Assalamulaikum ww

Jiko satempo di-awanyo, lah samo kito pasorak-an bahwa "tidak benar"
terdapat busung lapar dan penderita gizi buruk (marasmus, kwashiorkor, dan
marasmic kwashiorkor) di Sumbar, lhaa iki opooo? 

Lah urang kompas bana nan manyorak-an kabakeh awak, ka basitido juo kito
tu??

Baa pangana dek sanak R/N kini tu, tibo dimato jan kito piciangkan tibo
diparuik jan pulo kito kampihkan    

Cewang dilangik tando kapaneh, gabak di hulu tando ka hujan, kilek baliuang
lah ka kaki, kilek camin lah kamuko, kok licin nyo lah balantai kulik,
taruihnyo lah badindiang camin

Lah taserak cando di nan rami lah tatabua rupo di nan rapek, bunyi nan samo
kito danga kan

Kok sorak lah kalampauan, bisiak lah samo kadangaran, cameh kito tantang
ka-anyuik, gamang kito tantang kajatuah, maminta juo ambo tantang kabuliah,
marabuik nak tibo di nan caba, kok dapek kato sasuai, nak batamu rueh jo
buku, aaaa iyo minta kito pa-bagaikan coreng nan sacoreng ko

Itulah nan dapek ambo imbaukan, kok pasan indak baunyian, pitaruah indak
baturuik-an,  kok lai kabuliah, aaa iyyoo mintak kito lampok sakaciak malu
nan sacoreng ko, sa-kurang2nyo tatutuik malu ka urang kompas

Molah kito pabagaikan, kito carikan solusinyo

wasalam
abp

-----Original Message-----
From: Z Chaniago [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, April 04, 2003 7:46 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [RantauNet.Com] DKK Bantu 968 Balita Gizi Buruk di Sumatera
Barat 
http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0304/03/dkk/218707.htm

DKK Bantu 968 Balita Gizi Buruk di Sumatera Barat
* Di Antaranya 135 Balita di Kabupaten Agam

GADIS (33) tak henti-hentinya menatap putra kesayangannya yang berhidung
mancung, namun tampak lunglai dalam pangkuannya. Balita bernama Afdhal itu
tampak tak banyak bergerak dan tak hendak merengek. Hanya diam. Melihat
kondisi Afdhal, sungguh membuat kita terenyuh dan kasihan.  DI usia 19
bulan, berat badan Afdhal hanya 4,7 kg. Padahal, saat lahir tubuhnya montok,
berat 3,3 kilogram (kg). "Seharusnya, kalau balita normal dan tidak
mengalami gangguan gizi dan kesehatan, dalam usia 19 bulan tersebut berat
badan Afdhal berkisar 9-14 kg," kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupetan Agam
dr H Saiful Sofjan MSc.

Wakil Bupati Agam H Syafruddin Arifin SH tampak tak sampai hati melihat
kondisi fisik Afdhal dan juga kondisi fisik balita-balita lainnya. Hal ini
terjadi saat penyerahan bantuan natura dari Dana Kemanusiaan Kompas (DKK)
untuk balita gizi buruk/kurang energi protein KEP) pertengahan Maret atau
tepatnya Sabtu (15/3) lalu di Nagari Lagi, Kecamatan Perwakilan IV Angkek
Canduang.

Spontan bupati merogoh dompet dan menyelipkan sejumlah uang saat menyalami
Gadis. "Bawalah berobat, dan gunakan bantuan dari DKK untuk memperbaiki
gizinya. Semoga menjadi anak yang sehat," katanya, kemudian mencium balita
Afdhal.   Tidak hanya Afdhal mengalami gizi buruk/KEP, tetapi juga banyak
balita lainnya di Sumatera Barat (Sumbar), termasuk di Kabupaten Agam. Sejak
dilakukan penyaluran bantuan DKK untuk balita gizi buruk, telah dibantu 968
anak di Sumatera Barat.

Khusus di Kabupaten Agam, dari 135 paket bantuan DKK bagi balita gizi
buruk/KEP, pemerintah kabupaten mendistribusikan untuk lima kecamatan.
Masing-masing Kecamatan Candung 25 balita, Sungaipua 25 balita, IV Koto 25
balita, Lubukbasung 25 balita, dan Kecamatan Tanjung Mutiara 35 balita.

Bantuan yang diberikan DKK kepada masing-masing balita berupa tiga ekor
induk ayam bukan ras betina, kacang hijau 2 kg, gula pasir 1 kg, dan telur
ayam 10 butir. Total bantuan senilai Rp 10,125 juta. "Khusus bantuan berupa
induk ayam betina agar jangan dipotong, tetapi peliharalah, kembang biakkan.
Bila sudah beranak pinak, sebagian gunakan untuk peningkatan ekonomi
keluarga dan juga peningkatan gizi anak dan keluarga," pesan Wakil Bupati
Agam Syafruddin Arifin.

Ia menegaskan, bantuan DKK yang berasal dari sumbangan pembaca Kompas,
sifatnya pancingan. "Dari pengalaman yang sudah-sudah, seperti yang
disampaikan wartawan Kompas mewakili DKK, sebagian besar penerima bantuan
DKK di kota/kabupaten lain di Sumbar sudah memiliki ayam puluhan ekor.
Padahal, awalnya juga tiga ekor ayam," paparnya.

Dari pengalaman yang ada, ternyata dengan adanya bantuan perbaikan gizi dari
DKK tersebut, ekonomi keluarga penerima bantuan tersebut kini meningkat,
anak balitanya pun sehat, tak lagi termasuk kategori gizi buruk atau kurang
energi protein. "Ini patut dicontoh dan bantuan ini harus disyukuri. Kami
sampaikan terima kasih atas kepedulian harian Kompas terhadap gizi anak
balita, sumber daya manusia masa depan kita," tambah Syafruddin Arifin.

WAKIL Bupati Agam itu menyadari bahwa banyak anak balita di daerahnya
membutuhkan perhatian agar tumbuh sehat dan cerdas. "Meski angka gizi buruk
atau kurang energi protein (KEP) persentasenya di bawah angka nasional, kami
perlu waspada dan memberikan perhatian, seperti memberikan bantuan makanan
tambahan," kata Syafruddin.  Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Agam
Saiful Sofjan, persentase balita gizi buruk/KEP tahun 2002 lalu sebesar 1,96
persen dari jumlah balita. Angka sebesar itu masih tergolong wajar dan belum
melebihi angka 
nasional.

"Di Agam tercatat ada 3.700 anak balita. Bila dipukul rata 2 persen, maka
ada sekitar 740 anak balita yang mengalami gangguan gizi; gizi buruk/KEP,"
katanya.   Umumnya, dan sebagian besar, balita penderita gizi buruk/KEP di
Kabupaten Agam berasal dari keluarga kurang mampu, yang terbatas
pendidikannya, miskin secara ekonomi, dan agak jauh dari akses pusat
kesehatan (puskesmas/posyandu). Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat, Dinas Kesehatan beserta jajarannya melakukan sistem
"jemput bola".

Usai penyerahan bantuan DKK, Kompas sempat berkunjung ke rumah Gadis,
orangtua Afdhal, yang menderita marasmus. Melewati jalan pematang sejauh
lebih kurang 200 meter dari jalan raya, didapatilah sebuah pondok di tengah
sawah. Itulah rumah Gadis. Ternyata orangtua Afdhal itu hidup dalam
keprihatinan.  Pondok berukuran sekitar 4 meter x 2,5 meter berdiri di atas
tanah pemilik sawah yang digarap Sahar, suami Gadis. "Kami tak punya
apa-apa. Pondok ini berdiri di atas tanah milik yang punya sawah, yang kami
garap dengan sistem bagi hasil," kata Sahar. Ia menghentikan pekerjaan saat
Kompas dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Agam berkunjung ke rumahnya.

"Afdhal yang kini mendapat bantuan, dulunya bernama Arafiq. Karena nama
Arafiq itu dinilai berat dan berdampak kepada kesehatannya, namanya kemudian
diganti menjadi Afdhal. Sekarang, meski sudah ganti nama, kondisi fisiknya
tetap lemah, kalah dibanding balita seusianya. Barangkali ini sudah suratan
Tuhan," kata Sahar. Ia tampak pasrah menerima keadaan anak balitanya.

DALAM suatu kesempatan terpisah, peneliti dan pakar gizi anak dari
Universitas Andalas Padang, dr Zulkarnain Agus MPH, mengatakan, Sumbar 
termasuk daerah yang rawan gizi. "Dari data kasar yang masih diolah,
diperkirakan, sekitar 30.000 anak balita. Sekitar lima persen di antaranya 
masuk kategori gizi buruk berat dan 40 persen ringan. Namun, yang masuk
kategori ringan ini, bila tidak mendapatkan gizi mencukupi akan jatuh ke
kategori gizi buruk tingkat menengah dan berat," ungkapnya.   Tahun 1998,
kasus gizi buruk di Sumbar-daerah yang mencanangkan "industri 
otak"- sempat menghebohkan. Jumlah balita penderita gizi buruk (marasmus,
kwashiorkor, dan marasmic kwashiorkor) waktu itu dari yang terdata mencapai
10.000, dan yang meninggal dunia lebih kurang 30 anak balita.

Bila dibandingkan angka hasil penelitian yang akan dipublikasikan dalam
waktu dekat itu, terlihat naik tiga kali lipat dari angka kasus tahun 1998. 
Artinya, pembangunan di bidang kesehatan tidak ada kemajuan.  Kepala Dinas
Kesehatan dan Sosial Sumbar dr Abdul Rival mengatakan, masalah 
gizi buruk tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan dan Sosial,
tetapi tanggung jawab bersama instansi lintas sektoral. Karena, faktor gizi
akan mempengaruhi berbagai hal seperti pendidikan, lingkungan, maupun
tingkat penghasilan masyarakat.

Ia mengilustrasikan, saking miskinnya suatu keluarga di Desa Sikilang,
Kabupaten Pasaman, sang ibu tak sanggup membayar transportasi untuk berobat
gratis ke puskesmas. Ketika dijemput dan anaknya akan dirawat inap di
puskesmas terdekat, muncul persoalan baru; anak yang di rumah makan apa.
"Hal-hal semacam ini jangan hanya dibebankan ke Dinas Kesehatan, tetapi
instansi terkait sebaiknya turut membantu," kata Abdul Rival. Ia berterima
kasih sekali atas kepedulian Kompas terhadap nasib anak balita di Sumbar.

HARIAN Kompas melalui DKK, sejak tiga tahun terakhir sudah memberikan
bantuan untuk balita gizi buruk di delapan wilayah di Sumatera Barat. 
Masing-masing di Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kota Solok,
Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten 50 Kota, Kota Padang, Kota Sawahlunto,
dan terakhir Kabupaten Agam. Total jumlah balita penderita gizi buruk/KEP
yang dibantu 968 anak balita.

Selain itu, DKK juga memberikan bantuan kepada 15 keluarga korban musibah
tanah longsor di Kota Padang, dan membantu pengobatan seorang loper koran
yang menderita suatu penyakit dan kondisinya parah di Padang Panjang, serta
membantu sejumlah panti asuhan di Padang, Kabupaten Tanah Datar, dan
Kabupaten Agam. Bantuan juga diberikan untuk 72 anak jalanan/telantar yang
kurang gizi, yang dibina rumah singgah Sakinah di Padang.

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/register.php3
===============================================
Tanpa mengembalikan KETERANGAN PENDAFTAR ketika subscribe,
anda tidak dapat posting ke Palanta RantauNet ini.

Mendaftar atau berhenti menerima RantauNet Mailing List di: 
http://www.rantaunet.com/subscribe.php3
===============================================

Kirim email ke