Mungkin ado mamfa'atnyo bagi sanak semua.......
 
----- Original Message -----
From: Ika
Sent: Friday, June 20, 2003 10:26 AM
Subject: Obat Kanker

Sepertinya ini jalan keluar bagi penderita kanker.

Kanker tidak lagi mematikan. Para penderita kanker di Indonesia dapat
memiliki harapan hidup yang lebih lama dengan ditemukannya tanaman "keladi
tikus" (Typhonium Flagelliforme/Rodent Tuber) sebagai tanaman obat yang
dapat menghentikan dan mengobati berbagai penyakit kanker dan berbagai
penyakit berat lain.

Tanaman sejenis talas dengan tinggi maksimal 25 sampai 30 sentimeter ini
hanya tumbuh di semak yang tidak terkena sinar matahari langsung. "Tanaman
ini sangat banyak ditemukan di Pulau Jawa," kata Drs.Patoppoi Pasau, orang
pertama yang menemukan tanaman itu di Indonesia. Tanaman obat ini telah
diteliti sejak tahun 1995 oleh Prof Dr Chris K.H. Teo,Dip Agric (M), BSc
Agric (Hons)(M), MS, PhD dari Universiti Sains Malaysia dan juga pendiri
Cancer Care Penang, Malaysia. Lembaga perawatan kanker yang didirikan tahun
1995 itu telah membantu ribuan pasien dari Malaysia, Amerika, Inggris,
Australia, Selandia Baru, Singapura, dan berbagai negara di dunia.

Di Indonesia, tanaman ini pertama ditemukan oleh Patoppoi di Pekalongan,Jawa
Tengah. Ketika itu, istri Patoppoi mengidap kanker payudara stadium III dan
harus dioperasi 14 Januari 1998. Setelah kanker ganas tersebut diangkat
melalui operasi, istri ! Patoppoi harus menjalani kemoterapi (suntikan kimia
untuk membunuh sel, Red) untuk menghentikan penyebaran sel-sel kanker
tersebut. "Sebelum menjalani kemoterapi,dokter mengatakan agar kami
menyiapkan wig (rambut palsu) karena kemoterapi akan mengakibatkan
kerontokan rambut, selain kerusakan kulit dan hilangnya nafsu makan," jelas
Patoppoi.

Selama mendampingi istrinya menjalani kemoterapi, Patoppoi terus berusaha
mencari pengobatan alternatif sampai akhirnya dia mendapatkan informasi
mengenai penggunaan teh Lin Qi di Malaysia untuk mengobati kanker. "Saat itu
juga saya langsung terbang ke Malaysia untuk membeli teh tersebut," ujar
Patoppoi yang juga ahli biologi. Ketika sedang berada di sebuah toko obat di
Malaysia, secara tidak sengaja dia melihat dan membaca buku mengenai
pengobatan kanker yang berjudul Cancer, Yet They Live karangan Dr Chris K.H.
Teo terbitan 1996. "Setelah saya baca sekilas, langsung saja saya beli buku
tersebut. Begitu menemukan buku itu, saya malah tidak Jadi membeli teh Lin
Qi, tapi langsung pulang ke Indonesia, " kenang Patoppoi sambil tersenyum.
Di buku itulah Patoppoi membaca khasiat typhonium flagelliforme itu.
Berdasarkan pengetahuannya di bidang biologi, pensiunan pejabat Departemen
Pertanian ini langsung menyelidiki dan mencari tanaman tersebut. Setelah
menghubungi beberapa koleganya di berbagai tempat, familinya
Akhirnya, dengan tekad bulat dan do'a untuk kesembuhan, Patoppoi mulai
memproses tanaman tersebut sesuai dengan langkah-langkah pada buku tersebut
untuk diminum sebagai obat. Kemudian Patoppoi menghubungi putranya, Boni
Patoppoi di Buduran, Sidoarjo untuk ikut mencarikan tanaman tersebut.
"Setelah melihat ciri-ciri tanaman tersebut, saya mulai mencari di pinggir
sungai depan rumah dan langsung saya dapatkan tanaman tersebut tumbuh liar
di pinggir sungai," kata Boni yang mendampingi ayahnya saat itu. Selama
mengkonsumsi sari tanaman tersebut, isteri Patoppoi mengalami penurunan efek
samping kemoterapi yang dijalaninya. Rambutnya berhenti rontok, kulitnya
tidak rusak dan mual-mual hilang. "Bahkan nafsu makan ibu saya pun kembali
normal," lanjut Boni. Setelah tiga bulan meminum obat tersebut, isteri
Patoppoi menjalani pemeriksaan kankernya. "Hasil pemeriksaan negatif, dan
itu sungguh mengejutkan kami dan dokter-dokter di Jakarta," kata Patoppoi.
Para dokter itu kemudian menanyakan kepada Patoppoi, apa yang diber
Setelah beberapa lama tidak berhubungan, berdasarkan peningkatan keadaan
isterinya, pada bulan April 1998, Patoppoi kemudian menghubungi Dr.Teo
melalui fax untuk menginformasikan bahwa tanaman tersebut banyak terdapat di
Jawa dan mengajak Dr. Teo untuk menyebarkan penggunaan tanaman ini di
Indonesia. Kemudian Dr. Teo langsung membalas fax kami, tetapi mereka tidak
tahu apa yang harus mereka perbuat, karena jarak yang jauh," sambung
Patoppoi. Meskipun Patoppoi mengusulkan agar buku mereka diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia dan disebar-luaskan di Indonesia, Dr. Teo menganjurkan agar
kedua belah pihak bekerja sama dan berkonsentrasi dalam usaha nyata membantu
penderita kanker di Indonesia.

Kemudian, pada akhir Januari 2000 saat Jawa Pos mengulas habis mengenai
meninggalnya Wing Wiryanto, salah satu wartawan handal Jawa Pos, Patoppoi
sempat tercengang. Data-data rinci mengenai gejala, penderitaan, pengobatan
yang diulas di Jawa Pos, ternyata sama dengan salah satu pengalaman
pengobatan penderita kanker usus yang dijelaskan di buku tersebut. Dan
eksperimen pengobatan tersebut berhasil menyembuhkan pasien tersebut. "Lalu
saya langsung menulis di kolom Pembaca Menulis di Jawa Pos," ujar Boni. Dan
tanggapan yang diterimanya benar-benar diluar dugaan. Dalam sehari, bisa
sekitar 30 telepon yang masuk. "Sampai saat ini, sudah ada sekitar 300 orang
yang datang ke sini," lanjut Boni yang beralamat di Jl. KH. Khamdani,
Buduran Sidoarjo. Pasien pertama yang berhasil adalah penderita Kanker Mulut
Rahim stadium dini. Setelah diperiksa, dokter mengatakan harus dioperasi.
Tetapi karena belum memiliki biaya dan sambil menunggu rumahnya laku dijual
untuk biaya ope! rasi, mereka datang setelah membaca Jawa Pos. S
Berdasarkan animo masyarakat sekitar yang sangat tinggi, Patoppoi berusaha
untuk menemui Dr. Teo secara langsung. Atas bantuan Direktur Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan, Sampurno, Patoppoi dapat
menemui Dr. Teo di Penang, Malaysia.. Di kantor Pusat Cancer Care Penang,
Malaysia, Patoppoi mendapat penerangan lebih lanjut mengenai riset tanaman
yang saat ditemukan memiliki nama Indonesia.

Ternyata saat Patoppoi mendapat buku "Cancer, Yet They Live" edisi revisi
tahun 1999, fax yang dikirimnya di masukkan dalam buku tersebut, serta
pengalaman isterinya dalam usahanya berperang melawan kanker. Dari
pembicaraan mereka, Dr. Teo merekomendasi agar Patoppoi mendirikan
perwakilan Cancer Care di Jakarta dan Surabaya. Maka secara resmi, Patoppoi
dan putranya diangkat sebagai perwakilan lembaga sosial Cancer Care
Indonesia, yang juga disebutkan dalam buletin bulanan Cancer Care, yaitu di
Jl. Kayu Putih 4 No. 5, Jakarta, telp. 021-4894745, dan di Buduran! ,
Sidoarjo.

Cancer Care Malaysia telah mengembangkan bentuk pengobatan tersebut secara
lebih canggih. Mereka telah memproduksi ekstrak Keladi Tikus dalam bentuk
pil dan teh bubuk yang dikombinasikan dengan berbagai tananaman lainnya
dengan dosis tertentu. "Dosis yang diperlukan tergantung penyakit yang
diderita," kata Boni.

Untuk mendapatkan obat tersebut, penderita harus mengisi formulir yang
menanyakan keadaan dan gejala penderita dan akan dikirimkan melalui fax ke
Dr. Teo. "Formulir tersebut dapat diisi disini, dan akan kami fax-kan.
Kemudian Dr. Teo sendiri yang akan mengirimkan resep sekaligus obatnya,
dengan harga langsung dari Malaysia, sekitar 40-60 Ringgit Malaysia," lanjut
Boni. "Jadi pasien hanya membayar biaya fax dan obat, kami tidak menarik
keuntungan, malahan untuk yang kurang mampu, Dr.Teo bisa memberikan
perpanjangan waktu pembayaran." tambahnya.

Sebenarnya pengobatan ini juga didukung dan sedang dicoba oleh salah satu
dokter senior di Surabaya, pada pasiennya yang mengidap kanker ginjal. Ada
dua pasien yang sedang dirawat dokter yang pernah menjabat sebagai direktur
salah satu rumah sakit terbesar di Surabaya ini.

Pasien pertama yang mengidap kanker rahim tidak sempat diberi pengobatan
dengan keladi tikus, karena telah ditangani oleh rekan-rekan dokter yang
telah memiliki reputasi. Setelah menjalani kemoterapi dan radiologi,
pasien tersebut mengalami kerontokan rambut, kulit rusak dan gatal, dan
selalu muntah. Tetapi pada pasien kedua yang mengidap kanker ginjal, dokter
ini menanganinya sendiri dan juga memberikan pil keladi tikus untuk membantu
proses penyembuhan kemoterapi. Pada pasien kedua ini, tidak ditemui berbagai
efek yang dialami penderita pertama, bahkan pasien tersebut kelihatan
normal. Tetapi dokter ini menolak untuk diekspos karena menurutnya,
pengobatan ini belum resmi diteliti di Indonesia. Menurutnya, jika
rekan-rekannya mengetahui bahwa dia memakai pengobatan alternatif, mereka
akan memberikan predikat sebagai "ter-kun" atau dokter-dukun. "Disinilah gap
yang terbuka antara pengobatan kon! vensional dan modern," kata dokter
tersebut.

Banyak hal menarik yang dialami Boni selama menerima dan memberikan bantuan
kepada berbagai pasien. Bahkan ada pecandu berat putaw dan sabu-sabu di
Surabaya, yang pada akhirnya pecandu tersebut mendapat kanker paru-paru.
Setelah mendapat vonis kanker paru-paru stadium III, pasien tersebut
mengkonsumsi pil dan teh dari Cancer Care. Hasilnya cukup mengejutkan,
karena ternyata obat tersebut dapat mengeluarkan racun narkoba dari
peredaran darah penderita dan mengatasi ketergantungan pada narkoba
tersebut. "Tapi, jika pecandu sudah bisa menetralisir racun dengan keladi
tikus, dia tidak boleh memakai narkoba lagi, karena pasti akan timbul
resistensi. Jadi jangan seperti kebo, habis mandi berkubang lagi," sambung
Boni sambil tertawa. Juga ada pengalaman pasien yang meraung-raung kesakitan
akibat serangan kanker yang menggerogotinya, karena obat penawar rasa sakit
sudah tidak mempan lagi. Setelah dib! eri minum sari keladi tikus, beberapa
saat kemudian pasien tersebut tenang dan tidak lagi merasa kesakitan.

Menurut data Cancer Care Malaysia, berbagai penyakit yang telah disembuhkan
adalah berbagai kanker dan penyakit berat seperti kanker payudara,
paru-paru, usus besar-rectum, liver, prostat, ginjal, leher rahim,
tenggorokan, tulang, otak, limpa, leukemia, empedu, pankreas, dan hepatitis.
Jadi diharapkan agar hasil penelitian yang menghabiskan milyaran Ringgit
Malaysia selama 5 tahun dapat benar-benar berguna bagi dunia kesehatan.

Bagi teman-teman yang memerlukan informasi lebih lanjut sehubungan dengan
artikel "Obat Kanker" bisa menghubungi perwakilan lembaga sosial "Cancer
Care Indonesia" beralamat di Jl. Kayu Putih 4 no. 5 Jakarta, telp : 021-4894745

Regards,
Darwin Chalidi

Kirim email ke