From : 
Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]>
 
Reply-To : 
[EMAIL PROTECTED]
 
To : 
[EMAIL PROTECTED]
 
Subject : 
[surau] Cerita Alumnus IPB yang Kini Jadi Dosen di Malaysia
 
Date : 
Mon, 30 Jun 2003 11:13:14 +0700
 
 Reply  Reply All  Forward    Delete Put in Folder...InboxSent MessagesDraftsTrash CanAdat MinaingAnggotaKapuak Padi  Printer Friendly Version
 
      Cerita Alumnus IPB yang Kini Jadi Dosen di Malaysia 
      Reporter : Arifin Asydhad
     
      detikcom   -  Jakarta,  Di  tengah  rencana  lembaga  pendidikan
      Indonesia  yang  memungut biaya tinggi dari mahasiswa, sebaiknya
      Indonesia  menoleh  pada  pendidikan  Malaysia.  Berikut  cerita
      alumnus  IPB  (Institut Pertanian Bogor) yang kini menjadi dosen
      di International Islamic University Malaysia (IIUM).

      Namanya,  Dr.  Irwandi  Jaswir. Kini dia menjadi dosen dan Ketua
      Jurusan  Bioteknologi  dan  Assistant  Professor  di  IIUM.  Dia
      mengaku  tidak  termasuk  saintis Indonesia yang 'diculik' untuk
      pindah ke Malaysia.

      "Saya  tidak  termasuk  saintis  yang  'diculik' untuk pindah ke
      negeri  jiran.  Sebab jalan yang saya lalui agak berbeda. Cerita
      di  bawah  sedikit  banyak  akan mengungkapkan sedikit bagaimana
      Malaysia  membangun  SDM-nya,"  kata Irwandi dalam emailnya yang
      diterima detikcom, Jumat (27/6/2003).

      Irwandi menamatkan S-1 di IPB pada 1994 dan pada tahun yang sama
      erkesempatan  meneruskan  ke  program  S-2  di Universitas Putra
      Malaysia.  "Anda  bisa  bayangkan,  untuk  seorang 'warga negara
      asing'  seperti  saya  saja, pada waktu itu, mereka mau membayar
      beasiswa  yang  lumayan  tinggi (bahkan untuk ukuran di Malaysia
      sekalipun),   disamping   bebas   uang   kuliah   dan  fasilitas
      kesehatan," kata dia.

      "Kerja  saya  hanya  satu,  menyelesaikan kuliah dan mengerjakan
      proyek  penelitian master saya sebaik-baiknya. Saya melihat dari
      'scheme'  ini  sudah  banyak warga negara asing yang lulus pasca
      sarjana  dari  Malaysia  (data  Kementerian  Pendidikan,  mereka
      berasal dari lebih 100 negara)," ungkapnya lagi.

      Memang,  kata  dia, secara rasional, Malaysia akan merugi dengan
      banyak memberikan kesempatan kepada warga asing. Namun, sekarang
      banyak keuntungan yang sudah dipetik negara Malaysia itu.

      "Malaysia  kini  jadi panutan, terutama oleh negara-negara dunia
      ke-3  dan negara-negara Timur Tengah. Kini bahkan untuk sebagian
      bidang  ilmu,  mereka  tidak mampu lagi mengakomodasi permintaan
      negara-negara asing untuk mengirim mahasiswanya (walaupun dengan
      biaya sendiri)," kata dia.

      Jalan  yang nyaman juga Irwandi rasakan ketika dia meneruskan ke
      jenjang  PhD  tahun  1996. Saat itu, dia diberi kesempatan pergi
      mengikuti  'twinning  programme'  di  universitas  terkemuka  di
      Canada  (University  of  British  Columbia)  untuk separuh waktu
      PhD-nya. Artinya, demi riset dan keunggulan penelitian, Malaysia
      mau melakukan apa saja.

      Seluruh  dana  (semacam  beasiswa)  ditanggung  Malaysia  dengan
      kerjasama  universitas  yang menerima twinning program tersebut.
      "Satu  pengalaman menarik melakukan penelitian di Malaysia, Anda
      takkan  pernah kekurangan dana untu membeli bahan atau peralatan
      apapun  untuk  penelitian,"  kata dia. Kondisi seperti ini tentu
      sulit terjadi di Indonesia.

      "Seusai tamat, saya diterima di IIUM. Tahun pertama disini, saya
      bahkan   diberi  amanat  untuk  'membeli  peralatan'  yang  saya
      perlukan  untuk  laboratorium  atau penelitian. Maka saya sempat
      'berpikir  keras'  bagaimana membeli alat-alat canggih seharga 5
      jutaRringgit (saat itu kurang lebih Rp 12,5 miliar," jelasnya.

      Di  IIUM, cerita Irwandi, untuk dana penelitian di bawah 20 ribu
      Ringgit  (Rp 50 juta , maka seorang peneliti akan mendapatkannya
      on  the  spot.  "Tulis  proposal 5 halaman, Anda akan dapat dana
      seketika.  Dana  di  bawah  50 ribu Ringgit (Rp 125 juta), hanya
      perlu  approval  pusat  penelitian universitas. Sedangkan diatas
      itu,  perlu  lewat  ke kementerian sains, yang disebut dana IRPA
      (Intensive  Research  for  Prioritised  Area).  Namun untuk yang
      terakhir,  tetap  tidak ada masalah. Kalau Anda punya ide bagus,
      Anda bisa dengan mudahnya mendapat dana tersebut," ujarnya.

      Sebagai  contoh,  dirinya  saat ini dia mendapat dana penelitian
      sebesar  300  ribu  Ringgit  untuk  suatu  proyek khasiat rempah
      Malaysia, sedangkan satu proposal lain dengan jumlah hampir sama
      juga akan diluluskan. Dengan dana ini, tentu saja seseorang bisa
      mengambil  beberapa  mahasiswa  pasca  sarjana,  memberi  mereka
      beasiswa untuk melaksanakan proyeknya.

      Lantas  bagaimana Indonesia? Sebaiknya, Indonesia melirik sistem
      pendidikan dari negara yang kemerdekaannya lebih muda ini. (asy)


Do you Yahoo!?
SBC Yahoo! DSL - Now only $29.95 per month!

Kirim email ke