Ass w.w.
Ini saya ambil dari Republika hari ini.
berita ini bersumber dari TIme edisi 30 Juli, yang katanya susah di 
cari di pasaran.

wassalam

YP




Teori 'Mendirikan Tenda'

Perempuan itu bukan seorang Muslimah. Hampir setiap hari, dengan 
mengenakan burka berwarna gelap, dia mendatangi sebuah kelas kecil 
yang kaku di daerah Queen, New York, AS. Dia berbicara soal 
keislaman, dunia Muslim, dan negara-negara Islam, serta 
karakteristiknya. 

Murid-muridnya, usia antara 20-30 tahun, juga bukan orang-orang Islam 
yang kebetulan tinggal di sana. Mereka adalah para misionaris muda 
dan baru yang sedang mempelajari strategi untuk menjadi misionaris di 
negara-negara dengan mayoritas berpenduduk Muslim. 

Shafira, begitu nama samarannya, mengajarkan tentang hati orang-orang 
Muslim yang tidak pernah membenarkan adanya kekerasan. Apa pun 
alasannya. Wanita itu juga menyebut lima rukun Islam yang menjadi 
pilar utama agama yang diutus Allah lewat Nabi Muhammad. ''Banyak 
kesamaan antara Islam dan Kristen,'' kata Shafira.

Tak lama kemudian, seorang wanita bernama Barbara, tanpa mengenakan 
burka, mengeluarkan daftar perbandingan antara Nabi Muhammad dan 
Yesus Kristus. Kata dia, Yesus muncul dari kematian dan sekarang 
hidup. Muhammad mati. Mengutip ucapan Jaksa Agung AS, John Ashcroft, 
Barbara mengatakan Islam adalah agama di mana Tuhan memerlukan 
manusia dengan mengorbankan anaknya, sedangkan Kristen mengutus 
seorang anak untuk mati demi manusia. 

Keduanya adalah misionaris yang tergabung dalam US Center for World 
Mission. Pekerjaan mereka menyebarkan ajaran Injil kepada seluruh 
umat manusia di seluruh dunia. Kelompok ini menyebarkan ajaran 
Kristen Evangelis yang dianut Presiden AS George W Bush. Jumlah 
pembawa kabar Evangelis di seluruh dunia mencapai 33 persen dari 
total misionaris.

Yang dilakukan Shafira dan Barbara bukan sekadar main-main. Mereka 
mengajarkan nilai-nilai keislaman, baik dari sisi positif maupun 
negatif, kepada para calon misionaris yang akan disebar di berbagai 
negara Muslim. 

Cara lama, mengkristenkan secara langsung, mereka tinggalkan. Terlalu 
besar risikonya. 
Peristiwa naas yang dialami misionaris AS, Heather Mercer (24) dan 
Dayna Curry (29), yang sempat diculik Taliban di Afghanistan 
memberikan pelajaran berarti bagi kaum Evangelis. 

Mercer dan Curry masih untung tidak dibunuh. Misionaris Martin 
Burnham tewas di tangan gerilyawan Abu Sayyaf pada tahun 2001 di 
Filipina. Lainnya, seorang misionaris wanita, Bonnie Witherall, 
tertangkap dan terbunuh di Lebanon November lalu. Hal itu memaksa 
kelompok ini mengubah metoda penyebaran gembala-gembalanya. Cara baru 
itu disebut ''mendirikan tenda''. 

Intinya, mereka menyebarkan ajaran Evangelis dengan memanfaatkan 
berbagai infrastruktur yang ada. Para misionaris disediakan dana 
untuk membangun yayasan, sekolah, perusahaan, kelompok diskusi, 
kelompok konseling, dan lain sebagainya sebagai upaya menarik kaum 
Muslim masuk ke agama mereka. Apostle Paul adalah pelopor 
gerakan ''mendirikan tenda'' ini. Misionaris tidak hanya mengemban 
tugas suci. 

Mereka juga dibayar, layaknya seorang profesional yang bekerja di 
suatu perusahaan. Pengikut berikutnya, sebut saja Henry dan Sarah, 
menerapkan teori ''mendirikan tenda'' dalam melaksanakan misi kudus 
di Afrika Utara. Ketika pertama menjalankan tugas itu, keduanya 
mengatakan tidak akan berkhutbah di hadapan ''korban-korbannya''. 

''Kami ingin hidup di sini,'' kata Sarah. Mereka pun benar-benar 
hidup, membangun keluarga, memiliki anak, bertetangga, dan berbisnis. 
Selama itu pula, misi dijalankan sesuai dengan tujuan semula: 
mengkristenkan mereka yang non-Evangelis. Misi sukses dan banyak 
Muslim yang menganut Kristen.

Dalam ''mendirikan tenda'', kaum misionaris juga memakai cara empati. 
Mereka menyamarkan keyakinan mereka dan merasa seperti kebanyakan 
orang Islam. Nilai-nilai keislaman seperti yang diungkapkan Shafira 
kepada calon misionaris menjadi komoditas mereka. Kepada Muslim, 
mereka berbicara soal kalimat syahadat dan lainnya sebelum digiring 
ke ''Masjid Yesus''.

Untuk cara ini memang tidak mudah. Ibrahim Hooper, dari Majelis 
Hubungan Islam-Kristen Washington, mengatakan Muslim akan mengetahui 
modus seperti itu. Jika ketahuan, dampaknya fatal. Di negara penganut 
Syiah seperti di Iran, misionaris yang tertangkap akan dihukum mati. 
Begitu juga yang diterapkan Arab Saudi dan beberapa negara Timur 
Tengah lainnya.
Namun demikian, misi tetap terus jalan.

Pendekatan ''mendirikan tenda'' yang didasarkan pada rasa cinta 
tergolong sukses, setidaknya itu yang tampak di Afrika, Amerika 
Latin, Asia, dan sejumlah negara Timur Tengah. Itu pun tidak terlepas 
dari kemampuan dan pemahaman orang-orang Evangelis yang lebih dalam 
tentang keislaman dibandingkan kebanyakan warga AS lainnya. Barbara 
dan Shafira adalah contoh nyata bagaimana mereka memiliki pengetahuan 
Islam yang memadai untuk mengkristenkan umat Islam.


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke