http://www.gatra.com/artikel.php?pil=23&id=27686 Dari Wahabi ke Padri
SEBUTAN gerakan Wahabi diambil nama dari pelopornya, Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1787). Tokoh kelahiran Nejd di Saudi Timur itu lantang menegaskan bahwa Islam yang otentik adalah model Islam pada zaman Nabi dan para sahabatnya. Kala itu, kaum muslimin hidup berpegang pada Al-Quran dan hadis, tanpa intervensi akal atau ijtihad terhadap Al-Quran. Mereka inilah yang disebut kaum Salafi. Dengan semangat menegakkan ajaran kaum Salafi itu, Abdul Wahhab bangkit. Ia kumandangkan ajakan kembali ke ajaran Islam yang asli. Yakni ajaran yang dijalankan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, termasuk prinsip tauhidnya. Bagi mereka, kalimat tauhid La ilaha illa Allah (tidak ada Tuhan selain Allah) tak cukup cuma diucapkan, mesti dimanifestasikan dengan La ma'bud illa Allah (tak ada yang disembah kecuali Allah). Mengubah situasi tidak cukup hanya dengan doa dan kata-kata. Perlu tindakan nyata. Ini pangkal lahirnya Salafi yang radikal. Manifestasinya dengan merusak tempat-tempat yang dipandang maksiat atau yang berpotensi syirik kepada Allah. Dengan konsep tauhid itu, Muhammad bin Abdul Wahhab memberantas tradisi yang dianggap keliru yang hidup dalam masyarakat Arab. Bentuknya, antara lain, menyembah selain Allah, bernazar kepada selain Allah, dan meminta pertolongan kepada syekh atau wali. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab lantas menyerang kuburan-kuburan yang dikeramatkan. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala, Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Kuburan Husein di Karbala itu sangat dipuja kaum Syiah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, termasuk hiasan-hiasan yang ada di atas nisan Nabi Muhammad. Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka'bah yang terbuat dari sutra. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul, Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz ibnu Sa'ud bangkit mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan keloyoan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Ajaran Wahabi tak cuma berkembang di Timur Tengah. Ia menyebar ke timur, termasuk India dan Indonesia. Di Indonesia, Wahabi dibawa kaum Padri di Minangkabau, dipelopori tiga tokoh yang baru menunaikan ibadah haji pada 1803. Mereka adalah Haji Miskin dari Luhak Agam, Haji Piobang dari Luhak Lima Puluh Kota, dan Hanji Sumanik dari Luhak Tanah Datar. Mereka dikenal reformis, tapi dengan cara-cara yang radikal. Sebagaimana dilakukan pengikut Wahabi di Saudi, di Minangkabau mereka juga berlaku keras. Kuburan, sabung ayam, perjudian, diserang. Tidak hanya itu, surau-surau yang mengembangkan tarekat, dan memberi penghargaan berlebih pada para syekh, mereka kecam habis. Mereka juga memerangi pria pemakai emas dan pemadat tembakau. Dalam sejarahnya, radikalisme tak pernah bisa berkembang luas. Tapi, ia tak juga bisa dipadamkan secara tuntas. Radikalisme bisa muncul sewaktu-waktu, bila kondisi keagamaan, sosial, budaya, politik, menurut mereka, tak menguntungkan Islam dan kaum muslimin. Masalahnya bisa timbul dari dalam, umat Islam sendiri. Bisa juga juga dari luar. Kaum Salafi radikal itu, menurut guru besar sejarah sekaligus Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta, Azyumardi Azra, cenderung memahami ayat-ayat Al-Quran secara harfiah. Misalnya, prinsip amar makruf nahi mungkar dilakukan dengan tangan. Prinsip tentang taghyir (perubahan) yang paling afdol juga dilaksanakan dengan tangan, bukan doa. Dalam pandangan Azyumardi, cuma kaum Padri di Minangkabau yang mewakili Wahabi di Indonesia. Selebihnya, kalaupun ada radikalisme yang mengusung jargon-jargon agama, lebih karena faktor-faktor internal serta eksternal, bukan soal pemikiran dalam aliran. Herry Mohammad [Buku, GATRA, Nomor 24 Beredar Senin 28 April 2003] RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===============================================

