Jangan lupa nonton, ya, di Trans TV: Soekarno: Minggu, 17 Agustus 2003, jam 19.00 Hatta: Senin, 18 Agustus 2003, jam 19.00 Syahrir: Selasa, 19 Agustus 2003, jam 19.00
salam, IJP --------------- Koran Tempo, Sabtu, 16 Agustus 2003 Program Televisi Seri Tokoh Bangsa Menafsirkan Kisah Hidup Bapak Bangsa JAKARTA -- Malam itu, di sebuah kafe di Belanda, tahun 1927, tampak seorang pemuda berjas hitam duduk dengan gelisah di pojok ruangan. Sejumlah kawan yang mengajaknya ke kafe ternyata tak tampak batang hidungnya sejak izin ke kamar kecil beberapa saat yang lalu. Tiba- tiba datang seorang wanita cantik menghampiri sang pemuda berkacamata itu. Wanita Eropa bergaun hitam tersebut memohon diizinkan duduk di sebelahnya. Sang pemuda tak menolak meski tak juga larut dengan perbincangan hangat bersama sang dewi itu. Suguhan minuman pun tak dia sentuh. Pertanyaan yang dilontarkan sang wanita ternyata tak cukup mencairkan suasana. Celakanya, kerapkali pertanyaan itu dijawab sang pemuda dengan "Excuse Me?" bernada gelisah. Sang wanita akhirnya menyerah. Dia tak bisa menaklukkan pemuda santun berkacamata ini meski telah menggunakan segenap jurus rayuan mautnya. Kepada kawan-kawan sang pemuda yang mengutus misi "rayuan" tersebut, perempuan itu hanya berujar, "Hatta, teman kalian itu, lebih dari seorang pendeta." Muhammad Hatta, Wakil Presiden RI pertama ini, dulunya memang dikenal sebagai pemuda yang sangat hati-hati berhadapan dengan perempuan. Cara Hatta Berjalan Kecanggungan pemuda Hatta dapat divisualisasikan dengan baik oleh David Chalik. Pemain sinetron muda berbakat ini didapuk Garin Nugroho untuk memerankan Bapak Koperasi Indonesia ini dalam serial televisi Seri Tokoh Bangsa yang akan mulai diputar di layar Trans TV pada Minggu (17/8) pukul 19.00 WIB. Pada epsiode perdana serial berjumlah 26 episode ini akan hadir sisi romatis seorang Bung Karno yang diperankan oleh Anjasmara. Bapak bangsa lain yang akan diangkat yaitu Sjahrir, Tan Malaka, serta tokoh bangsa lain seperti Chairil Anwar dan R.A. Kartini. Garin memproduksi seri tokoh bangsa ini atas pesanan Yayasan Bung Karno yang dimotori oleh Guruh Soekarnoputra. David mengaku melakukan persiapan khusus untuk bisa masuk ke dalam peran yang akan dimainkannya. Bukan hanya membaca beberapa kumpulan tulisan dan biografi tentang Hatta, David juga dilatih khusus oleh Meutia Farid Hatta-Swasono, putri sulung Proklamtor itu, agar bisa menghadirkan ruh Hatta di layar kaca. "Saya diajarkan bagaimana cara berjalan, menoleh, dan ekspresi khas Bung Hatta," papar David yang melejit lewat serial komedi Juki di SCTV ini. Selain adegan "rayuan maut" di kafe itu, dalam episode Hatta juga ditampilkan sisi menarik dari pribadi pria sederhana ini. Tak banyak yang tahu jika usai meletakkan jabatan sebagai Wakil Presiden, Hatta harus menghadapi kesulitan menghidupi keluarganya. Isterinya sampai harus menggadaikan beberapa kali perhiasan miliknya. Ada pula adegan yang menarik yakni pernikahan Hatta dan seorang gadis manis bernama Rahmi binti Rahim dengan mas kawin buku karya Hatta bertajuk Alam Pikiran Yunani yang terhitung meledak di pasaran kala itu. Menafsirkan Kembali Pilihan beberapa penggalan adegan dari perjalahan hidup sang tokoh ini diakui Garin sebagai usaha untuk menghadirkan unsur penarik. "Produksi ini sejatinya adalah gabungan antara produk National Geographic dengan gaya visual sinetron," papar Garin usai preview film di Jakarta, Rabu (13/8). Program Televisi Seri Tokoh Bangsa memuat gabungan rekonstruksi kisah hidup yang divisualisasikan kembali bak sebuah sinetron dengan film dokumenter tentang perjuangan sang tokoh. Tujuan program ini, ujar Garin, adalah untuk menafsirkan kembali hidup tokoh dengan bahasa budaya populer. Maka Garin pun memilih bintang-bintang populer saat ini yaitu sejumlah nama pemain yang sedang digemari, sebut saja Anjasmara (Bung Karno), David Chalik (Bung Hatta) dan Fatur, vokalis Java Jive, yang berperan sebagai Sjahrir. Rekonstruksi sejarah yang seringkali diletakkan dalam tataran politik, kata Garin, membuat stigma bahwa film sejarah atau tokoh menjadi berat. "Saya tidak mau produksi ini akan bernasib seperti itu. Saya ingin, setelah menonton pemirsa akan lebih mencari tahu siapa tokoh ini dengan membaca kisahnya atau usaha lainnya," papar Garin. Garin pun memberikan kebebasan pada sutradara untuk menafsirkannya dalam bahasa gambar. Para sutradara muda itu adalah anak didik Garin di SET (Sains Estetika dan Teknologi), rumah produksi miliknya, yaitu Hanung Bramantyo (Seri Sjahrir) dan Sergie Sutanto (Seri Hatta). Kreativitas mereka dalam menafsirkan sang tokoh digawangi oleh penjaga garda tim kreatif yang diawaki oleh Indra J. Pilliang, Arturo G.P., dan sejumlah nama lainnya. "Kami menawarkan potret-potret besar dalam bentuk potongan-potongan kecil atau mosaik tentang sang tokoh," kata Indra. Romantisme versus Ideologi Wawasan yang cukup tentang sang tokoh, diakui Hanung, menjadi modal utama untuk menghadirkan visualisasi yang menarik. Sjahrir, yang digarap Hanung, misalnya, ditampilkan dengan gaya teatrikal dengan tajuk Panggung Sjahrir. Dalam sejarah perjalanan bangsa ini, Sjahrir awalnya memang sebagai awak kelompok tonil. Sementara itu, Sergie memilih sisi humanis seorang Hatta yang sederhana dan jujur dalam menjalani hidup. Imbuhan pendapat sejumlah pengamat yang dicuplik dalam setiap episode membuat penonton dapat mengenal lebih dekat sang tokoh. Dalam episode Hatta bertajuk Kesunyian Yang Berbisik ada cuplikan pendapat tokoh koperasi Adi Sasono yang menggarisbawahi kejujuran Hatta: bersatunya kata dengan perbuatan. Ada juga bincang-bincang dengan orang-orang terdekat sang tokoh. Mungkin tak banyak yang tahu jika Des Alwi dulu pernah dimarahi oleh Hatta lantaran bola menyasar ketika Hatta dalam masa pembuangan di Bandaneira, jauh sebelum Indonesia merdeka. Mungkin pula tak banyak dari generasi saat ini yang tahu bahwa Hatta mempunyai koleksi ribuan buku di kediamannya yang hingga kini masih dirawat dengan baik oleh ketiga putrinya: Meutia, Gemala, dan Halida. Pilihan untuk mengambil sudut yang menarik bukannya tanpa risiko. Sukmawati Soekarnoputri, salah seorang putri Bung Karno yang berkesempatan menyaksikan preview seri televisi ini, sempat memberikan catatan ketika melihat episode yang menampilkan kisah perjalanan hidup ayahandanya. Garin dan kawan-kawan mengambil sisi romantis seorang Bung Karno. Episode Bung Karno menampilkan kisah cinta Sang Proklamator dengan Fatmawati dan Inggit Ganarsih. "Seorang tokoh bangsa tidak bisa dipisahkan dengan pemikiran ideologisnya. Mengapa itu juga tidak ditampilkan," ujar Sukmawati. telni rusmitantri ==== Sinar Harapan, 15 Agustus 2003 Memperingati Hari Kemerdekaan RI Trans TV Tayangkan Serial TV Pustaka Tokoh Bangsa Jakarta, Sinar Harapan Memperingati Hari Kemerdekaan ke-58 RI, SET bersama Yayasan Bung Karno dan Trans TV memproduksi Seri Pustaka Tokoh Bangsa yang akan ditayangkan mulai 17 Agustus besok. Dari 26 episode yang direncanakan, Trans TV baru akan menayangkan tiga episode awal, masing-masing seri Soekarno, Hatta dan Sutan Sjahrir. Program seri TV Tokoh Bangsa ini ditujukan untuk melestarikan dan mengembangkan nilai kehidupan para pendiri bangsa ini sebagai teladan dalam kehidupan masa kini, sekaligus menunjukkan bagaimana komitmen para tokoh bangsa ini terhadap persatuan dan kemerdekaan Indonesia. Itulah sebabnya mengapa program semacam ini dibuat dalam bentuk serial TV. Menyitir ucapan Garin Nugroho selaku konseptor dan penanggung jawab kreatif, kini memang sudah saatnya proses berbangsa ini secara demokratis diceritakan dalam budaya populer kita. Dengan cara seperti ini, program televisi yang dikemas secara popular, ringan dan melibatkan artis populer akan lebih banyak menghadirkan sejarah secara elegan di tengah -tengah masyarakat populer. "Saya sempat dibilang gila karena membuat serial ini dalam waktu yang pendek," sahut Garin di sela-sela penayangan perdana Pustaka Tokoh Bangsa di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail di Jakarta, Rabu petang kemarin. Bersama rekan-rekannya di SET Film Workshop, Garin hanya memiliki waktu tiga bulan untuk menyelesaikan tiga serial pertama. Hampir semua pihak yang terlibat adalah anak-anak muda, seperti sutradara Hanung Bramantyo dan Dian W Sasmita yang menggarap Soekarno dan Sjahrir serta Sergius Sutanto menggarap Hatta. Sementara tim kreatifnya juga melibatkan ahli sejarah CSIS, Indra J Piliang. Dari deretan pemain adalah artis-artis terkenal seperti Anjas mara sebagai Soekarno, David Chalik sebagai Hatta dan Fathur, yang lebih dikenal sebagai penyanyi, berperan sebagai Sjahrir. Dengan segala keterbatasan ini, Garin meminta agar semua pihak tetap melihat karya ini sebagai semangat anak-anak muda untuk mengenal tokoh-tokoh pendiri bangsanya. "Saya memberikan kebebasan mereka untuk berkarya atau menafsir tokoh yang bersangkutan dengan batasan ilmu sejarah dan informasi dari keluarga masing-masing tokoh," tandas Garin yang dikenal sebagai sutradara film itu. Ditambahkan Hanung, dalam mengerjakan proyek ini ia berpatokan pada tiga elemen, yaitu rekonstruksi, footage dan wawancara. Karena keterbatasan biaya dan dana maka ia tidak mungkin melakukan rekonstruksi secara utuh, sehingga ia hanya mengambil salah satu sisi yang ingin ditonjolkan dari seorang tokoh dengan banyak menggabungkan unsur footage dan wawancara. Seperti dalam episode Hatta, Sergius banyak memasukkan wawancara dengan ahli sejarah Des Alwi, yang kebetulan teman dekat Bung Hatta, serta ketiga anak Bung Hatta, Meutia, Gemala dan Halida Hatta. Di situ Sergius juga memasukkan sisi humanisme ataupun komedi, misalnya dalam adegan Hatta muda yang waktu itu masih kuliah di Den Haag, dikerjai teman-temannya untuk pergi ke kaf� dan melakukan kencan buta dengan seorang gadis bule. Adegan lain yang mengharukan adalah sikap kesederhanaan Hatta sudah tidak lagi menjabat sebagai Wakil Presiden, keluarga Hatta hidup sangat sederhana, sampai-sampai istrinya, Rahmi Hatta, seringkali menjaminkan perhiasannya untuk meminjam uang. Episode Sjahrir lain lagi. Di situ, Hanung mencoba menggabungkan antara gaya teatrikal, narasi dan drama. Ini sekadar untuk mengingatkan pemirsa bahwa di awal pergerakannya dulu, Sjahrir mendirikan sebuah kelompok tonil bernama Batavische. "Memang tidak mungkin mengambil dari segala sisi karena masing-masing tokoh sangat kompleks. Kita hanya mengambil sisi-sisi keutamaan bangsa saja, yaitu kemampuan membaca dan menulis seperti yang ditunjukkan para tokoh ini. Serial ini ditujukan untuk merangsang pemirsa agar mau mengenal lebih jauh tokoh-tokoh pendirinya dengan membaca bukunya," tandas Garin. (din) RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ==============================================

