai Katitiran Diujuang Tunjuak (Ampalu), kemudian bersama Datuak Parpatiah Nan Sabatang menjalani Luhak Agam dengan membangun Biaro dengan pangulu Pucuak Datuak Bandaro Panjang, Baso dibawah datuak Bandaro Kuniang yang dilantik dan disumpah setia dengan meminumkan Air Keris Siganjo Erah di dusun Tabek Panjang yang selanjutnya kedua Pangulu ini ditugaskan membangun nagari2 di Luhak Agam, sedangkan di Luhak 50 Koto Datuak berdua memabngun Nagari Situjuah, Batu Hampa, Koto Nan Gadang dan Koto Nan Ampek dan melantik Datuak Rajo Nun dan Datuak Sadi Awal yang selanjutnya ditugaskan membangun nagari di Luhak tersebut. Setelah Luhak nan Tigo dibari bapangulu Datuak Perpatiah Nan Sabatang tidak mau ketinggalan dengan Datuak Katumangguangan, beliau meluaskan daerah kearah timur Dusun Tuo dengan membentuk Suku dengan pangulunya antara lain di Korong Balai Batu dibentuk Suku Sungai Napa dibawah Datuak Basa, Jambak Dt. Putiah Dibawah kepiawaian kedua Datuak Ketumangguangan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang sistem pemerintahan adat menjadi semakin kemilau bahkan hingga kedatangan Aditiawarman seorang Pangeran Mojopahit yang ingin merobah secara total sistem pemerintahan adat dinegeri ini yang tentu saja mendapat tantangan keras dari kedua Datuak tersebut Kehadiran Negarawan Mojopahit ini bukan tidak ada segi positifnya, tidak jarang kedua Datuak kita ini bersama Aditiawarman hadir di istana Mojopahit bahkan melakukan kunjungan muhibah ke istana kaisar didaratan Cina. Kalaupun corak pemerintahan ala Mojopahit pernah ingin dipaksakan diranah Minang namun tidak bertahan lama hanya setelah Aditiawarman tewas dalam suatu insiden, kembali system pemerintahan adat diterapkan kembali sebagaimana dikatakan "Luhak Dibari Bapangulu" namun sistem ini adopsi oleh Datuak Katumangguangan kedalam sistem pemerintahan adat "Koto Piliang" yang diterapkan pada sistem pemerintahan "Rantau Minangkabau" sebagaimana dikatakan "Rantau Dibari Barajo". wasalam abpiliang -----Original Message----- From: Benzuara [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, April 04, 2003 3:58 PM To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [RantauNet.Com] KOTO Dulu ambo pernah mananyoan arti koto tu, labiah kurang koto tu adolah anak dari nagari, yg didalamnya berdiam satu komunitas keluarga atau lebih , bisa juga disebut sebuah kesukuan atau komunitas perkampuangan. koto biasanya menginduk kepada kenagarian masing2. Dalam hal penamaan tergantung kesepakatan komunitas tersebut, contoh Koto Piliang yang didalamnya terdapat masyarakat piliang, atau koto baru yang merupakan perpanjangan dari koto tuo.... dsbnya. Itu menurut kesimpulan ambo pribadi, tarimo kasih. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3 =============================================== Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe, anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini. Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: http://www.rantaunet.com/subscribe.php3 ===============================================

