Yang Paling Mempesona Imannya
http://www.eramoslem.com/artikel/oase/307/23100402,7113,1,v.html
Publikasi 23/07/2003 10:04 WIB

Ya Allah, taburkanlah wangian
Diatas kubur nabi yang mulia
Dengan semerbak shalawat
Dan salam sejahtera
(Makrifat Daun, Kuntowijoyo)

eramuslim - Malam sudah sampai ditengah-tengah, suara jalanan pun telah lengang. Dan 
kantuk itu tidak datang seperti biasanya. Ada yang menderu dalam relung dada. Ada yang 
bergemuruh. Sebuah buku yang masih terbuka di pangkuan, penyebabnya. Buku yang saya 
maksudkan agar mendatangkan lelap lebih mudah, ternyata malah berkebalikan. Biasanya 
belum sampai 2 halaman, mata ini pasti sudah rapat-rapat menutup begitu pula dengan 
bukunya.

Lembar demi lembar saya telusuri samudera aksara bermakna, tak lelah mata membaca, 
fikiran mencerna dan seringnya hati senut-senut. Saya ingin membaginya dengan kalian. 
Mudah -mudahan saya mampu.
***

Madinah Al-munawarah, pada dini hari. Membran malam perlahan tersingkap, berganti 
dengan subuh syahdu. Lengang berpulun dengan udara dingin menggigit. Dan deru sahara 
hanya terdengar dari jauh. Cerlang fajar sebentar lagi nampak. Shalat subuh hampir 
tiba, Rasulullah Saw dan para sahabat menyemut pada satu tempat, masjid. Semua hendak 
bertemu dengan yang di cinta, Allah. Namun sayang, air untuk berwudhu tidak setetes 
pun tersedia. Tempat mengambil air seperti biasanya kini kerontang.

Dan para sahabat pun terdiam, bahkan ada beberapa yang menyesali kenapa tidak mencari 
air terlebih dahulu untuk keperluan kekasih Allah itu berwudhu. Rasululllah pun 
bertanya kepada para sahabat "Adakah diantara kalian membawa kantung untuk menyimpan 
air?". Berebut para sahabat mengangsurkan kantung air yang dimilikinya. Lalu, Nabi 
yang begitu mereka cintai itu meletakkan tangannya diatasnya. Tidak seberapa lama, 
jemari manusia pilihan itu memancarkan air yang bening. "Hai Bilal, panggil mereka 
untuk berwudhu" sabda nabi kepada Bilal.

Dan para sahabat pun tak sabar merengkuh aliran air dari jemari sang Nabi. Di basuhnya 
semua anggota wudhu, ada banyak gumpalan keharuan dan pesona yang menyeruak. Bahkan 
Ibnu mas'ud mereguk air tersebut sepenuh cinta.

Shalat subuh pun berlangsung sendu, suara nabi mengalun begitu merdu. Ada banyak 
telinga yang terbuai, hati yang mendesis menahan rindu. Selesai memimpin shalat, nabi 
duduk menghadap para sahabat. Semua mata memandang pada satu titik yang sama, Purnama 
Madinah. Dan di sana, duduk sesosok cinta bersiap memberikan hikmah, seperti biasanya.

"Wahai manusia, Aku ingin bertanya, siapakah yang paling mempesona imannya?" 
Al-Musthafa memulai majelisnya dengan pertanyaan.

"Malaikat ya Rasul Allah" hampir semua menjawab.

Dan nabi memandang lekat wajah para sahabat satu persatu. Janggut para sahabat masih 
terlihat basah. "Bagaimana mungkin, malaikat tidak beriman sedangkan mereka adalah 
pelaksana perintah Allah."

"Para Nabi, ya Rasul Allah" jawab sahabat serentak.

"Dan bagaimana para Nabi tidak beriman, jika wahyu dari langit langsung turun untuk 
mereka".

"Kalau begitu, sahabat-sahabat engkau, wahai Rasulullah" pada saat menjawab ini banyak 
dari sahabat yang mengucapkannya malu-malu.

"Tentu saja para sahabat beriman kepada Allah, karena mereka menyaksikan apa yang 
mereka saksikan".

Selanjutnya mesjid hening. Semua bersiap dengan lanjutan sabda nabi yang mulia. Semua 
menunggu, sama seperti sebelumnya pesona sosok yang duduk ditengah-tengah mereka mampu 
menarik semua pandangan laksana magnet berkekuatan maha.

Dan suara kekasih Allah itu kembali terdengar. "Yang paling mempesona imannya adalah 
kaum yang datang jauh sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, meski tak pernah satu 
jeda mereka memandang aku. Mereka membenarkan ku sama seperti kalian, padahal tak 
sedetikpun mereka pernah melihat sosok ini. Mereka hanya menemukan tulisan, dan mereka 
tanpa ragu mengimaninya dengan mengamalkan perintah dalam tulisan itu. Mereka 
membelaku sama seperti kalian gigih berjuang demi aku. Alangkah inginnya aku berjumpa 
dengan para ikhwanku itu".

Semua terpekur mendengar sabda tersebut. Kepada mereka nabi memanggil sapaan sahabat, 
sedang kepada kaum yang akan datang, nabi merinduinya dengan sebutan "Saudaraku". 
Alangkah bahagia bisa dirindui nabi sedemikian indah, benak para sahabat terliputi hal 
ini.

Dan terakhir nabi, mengumandangkan QS Al Baqarah ayat 3: "Mereka yang beriman kepada 
yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian dari apa yang kami berikan 
kepada mereka".

******

Tak ada salahnya, pabila saat ini saya mengenang sosok yang hanya saya tahu 
ciri-cirinya dari sebuah buku. Mengapakah terlalu sering saya mengabaikan teladan 
sempurna ini. Bahkan, terlalu jauh saya terlontar dari sunnahnya. Padahal, engkau ya 
Rasul Allah, begitu memperhatikan kami, hingga kami disebut pada saat-saat terakhir 
kehidupanmu. Ketika maut menjemput, nafas satu-satu dan detik-detik penghabisan di 
dunia sebelum dengan anggun engkau dipanggil Allah.

Maafkan saya, ya nabi pilihan Allah, shirahmu saya baca tetapi saya hanya mengemasnya 
dengan rapi dalam memori sebagai sebuah kisah yang nantinya akan saya sampaikan kepada 
yang lain. Engkau merindukan umat yang berjuang untuk membelamu, padahal saya sama 
sekali tidak berbuat apapun. Engkau rindui sosok-sosok yang mencintaimu dengan segenap 
jiwa, dan saya tidak tahu apa bukti kecintaan yang telah saya persembahkan meski hanya 
sekuntum saja. Betapa malunya saya wahai Rasulullah.

Meski demikian, perkenankan saya menyampaikan salam, salam cinta dan salam kerinduan. 
Salam bagimu ya Rasul Allah, salam bagimu duhai kekasih Allah yang mulia. Inilah si 
lemah dari sekian abad dari masamu yang terbentang, menyampaikan salam pekat 
kerinduan. Inilah si dungu, meski dengan tubuh penuh dengan karat dosa, dengan mata 
yang seringkali tak terarah, dengan mulut yang kerap menghina dan berdusta, dengan 
telinga yang sering tuli terhadap kepedihan sesama, memberanikan diri menyapamu dalam 
kesendirian..

Mengenang engkau ya Rasul Allah, menetaskan dahaga hebat bagi kerontangnya jiwa ini 
untuk berjumpa denganmu. Mengingatimu tentang betapa rekatnya engkau mencintai para 
pengikut yang datang jauh setelah engkau tiada, mengkristalkan haru yang tiada tara. 
Betapapun besar rasa malu ini, terimalah salam, wahai pembawa cahaya kepada dunia.

Betapapun buruk rupa jiwa ini,
Betapapun kerdil pikiran ini,
Betapapun kelu lidah ini berucap,
Ingin saya sampaikan kepadamu wahai nabi al-musthafa:
Shallaallaahu ala muhammad, shallalhu alaihi wasallam...
Salam bagimu ya Rasul Allah.

Sahabat, telah sering kita mengucapkan shalawat terhadap junjungan nabi Mulia, bahkan 
mungkin disetiap jeda yang kita punya, salam untuk sang tercinta tak lupa kita ungkap. 
Namun apakah salam yang kita sampaikan benar-benar salam yang ikhlas, salam tanda 
cinta kita, ataukah salam yang refleks keluar dari mulut kita tanpa ada makna? Wallahu 
'A'lam.

mudah-mudahan saat ini dalam dadamu ada yang bergemuruh juga.

Husnul 
[EMAIL PROTECTED]






RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke