Bersahabat Selamanya
Publikasi 27/06/2003 09:27 WIB
http://www.eramoslem.com/artikel/muslimah/306/27092726,6818,1,v.html


eramuslim  -  Sewaktu  masih kanak-kanak, setiap selesai shalat shubuh berjamaah di 
masjid, aku dan saudara-saudaraku sering melakukan jalan-jalan pagi. Hanya di waktu 
pagilah udara di kota Jakarta masih bisa dikatakan bersih, karena belum banyak 
kendaraan yang lalu lalang, dan matahari bahkan belum memperlihatkan cahayanya serta 
debu-debupun belum banyak beterbangan. Di sebuah kantor polisi kecamatan kecil yang 
berada di tikungan perempatan patung Pancoran, aku selalu memperlambat langkahku 
karena daerah itu adalah daerah yang aku sukai. Kenapa? Karena di situ, di sepanjang 
pagar kantor polisi itu ditanam berjajar pohon kemuning. Setiap pagi, wangi bunga 
kemuning dari jajaran rumpun pepohonan itu menyapa ramah hidung dan menambah perasaan 
damai. Lupa dengan jajaran gedung bertingkat yang ada di sekitarnya, atau jajaran 
warung kaki lima yang masih tampak tertutup dengan sangat tidak rapih, aku selalu 
membayangkan sedang berjalan di taman bunga. Hmm? Subhanallah, wangi sekali.
Menerbitkan sebuah cita-cita kanak-kanak, bahwa kelak jika sudah menikah dan punya 
rumah sendiri, aku akan menanam rumpun pohon kemuning di sepanjang pagar rumahku.

Sekarang, ketika aku sudah memiliki keluarga sendiri, juga rumah sendiri. Setiap pagi 
sebelum berangkat ke masjid untuk shalat shubuh, aku selalu memuaskan hidungku untuk 
menghirup wangi kemuning yang rumpun pohonnya aku tanam di halaman rumahku yang 
mungil. Yup, alhamdulillah mimpi kanak-kanakku telah terwujud. Ada serumpun pohon 
kemuning di halaman depan rumahku. Setelah puas menghirup wangi bunganya yang seperti 
wangi sedap malam hanya lebih halus sedikit, berdua dengan suamiku kami bergegas 
menuju masjid saban shubuh.
***
Masjid di dekat rumahku itu jaraknya lumayan jauh sebenarnya. Tapi jarak jauh itu 
tidak terasa jauh karena aku dan suamiku sangat menikmatinya berdua sebagai waktu 
khusus untuk berkomunikasi lebih akrab di banding waktu yang lain, lepas dari masalah 
kerutinan pekerjaan kantor atau rumah tangga, lepas dari masalah hubungan dengan rekan 
kerja atau tetangga atau keluarga bahkan anak-anak sekalipun. Tidak harus dengan 
untaian kata-kata, karena komunikasi tidak selamanya berbentuk untaian kalimat. Itu 
sebabnya perjalanan jauh menuju masjid favorit itu sangat kami nikmati. Masjidnya 
sendiri, adalah masjid sederhana yang tidak terlalu besar. Biasanya, anggota jamaah 
yang melakukan shalat shubuh di masjid tersebut selalu bisa dihitung dengan jari, 
karena yang datang memang orangnya itu-itu saja setiap pagi, termasuk di dalamnya 
empat orang kakek yang bersahabat akrab.

Sejak  dua  tahun  yang lalu, ketika aku pertama kali datang untuk shalat di masjid 
itu setelah aku tiba di Indonesia dan kembali menetap di negeri ini, aku selalu kagum 
pada persahabatan keempat kakek-kakek tersebut. Mereka bertemu dalam suasana mesra dan 
bersenda gurau dengan akrab. Kadang, secara bergantian mereka saling memperhatikan 
bacaan tilawah temannya, atau diskusi dengan suara pelan sambil membuka buku agama 
yang terlihat sudah usang dan mulai berwarna tanah. Tapi kadang mereka hanya duduk 
berkumpul dalam diam mendengarkan suara qori yang mengalun dari radio dan dipancarkan 
lewat pengeras suara masjid sambil menunggu adzan shubuh bergema. Kebersamaan dan 
pertemuan itu rasanya sudah memiliki arti yang sangat spesial bagi mereka, bahkan jika 
pertemuan yang terjadi itu tidak menghasilkan percakapan yang bermutu sekalipun karena 
semuanya larut dalam diam, tetap saja pertemuan keempat sahabat itu berarti bagi 
mereka. Karena dengan adanya kesempatan bertemu masing-masing
tahu bahwa semuanya masih dikaruniai nikmat sehat dan hidup sampai hari pertemuan itu.

Dua tahun berlalu sudah hari ini. Kini, keempat sahabat itu hanya tersisa dua orang. 
Dua orang rekan mereka telah mendahului rekan lainnya pergi menghadap sang Khalik. 
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kakek itu tinggal berdua kini. Berdua mereka saling 
membantu karena usia tua telah mencabut beberapa kenikmatan yang dimiliki oleh mereka 
yang berusia muda. Jalan yang tidak lagi gagah, punggung yang membungkuk, lutut yang 
gemetar menahan berat tubuh, telinga yang tidak lagi bisa mendengar dengan jelas serta 
mata yang mulai tidak awas. Meski semua kenikmatan usia muda sudah semakin berkurang 
mereka miliki, keduanya tampak tetap saling membantu satu sama lain (atau bahkan kian 
akrab dan mesra?). Aku sering terharu melihat keakraban dan kemesraan kedua orang 
kakek yang kini tinggal bersahabat berdua.
***
Pagi ini, setelah hampir sebulan lamanya aku tidak pernah datang ke masjid itu karena 
masalah kesehatan yang terganggu, aku datang lagi dan mendapati kakek tua itu tampak 
seorang diri. Sendiri termenung mendengarkan kaset murattal yang diperdengarkan 
melalui pengeras masjid. Dari seorang nenek yang ada di sampingku, aku mendapat kabar 
bahwa sahabat terakhirnya telah meninggal dua minggu yang lalu. Aku sedih membayangkan 
perasaan kehilangan kakek itu. Tentu sangat menyedihkan kehilangan sahabat yang kita 
sayangi. Setelah merasakan kedekatan bertahun lamanya bersama, berbagi suka dan duka 
bersama, melihat kepergian orang yang kita cintai adalah sesuatu yang sangat berat 
terasa di dada dan sangat menyedihkan perasaan. Tanpa sadar aku menatap kakek yang 
duduk menyendiri di sudut masjid seorang diri itu hingga sebuah sentuhan halus dan 
hangat terasa menyentuh pergelangan tanganku.

"Senang sekali bertemu denganmu lagi." Seorang nenek tampak dengan cepat mengucapkan 
kalimat pendek padaku sebelum dia konsentrasi melakukan wiridnya. Barulah setelah 
dengan wiridnya, ketika hikmah kehidupan singkat dibicarakan oleh ustad masjid, si 
nenek menghampiri aku sekali lagi. Aku sedang bersiap-siap untuk segera pulang. Kali 
inipun, dia memegang pergelangan tanganku erat sekali setelah aku menyalaminya untuk 
pamit pulang.
"Nak? Kemana saja selama sebulan ini tidak terlihat?" Suara tuanya tampak terdengar 
bergetar di telingaku, tapi sangat sarat dengan perasaan hangat dan akrab.
"Sakit bu, jadi saya shalat di rumah." Aku menjawabnya sambil tersenyum dan mulai 
bersiap untuk berdiri tapi si nenek tampak enggan melepas pergelangan tanganku.
"Sehat selalu yah Nak, demi Allah, ibu menyayangi kamu karena Allah dan selalu senang 
jika kita bisa bertemu lagi." Dug. Hatiku langsung tercekat mendengar untaian 
kalimatnya. Perasaan haru terasa mulai menyirami rongga dadaku. Tidak sekalipun aku 
ingat pada nenek tua ini, bahkan mungkin selama ini aku tidak pernah memperhatikan 
kehadirannya di dekatku, tapi ternyata dia menyayangiku dengan sangat tulus.

Padahal kami tidak pernah kenal sebelumnya bahkan kami memang tidak pernah 
bercakap-cakap sebelumnya selain ucapan saling memberi salam dan melempar senyum saja. 
Hmm, diam-diam aku mulai merasakan hangatnya suasana persahabatan diantara kami. Cepat 
kuhapus air mata haru yang ingin meloncat keluar (malu ah, ketahuan cengengnya). 
Kujabat erat tangan nenek tua itu sebelum aku benar-benar beranjak berdiri untuk 
pulang. Kali ini, rasanya aku yang enggan kehilangan genggaman hangat tangannya di 
pergelangan tanganku.
"Terima kasih yah bu atas perhatiannya. Semoga Allah membalas ketulusan ibu. Semoga 
Allah melimpahi ibu dengan rahmatNya selalu. Saya pamit yah." Si nenek mengangguk 
dengan pandangan sayang padaku. Aku tersenyum padanya dan dia masih tetap memandangku.
"Assalamu'alaikum..." Akhirnya sebelum benar-benar berlalu, kudaratkan sebuah kecupan 
sayang di pipi tuanya dan segera berlalu karena melihat bola matanya yang mulai 
berkaca-kaca.

Suamiku sudah menunggu di halaman masjid dan aku tidak ingin membiarkannya berteman 
seorang diri dengan angin shubuh yang dingin Sebelum benar-benar meninggalkan masjid, 
kulirik kakek tua yang sebelum shalat shubuh tadi tampak menyendiri di sudut masjid. 
Dia kini ditemani oleh teman baru yang sama tuanya dan seorang pemuda yang tampak 
sangat menghormati mereka dengan semangat untuk belajar ilmu agama yang kental yang 
memancar dari wajahnya yang bening. Aku tersenyum.

Sungguh. Nikmat persahabatan mereka kini bisa ikut kurasakan. Subhanallah begitu 
nikmat kehangatan dan kemesraannya. Kueratkan rengkuhan tanganku di lengan suamiku. 
Dia sahabat sekaligus kekasih hatiku. Semoga kami selalu dinaungi nikmat persahabatan 
islamiyah selamanya. Aamiin.
Ade Anita




--

This e-mail may contain confidential and/or privileged information. If you are not the 
intended recipient (or have received this e-mail in error) please notify the sender 
immediately and destroy this e-mail. Any unauthorized copying, disclosure or 
distribution of the material in this e-mail is strictly forbidden.




RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke