Karena ada hari-hari libur yang dialihkan ke hari Jumat, menyebabkan
saya melaksanakan Jumatan di masjid dekat rumah pada hari-hari tersebut.
Dan pada hari Jumat itu, isteri saya menyarankan saya salat di sebuah
masjid baru lebih kurang 200 m dari rumah kami. Hari itu rupanya
bertepatan dengan peresmian masjid munggil---apik tetapi tidak
mewah---tersebut. Ada Pak Camat dan Pejabat Depag setempat. Tetapi bukan
itu yang ingin saya ceritakan.

Sehabis salat, Imam menggeser duduknya lalu berdoa tanpa menjaharkannya
dan membiarkan jemaah untuk berdoa masing-masing, suatu hal yang menurut
saya lebih sesuai dengan sunnah Nabi SAW. Karena itu saya berkeinginan
untuk salat subuh atau magrib berjemaah di masjid tersebut, yang
tentunya hanya mungkin saya lakukan pada hari Sabtu, Minggu atau hari
libur.

Tetapi saya lebih sering tidak berhasil.

Banyak problem. Salah satu di antaranya, pada malam Sabtu atau malam
Minggu, �anak mertua� kelihatan lebih cantik.  Lalu tahu sama tahu lah
awak. Walhasil bangun tidur sering sesudah atau mendekati waktu subuh.
Padahal pada hari-hari kerja biasa, jam dua saya biasanya sudah bangun,
salat tahajud yang kadang-kadang diikuti latihan Reiki atau Tetada
Kalimasada selama 30 menit, mengerjakan PR yang di bawa dari kantor atau
bermilis ria, salat subuh---di rumah tentu---sarapan lalu bersiap-siap
untuk ke kantor. Seperti Minggu subuh tadi, setelah terbirit-birit mandi
janabah, menyeduh dan menyeruput kopi ginseng, membangunkan si doi,
mengenakan pakaian yang pantas, mencari dan mengantongi tasbih, tekad
sudah mantap untuk salat di masjid mungil tersebut. eh, tiba-tiba
terdengar Azan.

Gagal lagi.

Tetapi saya pernah juga berhasil sekali. Begitu saya tiba di masjid yang
mungil itu saya menemukan sejumlah jemaah berdoa dan berzikir dengan
�sir�. Setelah salat tahiyatul masjid, saya ikut berzikir. Pengeras
suara dinyalakan beberapa menit menjelang azan. Seusai membaca salam,
Imam menggeser duduknya lalu berdoa tanpa menjaharkannya dan membiarkan
jemaah untuk berdoa masing-masing.

Untuk wilayah Jabotabek dan sebagian besar pulau Jawa, keadaan seperti
di masjid mungil tadi tidak banyak ditemukan. Tidak jarang satu jam
menjelang waktu subuh pengeras suara sudah dihidupkan dan dengan volume
penuh melatunkan ayat-ayat suci atau berbagai wirid.  Tidak sukar untuk
menduga bahwa hal ini mengganggu---terutama---kelompok non-muslim.
Akibatnya jelas, tidak mendorong kerukunan beragama, memperbesar
parasangka bahwa ajaran Islam �norak� dan penganutnya suka menjalankan
kemauan sendiri?

Tetapi, apakah benar demikian?

Kondisi ini sebanarnya membuat gerah kalangan Islam sendiri. Tidak
kurang seorang Ali Audah sastrawan penerjemah biografi Nabi yang ditulis
oleh Heykal mengulas hal yang tidak patut tersebut di sebuah kolom di
Majalah Tempo Sekitar 15 atau 20 tahun yang lalu. Ali Audah jelas tidak
sendirian. Saya---walaupun apalah awak ini---lebih kurang 2 tahun silam
juga menulis di Milis Kota Bogor, kegusaran saya atas hingar bingar di
waktu subuh, bukan karena ketenangan saya terganggu, tetapi karena apa
yang dikira mengagungkan Tuhan tersebut bertentangan dengan nash. Lho
koq?

Paling tidak ada dua hadis menegnai hal ini. Pertama hadis yang
meriwayatkan Rasulullah SAW melarang seseorang mengencangkan bacaan
Qur�an di dalam masjid karena dapat menggangu jemaah lain yang sedang
bertafakur. Yang kedua teguran Nabi kepada seorang yang berdoa dengan
suara keras di masjid. �Tuhan yang engkau sembah bukan Tuhan yang tuli�,
sabda beliau.

Lha ini, pakai pengeras suara, dengan volume pol pula.

Dan seperti saya catat dalam Catatan Perjalanan Haji yang saya tulis, di
Masjidil Haram satu-satunya yang dilantunkan dengan pengeras suara  yang
diarahkan ke luar pada setiap salat lima waktu hanyalah suara azan.
Pengeras suara untuk bacaan imam hanya ditujukan ke dalam masjid dan ke
halaman serta ke jalan-jalan di sekitar masjid yang biasanya juga
dipenuhi oleh jemaah salat. Begitu, di Masjidil Haram, begitu di Masjid
Nabawi, begitu di masjid-masjid   lainnya di Tanah Haram, di tanah
kelahiran Nabi.

Hal serupa juga bisa ditemukan di masjid-masjid di Sumatera Barat, di
lingkungan masyarakat Minang yang mempunyai �kredo� adat bersandi
syarak, syarak bersandi kitabullah. Dari hotel Novotel, tempat saya
menginap kalau bertugas ke Bukittinggi, azan subuh hanya terdengar
sayup-sayup.

Masalah ini kembali mengerucut dalam pikiran saya setelah mengamati
diskusi antara netters Muslim dan Non-Muslim mengenai masalah
Loudspeaker di Masjid ini di Milis Apa Kabar. Terlepas dari persoalan
bahwa diskusi kadangkala kurang berjalan proporsional dan terlalu
didramatisasi, tidak mengurangi esensi bahwa ummat Islam harus mengakui
bahwa hal ini mengganggu saudara-saudara kita non-muslim, suatu hal yang
bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam selain ya itu, hingar bingar
tersebut tidak ada �nash�-nya dalam ajaran Islam sendiri.

Mungkin ada yang mengganggap bahwa ini hanya maslah �kecil�. Saya sih
setuju-setuju saja, tetapi tampaknya konsep Islam sebagai �rahmatan lil
alamin� kayaknya perlu kita tinjau ulang, seperti halnya misi Nabi SAW,
seperti sabda beliau �untuk menyempurnakan akhlak yang mulia�.

Karena itu saya menghimbau kepada MUI dan tokoh-tokoh ormas Islam besar
dan terutama Gus Dur, untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan
untuk mengurangi dan kemudian meniadakan praktik-praktik keagamaan yang
tidak patut dan tidak jelas juntrungannya ini.

Tetapi kenapa terutama Gus Dur?

Ya, karena pengurus masjid-masjid yang setiap subuh rajin
mengingarbingarkan dirinya ini umumnya dari kelompok yang mendengar apa
yang diomongkan oleh beliau.

Tapi apalah awak ini.

Wassalam, Darwin



RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke