Spirit Seni Rebab dan Etos Kerja *Oleh Suhardi *Dosen IAIN Imam Bonjol By padangekspres Minggu, 29-Juni-2003, 03:37:11 WIB
Sumbar memiliki banyak kekayaan seni budaya. Di antaranya rebab, saluang, dan Randai. Beberapa bentuk seni tersebut masih dapat dijumpai hingga kini dalam masyarakat Minangkabau (Sumbar). Sebagai aset negeri yang bernilai tinggi, perlulah dipertahankan kelestariannya. Selain itu, juga perlu dilakukan kajian dan penggalian yang matang akan nilai-nilai positif yang dimilikinya. Tujuannya tidak lain agar kita lebih mencintainya dan mempertahankan dari kepunahannya. Selain itu juga agar tidak terjadi seperti pepatah berikut: "Tak kenal makanya tak tahu, tak tahu makanya tak cinta." Kajian yang perlu dilakukan tersebut adalah memahami makna dari seni tersebut dan kontrubusinya terhadap pembangunan perekonomian masyarakat, khususnya masyarakat Sumbar (Ranah Minang)? Kajian seperti ini perlu terus digalakkan mengingat semakin tergesernya seni Minang dalam kehidupan masyarakat Minangkabau saat ini. Akibatnya, orang Minang sudah banyak yang kehilangan identitas. Mereka lebih banyak bersikap dan berpakaian seperti orang asing di Minangkabau. Dengan kata lain, orang sumatera Barat yang kebarat-baratan. Lihat saja betapa banyak saat ini genarasi muda Minangkabau yang berpakaian tidak sesuai lagi dengan adat Minangkabau. Pakaian yang serba ketat dan aurat yang terbuka. Prilakunya pun sudah banyak yang menyimpang dari aturan adat, seperti banyak yang terlibat narkoba, pelecehan seksual, dan mabuk-mabukan. Keadaan seperi ini tentu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dari segi seni pun mereka lebih banyak menyukai seni asing. Pertunjukan seni yang lebih bernuansa keminangkabauan sudah jarang terlihat. Buktinya kesenian rabab, saluang, dan randai jarang dimainkan anak muda Minang saat ini. Mereka tampaknya lebih menyukai Orgen Tunggal ketimbang kesenian asli nenek moyangnya. Keadaan tersebut ada kemungkinan disebabkan langkanya kajian terhadap seni Minang seningga para generasi muda Minangkabau tidak memiliki bekal mengenal nilai-nilai positif yang dimiliki seni Minang tersebut. Sementara pengaruh seni dari luar terus masuk. Akibatnya mereka lebih tertarik dan mencintai seni dari luar Minangkabau. Guna mengajak para generasi Minang kenal dengan seni budayanya maka pada kesempatan ini penulis mencoba melakukan kajian pada salah satu seni Minang, yaitu rebab atau rabab. Dalam hal ini ada baiknya dilakukan pengenalan dulu terhadap rebab seabgai alat seni, dan kontribusinya terhadap peningkatan perekonomian masyarakatnya. Apa itu SENI rebab? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, banyak rujukan yang dapat digunakan. Terutama rumusan yang telah dikemukakan para ahli. Misalnya saja, Umar Junus dalam bukunya "Kaba dan Sistem Sosial Minangkabau: Suatu Problematika Sosiologi Sastra mengatakan bahwa rebab adalah alat musik gesek yang sering dipergunakan tukang dendang dalam menyampaikan kabanya (cerita) kepada audience (1984:2). Misalnya yang terjadi pada masyarakat Pesisir Selatan. Terutama pada saat upacara perkawinan anak kemenakan maupun alek nagari. Di dalam masyarakat Pesisir Selatan ada terdapat beberapa istilah, seperti rabab, barabab, dan tukang rabab. Rabab adalah alat musik gesek, seperti biola. Barabab adalah bercerita sambil diiringi musik biola. Sedangkan tukang rabab adalah orang yang memainkan alat musik rabab itu sendiri. Jenis kesenian rabab ini awalnya hidup dalam masyarakat Pesisir Selatan. Setelah itu, barulah berkembang ke daerah sekitarnya. Oleh sebab itulah, kesenian rabab sering disebut dengan Rabab Pasisie. Maksudnya adalah rabab yang sering dimainkan masyarakat Pesisir Selatan. Walaupun bentuk kesenian rabab ini juga memiliki kesamaan dengan rebab yang dimainkan masyarakat Pariaman, tetapi jenis biola dan unsur yang dimiliki biolanya juga berbeda dengan biola yang dimiliki pada kesenian masyarakat Pesisir Selatan. Rabab yang dimainkan dalam kesenian masyarakat Pariaman sebagian onderdilnya menggunakan tempurung (Batok) kelapa. Rababnya pun lebih dikenal dengan sebutan 'Rabab Pariaman'. Selain itu, bunyi yang dihasilkannya juga berbeda. Rabab Pesisie suaranya agak lebih nyaring daripada rabab Pariaman. Spirit Seni Rebab dan Etos Kerja Bila dilakukan pengamatan secara cermat, kesenian rebab yang dimainkan oleh masyarakat Pesisir Selatan memiliki kontribusi positif terhadap peningkatan perekonomian masyarakat Pesisir Selatan. Rebab memiliki fungsi yang sama dengan seni Minangkabau lainnya. Misalnya memiliki fungsi sebagai hiburan dan pendidikan. Masyarakat disamping terhibur mendengarkan rebab juga memperoleh pendidikan langsung terutama melalui amanat cerita yang disampaikan. Selain itu, kesenian rebab juga memiliki kekuatan untuk mendorong semangat kerja masyarakat. Hal ini sesuai juga dengan pernyataan Jakob Sumardjo (1998) dalam bukunya "Sastra dan Massa" bahwa seni sastra sebagai milik masyarakat selalu dipelihara oleh masyarakat tersebut. Contohnya, hal yang sering dilakukan masyarakat Kecamatan Batang Kapas dalam mengolah lahan pertaniannya. Mereka selalu bekerja secara bersama-sama dan sering memutar kaset rebab untuk membangkitkan semangat kerja. Berdasarkan realitas yang ditemukan ternyata pemutaran kaset rebab dalam aktifitas tersebut mampu membangkitkan semangat bekerja mereka. Mereka dengan gelak dan senang hati melakukan pekerjaannya. Dengan demikian rasa letih bekerja sedikit hilang. Segala pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Pekerjaan berat menjadi ringan. Hal ini juga secara tidak langsung akan memacu peningkatan perekonomian masyarakat, terutama masyarakat Pesisir Selatan. *** RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

