--- In [EMAIL PROTECTED], "Zulharbi S" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Assalamu'alaikum wr.wb.
> 
> 
> 
> Untuk jadi perhatian kita bersama.
> 
> 
> 
> Waspadailah terhadap misionaris Kristen dengan berbagai cara untuk 
mengelabuhi dan merayu warga Muslim. Berikut petikan salah satu misi 
dan pekabaran Injil untuk memperdayakan ummat Muslim. 
> 
> 
> 
> ZS Mangkuto
> 
> 

Mohon konfirmasi lagi: benarkah kutipan di bawah adalah petikan dari 
salah satu misi dan pekabaran injil?

coba baca kutipan ini:

"Pendekatan ini, mau tidak mau, mengingatkan saya akan Dr. Snouck 
Hurgronje, penasihat militer Gubernur Jenderal Belanda, yang terkenal 
dengan penelitiannya di Aceh untuk mengalahkan Cut Nyak Dien dan 
tentaranya."

Mohon konfirmasi dan sumbernya.

Terimakasih.



> --------------------------------------------------------------------
------------
> 
> Misi dan Pekabaran Injil
> Being Moslem 
> 
>             TINGKAT resistensi Islam terhadap agama Kristen sangat 
tinggi, sehingga peralihan dari Islam ke Kristen umumnya sangat 
rendah. Demikian pula dari berbagai agama besar lainnya, seperti 
Hindu dan Buddha. Jadi, meskipun Kekristenan sudah hadir di Jepang, 
misalnya, sejak abad XVI melalui para misionaris Portugis dan 
Belanda, hingga kini jumlah orang Kristen di negeri itu tidak sampai 
1%. Hal yang sama dapat kita jumpai dalam kasus berbagai daerah di 
Indonesia. Katakanlah, Jawa Barat, tempat kelahiran GKI Jawa Barat 
dan Gereja Kristen Pasundan. Untuk menghadapi tantangan yang 
sedemikian berat, banyak misionaris yang berusaha memikirkan strategi 
yang paling tangguh, misalnya dengan terjun ke dalam budaya 
masyarakat yang diinjili.
> 
>             Rick Love membuka kitab Kisah para Rasul di dalam 
Alkitabnya. Di bagian yang dibukanya itu dikisahkan bagaimana Rasul 
Paulus mengajak seorang muridnya yang bernama Timotius dalam salah 
satu perjalanan misinya. Sebelum mereka melakukan perjalanan itu, 
Paulus menyuruh menyunatkan dia "karena orang-orang Yahudi di daerah 
itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani" (Kis. 
16:3). "Dia bilang, `Hei, Tim, kamu mau ikut saya? Kamu harus 
disunat, lho.'" Kata Love kepada seluruh mahasiswanya. "Itu baru 
namanya tantangan. Wah!"
> 
>             Love tidak menganjurkan agar mahasiswanya yang laki-
laki menyunatkan diri. Maksudnya yang lebih penting ialah: 
untuk "memenangkan jiwa" di budaya asing, orang harus berperilaku 
sesuai dengan budaya itu, termasuk ritual-ritual dalam agama lain. 
Hal ini disebut "kontekstualisasi," sebuah topik yang hangat di 
kalangan misionaris. Dalam pendekatan ini, para misionaris diharuskan 
menyisihkan segala praktek Kekristenan gaya Amerika, termasuk bangku-
bangku kayu dalam kebaktian dan nyanyian rohani Barat. Sebaliknya, 
mereka harus mengambil nama Muslim, memakai jilbab dan pakaian 
setempat lainnya, ikut sembahyang dan bahkan berpuasa pada bulan 
Ramadhan. "Kita harus menjadi Muslim agar bisa menjangkau orang 
Muslim," kata Cashin, profesor di CIU. Pendekatan ini, mau tidak mau, 
mengingatkan saya akan Dr. Snouck Hurgronje, penasihat militer 
Gubernur Jenderal Belanda, yang terkenal dengan penelitiannya di Aceh 
untuk mengalahkan Cut Nyak Dien dan tentaranya.
> 
>             Kalau seorang penginjil abad pertama merelakan dirinya 
disunat untuk memperoleh anggota baru, seberapa jauh seorang 
misionaris abad XXI berani melangkah? Pada waktu makan siang, 
Christian Dedrick mengambil sesendok sup brokoli masakan istrinya dan 
merenungkan pertanyaan ini. "Apakah kita harus menyebut diri kita 
Muslim? tanyanya. "Arti kata ini yang sesungguhnya adalah `orang yang 
menyerahkan diri.' Di Yordania, para misionaris mendirikan `masjid 
Yesus'. Mereka menyebut diri `Muslim al-Masih.' Kami bergumul dengan 
masalah ini. Kami ingin menyebut `Allah' sebagai nama untuk Tuhan, 
sehingga kami dapat membangun hubungan dengan orang-orang Muslim."
> 
>             Dedrick mencoba menarik batas agar tidak terlihat 
terlalu Muslim. Tetapi misionaris lainnya tidak. "Sebuah tim di Timur 
Tengah mengambil kebijakan untuk tidak mengizinkan para misionarisnya 
mengidentifikasikan diri sebagai orang Kristen," demikian laporan 
dalam Evangelical Missions Quarterly. Sebuah tim lainnya "menyebut 
diri mereka Yesus-is" dan menampilkan diri sebagai "salah satu aliran 
Sufi atau derwis." Missiology mengatakan bahwa para misionaris 
menganjurkan agar mahasiswa-mahasiswa Palestina menerima iman 
Kristen, namun tetap menyebut diri mereka Muslim.
> 
>             Ketika didesak, kaum evangelikal mengakui bahwa mereka 
sering mengaburkan perbedaan di antara kedua agama ini dan tidak mau 
mengutarakan maksud-maksud mereka. "Batas antara menipu kecerdikan 
dan menahan informasi sangatlah tipis," kata salah seorang misionaris 
di CIU yang tidak mau menyebutkan identitasnya karena alasan-alasan 
keamanan. Ia mengaku bahwa ia jarang sekali mengatakan kepada 
tetangga-tetangganya yang Muslim, mengapa ia tinggal di antara 
mereka. Ia hanya mengaku sebagai "mahasiswa bahasa". Ia terpaksa 
memutuskan hubungan persahabatannya dengan mereka yang terlalu banyak 
bertanya. "Sungguh suatu tantangan untuk memelihara integritas dalam 
keadaan seperti itu," katanya.
> 
>             Banyak pemimpin Muslim dan Kristen yang yakin bahwa 
kelompok-kelompok evangelikal seperti itu seringkali gagal dalam 
menghadapi tantangan integritas. "Begitu orang menemukan bahwa mereka 
tidak jujur, rasa hormat terhadap yang suci pun hilang," kata Sayyid 
Syed, sekretaris jenderal Perhimpunan Islam di America Utara. Ritual-
ritual suci, seperti sujud dan puasa di bulan Ramadhan, digunakan 
untuk memikat orang agar menjauhi agama mereka. "Kaum misionaris 
itu," kata Syeed, "dilihat sebagai orang yang menikam dari belakang."
> 
>             Bagi Donna Derr, masalah kejujuran ini bukanlah sesuatu 
yang abstrak. Derr telah lama melayani sebagai salah satu direktur 
dalam menghadapi permintaan bantuan darurat internasional untuk 
Church World Service, yang melayani di lebih dari 80 negara dan 
melarang kristenisasi. Dari perspektifnya, orang-orang Kristen yang 
menginjili dengan menyamar sebagai tenaga kemanusiaan, mempersulit 
lembaga-lembaga bantuan yang sah dalam melayani negara-negara dan 
masyarakat yang dilanda kemiskinan, kurang gizi dan 
penyakit. "Kelompok-kelompok itu membuat kami seolah-olah sama dengan 
mereka," kata Derr. Akibatnya, lembaga-lembaga seperti CWS seringkali 
sulit memperoleh kepercayaan untuk melayani mereka yang benar-benar 
membutuhkan bantuan kemanusiaan. "Kami sulit mendapatkan izin masuk," 
kata Derr, "karena sebelumnya ada yang pernah mencoba mendirikan 
sebuah Gereja Kristen. Kata mereka, `Oh, nama kalian `kan `Church 
World Service.' Jadi, pasti kalian ingin melakukan hal yang sama."
> 
>             Catholic Relief Service menciptakan sebuah model yang 
banyak diikuti oleh kelompok-kelompok Kristen arus utama dengan 
melayani mereka yang membutuhkan bantuan tanpa secara aktif mencari 
orang Kristen baru. CRS membagikan makanan dan selimut di Afganistan, 
membangun sistem air minum di Maroko, mengembangkan usaha kecil di 
antara kaum perempuan Mesir tanpa mencoba mengkatolikkan orang-orang 
Muslim. "Kami mencerminkan keyakinan kami melalui perbuatan, dalam 
hubungan kami, dalam rasa hormat kami kepada orang lain," kata Ken 
Hackett, direktur lembaga itu. "Kami bahkan tidak meminta staf kami 
untuk beralih agama. Kalau anda seorang Muslim yang baik, anda adalah 
seorang Muslim yang baik." (M3)

RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke