Ada yang bisa bantu saya memahami is tulisan ini?
Kok saya rada tulalit yah...

Om ronald, bisa bantuan saya untuk berpikir dalam konteks politik?
soale mau ikutan ngedaftar jadi sekretaris rt007 nih..

(berpikir politik tidak berawal dari kesimpulan, tapi kesimpulan
politik yang kudu berawal dari paparan fakta dan opini...; otherwise
akan tulalit)

~rarach

--- In [EMAIL PROTECTED], "Ronald P. Putra"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> dari milis subalah, semoga bisa membantu kita dalam merekonstruksi
kembali cara memahami berbagai persoalan yang terjadi........
>
> --------------------------------------------------
>
> Bismillaahirrahmaanirrahiim
>
> Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabaraakaatuh,
>
> BERPIKIR DALAM KONTEKS POLITIK
>
> Amerika Serikat mengumumkan telah menangkap Hambali, seseorang yang
konon merupakan tokoh penting jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI)
dan penghubung JI dengan al-Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin. Hambali
pula yang konon mendalangi serangkaian pemboman, termasuk Bom Bali
2002.
>
> Ketika bom meledak di Hotel JW Mariott 5 Agustus 2002 lalu,
pemerintah Australia dan Singapura langsung menunjuk JI sebagai
dalangnya. Beberapa saat kemudian, ada telepon gelap di Singapura
dari seseorang yang mengaku sebagai anggota JI seraya mengatakan
bahwa bom itu adalah pesan kepada Megawati "agar tidak menekan Islam
militan di Indonesia". Kebetulan, pekan itu memang dua "tokoh" sedang
diadili, yaitu Amrozy yang kemudian dijatuhi hukuman mati dan Abu
Bakar Baasyir, tokoh MMI, yang juga dituduh merupakan amir JI di Asia
Tenggara. Beberapa petinggi negeri ini bahkan bereaksi dengan
mengusulkan agar pemerintah merevisi UU Anti Terorisme, bahkan bila
perlu mengadopsi Internal Security Act (ISA) ala Malaysia yang akan
mengizinkan negara menahan seseorang tanpa bukti apapun melainkan
cukup diduga akan melakukan aksi teror (yang disebut dengan tindakan
pencegahan). Orang yang ditahan itu juga tidak diizinkan untuk
didampingi pengacara atau berhubungan dengan dunia luar.
>
> Sementara bom di Mariott langsung dialamatkan kepada teroris,
padamnya listrik di sejumlah kota penting di Amerika Serikat dan
Kanada pada 14 Agustus 2003 lalu sama sekali tidak dialamatkan kepada
teroris, padahal sebagian besar penduduk New York semula berpikir
begitu.
>
>
>
> Bagaimana Seorang Muslim Berpikir
> Bom meamng telah meledak di Mariott, listrik telah padam di
seantero kota penting di AS, dan seseorang bernama Amrozy telah
mengaku berperan dalam peristiwa bom di Bali. Semua itu adalah fakta.
Sebaliknya, bahwa Bom Mariott didalangi JI atau padamnya listrik di
New York bukan aksi teror baru merupakan sebuah opini. Selain itu,
masih ada "fakta" yang samar-samar, semacam Hambali yang dituduh
sebagai tokoh penting JI, yang berhasil ditangkap dan langsung dibawa
ke AS.
>
> Sebagaimana diketahui, cara orang menilai dan menyikapi suatu benda
atau peristiwa bergantung pada cara dia berpikir. Berpikir itu
sendiri adalah suatu aktivitas yang melibatkan setidaknya tiga
komponen: (1) input data/fakta dari dunia realita ke otak kita (yaitu
melalui panca indera dan alat bantunya); (2) otak kita sebagai alat
pemroses data untuk mengaitkan antar data; (3) data dan informasi
yang telah terekam sebelumnya (pemahaman sebelumnya) dalam memori
kesadaran kita yang akan kita hubungkan secara terus-menerus dengan
fakta-fakta baru.
>
> Komponen ke-3 adalah komponen yang sangat penting. Bahkan inilah
faktor yang membedakan seorang awam dengan pakar atau seorang yang
berpikiran dangkal dengan yang berpikiran mendalam.
>
> Seseorang yang dihadapkan pada peristiwa yang sama, misalnya bom,
akan menilai berbeda-beda berdasarkan pemahaman yang ada sebelumnya.
Karena itu, sebenarnya hampir mustahil seseorang memberikan penilaian
atas suatu peristiwa hanya dengan mengandalkan "fakta-fakta di
lapangan".
>
> Setiap polisi, misalnya, pasti memiliki suatu pemahaman yang sesuai
dengan pendidikannya, pengalamannya, juga apa yang dia dengar dan
lihat selama ini. Karena itu, sangat wajar jika seorang polisi
yang "dibesarkan" dengan teori-teori "JI", tentu pikirannya akan
otomatis mencoba mencari fakta di lapangan yang memang "cocok" untuk
dijadikan bukti atau indikasi JI. Tidak aneh, dalam kasus Bom Bali,
yang turut dijadikan barang bukti dalam penggeledehan para tersangka
adalah termasuk buku-buku dan majalah Islam, yang sebenarnya juga
dijual bebas di mana-mana.
>
> Karena itu, seorang Muslim seharusnya mampu:
>
> 1.    Berpikir mendalam, majemuk, dan non-linier; membedakan antara
opini dan fakta, antara fakta satu dan fakta lainnya, serta antara
fakta asli dan fakta yang direkayasa. Memang, ada teroris yang
kebetulan memiliki ciri-ciri: berjenggot, mencita-citakan penerapan
syariat Islam, dan anti AS. Namun demikian, tentu tidak tepat untuk
menarik kesimpulan umum bahwa semua orang yang berjenggot, merindukan
penerapan syariat dan anti AS adalah "teroris potensial"
atau "teroris laten" sehingga pantas ditahan dengan
prinsip "preemptive" sesuai ISA. Ini bukanlah bentuk pemikiran yang
mendalam. Sama dangkalnya dengan cara berpikir, bahwa karena seekor
monyet itu suka loncat-loncat, makan pisang, dan memanjat pohon, maka
semua binatang yang suka loncat-loncat, makan pisang, dan memanjat
pohon pastilah seekor monyet.
>
> 2.    Berpikir ideologis dan sistemik. Islam adalah agama untuk
mengatur kehidupan manusia; baik dalam hubungannya dengan Rabb-nya,
dengan dirinya sendiri, maupun dengan manusia lain. Karena itu,
ajaran Islam pastilah suatu ajaran yang sistemik, yang meliputi
seluruh aspek kehidupan. Karena Islam diletakkan di atas dasar akidah
rasional yang khas, yang juga memberi jawaban atas pertanyaan asal-
usul serta tujuan hidup manusia, Islam juga merupakan sebuah
ideologi. Karena itu, seorang Muslim mestinya terbiasa berpikir
ideologis dan sistemik, tidak cuma berpikir parsial. Setiap masalah
yang parsial akan diletakkan dalam kerangka sistem. Sebagai contoh,
ketika dia berpikir tentang pornografi, fokusnya tidak sekadar
larangan Islam atas mempertontonkan aurat, namun juga mencakup aturan-
aturan Islam tentang ekonomi, pranata sosial, politik dan bahkan
hubungan internasional. Bukankah sebagian pengedar pornografi
melakukan aktivitas itu karena desakan ekonomi? Bukankah pranata
sosial yang materialis telah menyebabkan rasa malu lenyap? Bukankah
negara tidak menerapkan aturan-aturan yang mampu menjerat pelaku
pornografi dengan efektif? Bukankah pula Barat menginginkan gaya
hidup mereka ditiru oleh dunia Islam?
>
>
>
> Kesadaran Politik Islam
> Seseorang yang berpikir ideologis dan mendalam akan memiliki
kesadaran politik yang kuat. Kesadaran politik ini akan membimbingnya
sehingga tidak terombang-ambing oleh berbagai skenario politik. Ia
akan bisa membedakan opini Islam dari opini kufur yang berbaju Islam
atau membedakan tradisi Islam dari tradisi yang kebetulan berkembang
di negeri Muslim namun bukan berasal dari Islam. Dia juga mampu
memisahkan antara membela Islam dan membela kepentingan seorang
Muslim yang boleh jadi melanggar aturan Islam. Dia tidak akan diam
saja menyaksikan kemaksiatan, namun ia juga tidak mudah dihasut
untuk "menari dalam irama gendang" musuh-musuh Islam. Dia tidak akan
terpancing untuk melakukan perusakan atau pemboman sarana-sarana
publik, seperti yang dilakukan para teroris di Bali atau di Hotel
Mariott, karena merusak sarana umum adalah haram, dan itu bukan cara
yang dicontohkan Rasulullah saw. untuk menegakkan syariat Islam.
>
> Barangkali, sejumlah pelaku lapangan dalam aksi-aksi teror memang
seorang Muslim yang ikhlas dan ingin berjihad menegakkan Islam. Namun
demikian, keikhlasan saja tentu tidak cukup, karena diperlukan syarat
lain, yakni sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Sebab, Rasulullah
saw. pernah bersabda:
>
> ����� ������ ������� ������ �������� ��������� ������ �����
>
> Siapa saja yang melakukan suatu tindakan yang tidak diperintahkan
oleh kami, maka tindakannya tertolak. (HR al-Bukhari dan Muslim).
>
>
>
> Mengomentari hadis ini, Ibn Katsir, dalam tafsirnya (II/302),
menyatakan bahwa siapa saja yang melakukan tindakan yang menyalahi
syariat yang dibawa Rasulullah, dia harus hati-hati dan takut akan
fitnah/azab yang menimpanya.
>
> Banyak tukang ibadah atau orang yang gemar beribadah yang memang
ikhlas mengabdikan dirinya untuk Tuhannya. Namun demikian, jika
ibadah itu dilakukan dengan kebodohan, bisa jadi keikhlasannya itu
membawa bencana bagi dirinya sendiri ataupun bagi kemanusiaan. Tentu
saja, tukang ibadah yang bodoh ini juga merupakan "makanan empuk"
bagi para pakar (atau secara generik dalam bahasa Arab
disebut "ulama") yang jahat. Para pakar jahat ini bisa mewujudkan
berbagai kepentingan busuknya, baik bagi dirinya sendiri, penguasa
yang zalim, maupun pihak asing yang ingin menghancurkan Islam melalui
tangan-tangan orang-orang ikhlas di antara kaum Muslim sendiri; yang
tidak memiliki kesadaran politik akibat tidak berpikir mendalam,
majemuk, non-linier, serta ideologis dan sistemik.
>
>
>
> Seruan kepada kaum Muslim
> Sungguh, al-Quran telah mengajarkan kepada kita untuk banyak
berpikir dan memperhatikan baik kejadian alam maupun peristiwa-
peristiwa politik. Allah Swt. berfirman:
>
> ]���� ������ ���� ���������� ������ ��������� ��� ���������
���������� ������ ����� ��������� ��������������� [
>
> Sesungguhnya telah berlalu sebelum kalian sunnah-sunnah Allah.
Karena itu, berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah
bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan. (QS al-Imran [3]: 137).
>
> ]������ ���� ����� ��������� ���������� ������� ������ �����
���������� ��� ���� �������� ����� �������� ������������� �����
��������� ������ �����������[
>
> Tidaklah kalian memperhatikan orang-orang yang menjadikan suatu
kaum yang dimurkai Allah sebagai teman. Orang-orang itu bukan dari
golongan kalian dan bukan dari mereka. Mereka bersumpah untuk
menguatkan kebohongan, sedangkan mereka mengetahui. (QS al-Mujadilah
[58]: 14).
>
>
>
> Al-Quran juga mengajarkan kepada kita agar selalu waspada dan siap
dalam menghadapi makar-makar orang-orang kafir.
>
> ]������ ������� ������ ���������� ����� ����������� ������
��������� �����������[
>
> Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kalian
sehingga kalian mengikuti kemauan mereka. (QS al-Baqarah [2]: 120).
>
> ]����������� ��������� ��������� ���� ��������� ������� ��������
������������� ���� ��������� ������� ����������� ������������ �����
��� ���������� ����������[
>
> Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik
membawa suatu berita, periksalah dengan teliti, agar kalian tidak
menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian
itu. (QS al-Hujurat [49]: 6).
>
>
>
> Umat Islam harus mampu meningkatkan kualitas berpikir mereka agar
mereka memiliki kesadaran ideologis. Dengan begitu, mereka tidak
terus-menerus hanya menjadi buih di era globalisasi ini. Allah Swt.
berfirman:
>
> ]����� ����� ��� ��������� ��� �������� ������ ����������� ���
��������������[
>
> Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-
Ra`du [13] : 11).
>
>
>
> Komentar Al-Islam:
>
>         Ulama Aceh: Membiarkan terjadinya kemungkaran adalah haram
hukumnya (Kompas, 19/08/2003)
>
>
>         Membiarkan syariat Islam tidak ditegakkan juga merupakan
perbuatan yang diharamkan
>
>
> Wassalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabaraakaatuh.
> Abu Hafizh
>
> Sumber: Buletin Dakwah Al-Islam Edisi 168
>                http://www.al-islam.or.id/
>
>
> RantauNet http://www.rantaunet.com
> Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
> -----------------------------------------------
>
> Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke:
> http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
> =======================


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------

Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke:
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
==============================================

Kirim email ke