Kapado sidang rantau-net yth
Kecek urang dalam ilimu marketing tadapek ampek komponen atau 4 P (product, price, place, promotion). Kok dicaliak P partamo awak punyo natural resource nan cukuik bagus tapi apokah sudah dilangkok-i dengan unsur2 lain spt keamanan dan kenyamanan, kemudahan dlsb. Price mungkin araga-no masih competitive. Place, indak bagitu mudah mancapai minang kabau langsuang dari lua nagari, satu satu no maskapai penerbangan nan melayani jalur international cuman silk air nan tabang 2 kali saminggu. Ambo raso P nan ka ampek sangaik kurang diawak, contoh no di kandang singo ko sangaik jarang urang nan kenal nagari awak dan kalau disabuik nan tabayang di mereka adolah chaos, kerusuhan, bom, parang, terorist tamasuak korupsi dsb. Ambo raso kalau memang akan mencanangkan Minangkabau Yes 2005, unsur promosi harus digarap segera, tamasuak penyediaan seluruh fasilitas keamanan dan kenyamanan tourist. Awak harus manyadiokan PR nan bisa mengemas sagalo informasi nan kalua sedemikian rupo shg misa menimbulkan persepsi nan rancak dimato urang, antahlah......
Mohon ma'af cuman sekedar ciloteh di ari patang
 
wassalam
 
Junaidi Ml. Basa (37), kandang singo

Darul Makmur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Bagi nan alun mancigok;
 
Bisnis.Com

Laporan KhususSelasa, 22/07/2003 Visit Minangkabau Year 2005
Era lepas landasnya pariwisata Sumbar Sumatra Barat memang bukan daerah yang
diwarisi dengan sumber kekayaan migas yang melimpah atau cadangan mineral yang
berkilau. Tetapi provinsi itu adalah daerah yang dianugrahi dengan dataran nan
subur, pantai nan indah, lembah yang hijau dan memiliki beberapa telaga alam nan
elok.
Di balik kekurangan Sumbar sebagai daerah poor of natural resources, sebenarnya
daerah itu menyimpan kekuatan ekonomi yang bersumber pada pariwisata. Tetapi
nyatanya sampai saat ini, pariwisata masih belum mampu memberikan kontribusi
besar bagi ekonomi masyarakat seperti yang diharapkan oleh banyak kalangan di
Ranah Minang
Ketua BKPM Sumbar Syahrial Syarif mengakui pariwisata memang diharapkan dapat
menjadi salah satu leading sector dalam memacu pertumbuhan ekonomi daerah itu.
Menurut dia, Sumbar punya potensi untuk menjadikan pariwisata sebagai motor
ekonominya ke depan dengan harapan bisa go international.
Dia mengatakan saat ini sudah ada dua jenis wisata daerah itu yang sudah go
international, yaitu paralayang dan selancar ombak (surfing).
Kedua wisata itu sudah mulai dikenal oleh kalangan penikmat sport tourism dari
sejumlah negara di Eropa dan kawasan Asia.
Wisata paralayang di daerah itu dikembbangkan di lokasi wisata danau Maninjau
yang dikenal dengan kawasan Puncak Lawang. Olah raga wisata ini dalam tiga tahun
terakhir sudah mampu mendatangkan turis untuk ikut melakukan terjun dalam
kegiatan tersebut.
Begitupun surfing yang dikembangkan di daerah kepulauan Mentawai sudah rutin
dikunjungi oleh turis dari sejumlah negara seperti Australia, Jepang, dan
negara-negara Eropa.
Pendapat yang tidak kalah optimisnya datang dari Ian Hanifiah, Sekretaris DPD
Asita Sumatra Barat. Menurut dia, Pariwisata di daerah itu tinggal menunggu
timing nya saja untuk melesat menjadi mesin pencetak devisa.
Untuk mensolidkan langkah kearah itu, tuturnya, seluruh komponen di Sumbar telah
mencanangkan Visit Minangkabau Yes 2005 sebagai awal dari lepas landas sektor
wisata Sumbar.
Untuk memantapkan proyek itu, pekan lalu, para praktisi pariwisata Sumbar
berkumpul menyatukan visi dan misi dalam memulai kerja besar mereka.
Ian Hanafiah menyebutkan upaya konsolidasi itu telah mulai dilakukan dalam upaya
untuk melakukan sinergi bagi semua pihak yang berkepentingan di bidang
pariwisata.
"Kami harus memulai dari sekarang agar Visit Mingkabau Yes 2005 bukan sekadar
slogan tanpa bobot,"katanya.
Menurut dia, Visit Minangkabau Yes 2005 adalah program go international wisata
yang seiring dengan dibukanya operasional bandara internasional Ketaping pada
April 2005.
Dia mengatakan langkah awal yang telah dimulai adalah dibukanya jadwal reguler
penerbangan antara Padang-singapura dan Padang-Malaka.
Dari kedua jalur penerbangan langsung itu, ungkapnya, pelaku pariwisata di
daerah itu mengharapkan akan mampu memulai panen wisman secara berkesinambungan.
Malaysia dan Singapura dianggap sebagai negara yang paling feasible untuk
menjadi lahan garapan pertama bagi kepariwisataan daerah itu. Hal itu didasarkan
pada pertimbangan bahwa adanya ikatan budaya dan historis yang mampu menumbuhkan
minat warga kedua negara tersebut untuk datang ke tanah Minangkabau.
Ian sangat yakin wisata Sumbar akan leading karena ada beberapa alasan yang
dapat mendukung tercapainya target itu.
Pertama, Sumbar memiliki objek wisata yang memadai dan komplit untuk dijual ke
pasar. Berbagai bentuk dan jenis wisata bisa dijual. Mulai dari sport tourism,
culture and traditional tourism, hingga natural tourism. Sumatra Barat, menurut
dia, memiliki syarat seperti yang disebutkan itu.
Kedua, adanya dua sektor pendukung yang bisa saling isi mengisi dalam mengemban
misi pariwisata daerah itu. Kedua sektor itu adalah pertanian dan UKM. Dalam
tren pengembangan pariwisata sekarang sektor pertanian dan UKM sangat laku
dijual dalam industri pariwisata.
Argumentasi seperti itu mungkin bisa diterima karean Pertanian dan UKM di
sejumlah negara dan daerah telah mempu menghadirkan sebuah bentuk wisata khas
yang disebut agrowisata dan wisata souvenir.
Sejumlah daerah kabupaten di Sumbar, menurut Ian, punya kualifikasi untuk
menjadi kawasan agrowisata dan wisata souvenir terpadu.

Oleh Irsad
Wartawan Bisnis Indonesia


Do you Yahoo!?
Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software


Do you Yahoo!?
The New Yahoo! Search - Faster. Easier. Bingo.

Kirim email ke