~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Rantaunet ingin ikut memasarkan produk anda di web RantauNet
Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


 assalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...

sedikit cuplikan dari buku "Bukan di Negeri Dongeng" karangan Helvy Tiana Rosa. Semoga 
bermanfaat. Ma'af bagi yang tdk berkenan.

~~~~~~~~~

Tidak Satu Rupiah Pun
 
Pada masa penyusunan anggaran daerah tahun 2003, ada inisiatif dari paraanggota DPRD 
Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, untuk memasukkan anggaranperumahan sebesar 75 juta 
rupiah bagi setiap anggota. 

Sejak awal, saya-anggota DPRD Lubuk Linggau dari PK- tidak menyetujui hal itu. 
Tapitampaknya pengesahannya sudah tinggal menunggu kesepakatan seluruhanggota 
legislatif saja. Saat pembahasan di tingkat pimpinan yang melibatkan semua fraksi di 
Dewan, Fraksi Persatuan, Kebangkitan dan Keadilan (FPKK) meminta saya selaku 
sekretaris untuk menyampaikan
pandangan fraksi. 

Nyatanya, seluruh pimpinan fraksi sudah menyetujui
anggaran 75 juta per anggota itu. Pada pemberian pendapat terakhir,
tiba-tiba di mata saya muncul wajah kebanyakan orang di negeri ini yang
tak lagi punya pekerjaan. Muncul wajah kanak-kanak yang menangis karena
kelaparan. Muncul wajah para ibu yang tak memiliki tempat tinggal, para
penduduk yang menjadi pengungsi di negeri sendiri. Tiba-tiba saya ingin
menangis. Allah, bagaimana saya bisa menerima uang itu? "Saya tidak
setuju, Pak !" seru saya dengan suara bergetar. "Saya tidak setuju sama
sekali dengan mata pasal ini. Saya tidak setuju dimasukkan angka, meski
satu rupiah pun ." Suasana hening sesaat. Lalu riuh lagi, kali ini
dengan nada cemooh. Tak lama, Wakil Ketua berkata, "Anda tidak setuju.
Tapi kalau sudah ada anggarannya kan Anda ambil juga uangnya." Saya
berusaha tenang, suara saya kian bergetar."Demi Allah, saya tidak akan
mengambil uang itu sedikit pun." Lalu seorang anggota Dewan setengah
berteriak memotong saya:"Ris, disini kita tidak usah bawa-bawa Tuhan dan
agama! Kita sudah banyak berbohong pada rakyat!" Saya menatap orang
tersebut."Justru di sini sangat diperlukan agama. Dan jika merasa pernah
berbohong pada rakyat, maka detik ini juga berhentilah membohongi
mereka!" Lalu semua diam. 

Akhirnya, didapat kesepakatan untuk membicarakannya kembali, termasuk dengan Walikota. 
Namun, ternyata ada berbagai upaya untuk menghambat dan memperlambat proses 
pembahasan. Dalam sebuah rapat paripurna pembahasan RAPBD, saya bahkan sampai walkout. 
Saya juga miris karena disaat uang 75 juta itu diributkan, banyak tenaga honorer di 
Dewan yang sudah tiga bulan belum dibayar honornya. Akhirnya, anggaran tersebut gagal 
juga dimasukkan. Dan sebagian anggota Dewan hingga saat ini bersikap setengah memusuhi 
saya..

Tak apalah, yang penting saya sudah bertindak dengan mendengarkan
nurani. Semoga Allah mengampuni.
 
A. Haris Elmi, Helvy Tiana Rosa



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ingin memasarkan produk anda di web RantauNet http://www.rantaunet.com
Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
---------------------------------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
============================================

Kirim email ke