Cerita Alumnus IPB yang Kini Jadi Dosen di Malaysia
Reporter : Arifin Asydhad
detikcom - Jakarta, Di tengah rencana lembaga pendidikan
Indonesia yang memungut biaya tinggi dari mahasiswa, sebaiknya
Indonesia menoleh pada pendidikan Malaysia. Berikut cerita
alumnus IPB (Institut Pertanian Bogor) yang kini menjadi dosen
di International Islamic University Malaysia (IIUM).
Namanya, Dr. Irwandi Jaswir. Kini dia menjadi dosen dan Ketua
Jurusan Bioteknologi dan Assistant Professor di IIUM. Dia
mengaku tidak termasuk saintis Indonesia yang 'diculik' untuk
pindah ke Malaysia.
"Saya tidak termasuk saintis yang 'diculik' untuk pindah ke
negeri jiran. Sebab jalan yang saya lalui agak berbeda. Cerita
di bawah sedikit banyak akan mengungkapkan sedikit bagaimana
Malaysia membangun SDM-nya," kata Irwandi dalam emailnya yang
diterima detikcom, Jumat (27/6/2003).
Irwandi menamatkan S-1 di IPB pada 1994 dan pada tahun yang sama
erkesempatan meneruskan ke program S-2 di Universitas Putra
Malaysia. "Anda bisa bayangkan, untuk seorang 'warga negara
asing' seperti saya saja, pada waktu itu, mereka mau membayar
beasiswa yang lumayan tinggi (bahkan untuk ukuran di Malaysia
sekalipun), disamping bebas uang kuliah dan fasilitas
kesehatan," kata dia.
"Kerja saya hanya satu, menyelesaikan kuliah dan mengerjakan
proyek penelitian master saya sebaik-baiknya. Saya melihat dari
'scheme' ini sudah banyak warga negara asing yang lulus pasca
sarjana dari Malaysia (data Kementerian Pendidikan, mereka
berasal dari lebih 100 negara)," ungkapnya lagi.
Memang, kata dia, secara rasional, Malaysia akan merugi dengan
banyak memberikan kesempatan kepada warga asing. Namun, sekarang
banyak keuntungan yang sudah dipetik negara Malaysia itu.
"Malaysia kini jadi panutan, terutama oleh negara-negara dunia
ke-3 dan negara-negara Timur Tengah. Kini bahkan untuk sebagian
bidang ilmu, mereka tidak mampu lagi mengakomodasi permintaan
negara-negara asing untuk mengirim mahasiswanya (walaupun dengan
biaya sendiri)," kata dia.
Jalan yang nyaman juga Irwandi rasakan ketika dia meneruskan ke
jenjang PhD tahun 1996. Saat itu, dia diberi kesempatan pergi
mengikuti 'twinning programme' di universitas terkemuka di
Canada (University of British Columbia) untuk separuh waktu
PhD-nya. Artinya, demi riset dan keunggulan penelitian, Malaysia
mau melakukan apa saja.
Seluruh dana (semacam beasiswa) ditanggung Malaysia dengan
kerjasama universitas yang menerima twinning program tersebut.
"Satu pengalaman menarik melakukan penelitian di Malaysia, Anda
takkan pernah kekurangan dana untu membeli bahan atau peralatan
apapun untuk penelitian," kata dia. Kondisi seperti ini tentu
sulit terjadi di Indonesia.
"Seusai tamat, saya diterima di IIUM. Tahun pertama disini, saya
bahkan diberi amanat untuk 'membeli peralatan' yang saya
perlukan untuk laboratorium atau penelitian. Maka saya sempat
'berpikir keras' bagaimana membeli alat-alat canggih seharga 5
jutaRringgit (saat itu kurang lebih Rp 12,5 miliar," jelasnya.
Di IIUM, cerita Irwandi, untuk dana penelitian di bawah 20 ribu
Ringgit (Rp 50 juta , maka seorang peneliti akan mendapatkannya
on the spot. "Tulis proposal 5 halaman, Anda akan dapat dana
seketika. Dana di bawah 50 ribu Ringgit (Rp 125 juta), hanya
perlu approval pusat penelitian universitas. Sedangkan diatas
itu, perlu lewat ke kementerian sains, yang disebut dana IRPA
(Intensive Research for Prioritised Area). Namun untuk yang
terakhir, tetap tidak ada masalah. Kalau Anda punya ide bagus,
Anda bisa dengan mudahnya mendapat dana tersebut," ujarnya.
Sebagai contoh, dirinya saat ini dia mendapat dana penelitian
sebesar 300 ribu Ringgit untuk suatu proyek khasiat rempah
Malaysia, sedangkan satu proposal lain dengan jumlah hampir sama
juga akan diluluskan. Dengan dana ini, tentu saja seseorang bisa
mengambil beberapa mahasiswa pasca sarjana, memberi mereka
beasiswa untuk melaksanakan proyeknya.
Lantas bagaimana Indonesia? Sebaiknya, Indonesia melirik sistem
pendidikan dari negara yang kemerdekaannya lebih muda ini. (asy)