|
Assalamu'alaikum wr.wb.
Bagi yang ingin mengetahui tentang bulan Rajab, dapat disimak dari milis SURAU ini, sebagai jawaban dari salah seorang dunsanak di RN nan malewakan kalabihan bulan Rajab, pada hal hadist itu maudhu' alias palsu. Semoga umat Islam terhindar dari amalan dari hadist-hadist yang tidak mutawatir (palsu), terjauh dari "khurafat" dan terpelihara dari amal bid'ah. Bid'ah itu adalah sesat, orang-orang yang sesat tempatnya di neraka. Kepada Rang Surau, terutama sanak Armansyah (member milis surau) mohon izin dan ma'af ambo lewakan baliak dalil-dalil ko, mengingat sangat penting untuk diperhatikan bagi pemilis RN dan Surau. Menjadi kewajiban kita semua untuk meluruskan yang keliru. Sebagai tambahan dari tulisan dibawah ini, dapat dilihat dalam kitab "Kumpulan Hadist-hadist palsu".
Wassalam ZS Mangkuto
Tauhid: Tanda-tanda Keagungan Bulan
Rajab "Rajab
adalah bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullah Shollallahu `alaihi wa
Sallam), sedangkan Ramadhan bulan ummat Saya. Barang siapa berpuasa di bulan
Rajab dua hari, baginya pahala dua kali lipat, timbangan setiap lipatan itu sama
dengan gunung gunung yang ada di dunia, kemudian disebutkan pahala bagi orang
yang berpuasa empat hari, enam hari, tujuah hari, delapan hari, dan seterusnya,
sampai disebutkan ganjaran bagi orang berpuasa lima belas
hari. "Barang
siapa berpuasa tiga hari di bulan Rajab, sama nilainya dia berpuasa sebulan
penuh, barang siapa berpuasa tujuh hari Allah Subhana wa Ta`ala akan menutupkan
baginya tujuh pintu neraka, barang siapa berpuasa delapan hari di bulan Rajab
Allah Ta`ala akan membukakan baginya delapan pintu sorga, siapapun yang berpuasa
setengah dari bulan Rajab itu Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah
sekali." Diterangkan di dalam kitab Allaalaiy setelah pengarangnya
meriwayatkannya dari Abaan kemudian dari Anas secara Marfu` : Hadits ini tidak
Shohih, sebab Abaan adalah perawi yang ditinggalkan, sedangkan `Amru bin Al
Azhar pemalsu hadits, kemudian dia jelaskan : Dikeluarkan juga oleh Abu As
Syaikh dari jalan Ibnu `Ulwaan dari Abaan, adapaun Ibnu `Ulwaan pemalsu hadits.
"Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan yang mulia. Barang siapa berpuasa
satu hari di bulan tersebut berarti sama nilainya dia berpuasa seribu tahun-dan
seterusnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Syaahin dari `Ali secara Marfu`. Dan
dijelaskan dalam kitab Allaalaiy : Hadits ini tidak Shohih, sedangkan Haruun bin
`Antarah selalu meriwayatkan hadits-hadits yang munkar.
"Barang
siapa yang berpuasa di bulan Rajab satu hari sama nilainya dia berpuasa sebulan
penuh dan seterusnya". Diriwayatkan oleh Al Khathiib dari jalan Abi Dzarr Marfu`. Di
sanadnya ada perawi : Al Furaat bin As Saaib, dia ini perawi yang ditinggalkan.
Berkata Al Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya "Al Amaaliy" : sepakat
diriwayatkan hadist ini dari jalan Al Furaat bin As Saaib- dia ini lemah-
Rusydiin bin Sa`ad, dan Al Hakim bin Marwaan, kedua perawi ini lemah
juga. Sesungguhnya Al Baihaqiy juga meriwayatkan hadits ini di kitabnya :
"Syu`abul Iman" dari hadits Anas, yang artinya : "Siapapun yang berpuasa satu
hari di bulan Rajab sama nilainya dia berpuasa satu tahun." Di menyebutkan
hadits yang sangat panjang, akan tetapi di sanad hadits ini juga ada perawi ;
`Abdul Ghafuur Abu As Shobaah Al Anshoriy, dia ini perawi yang ditinggalkan.
Berkata Ibnu Hibbaan : "Dia ini termasuk orang orang yang memalsukan hadits".
"Barang
siapa yang menghidupkan satu malam bulan Rajab dan berpuasa di siang harinya,
Allah Ta`ala akan memberinya makanan dari buah buahan sorga- dan seterusnya."
Diriwayatkan dalam kitab Allaalaiy dari jalan Al Husain bin `Ali
Marfu`: Berkata pengarang kitab : Hadits ini Maudhu` (palsu).
"Perbanyaklah Istighfar di bulan Rajab. Sesungguhnya Allah
Ta`ala membebaskan hamba hambanya setiap sa`at di bulan itu, dan Sesungguhnya
Allah Ta`ala mempunyai Dikatakan dalam "Adz dzail" : Dalam sanadnya ada rawi namanya Al
Ashbagh : Tidak bisa dipercaya. "Di bulan
Rajab ada satu hari dan satu malam, siapapun yang berpuasa di hari itu, dan
mendirikan malamnya. Maka sama nilainya dengan orang yang berpuasa seratus tahun
dan seterusnya. Dikatakatan dalam "Adz dzail" : Di dalam sanadnya ada nama rawi
Hayyaj, dia adalah rawi yang ditinggalkan.
Dan
demikian disebutkan tentang : "Berpuasa satu hari atau dua hari di bulan itu."
Disebutkan
juga dalam "Adz dzail : Sanad hadits ini penuh dengan kegelapan sebahagian atas
sebahagian lainnya, di dalam sanadnya ada perawi perawi yang pendusta : Dan
demikian diriwayatkan : "Bahwa Nabi Shollallahu `alaihi wa Sallam berkhutbah
pada hari jum`at sepekan sebelum bulan Rajab. Rasulullah Shollallahu `alaihi wa
Sallam berkata : "Hai sekalian manusia! Sesungguhnya akan datang kepada kalian
satu bulan yang mulia. Rajab bulan adalah bulan Allah yang Mulian, dilipat
gandakan kebaikan di dalamnya, do`a do`a dikabulkan, kesusahan kesusahan akan di
hilangkan." Ini adalah Hadist yang Munkar. Dan dalam
hadits yang lain : "Barang siapa berpuasa satu hari di bulan Rajab, dan
mendirikan satu malam dari malam malamnya, maka Allah Tabaraka wa Ta`ala akan
membangkitkannya dalam keadaan aman nanti di hari Kiamat- dan seterusnya."
Di
dalam sanad hadits ini : Kadzaabun (para perawi pendusta).
Demikian
juga hadits : "Barang siapa yang menghidupkan satu malam di bulan Rajab, dan
berpuasa disiang harinya: Allah akan memberikan makanan buatnya buah buahan dari
Sorga- dan seterusnya." Di
dalam sanadnya : Demikian
juga hadits : "Rajab bulan Allah yang Mulia, dimana Allah mengkhususkan bulan
itu buat diri-Nya. Maka barang siapa yang berpuasa satu hari di bulan itu dengan
penuh keimanan dan mengharapkan Ridho Allah, dia akan dimasukan ke dalam Jannah
Allah Ta`ala- dan seterusnya." Di
dalam sanadnya : Demikian
juga hadits : "Rajab bulan Allah, Sya`ban bulan Saya (Rasulullahu Shollallahu
`alaihi wa Sallam, Ramadhan bulan ummat Saya." Demikian juga hadits : "Keutamaan
bulan Rajab di atas bulan bulan lainnya ialah : seperti keutamaan Al Quran atas
seluruh perkataan perkataan lainnya- dan seterusnya."
Berkata Al Imam Ibnu Hajar : Hadits ini Palsu.
Berkata
`Ali bin Ibraahim Al `Atthor dalam satu risalahnya : "Sesungguhnya apa apa yang
diriwayatkan tentang keutamaan tentang puasa di bulan Rajab, seluruhnya Palsu
dan Lemah yang tidak ada ashol sama sekali. Berkata dia : "`Abdullah Al Anshoriy
tidak pernah puasa di bulan Rajab, dan dia melarangnya, kemudian berkata :
"Tidak ada yang shohih dari Nabi Muhammad Shollallahu `alaihi wa Sallam satupun
hadist mengenai keutamaan bulan Rajab." Kemudian dia berkata : Dan demikian juga
: "Tentang amalan amalan yang dikerjakan pada bulan ini : Seperti mengeluarkan
Zakat di dalam bulan Rajab tidak di bulan lainnya." Ini tidak ada ashol sama
sekali. Dan demikian juga, "dimana penduduk Makkah memperbanyak `Umrah di
bulan ini tidak seperti bulan lainnya." Ini tidak ada asal sama sekali sepanjang
pengetahuan saya. Dia berkata : "Diantara yang diada adakan oleh orang yang
`awwam ialah : "Berpuasa di awal kamis di bulan Rajab," yang keseluruhannya ini
adalah : Bid`ah. Dan
diantara yang mereka ada adakan juga di bulan Rajab dan Sya`ban ialah : "Mereka
memperbanyak ketho`atan kepada Allah melebihi dari bulan bulan lainnya."
Adapun
yang diriwayatkan tentang : "Bahwa Allah Ta`ala memerintahkan Nabi Nuh `Alaihi
wa Sallam untuk membuat kapalnya di bulan Rajab ini, serta diperintahkan kamu
Mu`minin yang bersama dia untuk berpuasa di bulan ini." Ini Hadits
Maudhu` (Palsu). Diantara
bid`ah-bid`ah yang menyebar di bulan ini adalah :
Sholat Ar
Raghaaib Sholat Ar
Raghaaib ini diamalkan disetiap awal jum`at di bulan Rajab.
Ketahuilah
semoga Allah Tabaraka wa Ta`ala merahmatimu- bahwa mengagungkan hari ini, malam
ini sesungguhnya diadakan ke dalam Din Islam ini setelah abad ke empat Hijriyah.
(Lihat literatur berikut ini tentang bid`ahnya sholat Raghaib :
1.
"Iqtida` As Shiratul Mustaqim" : hal.283. Dan "Tulisan Ilmiyah diantara dua
orang Imam ; Al `Izz bin `Abdus Salam dan Ibnu As Sholah sekitar Sholat
Raghaaib." 2. "Al Ba`itsu `Ala Inkari Al Bida` wa Al Hawaadist" : hal. 39 dan
seterusnya. 3. "Al Madkhal" oleh Ibnu Al Haaj : 1/293. 4. "As Sunan wal
Mubtadi`aat" : hal. 140. 5. "Tabyiinul `Ujab bima warada fi Fadhli Rajab" : hal.
47. 6. "Fataawa An Nawawiy" : hal. 26. 7. "Majmu` Al Fataawa oleh Ibnu Taimiyah"
: 2/2. 8. "Al Maudhuu`aat" : 2/124. 9. "Allaalaaiy Al mashnu`ah" : 2/57. 10.
"Tanzihus Syari`ah" : 2/92. 11. "Al Mughni `anil Hifdzi wal Kitab" : hall. 297-
serta bantahannya : Jannatul Murtaab. 12. "Safarus Sa`adah" : hal. 150.
Sepakat
`Ulama tentang hadits-hadits yang diriwayatkan mengenai keutamaan bulan Rajab
adalah palsu, sesungguhnya telah diterangkan oleh sekelompok Al Muhaditsin
tentang palsunya hadits sholat Ar Raghaaib diantara mereka ialah : Al Haafidz
Ibnu hajar, Adz Dzahabiy, Al `Iraaqiy, Ibnu Al Jauziy, Ibnu Taimiyah, An Nawawiy
dan As Sayuthiy dan selain dari mereka. Kandungan dari hadits-hadits yang palsu
itu ialah mengenai keutamaan berpuasa pada hari itu, mendirikan malamnya,
dinamakan "sholat Ar Raghaaib," para ahli Tahqiiq dikalangan ahli ilmu telah
melarang mengkhususkan hari tersebut untuk berpuasa, atau mendirikan malamnya
melaksanakan sholat dengan cara yang bid`ah ini, demikian juga pengagungan hari
tersebut dengan cara membuat makanan makanan yang enak enak, mengishtiharkan
bentuk bentuk yang indah indah dan selain yang demikian, dengan tujuan bahwa
hari ini lebih utama dari hari hari yang lainnya.
Sholat
Ummu Daawud dipertengahan bulan Rajab Demikian
juga hari terakhir dipertengahan bulan Rajab, dilaksanakan sholat yang dinamakan
sholat "Ummu Daawud" ini juga tidak ada asholnya sama sekali. "Iqtidaus
Shiraatul Mustaqim" : hal. 293. Berkata Al
Imam Al hafidz Abu Al Khatthaab : "Adapun sholat Ar Raghaaib, yang dituduh
sebagai pemalsu hadits ini ialah : `Ali bin `Abdullah bin jahdham, dia
memalsukan hadits ini dengan menampilkan rawi rawi yang tidak dikenal, tidak
terdapat diseluruh kitab." Pembahasan Abu Al Khatthaab ini terdapat dalam : "Al
Baa`its `Ala Inkaril Bida` wal Ahadist" : hal. 40.
Abul Hasan
: `Ali bin `Abdullah bin Al Hasan bin Jahdham, As Shufiy, pengarang kitab :
"Bahjatul Asraar fit Tashauf". Berkata Abul Fadhal bin Khairuun : Dia pendusta.
Berkata selainnya : Dia dituduh sebagai pemalsu hadits sholat Ar Raghaaib. Lihat
terjemahannya dalam : "Al `Ibir fi Khabar min Ghubar." : (3/116), "Al Mizan" :
(3/142), "Al Lisaan" : (4/238), "Maraatul Jinaan" (3/28), "Al Muntadzim" :
(8/14), "Al `Aqduts Tsamiin" : (6/179). Asal
sholat ini sebagaimana diceritakan oleh : At Thurthuusyiy dalam "kitabnya" :
"Telah mengkhabarkan kepada saya Abu Muhammad Al Maqdisiy, berkata Abu Syaamah
dalam "Al Baa`its" : hal. 33 : "Saya berkata : Abu Muhammad ini perkiraan saya
adalah `Abdul `Aziz bin Ahmad bin `Abdu `Umar bin Ibraahim Al Maqdisiy, telah
meriwayatkan darinya Makkiy bin `Abdus Salam Ar Rumailiy As Syahiid, disifatkan
dia sebagai As Syaikh yang dipercaya, Allahu A`lam." Berkata dia: tidak pernah
sama sekali dikalangan kami di Baitul Maqdis ini diamalkan sholat Ar Raghaaib,
yaitu sholat yang dilaksanakan di bulan Rajab dan Sya`ban.
Inilah
bid`ah yang pertama kali muncul di sisi kami pada tahun 448 H, dimana ketika itu
datang ke tempat kami di Baitil Maqdis seorang laki laki dari Naabilis dikenal
dengan nama Ibnu Abil Hamraa`, suaranya sangat bagus sekali dalam membaca Al
Quran, pada malam pertengahan (malam keenam belas) di bulan Sya`ban dia
mendirikan sholat di Al Masjidil Aqsha dan sholat di belakangnya satu orang,
lalu bergabung dengan orang ketiga dan keempat, tidaklah dia menamatkan bacaan
Al Quran kecuali telah sholat bersamanya jama`ah yang banyak sekali, kemudian
pada tahun selanjutnya, banyak sekali manusia sholat bersamanya, setelah itu
menyebarlah di sekitar Al Masjidil Aqsha sholat tersebut, terus menyebar dan
masuk ke rumah rumah manusia lainnya, kemudian tetaplah pada zaman itu dimalkan
sholat tersebut yang seolah olah sudah menjadi satu sunnah di kalangan
masyarakat sampai pada hari kita ini. Dikatakan
kepada laki laki yang pertama kali mengada adakan sholat itu setelah dia
meninggalkannya, sesungguhnya kami melihat kamu mendirikan sholat ini dengan
jama`ah. Dia menjawab dengan mudah : "Saya akan minta ampun kepada Allah
Ta`ala." Kemudian
berkata Abu Syaamah : "Adapun sholat Rajab, tidak muncul di sisi kami di Baitul
Maqdis kecuali setelah tahun 480 H, kami tidak pernah melihat dan mendengarnya
sebelum ini." (Al Baa`itsu : hal. 32-33). Fatwa Ibnu
As Sholaah tentang sholat Ar Raghaaib, Malam Nishfu Sya`ban dan Sholat Al
Alfiah. Sesungguhnya As Syaikh Taqiyuddin Ibnu As Sholaah rahimahullah Ta`ala
pernah dimintai fatwa tentang hal ini, lalu beliau menjawab :
"Adapun
tentang sholat yang dikenal dengan sholat Ar Raghaaib adalah bid`ah, hadits yang
diriwayatkan tentangnya adalah palsu, dan tidaklah sholat ini dikenal kecuali
setelah tahun 400 H, tidak ada keutamaan malamnya dari malam malam yang
lainnya." Sumber : posting dari
Armansyah (member milis surau) |

