Ass,w,w. Sekedar tahu sajo tentang Nagari kami Suliek Ayie, berikut ambo sampaikan tulisan nan pernah dimuek di Mingguan Padek Edisi Rantau, 1~8 Juni 2003 nan lalu nan alah ambo edit/sempurnakan dengan menambah disana-sini data nan paralu diketahui, maaf formatnya agak berantakan, karena file ini tadinya sudah dalam bentuk Microsoft Frontpage nan ambo insert/copy ka emil ko. Silahkan ka dunsanak nan mampunyo'i data Profil Singkat Nagari nyo masiang2 untuak di lewa kan ka Palanta kito ko, untuak kito ketahui bersamo.
Wass, M.St.Bangsawan Pusri Palembang PROFIL SINGKAT NAGARI SULIEK AYIE Suliek Ayie merupakan nagari yang paling antusias menyambut sistim pemerintahan "Kembali ke Nagari" di Kabupaten Solok, dimana sebelumnya sistim pemerintahan memakai sistim pedesaan (Desa). Bahkan, jauh sebelum wacana ini marak diketengahkan, justru masyarakat nagari di Kecamatan X Koto Diatas ini telah menggubrisnya, terutama para perantauannya. Memang, jalannya tidak mulus, sempat terjadi pro dan kontra dengan warga yang berada dikampung. Namun, setelah warga rantau - kampung mengadakan acara tatap muka langsung. dicapai kesepakatan untuk Kembali ke Nagari. Malah, Suliek Ayie dinilai amat berhasil dalam program ini, dibanding 3 nagari lainnya yang dijadikan Pilot Project oleh GTZ Jerman, yaitu : Gantung Ciri, Sumani dan Alahan Panjang. Kronologisnya, 16 September 1998 DPP SAS menyelenggarakan diskusi di Hotel Wisata Jakarta, bertema "Mengembalikan Status Desa Menjadi Nagari dalam rangka Membangun Kampung Halaman". Salah seorang Bundo Kanduang Suliek Ayie (alm) Dahniar Zen dilaporkan sempat mengungkapkan keprihatinannya. Sejak Suliek Ayie terpecah menjadi 9 Desa, sistim budaya-adat kian redup, mamak-kemenakan kurang berinteraksi dan lainnya, yang ditakuti di Suliek Ayie bukan lagi para pangulunya, melainkan polisi. Nada keprihatinan itu, disikapi positif oleh Tokoh Muda Suliek Ayie DR. Heppy Bone. Dia menyatakan sejak berlakunya UU No.5 Tahun 1979 di Sumbar, tercipta masyarakat Minang yang ambivalen. Yaitu, masyarakat yang tak punya jati diri budaya, terpecah-pecah dan tak punya pendirian. Sebab, UU tersebut memang hanya untuk menjadikan suatu pemerintahan betul-betul sentralistik. Hanya saja, ketika hasil diskusi diteruskan pada KAN Suliek Ayie, terjadi penolakan sebagian Kades dan Pemangku Adat, untuk berpemerintahan Nagari ini. Makanya, polemik ini dibawa kedalam Mubes SAS XV, yang hasilnya setuju Kembali ke Nagari. Mubes tahun 1999 di Suliek Ayie ini, 2 tahun kemudian telah mencetak Wali Nagari Suliek Ayie (alm) Ir. H. Nasrul Muluk (*). Pelantikan Nasrul Muluk menjadi Wali Nagari Suliek Ayie, malah terkategori paling meriah dibanding di nagari lainnya di Kabupaten Solok - Sumbar. Secara keseluruhan, pemerintahan Nagari di Sumbar berjumlah 82 nagari. Sebahagian besar sudah resmi dilantik Wali Nagarinya. Tiga termeriah penyelenggaraan pelantikan Wali Nagarinya, adalah : Pelantikan Wali Nagari Kenari Kecamatan Bukit Sundi, Wali Nagari Koto Baru Kecamatan Kubung dan pelantikan Wali Nagari Sulit Air Kecamatan X Koto Diatas. Yang mengagumkan, acara pelantikan dihadiri oleh semua 9 Kades yang sudah dilebur yang terdiri Desa : Duo Koto, Gando, Silungkang, Tigo Korong, Talago Laweh, Bali, Gunung Merah, Linawan dan Rawang serta menelan dana sebesar Rp. 25 juta. PROFIL NAGARI Wali Nagari : Pjs, Drs. H. Irdizon (sebelumnya, alm. Ir. H. Nasrul Muluk). J o r o n g : 14 Jorong terdiri dari : Koto Tuo, Koto Gadang, Gando, Silungkang, Sarikieh, Batu Galeh, Taram, Kunik Bolai, Siaru, Basung-Alai, Limo Puruik, Linawan, Rawang, Talago Laweh. L u a s : 180 KM persegi. L o k a s i : 14 KM dari persimpangan Danau Singkarak ke arah kanan naik ke atas bila kita dari Solok menuju Padang Panjang. P e n d u d u k : 14 ribu jiwa menetap di kampung, 80 ribu jiwa berada di rantau. S u k u : 4 Suku terdiri dari : Limo Panjang, Limo Singkek, Simabur dan Piliang. Jumlah Pemangku Adat : Suku Limo Panjang = 26 orang, Suku Limo Singkek = 38 orang, Suku Simabur = 26 orang, Suku Piliang = 25 orang. Total = 115 orang. Mata Pencaharian : Tani, Dagang, PNS, Swasta, Home Industri. Hasil Tambang : Batu Bara, Tembaga. Lembaga Keuangan : BPR Katialo, BRI Sulit Air, KUD Sulit Air. Lembaga / Yayasan : Yayasan Ratna Jamal, Yayasan Haji, Yayasan Gunung Merah, Yayasan PSA Sulit Air. Organisasi : SAS (Sulit Air Sepakat, organisasi untuk orang tua/dewasa yang sudah berkeluarga), IPPSA (Ikatan Pemuda Pelajar Sulit Air, organisasi untuk Remaja, Pemuda & Pelajar) Tempat Wisata : Gunung Merah Putih, Jonjang Saribu (Jenjang beranak tangga Seribu yang menuju ke Gunung Merah Putih), Rumah Gadang 20 Ruang, Mesjid Raya, Titi Bagonjong, Batu Galeh, Lubuak Uwok, dll. Ketua KAN : Nasrul Dt. Majo Indo. Ketua DPP SAS : H. Zulherfin Zubir. (Disempurnakan dan dikutip dari Koran Mingguan Padang Ekspres Edisi Rantau, Minggu, 1-8 Juni 2003) Catatan : (*) alm.Ir.H.Nasrul Muluk adalah pensiunan Assisten III Walikota Jakarta Timur yang merupakan Wali Negari yang pertama yang dipilih Warga di Nagari Suliek Ayie yang meninggal September 2002 yang lalu. RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

