Oke, yang satu ini adalah cerita tentang batagak penghulu.
 
Yang dilantik adalah Datuak Garang Nan Randah (GNR), dari Payuang Panji Sikumbang. (Wah, ada nggak ya anak buah beliau yang ikut di palanta ini....bahaya nih kalau salah omong %-)).
 
Sebenarnya beliau sudah dilewakan sejak sekitar dua tahun yang lalu.
DIlewa artinya : sudah melalui proses 'fit and proper test' sekalian mengkaji bibit, bebet, dan bobotnya...
Dengan sudah lulus tes tersebut, maka beliau sudah berhak memangku gelar datuk, sudah memimpin dan mengayomi anak buahnya, dan kita semua sudah harus memangggilnya dengan 'datuk' dan tidak lagi memanggil nama aslinya.
 
Jadi batagak panghulu itu hanya prosesi resepsinya saja.  Karena biayanya mahal sekali sekitar 24 juta rupiah gitu deh.
 
Hari Jumat, 4 Juil 2003, pagi hari, saya sempat nongol ke rumah keluarga datuk tersebut. Rencananya untuk melihat proses pemotongan kerbau.  Ternyata kerbaunya baru bangun...hehehe...maksudnya belum ada tanda2 untuk dibelek (mungkin sedang menyiapkan testamen, tanduknya untuk siapa dan sebagainya....becanda!).
 
Selesai Sholat Jum'at di Mesjid Pincuran Gadang (di sini ada mata air besar dan bisa saja jadi sumber air mineral, anyway), adalah pengangkatan Penungkek (Wakil Datuk) dan para Khatib.
Ternyata beberapa khatib lainnya merupakan anak buah dari b eberapa datuk lainnya (numpang pesta, ini sih sah sah aja).
Selesai proses pelantikan, dalam kondisi hujan yang lumayan rapat, sang datuk GNR dan para 'aparat'nya plus para datuk2 lainnya makan siang di rumah tempat datuk tersebut akan diturunkan (maksudnya turun menuju Medan Nan Bapaneh pada hari Minggunya).
Makan siang ini memakan waktu hingga 2 jam lebih, karena sebelum makan ada pasambahan antar datuk, ketika pulang ada pula pasambahan. Jika salah sebut dan diketahui oleh salah satu datuk lainnya (apalagi Ketua KAN), malah jadi berabe karena harus ulang pasambahan ke setiap datuk2 di sana (yg jumlahnya sekitar 80 an (80 dikato).
 
Minggu pagi, jam 9, saya sudah sampai di rumah tempat resepsi
Pagi ini memang ada jamuan makan (brunch gitu deh), istilahnya untuk melepas datuk dan rombongannya ke Medan Nan Bapaneh itu.
Ketika saya datang, suasananya cukup ramai.  Apalagi bunyi tambua (tambur) bertalu2 gitu deh (emang tambur bertalu2 ??? yaaa gitu deh).
Terdapat 4 rumah (dari satu keluarga besar itu) yang letaknya 2 berdampingan dan 2 lainnya persis berseberangan.
2 rumah untuk tempat perjamuan tamu2, 1 rumah untuk datuk GNR dan para khatib yang sedang dipestakan, dan satu rumah untuk keluarga. 
 
Salah satu rumah tempat perjamuan dipergunakan khusus untuk menjamu para datuk2 lainnya.  Selesai makan, mereka berbaris menuju Medan Nan Bapaneh untuk melakukan persidangan.
 
Kebetulan sekali saya dijamu di rumah tempat datuk GNR, wah serasa tamu VVIP jadinya...kita makan bareng2 dengan mereka, duduk di bawah dan dengan menu khas pesta datuk, seperti gulai kambing, gulai bukek, dan anyang (serundeng plus dendeng ukuran dadu)...nyam nyam nyam...
 
Molor dari waktu, baru sekitar jam 11 Datuk GNR dan para rombongan plus arak2an nasi gadang dan iringan tambua berbaris menuju Balai Adat.
Lokasi balai adat persis berseberangan dengan Medan Nan Bapaneh.
Lumayan jauh sih harus berjalan dengan kondisi menenteng2 nasi gadang di kepala....
 
Sesampai di sana, tambua berhenti berbunyi, iringan nasi gadang masuk ke Balai Adat, sang datuk GNR pun disembunyikan entah dimana.  Maksudnya beliau tidak ditampilkan di Medan Nan Bapaneh tempat para datuk bersidang.
Oya, Medan Nan Bapaneh adalah lapangan rumput terbuka.  Biasanya setiap kampung pasti punya lapangan rumput seperti ini, seperti alun2 gitu.
Para Datuk dengan kostum lengkap duduk di sana hanya dengan dialasi tikar plastik saling berseberangan membentuk segi 4.  Dipantangkan untuk menggunakan payung bagi kita para penonton.
Duduknya pun diatur : sisi yg satu adalah rombongan datuk dari Matur Hilir (tempat pesta datuk GNR) yang dipimpin oleh KAN (Kerapatan Adat Nagari) nya, lalu berseberangan dengannya adalah romb, datuk dari Matur Mudik, dan di sisi lainnya adalah romb, datuk dari Parit Panjang.  Tentunya dipimpin oleh KAN masing2.
Sebenarnya tidak hanya datuk yang boleh duduk di situ, para panungkek dan khatib juga hadir di sana.
Jika ada yang salah duduk, misalnya tidak ikut di kelompoknya, maka ini akan menjadi masalah karena masuk dalam pembahasan.
 
Setiap salam pasambahan diucapkan satu persatu, misal : "Datuak Balido Ameh, sambah di angku".
Bayangkan salam menyalam saja sudah makan waktu.
Salah sedikit, masuk pembahasan.
Acara di sini memakan waktu berjam-jam. Salah satu yang penting adalah ketidak hadiran ketua KAN MAtur Hilir yang justeru tuan rumah dari acara itu, yang diberi alasan sedang sakit dan tidak kuat duduk di situ berjam2.  Malahan wakilnya, yang sah, tidak bisa diterima kehadirannya oleh pihak Matur Mudik.
Kenyataan yang sesungguhnya adalah karena ketua KAN Matur Hilir itu tidak setuju dengan pengangkatan salah satu khatib.  Jadilah beliau ngambek dan nggak hadir di barisan rombongannya.  Artinya adalah segala keputusan yang diambil pada sidang siang itu tidak dengan persetujuannya.
Jadi jika terjadi suatu hal di lain waktu, beliau tidak akan bertanggung jawab.
Begitu alasannya.
 
Untunglah Azan Dhuhur, maka sidang ditutup, mereka sholat jamaah di Mesjid Raya Matur (termasuk bersama datuk GNR yang masih disembunyikan dari tadi) yang berada di sisi lain balai adat, dan setelah itu mereka santap siang, yang disebut makan bajamba di dalam Balai Adat.
 
Adapun yg boleh hadir ke dalam BA adalah orang yang ampek jinih (4 jenis): ninik mamak, ulamo, cadiak pandai dan bundo kanduang.  Syaratnya para wanita harus menggunakan baju kurung dan kain songket dan yg pria menggunakan jas tutup.
Tata cara makan pun dengan menggunakan piring besar.  Satu piring untuk 4 orang, makan dengan menggunakan tangan tanpa sendok, makanan dikuahi dengan gulai bukek.  Diberi pisang. dan TANPA AIR MINUM!!!!.
Tambahan lagi untuk si datuk yang sedang menjadi 'penganten' : harus duduk bersila ala datuk, sepanjang acara di sana tidak boleh mengganti posisi meskipun hanya bergoyang sedikit.  Lalu ketika makan, makan tersebut di lempar ke dalam mulut.  Mukanya nggak ngedatengin makanan, tetapi makanannya yang dateng ke mulut.
 
Konon, jika sang datuk melakukan kesalahan pada acara yang satu ini, maka akan menjadi omongan dan cemoohan orang... Ini katanya lhoooo....
 
Sebelum dan sesudah makan, tetap ada acara pasambahan...busettt...
Oya, di sini juga hadir wakil dari pihak pemerintah (di hari yang sama setidaknya ada 3 acara batagak panghulu di kabupaten Agam).
Selesailah prosesi acara itu jam setengah lima sore, sementara muka saya sudah hangus terbakar matahari, dan nggak ikut acara di Balai Adat karena mempersiapkan acara khitanan massal untuk keesokan harinya.
 
Hari Kamis, 10 Juli 2003 adalah acara terakhir dari seluruh rangkaian acara, yaitu keliling kampung (ya cuman di hilir aja sih) maksudnya ya biar ngasih tau aja kalau udah pakai keris. 
Ini yang membedakan antara datuk yang sudah dipestakan dengan yang belum : keris!
 
Selesailah acara Batagak Panghulu.
 
Menurut rencana, sekitar Desember/Januari akan diadakan acara Batagak Panghulu di MAtur Mudik (tetapi tetap saja Balai Adat dan Medan NAn Bapanehnya di lokasi yang sama, hanya mesjidnya yang berbeda).
Jumlah datuk yang akan dipestakan sekitar 22 orang!
Ini seperti crash program mungkin.
 
Begitulah ceritanya.  Mungkin nggak detil karena nggak semua prosesi bisa saya ikuti secara langsung. Dan perdebatan di MEdan Nan Bapaneh itu pun susah payah saya terjemahkan karena menggunakan bahasa adat yang tinggi dan pantun2 yang asing di kuping saya.
Demikian pula tingkat pengetahuan saya yang masih kurang dalam hal adat istiadat.
 
Semoga bisa menambah wawasan kita semua.
Wass,
Cysca
 
 

Kirim email ke