http://www.kompas.com/utama/news/0306/07/213727.htm
Dukung RUU Sisdiknas
Sejuta Umat Akan "Kepung" Gedung DPR 10 Juni


Surabaya, Sabtu

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Prof Dr Dien Syamsudin
mengatakan, sekitar sejuta umat dari berbagai yang dimotori ormas-ormas
Islam akan "mengepung" Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta pada 10 Juni
mendatang untuk memberikan dukungan terhadap pengesahan Rancangan
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU Sisdiknas).

"Sebanyak sejuta umat, bahkan mungkin lebih akan mendatangi Gedung DPR guna
memberikan dukungan dan tekanan kepada para wakil rakyat (anggota DRP RI)
agar RUU Sisdiknas segera disahkan, tidak ditunda-tunda lagi," katanya saat
Tabligh Akbar Mendukung RUU Sisdiknas di Stadion Gelora Delta Sidoarjo,
Jatim, Sabtu (7/6) petang.

Menurut salah satu Ketua PP Muhammadiyah ini, kalau DPR nanti berniat
menunda, karena ada salah satu fraksi yang menolak, maka sejuta umat
tersebut akan terus bertahan di Gedung DPR, bahkan jika perlu akan menginap.

Ia menyatakan bahwa sejuta umat itu akan berkumpul terpusat di Parkir Timur
Senayan, selanjutnya melakukan long march menuju Gedung DPR/MPR di Jalan
Gatot Subroto.

Dukungan umat Islam terhadap RUU Sisdiknas itu, kata Dien, karena muatan
dalam RUU Sisdiknas, terutama yang berkaitan dengan pendidikan agama bagi
peserta didik sesuai agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang
seagama, sebenarnya sudah sangat tepat, dan sesuai dengan nilai-nilai luhur
Bangsa Indonesia, UUD 1945, Hak Asasi Manusia dan pluralisme.

"Agama itu tidak bisa dipisahkan dengan negara. Mereka yang menolak dengan
argumen bahwa negara terlalu intervensi ke dalam agama adalah mereka yang
a-historis dan bertentangan dengan Pancasila, sila pertama Ketuhanan Yang
Maha Esa. Agama di negara Indonesia ini mendapat tempat terhormat dalam
Pancasila," tegasnya.

Tabligh Akbar di Sidoarjo itu dihadiri sedikitnya 50 ribu orang dari
beberapa elemen masyarakat, khususnya ormas dan organisasi kemahasiswaan
Islam di Jatim, seperti Muhammadiyah dan Persis, Al-Irsyad, ICMI, KAHMI,
KAMMI, HMI, Aisyiyah Jatim dan puluhan organisasi lainnya. (Ant/ima)
--------

http://www.kompas.com/metro/news/0306/10/081259.htm
Demo Sisdiknas Memuncak Hari Ini
* Sekitar Gedung DPR Rawan Macet

Senayan, Warta Kota

 Hari ini, Selasa 10 Juni 2003, Gedung DPR Senayan akan diserbu massa dari
Forum Ukhuwah Islamiyah MUI yang mendukung disahkannya RUU Sisdiknas.
Sementara massa penolak Sisdiknas juga akan melakukan hal serupa.

 Hingga Senin (9/6) pukul 22.00, beberapa lembaga/kelompok massa sudah
mendaftarkan diri ke polisi, untuk berunjuk rasa di DPR hari ini. Mereka
antara lain  MUI, PB HMI, Muhammadiyah, Universitas Islam Yasri, Pelajar
Tarakinta Pluit, Pelajar  TK Stela Maris, FAM UI, PRD, siswa-siswa
Muhamadiyah Jakarta Barat, dan SMK  Bina Insan Mandiri.

 Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Prasetyo, menyatakan polisi akan
melakukan pengamanan dan pelayanan bagi siapa pun yang berunjuk rasa, asal
sebelumnya sudah memberitahu polisi.

 Berapa jumlah personel yang diturunkan, Prasetyo mengatakan itu tergantung
situasi di lapangan. "Kalau yang demo ribuan tapi tertib, jumlah personel
kita tidak perlu  banyak. Tapi kalau yang demo sedikit tapi urakan, tentu
dibutuhkan banyak  personel," ujar Prasetyo.

 Gelombang unjuk rasa yang disponsori oleh MUI ini dikemas dalam aksi sejuta
umat guna mendukung disahkannya RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
Jalan-jalan di sekitar Gedung DPR akan dipenuhi oleh massa, terutama Jalan
Gatot  Subroto.

 "Besok (maksudnya hari ini), kami jadi melakukan aksi. Kami berkumpul di
Parkir  Timur Senayan pukul 7 pagi," kata Presiden Partai Keadilan (PK)
Hidayat Nur Wahid  kepada Warta Kota kemarin.

 Menurut dia, tidak ada alasan rasional untuk menolak pengesahan RUU
tersebut.  Karena, semua yang tekandung dalam RUU itu sudah sesuai amandemen
UUD  1945,  Pancasila, prinsip demokrasi, penegakan HAM, pluralisme, dan
toleransi  beragama.

 "RUU ini juga memberi pilar kokoh untuk integrasi bangsa, pencerdasan anak
didik  yang berakhlak dan berbudi luhur," ujarnya.

 Ia mengatakan, pasal-pasal RUU ini telah selesai dibahas dan disepakati di
tingkat  panja, komisi dan fraksi, kecuali pada Pasal 3 dan Pasal 4.
"Mukadimah dan pasal  31 cenderung disepakati jalan keluarnya. Kalau hanya
dua pasal itu yaitu pasal 3  tentang fungsi pendidikan dan pasal 4 tentang
tujuan pendidikan, itu artinya  membiarkan arah pendidikan tidak menentu.
Jadi kami mendesak disahkan RUU  tersebut," tegasnya.

 Meski sudah melapor akan berunjuk rasa, tapi sumber dari kelompok yang
menolak  RUU Sisdiknas mengatakan, mereka tidak berunjuk rasa hari ini.
Kelompok yang  selama ini paling gencar menolak RUU ini, yakni Masyarakat
Perihatin Pendidikan  Nasional, juga tidak akan berunjuk rasa.

 "Tapi saya tak tahu alasan mereka tidak beraksi. Saya juga tidak tahu sikap
kalangan elemen gerakan mahasiswa dan pemuda," kata sumber ini.

Kebanjiran tamu

 Kemarin juga, di DPR berlangsung konsultasi antara DPR dan Depdiknas untuk
menyikapi apakah RUU ini disahkan sesuai jadwal 10 Juni atau  ditunda lagi.
RUU  Sisdiknas yang melahirkan pro-kontra di masyarakat ini telah dua kali
ditunda, yaitu  2 Mei dan 20 Mei 2003.

 Ketua DPR Akbar Tandjung kemarin juga kebanjiran tamu yang mewakili
pihak-pihak  yang pro maupun yang kontra RUU Sisdiknas. Selain delegasi dari
PK, juga tampak  delegasi dari Komite Musyawarah Ummat Kristiani Indonesia
yang dipimpin mantan  Menko Ekuin Radius Prawiro dan mantan Menkeu JB
Sumarlin. Juga terlihat  delegasi dari DPP Generasi Muda Buddhis Indonesia
(Gemabudhi)  dan Forum  Masyarakat Katolik.

 "RUU Sisdiknas ini kami nilai masih kurang mampu menampung apa yang
dikendaki  rakyat, bahkan terkesan akan ada masalah di kemudian hari yaitu
tidak tertutup  kemunginan terjadi desintegrasi bangsa," kata Radius usai
bertemu Akbar.

 Oleh karena itu, Radius berharap ada kearifan dari DPR untuk menunda
pengesahan  RUU tersebut. "Dan juga perlu ada sosialisasi terhadap
butir-butir materi yang sudah  disepakati," ujarnya.

 Sementara Gemabudhi menyatakan dukungannya terhadap RUU tersebut. "Dasar
pemikiran yang melandasi RUU ini telah memenuhi asas pluralisme, adil, dan
proporsional sesuai amanat UUD 1945, GBHN, HAM, dan antidiskriminasi," kata
Ketua Umum  Gemabudhi, Ponijan Liaw. (ink/akn/wip)






RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke