----- Original Message ----- From: "nor arto" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Tuesday, June 17, 2003 10:15 AM Subject: [perspektif] Aceh Ceritamu Kini
> Ini email dari Wahyu 'Komang' Dhyatmika, mantan > anggota AJI Sby, adik kelas di Komunikasi Unair Surabaya, yang kini > jadi wartawan Tempo Jkt. Ia pekan lalu pulang dari Aceh. Seperti > diketahui, liputan Tempo 'bermasalah' karena sempat menulis 7 pemuda > yang ditembak mati di sana adalah warga sipil. Wartawannya kemudian > berurusan dengan aparat atas tuduhan 'TNI salah tembak' itu. Demi > keamanan, mereka segera ditarik ke Jakarta.... > > > Kisah reportase-ku di Aceh yang sampai ke telingamu, jelas sudah tak > akurat lagi. selain bukan dari tangan pertama, bumbu-bumbu heroisme > pastilah sudah ditambahkan di sana sini, untuk membuat kisahnya makin > mengharu biru. Itu biasa. seperti kabar lainnya, semakin jauh dari > penutur asalnya, makin kabur faktanya. > > Jo, aku sendiri merasa gagal bertugas di Aceh. Bayangkan Jo, setiap > hari melihat orang menangis kehilangan keluarganya, meratapi rumahnya > hangus terbakar, dan menahan perih perut yang lapar karena dipaksa > mengungsi. Dan, apa yang bisa kulakukan? tidak ada Jo, tidak ada. > Menulis? > > Aku sudah coba Jo. Aku tuliskan semua yang aku lihat dan aku dengar. > Tapi, itu ternyata tidak menyelesaikan masalah. Ketika tujuh pemuda > kampung ditembak di Matangmamplan, Peusangan, aku tulis beritanya. > Tapi apa yang terjadi? tentara masuk ke kampung itu, mencari siapa > warga yang bertutur pada wartawan. Mereka mengambil satu orang, > mengajaknya ke markas tentara dan menyodorkannya pada wartawan yang > lain. "Nih lihat. Orang ini yang katanya saksi mata. ternyata dia > tidak melihat sendiri penembakan itu. Berita kalian boong!" > > Ketika keesokan harinya, aku kesana lagi. Semua pintu rumah warga > terkunci. tak ada lagi yang berani ngomong ke wartawan. pernah, aku > masuk ke sebuah kampung di Peudada, Bireuen. Di sana, seorang suami > dan ayah dua anak balita ditembak mati tentara. peluru menembus > kepalanya. tiga warga sisanya dipukuli sampai babak belur. BABAK > BELUR, JO! aku liat sendiri mereka di rumah sakit. tergeletak, > mengerang-erang, marah, sedih dan tak berdaya. > > Apa yang terjadi? tentara mengirim tim sekali lagi ke kampung itu. > Mengakui ada pemukulan, tapi laki-laki yang ditembak, menurut > mereka, pemberontak yang mau melarikan diri. Melarikan diri > bagaimana? wong istrinya sendiri mengaku, suaminya sudah babak belur > sejak di rumah. berjalan pun sudah tidak bisa! mau melarikan diri > bagaimana, Jo? > > Istrinya, tersedu sedan, cerita semua. Dia berani cerita, sambil > berharap, kesaksiannya akan membuat kematian suaminya diusut tuntas > dan pembunuh kekasihnya itu diadili. Dia berharap besar pada kami, > wartawan2 yang hari itu mewawancarainya. > > Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa, Jo. Wajah si ibu itu masih > lekat di kepalaku. juga wajah korban yang lain. seorang perempuan > muda, yang rumahnya diobrak-abrik tentara. katanya, mereka numpang > menginap, tapi seisi rumah jadi porak poranda, ayam peliharaan > mereka dipotong begitu saja, persediaan beras mereka habis, pakaian > dibawa semua. Menangis, Jo! semua orang yang kami wawancarai > menangis... > > Bayangkan, kamu masuk ke sebuah kampung, yang baru saja dilewati > operasi tentara. begitu mobil kamu sampai, semua warga keluar rumah, > menyambut kamu dengan sedu sedan, dengan tangis, dengan sumpah > serapah kekecewaan. > > Mereka memeluk kamu seperti kamu juru selamat mereka. memeluk kamu, > Jo! betul-betul memeluk kamu sambil berharap... > > Setiap hari di Aceh, seperti di neraka. emosimu digulung-gulung, naik > turun. > > Ketika aku diperiksa polisi militer di Lhokseumawe, mereka bilang > beritaku tidak akurat karena sumberku kebanyakkan orang GAM. Lalu apa > karena mereka GAM, lalu kesedihan mereka tak layak dapat halaman > surat kabar? Penderitaan mereka jadi sah? Apa karena mereka > memberontak, melawan pemerintah yang sah, mereka juga jadi sah untuk > dipukuli, ditembaki, dihardik, dicerca? > > Iya, Jo. Sumpah, sampai sekarang aku belum jadi apa-apa. > > Ketika tekanan tentara menguat, aku malah lari ke jakarta. Ketika > polisi militer mencari-cari aku, mau diperiksa entah untuk yang > keberapa kali, aku ngabur terbirit-birit ke jakarta. > > Lupa pada tangisan istri yang suaminya ditembak tentara di depan > kepalanya sendiri. lupa pada keluhan guru, yang tak bisa mengajar > muridnya karena diancam GAM. lupa pada anak-anak sekolah yang > terpaksa ujian di meunasah, karena gedung sekolah mereka dibakar. > anak-anak kecil, umur 7 tahun, yang wajah kecilnya sangat lugu dan > tak berdosa, yang bahkan tak berani lagi mengenakan seragam merah > putih, tapi tetap nekat ikut ujian sekolah... > > Aku melupakan semua itu, jo. aku lebih mementingkan diriku sendiri. > Ya Tuhan, Jo, mereka meregang nyawa di Aceh sana. menunggu siapapun > yang bisa menolong mereka. tapi, aku malah lari, tanpa berani > menoleh sedikit pun,pucat pasi dengan jantung berdebar... hanya > karena ancaman akan diperiksa polisi milliter... > > > selalu, > wayoyu99 > > _________________________________________________________________ > STOP MORE SPAM with the new MSN 8 and get 2 months FREE* > http://join.msn.com/?page=features/junkmail > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> > Get A Free Psychic Reading! Your Online Answer To Life's Important Questions. > http://us.click.yahoo.com/Lj3uPC/Me7FAA/ySSFAA/IotolB/TM > ---------------------------------------------------------------------~-> > > Perspektif Mailing List > http://www.perspektif.net/milis > > Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ > > > RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

