Salam Perdamaian

Setiap Jumat pertama tiap bulan, siswa-siswi yang Muslim tepat pukul 09.00 berbaris menuju sebuah madrasah (tepatnya di Jalan Bandar Gereja) yang disediakan oleh Yayasan Prayoga untuk pelajaran khusus agama Islam bagi murid2 Islam. Staf pengajar disediakan oleh Departemen Agama. Di saat yang sama, murid-murid Katolik berbaris menuju gereja yang letaknya di depan sekolah kami, persis di samping Hotel Mariani, atau sekarang di depan Hotel Bumi Minang. Murid yang beragama selain itu, boleh langsung pulang.

Justru, yang sering terjadi adalah guru agama Islam sering tidak masuk dan memberitahu ke kantor SD Theresia, sehingga kami sering disuruh langsung pulang. Adakalanya kami langsung ke madrasah, tapi tidak menemukan guru yang hari itu memang sedang absen. Kadang kami main 'gala' di dalam playground sekolah yang berlantai keramik jika diberitahu Kepsek guru agama kami berhalangan.

Ibu saya guru SMP Negeri 2 Padang. Pulang sekolah saya langsung ke SMP 2. Menunggu Ibu selesai mengajar, saya sering menghabiskan waktu di perpustakaan SMP 2. Salah satu yang rajin saya baca adalah Injil yang kebetulan satu-satunya koleksi pustaka untuk buku2 agama selain Islam... dan kisah-kisah para Nabi dan khalifah.

Setiap hari suci umat Kristen, kami biasanya memberikan hormat dengan sekadar hadir untuk melihat drama Yesus lahir di kandang kambing pada musim salju yg dimainkan oleh teman2 Kristen, Hari Paskah, dll. Hingga kini saya masih bisa menghapal doa yang mereka panjatkan setiap kali akan memulai pelajaran, "Atas nama Bapak dan Putra, Roh Kudus, Amin. Muliakanlah nama-Nya..."

Kami murid2 Melayu yang memang nakal2-nya sering memplesat-plesetkan doa itu dengan berbagai gestur seperti tol kapitol ....

Saya punya dosa tak terlupakan terhadap Ibu Guru saya di kelas V yakni sejak kelas III mengibuli guru-guru dengan memanipulasi MP (Memperbaiki). Contoh, jika diberi PR sebanyak 5 soal, salah 2, maka nilai yang anda dapat adalah 6. Soalan yang salah sebelum bel berbunyi harus diselesaikan. Supaya bisa cepat pulang, saya bukannya mengoreksi 2 soal yang salah, tapi mengambil 2 soal yang sudah betul. Ketika trik ini ketahuan, semua buku PR saya sejak kelas III diteliti. Alhasil, para guru dan kepala sekolah rapat dan menyatakan saya harus tinggal kelas. Mereka marah besar dikibuli anak kecil selama 3 tahun berturut2.

Menolak tinggal kelas, akhirnya atas bantuan Penilik Sekolah yang kebetulan tetangga kami, saya pindah ke SD Negeri No 65 langsung kelas 6. Selanjutnya, dengan hasil yang memuaskan melaju ke SMP 2, SMA2 dan lulus Sipenmaru ke Universitas Andalas Padang.

Sejak SD saya sudah belajar di TPA (Taman Pengajian Al Quran) di Lolong, Padang. Padahal di saat yang sama saya terus membaca injil, yang kesannya seperti dongeng anak-anak sebelum tidur (lullaby). Asyik bukan karena akidah, tapi ceritanya menarik. Ada kisah tentang Tuhan yang melayang2 di atas air...Sementara di TPA sama sekali tidak diajarkan tarjamahan, melainkan seni bacaan Quran thok. Padahal saya tidak berminat jadi Qari.

Ketika menunggu hasil Sipenmaru, selama satu bulan penuh, saya menyempatkan diri belajar ilmu tauhid di pengajian An Nur yang diasuh Kol. (Purn) HM Ridwan (almarhum) di Jalan Cut Meutia. Hasil sipenmaru diumumkan dan saya lulus di Andalas, pengajian pun tidak saya lanjutkan.

Selama kuliah, pikiran saya banyak terisi untuk merenungkan filsafat hidup sehari-hari, bukan berkutat dengan materi perkuliahan. Maklum, kuliah di Sastra Inggris, terhitung 'enteng.'

Di kampus, daripada mendengarkan kuliah dosen yang membosankan, saya memilih tinggal di pustaka Dekanat atau Rektorat Unand berjam-jam untuk melahap berbagai macam buku dari berbagai disiplin ilmu. You name it...I wil follow. Rekan2 mahasiswa sering menyindir, "Bawa bantal, kawan!" ketika melihat saya menenteng buku2 terbitan dunia Barat sana yang tebal-tebal untuk dibaca di rumah.

Pendalaman ajaran Islam justru dimulai setelah saya berumah tangga. Modal saya adalah tafsir Jalalain, tafsir Al Maraghi, tafsir Hamka dan Tafsir Ibn Katsir. Untuk menghindari 'fast & loose translation' saya mempelajari Belajar Bahasa Quran 100x pandai karangan Dt Sei Tombak Alam.

Untuk menambah khasanah pengetahuan, baru saat waktu longgar isen2 saya baca kitab2 hadits, ilmu fikih dan ensiklopedia Islam.

Sekarang saya merasakan kalau Islam itu sebuah nikmat dan anugerah yang suci. Oleh karena itu saya tidak percaya ada orang yang murtad begitu saja tanpa ada faktor internal. Kita tidak bisa menyalahkan pihak luar (eksternal) dalam pemurtadan itu.

Kalau ada orang Islam yang keluar dari agamanya, pastilah karena memang imannya TIPIS. Jangan karena iman seseorang tipis, dijadikan alasan untuk memancing sikap bermusuhan dan kebencian terhadap umat lain. Yang ikut memprovokasi permusuhan dan kebencian, pastilah pula imannya TIPIS. Walaupun dia Muslim sekalipun.

Wassalam

Elfanzo St Baribeh

_________________________________________________________________
Add photos to your e-mail with MSN 8. Get 2 months FREE*. http://join.msn.com/?page=features/featuredemail


RantauNet http://www.rantaunet.com
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
-----------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
===============================================

Kirim email ke