Mau tahu indahnya punya anak, tanya sama Evi yang sangat cinta sama dua anaknya.
Berapa banyak pencopetan, perampasan, perampokan, atau pembunuhan yang berlangsung di sekitar kita yang menyebabkan rasa aman sebagai salah satu persyaratan kebahagiaan tidak hadir dalam perjalanan hidup ini? Menghabiskan banyak waktu dengan memberikan pengajaran agama kepada anak-anak, sembahyang siang malam, naik haji, dan sebagainya terbukti tidak memecahkan masalah ini.
Cobalah berpaling ke arah kemiskinan dan di sana akan ditemukan hakikat segala kejahatan tersebut.
Persaingan hidup yang amat tinggi dalam lingkungan penduduk yang jumlahnya sudah membludak, mereka yang tidak punya akses akan tertinggal jauh di belakang. Cara apapun seringkali ditempuh demi sesuap nasi, demi kelangsungan hidup. Media massa di Indonesia bagai tidak pernah kekeringan informasi tentang ayah yang kedapatan mencuri dibunuh dan meninggalkan anak bini yang boleh jadi akan menjadi pencuri pula.
Bertolak dari keadaan masyarakat sekarang ini, ada dua skenario kehidupan yang sudah pasti:
1. Punya anak sendiri:
Penduduk bertambah, persaingan hidup makin keras, korban peradaban terus berjatuhan, rasa aman/kebahagiaan yang sesungguhnya kian menghilang, ...
2. Tak beranak:
Penduduk berkurang, persaingan hidup mengendur, korban peradaban menurun, rasa aman/kebahagiaan yang sesungguhnya kian dirasakan, ...
Egoisme ingin punya anak sendiri dalam zaman penduduk yang berlimpah-limpah ini telah membenamkan kebahagiaan manusia ke dalam lumpur kenistaan. Sebagai manusia, saya percayai betul, kita punya kewajiban moral menyelamatkan manusia lain yang kurang beroleh berkah. Di atas tataran ini, kita perlu mempertanyakan lagi nilai hidup kita kalau begitu saja tega melihat mereka yang berjalan tertatih-tatih memikul beban kemiskinan menuju garis kematian.
Atas nama kemanusiaan, mari kita lenyapkan egoisme yang bersarang dalam jiwa kita, berhentilah melahirkan anak-anak, dan sebaliknya selamatkan anak-anak yang sudah terlahir malang di muka bumi ini tanpa mendiskriminasikan mereka bersebab ras dan agama. Dengan begitu keindahan yang sesungguhnya akan hadir di tengah-tengah perjalanan umat manusia.
Tapi, hanya yang peka saja yang dapat menyelami keindahan tersebut. Adakah Anda salah seorang di antara mereka?
e
On 2003.8.22, at 11:45 AM, Danil Mkumbang wrote:
Apa otak anakmu diprogram seperti komputer .......... shg keinginan mu bisa
di terapkan?
Cobe renungkan kata orang tua berikut:
Cubolah punyo anak nanti .............................
Atau mungkin dek takuik jo ka kato bajawab, tuah babaleh.
Kalian orang bandel jadi takuik di bandelan anak ............ jadi putusan
kalian tidak beranak, alasan termakan dunia maju ............ perlu
dipertanyakan.
Mau tahu indahnya punya anak, tanya sama Evi yang sangat cinta sama dua anaknya.
From: "J.Dachtar" <[EMAIL PROTECTED]> Reply-To: [EMAIL PROTECTED] To: [EMAIL PROTECTED] Subject: Re: [MN] Tak Beranak Date: Thu, 21 Aug 2003 13:31:30 +0100
JD--> Protes keras, saya bukan penduduk Inggris dan ndak akan pernah. Tapi se-mata2 sedang menikmati sedikit kesempatan keluar dari kebiadaban yang merupakan habitat saya yang sesungguhnya. Saya termasuk orang paling beruntung karena secara periodik dalam masa hidup saya bisa jedah beberapa saat dari rutinitas kebiadaban. Dan sekarang keteraturan sudah membuat saya jenuh dan stress berat (I just want to go back home). Terlalu indah tantangan hidup didalam kebiadaban itu, tapi sekali2 tentunya perlu jedah untuk recharge.
Saya setuju dengan anda tentang eqois punya anak. Dalam hitung2an bodoh saya, rada2nya kok ya haram hukumnya beranak dalam masa2 kebiadaban seperti sekarang ini. Misalkanlah saya bisa beranak (tentunya anak2 saya jauh lebih sakti dari Yesus): kalau saya didik dan besarkan mereka untuk menjadi orang Minang Kabau, tidak akan pernah sampai hati saya melihat anak2 saya tumbuh melarat dan hidup terasing dari lingkungannya (ndak banyak orang yang bisa menikmati "kemelaratan dan keterasingan"). Kalau karena ketidak-tegaan itu, saya didik anak2 saya secara wajar (ukuran saat ini) untuk jadi orang Minang Golkar, jangan2 neraka itu memang ada. Ya wes tak lakoni ae.
Pulkam ruponyo kawan, patuik lah dek lamo mahilang.
Wass. JD
RantauNet http://www.rantaunet.com Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php -----------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

