Asal Usul: Melepas Aceh?
KOMPAS - Minggu, 25 May 2003 Halaman: 4 Penulis: Heryanto, Ariel
Ukuran: 6133
Asal Usul
MELEPAS ACEH?
Ariel Heryanto
KARENA berkepanjangan, konflik di Aceh menjadi sangat rumit.
Tetapi di balik kerumitan itu ada dua perkara menonjol. Pertama,
persoalan materi dan keadilan. Kekayaan alam di Aceh diboyong keluar
Aceh oleh negara, dan sebagai imbalannya penindasan dan kekerasan
dibawa masuk ke Aceh.
Kedua, persoalan sebuah mitos di kalangan umum di Indonesia,
yakni nasionalisme. Pantaskah Indonesia melepaskan Aceh dengan ikhlas
dan santai? Sesantai pegawai imigrasi melayani seorang warga negara
yang ingin ganti paspor atau pindah kewarganegaraan? Banyak orang
Indonesia bersimpati pada rakyat Aceh dalam persoalan pertama di
atas, tetapi mati-matian menolak terlepasnya Aceh dari Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mengapa?
Karena soal pertama sudah banyak dibahas, berikut ini disajikan
renungan untuk soal yang kedua. Yang dipersoalkan di sini bukan kasus
Aceh itu sendiri, tetapi nasionalisme Indonesia secara umum.
***
BANYAK orang merasa seakan-akan Indonesia itu sudah ada berabad-
abad, turun-temurun diwariskan para leluhur kepada kita. Seakan-akan
ini barang "milik kita" dan sekaligus identitas utama "kita" secara
alamiah atau biologis, seperti warna kulit. Diasumsikan "kita" ini
berhak "memiliki" warisan tersebut secara utuh (termasuk Aceh, Papua,
dan seterusnya) untuk masa tidak terbatas. Maka bila ada yang
dianggap mengancam Indonesia, "kita" berhak, bahkan wajib, membela
mati-matian. Bila perlu dengan menggunakan kekerasan untuk
mengganyang "musuh" sampai hancur lebur dan turun-temurun!
Para sarjana sudah lama menyadari betapa merisaukan pandangan
seperti itu. Sutan Takdir Alisjahbana memberikan peringatan demikian
di tahun 1930-an, dan Ben Anderson tahun 1990-an. Mereka tidak anti-
nasionalisme. Bagi mereka, nasionalisme merupakan sesuatu yang indah
dan beradab, selama dipahami sesuai dengan sejarah pertumbuhannya.
Yang dinamakan "bangsa Indonesia" merupakan tekad, angan-angan, cita-
cita, atau proyek kerja sama. Mirip Sumpah Pemuda, demokrasi, atau
reformasi, semua ini semacam ikrar untuk menyambut masa depan, dan
bukan maklumat tentang masa lalu atau kini.
Akan tetapi tidak demikian pemahaman umum, apalagi dalam buku
pelajaran sejarah di sekolah. Nasion Indonesia dikisahkan dan
dihayati seakan-akan sebagai barang jadi, dan utuhnya berbentuk NKRI.
Yang diabaikan bukan saja sejarah terbentuknya Indonesia sebagai
warisan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Lebih parah lagi,
ada sebagian dari sang "kita" yang merasa punya hak lebih besar
atas "warisan" kaya raya itu dengan alasan keturunan (pribumi atau
asli/pendatang), agama (mayoritas/minoritas), peradaban
(modern/tradisional), jenis kelamin (pria/perempuan), dan seterusnya.
Akibat rancunya pemahaman itu, masih terasa hingga kini dalam
perdebatan tentang hak asasi, kewarganegaraan, dan pendidikan.
***
TIDAK semua proyek pembentukan nasion berjalan mulus dan utuh.
Pemisahan India dari Pakistan (1947) merupakan contoh yang pahit.
Tetapi ini dianggap pilihan terbaik bagi semua pihak. Tercerainya
Singapura dari Malaysia (1965) disertai air mata. Tidak terbayang
Singapura akan bertahan hidup.
Sebagai angan-angan, nasionalisme bisa menjadi kekuatan pemersatu
dan pembebasan. Tetapi juga bisa menjadi mitos yang brutal. Fasisme
Jerman merupakan contoh fanatisme nasional yang membabibuta.
Terlukanya martabat nasionalisme Jerman yang kalah perang dunia,
frustrasi terhadap kekurangannya diri sendiri, dan tekad berbenah
diri, telah melahirkan tindak kebiadaban luar biasa terhadap sebagian
dari "bangsa sendiri" yang dianggap sumber masalah.
Hampir semua kekerasan politik berskala besar punya kisah serupa
itu, termasuk Kamboja (1970-an) dan Indonesia (1960-an). Semuanya
dilancarkan demi "menyelamatkan" bangsa dari ancaman mara bahaya yang
harus dihancurkan. Serangan Amerika ke Irak, dan sekarang operasi
militer di Aceh tidak persis sama, tetapi pantas dikaji dalam
kerangka perbandingan demikian.
Banyak orang melihat serangan Amerika ke Irak sebagai ilham bagi
operasi militer di Aceh. Bukan hanya karena waktunya yang dekat,
tetapi dalam hal menolak perpanjangan perundingan, mengabaikan
pendapat umum, cara melibatkan wartawan, dan menggunakan propaganda
lewat media. Kebetulan Irak dan Aceh sama-sama punya sejarah
peradaban yang tinggi, kuatnya Islamnya, dan kekayaan sumber alam.
Tetapi ada yang menolak perbandingan demikian, karena Irak bukan
bagian dari nasion Amerika Serikat, seperti Aceh bagi Indonesia.
Setiap kajian perbandingan ada batasnya, tetapi kasus Amerika/Irak
tidak serta-merta menjadi tidak relevan.
Sewaktu menyerang Irak, Amerika merasa sedang menyelamatkan
bangsanya (dan dunia!) dari ancaman terorisme. Korban serangan 11
September 2001 bukan hanya kota, dan manusia dari berbagai
kebangsaan, tetapi harga diri sebuah nasionalisme adikuasa bernama
Amerika Serikat. Untuk membangkitkan kembali harga diri ini,
kekerasan terhadap "musuh" perlu dinyatakan dramatis di depan kamera
media massa global. Kalau sosok musuh itu masih tidak jelas, maka
dipilihlah kambing hitam yang ada, atau dibuat seakan-akan sudah
jelas. Tidak kebetulan, yang dijadikan musuh utama Amerika adalah
bekas "orang sendiri" dari Perang Dingin melawan Komunisme: Osama bin
Laden dan Saddam Hussein.
Karena kuatnya salah kaprah paham nasionalisme di negeri kita,
bisa dimaklumi bila tuntutan berpisah dari Indonesia (biar pun secara
nonkekerasan) dianggap lebih menyakitkan daripada usaha merebut
pemerintahan di Jakarta tanpa mengancam keutuhan Indonesia. Agaknya
inilah alasan pemerintah Megawati merestui serangan ke Aceh, walau
mengecam serbuan Amerika ke Irak. Demi mitos yang sama, masyarakat
yang kritis terhadap pemerintah Megawati tidak bersemangat mengecam
TNI, apalagi membuka pos pendaftaran sukarelawan perang membela
rakyat Aceh. *
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke:
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================