Assalamu�alaikum wr.wb.,

Telah bergulir bahasan kita dari satu topik ke lain topik. Termasuk diantaranya bahasan mengenai Wahabi dan Paderi. Maka seperti biasa masing-masingpun menyampaikan apa yang �terkilan dimata� yang terasa di hati. Dengan segenap kemampuan yang ada dan dengan segenap keyakinan yang dipunyai. Ada yang mengidentikkan gerakan Wahabi itu dengan �barbar� dan sebaliknya ada yang memuji ketegasan dan keteguhannya. Tidak usahlah kita bahas siapa benar Abdul Wahab yang kemudian namanya dipakai tempat menumpangkan sebuah gaya keyakinan baru, meski belum mencapai tahap pemahzaban. Kalau kita mau menyimak sejarah Islam, (yang banyak diantara kita juga merasa pakar dalam hal ini), telah hadir �pembaharu-pembaharu� secara bergantian sejak kehadiran Islam ini. Diantara yang pertama-tama dapat kita lihat khalifah Umar bin Ibnu Aziz, yang hadir kira-kira seratus tahun sesudah nabi Muhammad SAW wafat, yang mencoba membawa umat Islam kembali kepada Quran dan sunnah Rasulullah SAW, sesudah sebagian umat Islam mulai menyimpang dari tauhid yang sesungguhnya.

Sebenarnya tidaklah para mujahid atau para pembaharu itu membaharui dalam arti kata memperkenalkan sesuatu yang baru tentang Islam, atau mengajarkan sesuatu yang baru tentang Islam apalagi menambah-nambah apa yang sudah ada dalam Islam, melainkan yang mereka lakukan adalah  mengajak agar umat Islam kembali menjalankan Islam seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Kenapa mesti mengajak kembali kepada kemurnian tauhid? Karena kecenderungan manusia, bahkan sejak masih dari awal kedatangan Islam, tanpa disadarinya senantiasa digiring oleh syaithan untuk menyimpang. Sejak dari jaman nabi masih ada, sudah ada dikalangan umat Islam yang ingin untuk memperturutkan hawa nafsunya ingin keluar dari lurusnya tauhid. Dan nabi selalu dengan sabar menunjuki orang-orang seperti itu. Di jaman khalifah Abu Bakar, ada orang yang merasa agama Islam sudah selesai dan tidak perlu lagi ditaati. Mereka menolak membayar zakat. Begitu juga di jaman Umar. Bahkan semakin bertambah menjadi-jadi pada khalifah-khalifah berikutnya.

Dengan cara apa mereka menyimpang? Bermacam-macam. Yang paling mudah bagi syaithan untuk masuk adalah dengan menanamkan kecintaan  berlebihan terhadap dunia. Dunia itu bisa kedudukan, bisa harta, bisa wanita. Begitu pula ketetapan dari Allah. Manusia sangat betul lemahnya dalam hal-hal dunia itu. Bahkan Allah sebutkan bahwa �Manusia terperdaya mencintai syahwat terhadap wanita, keinginan mempunyai anak laki-laki, harta yang bertumpuk-tumpuk dari emas dan perak, kuda tunggangan, binatang-binatang peliharaan, kebun-kebun dan tanamannya. Semua itu kesenangan hidup dunia� (Ali Imran 14). Dari sini dengan mudahnya syaithan mengembangkan jurus-jurus baru. Ada fitnah, ada cemburu, ada dengki, ada dendam, ada kezhaliman, ada kesemena-menaan, ada kerakusan, ada ketamakan, ada pembunuhan untuk memperebutkan kesenangan dunia tadi.

Dan itu sudah ada sejak dari jaman nabi, meski nabi sendiri mencontohkan betapa beliau tidak silau dengan keindahan dunia itu. Hal yang sama di tiru pula oleh khalifah-khalifah beliau. Namun pemimpin-pemimpin lain yang diangkat jadi wakil dinegeri yang jauh-jauh, tak urung tergoda juga. Adalah Umar bin Khatab yang melempar wakil pemerintahannya di Syam dengan kerikil tatkala sang wakil datang menemuinya dengan berbaju sutera. Sang gubernur punya alasan untuk itu, agar pemuka orang Islam tegak sama tinggi, duduk sama rendah dengan pemuka-pemuka Romawi. Padahal yang sebenarnya mereka sudah mulai tergelincir. Dijaman Utsman bin Affan bahkan berubah menjadi fitnah yang lebih besar. Begitu pula di jaman khalifah Ali bin Abi Thalib.

Dan ini harus diluruskan. Oleh Islam. Maka Islam mengajarkan ketegasan yang bahkan bisa berakhir dengan �perangi� setiap kemungkaran. Islam mengajarkan adanya perang. Urut-urutan seruan Islam memasukkan kemungkinan perang itu dalam prosedur. Diawali dengan menyeru mereka kepada kebaikan, baik yang masih belum tersentuh Islam maupun yang sudah mengenal Islam tapi kemudian menyimpang. Kepada yang belum tahu Islam , agar mereka  diseru untuk mengenalnya, khususnya lagi kepada mereka-mereka yang menjalankan praktek hidup zhalim.  Perkenalkan Islam ini secara baik-baik. Tunjukkan kebaikan yang ada dalam Islam itu. Islam itu tauhid. Islam itu rahmat. Islam itu kasih sayang. Islam itu santun. Islam itu perduli. Islam itu adil. Dan juga sebaliknya. Islam itu menentang kebatilan, Islam itu melawan kemungkaran, Islam itu melarang kezhaliman dan kesemena-menaan, Islam itu membenci ketidak adilan.

Tapi musuh-musuh Islam tidak percaya dengan seruan-seruan dan larangan-larangan itu. Musuh-musuh Islam yang utama adalah syaithan dan manusia yang bisa dipengaruhinya. Mereka punya seribu dalih untuk tidak menerima. Dan Islam tidak keberatan kalau orang yang didakwahi tidak menerima Islam secara utuh. Tapi ada aturan-aturan yang tetap mesti ditegakkan. Keadilan harus ditegakkan. Kezhaliman harus dihentikan. Akibatnya bertambah banyak orang yang gerah dengan Islam. Parsi gerah. Romawi Timur gerah. Dan mereka mengajak perang. Ternyata dalam Islam memang ada �bab tentang perang�.

Perang adalah budaya manusia sejak manusia hadir dimuka bumi dan Islam secara realistis mengakui perlunya perang. Islam jelas tidak mengajarkan �kalau pipi kirimu ditampar, berikan pipi kananmu!�. Jelas tidak. Islam mengajarkan �kalau kalian diperangi, hadapi peperangan mereka dan jangan kalian lari dari medan perang! Kalu kalian gugur kalian gugur karenaAllah, dan kalau kalian menang, kalian menang karena Allah, jadi jangan sombong dan jangan semena-mena.� Kalau sudah dalam suasana perang, maka orang-orang beriman itu, orang-orang Islam itu seperti yang termaktub dalam firman Allah , �sangat keras terhadap orang kafir dan berkasih sayang diantara sesama mereka.� (Al Fath 29) Dan itu harus terang-terangan. Tidak ada salahnya bendera kalian dihiasi dengan pedang karena pedang itu memang kalian perlukan untuk tegaknya aturan Allah. Tapi kalian tidak boleh menghunus pedang itu semena-mena. Tidak boleh kalian gunakan pedang itu untuk berlaku tidak adil kepada musuh-musuh kalian. Kalian memerlukan pedang karena musuh kalian juga menggunakan pedang.

Perang itu ada adabnya  menurut Islam.  Sebelum memberangkatkan tentaranya ke medan perang, yang memang harus dihadapi, Rasulullah SAW terlebih dahulu mengingatkan. Jangan sembarangan membunuh. Jangan bunuh orang tua. Jangan bunuh anak-anak. Jangan bunuh rahib-rahib atau pemuka-pemuka agama yang tengah beribadah dirumah ibadahnya. Jangan bunuh hewan yang tidak ada keperluannya untuk dibunuh. Jangan rubuhkan pohon yang tidak ada keperluannya untuk dirubuhkan. Ringkasnya jangan berperang memperturutkan hawa nafsu kalian, tapi berperanglah karena Allah.

Itulah yang dilakukan oleh Umar bin Ibnu Aziz dijamannya. Itu yang dilakukan Abdul Wahab dijamannya. Itu pula yang digerakkan oleh kaum Paderi di Minangkabau di jamannya.  Dan akan selalu saja ada dikalangan umat ini insya Allah, segolongan orang yang tetap berusaha menjadi seperti Umar bin Ibnu Aziz. Seperti Abdul Wahab, seperti tiga orang haji di Ranah Minang di awal abad ke XIX.

Dan hal ini bersesuaian pula dengan perintah Allah dalam al Quran, agar tetap ada orang yang senantiasa mengajak ke arah kebaikan (menurut al Quran), memerintahkan ditegakkannya yang baik-baik dan mencegah tumbuhnya yang tidak baik atau yang mungkar.  �Hendaklah ada diantara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, yang menyuruh berbuat ma�ruf dan melarang kemungkaran.� (Ali Imran 104).

Dan orang-orang seperti itu akan tetap diperlukan kehadirannya di muka bumi Allah ini. Karena musuh-musuh Allah yang tidak henti-hentinya  melecehkan agama Allah akan selalu saja pula ada. Musuh-musuh agama Allah yang selalu mencari-cari dan mengada-adakan sisi buruk dari agama Islam. Mereka akan selalu ngeyel.  Mereka akan selalu tidak senang dengan Islam. Mereka tidak akan henti-hentinya menimbulkan fitnah terhadap Islam.

Wallahu a�lam.

Wassalamu�alaikum wr.wb.,

 



St. Lembang Alam


Do you Yahoo!?
Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software

Kirim email ke