Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ketika membaca undangan pernikahan nakan Z. Chaniago dan kemudian nakan
Yul, saya jadi ingat cerita garah-garah anak muda mengenai anak daro dan
marapulai yang saya coba untuk menggarapnya dengan serius dengan setting
masyarakat Minang di Sumatera Barat akhir tahun limapuluhan (pasca
peristiwa PRRI) di sebuah desa di lereng Gunung Merapi, yang pernah saya
kirim ke beberapa milis akhir tahun 2002 yang lalu.

Saya juga mengisahkan bagaimana sulitnya merantau ke Jawa ketika itu,
harus diskrening dan jadwal kapal tidak tentu. Sekalipun demikian,
jumlah anak-anak muda yang hendak merantau tidak berkurang. Malah rasa
tertekan karena �dijajah� tentara dari Jawa semakin mendorong mereka
untuk meninggalkan kampung halamannya.

Berikut ini saya sajikan �mini seri� 4 sekuel  tersebut yang saya tulis
sebelum menunaikan ibadah haji, serta "diperhalus" seperlunya, bagi
nakan Z. Chaniago, nakan Yul dan seluruh sanak, anak dan kemenakan di
Palanta.

Mudah-mudahan nakan Z. Chaniago dan anak daronya,  nakan Yul dan anak
daronya, para pengantin baru lainnya, atau pengantin lama yang selalu
merasa baru lainnya sempat dan tertawa membaca �mini seri� tersebut, dan
mohon maaf jika ada ungkapan-ungkapan yang kurang berkenan.

Bagi sanak, anak  dan kemenakan yang sudah pernah membaca "mini seri"
ini di milis lain mohon dihapus saja.


Depok, 15 Juni 2003

Wassalam

H. Darwin Bahar gelar Sutan Bandaro Kayo, 59 menjelang 60
(Lahir di Padang Panjang, tanggal 22 Juli 1943)
Suku: Panyalai
Isteri: Hj. Kurniah Darwin, 54 tahun, asal Cilimus, Kuningan, Jawa
Barat, dan sudah hampir 37 tahun---meminjam istilah Ajo Duta---"sekasur
seselimut".


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke