|
Saat batin (nurani) dunsanak merasakan sesuatu di
hati (dada): Ketika kisanak berniat memahami (memeriksa) alam
terkembang:
atau GUNAKAN ETIKA, PAKAILAH LOGIKA atau KERJAKAN ZIKIR, FUNGSIKAN FIKIR atau MILIKI IMTAK, RAIHLAH IPTEK atau AQIM USSHOLATA WA ATUZ ZAKATA atau AMANU WA AMILUS SHOLIHATI atau HABLUM MIN ALLAH WA HABLUM MIN AN NAS Nenek moyang kita merealisasikan sunatullah yang serba
nan Dua atau syarat atau cupak nan Duo (cupak asli dan cupak buatan) ini menjadi
"nan Empat" atau kato nan Ampek
Inilah yang sehari-hari disebut sebagai "adat" yang perlu diketahui oleh anak
kemenakan.
Cupak asli berada di dada, cupak buatan diletakkan di
kepala.
Disebut sebagai "cupak asli" karena perasaan atau raso setiap pribadi
manusia, takarannya berbeda antar tiap manusia. Setiap orang memiliki takaran
sendiri-sendiri. Dahulu dalam pergaulan sehari-hari tak seorangpun para orang tua-tua kita
sudi disebut sebagai "Orang yang tak tahu di nan Ampek" ; atau hidup yang tidak
memakai "kali-kali". Angka adalah "nan Benar" yang ditampakkan Tuhan kepada manusia, dan tak ada
manusia yang menolak kebenaran sang bilangan angka tersebut. Bilangan 4 merupakan angka yang dipilih nenek moyang kita untuk menetapkan
klasifikasi dialektika, logika, sistematika segala sesuatu yang ada di alam
terkembang ini. |
header?VID=5905&LHIG=1
Description: Binary data
<<latar2.gif>>

