Assalamu'alaikum w.w.
Yth. Sanak Kasadonyo
Ambo mambaco artikel sanak kito Indra J. Piliang di harian Kompas tanggal 9
Juli 2003 "Ke Arah Singgasana dan Daulat Partai Politik" kapatang. Dari
artikel ko iyo lai dapek saketek manjawek kagamangan ambo mengenai calon
pemimpin pasca Pemilu 2004, paliang tidak sanak IJP alah mambuekkan
rambu-rambu untuak parpol. Tanyo ciek sanak IJP, apokoh sanak Saldi Isra
ado di palantako ?. Atau ambo salah alamat mananyo IJP mungkin ka moderator
barangkali.
Sabananyo ambo awam manganai politik(ambo basawah di statistik), tapi kalau
indaklah sato mamaikiekan bangsoko indak lo lamak ati ko doh. Ambo
baangan-angan, bilo masonyo bangsako dipimpin oleh urang-urang nan
berkualitas, jujur, profesional dan zuhud.
Di bawah ko ambo lewakan potongan tulisan tentang Khalifah Umar Bin Abdul
Aziz dari kawan ambo (M. Saat)nan rajin mambaco buku-buku agamo dan
sekaligus rajin mambuek tulisan tentang agamo kito. Mudah-mudahan tulisan
iko ado manfaatnyo.
Wassalam,
Zul Amri (41th)Jakarta
Rang Surantiah
UMAR bin ABDUL AZIZ
Para pembaca mungkin sudah mengetahui kisah tokoh yang akan saya kemukakan
ini, kisahnya betapa sukar dicari duanya pada saat ini. Betapa zuhudnya
dia terhadap harta dunia, sehingga ia dan keluarganya rela meninggalkan
hidup bersenang-senang dan bermewah-mewahan demi kepentingan kehidupan umat
manusia secara keseluruhan yang menjadi tanggung-jawabnya di dunia dan
akhirat.
Sebenarnya untuk meraih hidup bersenang-senang dan bermewah-mewahan dan
sekaligus pemborosan di dalam pembelanjaan harta, adalah betapa mudah
baginya, bagaikan upaya membalikan telapak tangan, yaitu kapan saja dan di
mana saja dapat dilakukannya.
Namun?. karena ketaqwaannya kepada Allah Swt. serta bersungguh-sunguh
mempelajari dan mengamalkan ajaran Rasulallah Saw. dan kehati-hatian di
dalam setiap tindakan (wara?). Maka segala harta dunia bukanlah merupakan
sesuatu menjadi tujuan hidupnya, tetapi pengabdian kepada Allah Swt. lebih
diutamakan, yaitu dengan melakukan pelayanan kesejahteraan kepada seluruh
umat yang dipimpinnya yang menjadi fokus pemikirannya.
Siapakah tokoh yang akan saya nukilkan sebagian kecil sepak terjangnya di
dalam memimpin suatu bangsa yang sangat besar umatnya dan dengan wilayah
kekuasaan pemerintahan yang luas, yaitu seluas jazirah Arab (Asia Barat dan
sebagian timur benua Afrika sekarang). Dia adalah Khalifah Umar bin Abdul
Aziz yang sekaligus sebagai Amirul-Mukminin.
Umar bin Abdul Aziz, lahir pada zaman pemerintahan Islam di bawah kekuasaan
Bani Umaiyah, yang terkenal dengan kezaliman dan kekerasan di dalam
melaksanakan kepemimpinan negara. Umar bin Abdul Aziz terrmasuk keluarga
kerajaan karena ia adalah putera dari Abdul Azis bin Marwan, Marwan adalah
khalifah pada waktu itu. Umar bin Abdul Aziz adalah cicit dari Umar bin
Khattab, Ashim salah seorang putera Umar bin Khattab menikah dengan
seorang gadis berhati suci dan melahirkan seorang puteri yang bernama
Laila. Dan Laila bin Ashim ini dinikahi oleh Abdul Azis bin Marwan, salah
seorang khalifah Bani Umaiyah. Dari pernikahan Abdul Aziz dan Laila inilah
lahir Umar bin Abdul Aziz.
Abdul Aziz bin Marwan memerintah Mesir sebagai gubernur yang diangkat oleh
saudaranya, seorang khalifah Bani Umaiyah, Abdul Malik bin Marwan. Abdul
Aziz, memerintah wilayah Mesir selama 20 tahun.
Di masa kecilnya, Umar kecil ini tumbuh dan dibesarkan di istana raja-raja
yang penuh dengan kemewahan. Ia diberi gelar ?Putera Mahkota?. Kedua
tangannya padat dengan segala jenis kemewahan hidup. Hari-harinya selalu
diisi dengan kesenangan yang kadangkala melebihi apa yang diinginkan.
Apabila diperhatikan kehidupannya di waktu kecil, siapa pun tentu akan
menduga bahwa ia kelak akan terseret arus suasana dan nafsu dunia ke alam
santai dan kehidupan berfoya-foya.
Namun, mengapa ia minta dikirim ke Madinah ? Ini suatu gejala yang sudah
ditampakkan olehnya merupakan tanda-tanda sejak ia masih kecil dan
senantiasa selalu berada dalam bimbingan Allah Swt., gejala ini akan
tercermin di dalam semua perbuatan dan tindak-tanduknya yang gemilang pada
waktu ia menjadi khalifah. Pada masa mudanya, waktunya dihabiskan untuk
bergaul dengan ulama, ahli hukum dan cerdik pandai lainnya, seakan-akan ia
menjauhkan dirinya dari teman sebayanya.
Dia dikaruniai otak yang cerdas bahkan jenius oleh Allah Swt. disertai
dengan ketekunannya mempelajari dan menghafal Al-Quran hingga dalam waktu
yang singkat Al-Quran telah dikuasainya. Dalam hal kecerdasannya mungkin
ada orang yang dapat menyamai kebesarannya. Tetapi, apakah ada orang yang
dapat menandingi ketaqwaannya kepada Allah, hingga membuat dirinya menangis
terisak-isak karena takutnya kepada-Nya??.
Sekali waktu ibunya pernah memergokinya di kamarnya, dilihatnya anaknya
sedang beruai airmata. Kemudian dipeluklah puteranya itu dan ditanyakan
kepadanya apa yang menyebabkannya bersedih seperti itu ??.
Apa Jawabannya ?.?
Inilah jawabannya :
?Tiada suatu pun wahai ibu, hanya saja teringat akan maut?.
Singkat cerita, pada usia Umar bin Abdul Aziz dua puluh lima tahun, ia
diangkat menjadi walikota dan Hakim kota Madinah oleh khalifah Bani
Umaiyah, Walid bin Abdul Malik. Kota Madinah menjadi gempar dengan berita
pengangkatannya, sebab sepak terjangnya telah tersebar keseluruh penjuru
negeri Islam.
Kegemparan ini dapat dimaklumi, sebab selain ia dikenal sebagai orang yang
istimewa, ia pun menggantikan Hisyam bin Ismail, yang terkenal dengan
kelalimannya dan kekerasannya, hingga banyak menimbulkan huru-hara dan
ketidak senangan masyarakatnya.
Pemimpin baru ini mengawali pemerintahannya dengan langkah-langkah yang
sama sekali berbeda dengan penguasa sebelumnya ??? Apabila penguasa
sebelumnya selalu dikelilingi oleh para pembantu yang terdiri atas
orang-orang jahat, penjilat dan mengambil muka, hingga terkenallah sebuah
pameo ?uang yang laku itu adalah uang yang palsu?, tiba-tiba datanglah
pemimpin yang shaleh dan penuh berkah ini ???..
Langkah pertama, diumumkannya bahwa ia akan melakukan pembaharuan dan
perbaikan di segala bidang. Tidak akan dibenarkan selain yang benar ?.,
yang baik itu bukanlah yang jelek ?, kebenaran itu bukanlah kebohongan ?,
adil itu bukanlah sewenang-wenang? Inilah yang menjadi undang-undang dan
sistem pemerintahannya !
Bertolak dari sistem yang dicanangkan itu, maka sebagai langkah awal
dipilihnya sepuluh orang ulama yang shaleh dan terkemuka di Madinah sebagai
anggota majlis penasehatnya.
Pada pertemuan pertama, Umar bin Abdul Aziz menyampaikan pesan kepada
mereka sebagai berikut :
?Saya ajak tuan-tuan berkumpul dalam majlis ini untuk melaksanakan
suatu pekerjaan yang dijanjikan beroleh pahala dari-Nya. Tuan-tuan akan
menjadi pembantu saya dalam menegakkan kebenaran. Atas nama Allah, saya
mengharap kepada tuan-tuan, seandainya tuan-tuan melihat tindakan saya
nanti bertentangan dengan hukum Allah, ingatkan saya dan tunjukkan saya
jalan yang benar.?
Dengan tindakannya seperti itu, Umar bin Abdul Aziz berhasil menjadikan
daerah yang dipimpinnya menjadi wilayah teladan. Daerah kekuasaannya pun
tambah luas, sebab untuk salanjutnya ia dipercayai memimpin seluruh wilayah
Hejaz: Makkah, Madinah, Thaif dan sekitarnya.
Putera Abdul Aziz ini selalu mengawasi etika dan norma hukum, sehingga
kepemimpinannya bagaikan taman yang hijau, subur dan indah ditengah-tengah
kobaran api neraka yang diwariskan oleh sebahagian besar penguasa Dinasti
Bani Umaiyah.
Sepak terjang di dalam menjalankan pemerintahan dengan keadilan dan kasih
sayang itulah yang akhirnya Umar bin Abdul Aziz dipilih oleh khalifah
Sulaiman bin Abdul Malik untuk menggantikan kedudukannya jika ia wafat
nanti.
Begitu Umar bin Abdul Aziz di bai?at menjadi khalifah dan pimpinan
pemerintahan negara Islam, beliau segera melakukan perubahan-perubahan
kilat dan radikal serta menyeluruh, yang mencapai seluruh pelosok negara
dan masyarakat. Para gubernur dan pejabat negara yang dzalim dan korup
dipecat diganti dengan orang-orang alim dan shaleh.
Tidak ada istilah menunggu dan menunda dalam diri khalifah ini, yang kedua
matanya tidak henti-hentinya menangis, dan kedua bibirnya tidak
putus-putusnya mengucapkan Firman Allah yang paling ditakutinya :
??.Sesungguhnya aku takut akan siksa Rab-ku yang maha dasyat di hari
qiyamat nanti manakala aku melanggar perintah-Nya.? (Al-An?am : 15 )
Dalam pandangangan tokoh ini, menunda perubahan terhadap segala bentuk
kebobrokkan berati melanggar perintah dan amanat Allah.
Selanjutnya, marilah kita ikuti langkah berikut apa yang dilakukan oleh
Umar bin Abdul Aziz ketika beliau bergegas menuju kepanggung dalam rangka
bertatap muka antara khalifah baru dengan para pemuka masyarakat. Sesaat
setelah ia melangkahkan kakinya, terlihat olehnya satu iring-iringan megah
yang ditengahnya terdapat seekor kuda jantan dan perkasa yang dihiasi
dengan mewah untuk dinaiki khalifah baru itu ?..
Ia terpana sejenak, lalu dengan nada tidak mengerti ia bertanya :
?Apa-apaan ini ??
Ini kuda yang belum pernah dinaiki oleh siapa pun. Dan hal yang serupa
selalu
disiapkan bagi seorang khalifah baru?, jawab pengiringnnya.
?Hai Muzahim ! Sita dan masukkan ke dalam Baitul-Mal !? perintahnya dengan
tegas.
Kini sampailah ia kepanggung megah itu ?.. Seperti sebelumnya ia pun
bertanya :
?Apa pula ini ??
?Ini panggung kehormatan yang disediakan untuk menyambut khalifah yang
baru!? jawab mereka.
?Muzahim! Sita dan masukkan ke Baitul-Mal !?
Dimintanya sehelai tikar kecil, dihamparkannya di atas tanah, kemudian
dengan tenang dan anggun ia duduk di sana ??!
Beberapa orang mempersembahkan seperangkat pakaian sutera dari jenis
terbaik, mewah dan gemerlapan.
?Apa pula ini ?? tanya khalifah.
?Ini seperangkat pakaian kebesaran bagi khalifah baru?. jawab mereka
ketakutan.
?Muzahim ! Sita barang-barang ini, masukkan ke Baitul-Mal ! perintahnya.
Tak beberapa lama antaranya, beberapa orang dara cantik jelita didatangkan
ke tempat duduknya. Ia dimohon untuk memilih yang mana saja yang
dikehendakinya, untuk dijadikan dayang-dayang yang akan mengisi istananya
?? Ketika itu juga ia berdiri dan wajahnya merah padam. satu persatu
ditatapnya dara-dara itu, kemudian katanya :
?Siapakah kalian ? Anak siapa, dan dari mana asal kalian ?? tanyanya lembut
tapi
tetap dalam keadaan marah.
Setelah menanyai dara-dara itu satu persatu, ia pun berseru :
?Muzahim ! Bebaskan mereka, kembalikan mereka kepada orang tua mereka di
kampungnya masing-masing !?.
Adapun hakekat kecintaan yang mutlak kepada rakyat, merupakan kelanjutan
dari kecintaannya pada agama, dalam kedudukannya sebagai kalam Ilahi.
Sedangkan kalam Ilahi yang pertama kali dipesankan-Nya kepada manusia,
lebih mencurahkan perhatiannya kepada manusia dan kemanusiaan ??.
Tanggung jawabnya yang begitu besar dan begitu jelas terhadap agama dan
terhadap hamba-hamba-Nya, terlihat begitu jelas dari perilakunya ?..
Isterinya, Fatimah binti Abdul Malik, mengisahkan peristiwa sebagai berikut
:
?Suatu hari aku masuk ke kamarnya, dan kulihat ia sedang duduk di atas
tikar
shalatnya. Pipinya ditempelkan di atas tangannya, dan air matanya mengalir
?..
Aku bertanya kepadanya
?Mengapa anda menangis seperti ini ??
?Oh malangnya wahai Fatimah ?.., aku diberi tugas mengurus umat seperti ini
Yang menjadi buah pikiranku adalah nasib si miskin yang kelaparan, orang
yang
merintih kesakitan, orang yang terasing di negeri ini, tawanan, orang tua
renta,
janda yang sendirian, orang-orang yang mempunyai tanggungan keluarga yang
besar dengan penghasilan kecil dan orang-orang yang senasib dengan mereka
di
seleuruh pelosok negeri ini, baik di timur maupun di barat, utara atau
selatan ?.!
Aku tahu, Allah Swt, akan meminta pertangungjawaban kepadaku di hari
qiyamat
kelak ?., sedangkan pembela mereka yang jadi lawanku nanti adalah
Rasulallah
Saw Aku betul-betul takut tak dapat mengemukakan jawaban di hadapan-Nya.
Itulah sebabnya, maka aku menangis ?.!
Demikianlah, begitu jelas dan gamblang dikatakannya ?di seluruh pelosok
negeri, baik di timur maupun di barat, di utara maupun di selatan ?.?.
Hatinya yang bersih dan suci itu selalu menyertai umatnya ?. Bersamanya
anak-anak yatim, orang-tua jompo, janda yang ditinggal sendirian, fakir
miskin, orang-orang yang merintih kesakitan, orang-orang yang sengsara
keletihan, orang-orang yang teraniaya, tertindas dan orang-orang yang
menjadi tawanan?..
Mereka semua, senantiasa bercokol dalam hatinya dan mengajukan padanya
kebutuhan-kebutuhan, keluhan-keluhan dan pengaduan-pengaduan ?..
Dibayangkan semua itu sedang menunggu-nunggu kesempatan untuk menyeretnya
ke mahkamah Ilahi, yakni dihadapan Allah Qadhil "Izzati pada hari kiamat
nanti. Sedangkan tak seorang pun yang dapat menyelamatkannya, selain
usahanya sendiri dalam memberikan hak mereka, keadilan, kesejahteraan dan
kebaikan yang mereka butuhkan !
Tanggung jawab itu sudah sedemikian menyita seluruh perhatiannya, hingga
ia tak sempat menghiraukan kepentingan dirinya, keluarganya, dunianya dan
alam sekitarnya?.. Bahkan ia lupa akan haknya untuk memperoleh imbalan
walau hanya sekedarnya, disebabkan rasa takutnya yang sedemikian hebatnya
kepada Allah Swt.
Isterinya, Fatimah mengatakan : ?Ia selalu ingat akan Allah selagi di
tempat tidur? Tubuhnya gemetar laksana seekor burung pipit yang kedinginan
karena takutnya. bahkan aku suka berkata kepada diriku sendiri :
?Jangan-jangan esok pagi, di saat orang mulai bangun dari tidur, mereka
telah kehilangan khalifah mereka ?.!??
Sementara Ali bin Zaid mengatakan : ?Umar bin Abdul Aziz selalu ketakutan,
seakan-akan neraka itu hanya diciptakan untuk dirinya saja ?!?
Laki-laki yang sebelum diangkat menjadi khalifah merupakan seorang yang
kaya raya. senang makanan lezat, suka bersolek dan berpakaian mewah ? Kini
dalam waktu sekejab dirubah oleh rasa tanggungjawabnya yang besar menjadi
manusia yang lain sama sekali ?., jadi orang yang kusut masai dan tak
keruan pakaiannya.
Memang ia seperti kakeknya, Umar bin Khattab yang agung itu ! Bila ada
seseorang yang ingin bertemu dengannya dan orang itu belum mengenalnya,
kemudian bertemu dengannya, mungkin ia akan bertanya padanya :
?Di manakah saya dapat bertemu Amirul Mu;minin ??
Ya, Umar bin Abdul Aziz betul-betul telah menjauhkan diri dari kenikmatan
dan kesenangan dunia. Ia berlindung kepada suasana yang bersahaja, suasana
yang telah mendekati suasana miskin dan menderita ??.
Namun, upayanya itu semua ditujukan untuk kepentingan dan kesejahteraan
seluruh penduduk negerinya yang menjadi kekuasaannya. Dia tak pernah
memikirkan untuk kepentingan dirinya, keluarganya, serta kepada mereka yang
masih mempunyai pertalian famili yang dekat. Mereka semua turut tenggelam
bersamanya, jauh atau dekatnya sesuai dengan tingkat jauh atau dekatnya
hubungan kekeluargaan mereka dengan dirinya.
Tentang kenyataan ini, gambaran yang paling baik adalah yang dikemukakan
oleh pembantu rumahtangganya ?.. Sekali waktu, Amirul Mu?minin melihatnya
sedang mengusap-usap keledainya. Amirul Mu?minin pun bertanya padanya :
?Bagaimanakah kabar rakyat kita ?? Semuanya dalam keadaan sejahtera,
kecuali anda sendiri, saya dan keledai ini!? ujar pembantunya itu Umar bin
Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah negara Islam pada usianya baru
mencapai 36 tahun, dan beliau memerintah hanya 29 bulan (sampai beliau
wafat), jadi usianya di dunia ini tidak mencapai umur 50 tahun (38 tahun
dan 5 bulan).
RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke:
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================