Berkenalan dengan Evanda dan Salsa
Hari ke 5 adalah merupakan hari terakhir saya berada di Wiena , karena besok siang saya harus kembali ke Indonesia via Zurich . Pada hari terakhir ini saya masih sempat jalan jalan ke bekas istana Hofsburg disekitar Theater Platz . Banyak sekali peniggalan peninggalan sejarah lama yang terdapat dan tersimpan di komplek istana ini , kita bisa menyewa kereta yang ditarik dua ekor kuda dengan sewa 25 Euro , dan sangat digandrungi para turis . Dilokasi ini juga akan kita jumpai pelukis Bohemian yang bisa membuat lukisan potet diri dengan background istana Hofsburg.
Malam harinya sehabis makan malam , saya dan seorang teman ingin sekali menikmati suasana Wiena dimalam hari . Maka sambil berjalan disuasana malam yang sejuk sambil hunting , kira kira tempat mana yang layak untuk dikunjungi untuk menghabiskan sisa malam dan malam yang terakhir ini . maka pilihan akhirnya jatuh ke sebuah � Bar � diperempatan jalan Scholstrasse , sedangkan bar tersebut bernama � Sholzsbar� .
Dipintu masuk saya berdua disambut ramah oleh seorang perempuan setengah baya yang biasa disebut �mami � kalau ditempat tempat hiburan malam . Dan setelah berbasa basi sebentar , kami berdua disilahkan untuk memilih tempat , apakah mau di Hall yang ramai , atau di suatu private box yang hanya ditempati 4 orang , akhirnya saya memilih private box , tak lama kemudian oleh mami tersebut kami dikenalkan dengan dua orang cewek bule , yang terakhir saya ketahui bernama �Evanda dan Salsa �, yang akan menemani kami selama berada di bar tersebut , sambil menikmati alunan musik khas Austria . Disini musik musik konser seperti Mozart dan Christian Bach sangat populer , baik sewaktu kita berada di dalam taxi , maupun makan di restaurant , maka selalu diputerin musik klasik Mozart tersebut . Setelah berbasa basi dengan Evanda dan Salsa , maka saya memilih Evanda untuk menemani saya , sedangkan teman saya didampingi oleh Salsa . Mengenai Evanda ini dalah seorang cewek berasal dari Slovenia Yugoslavia sedangkn Salsa dari Bosnia , keduanya masih daerah Balkan . Phisik si Evanda ini , sungguh sangat jangkung sekali , saya yang punya ketinggian 172 cm , ternyata masih kalah , dan saya perkirakan tingginya lebih dari 180 cm , berkulit putih bersih , hidung mancung dan berwajah cantik .
Namun sayang , sedikit ada kendala bahasa , maka nya komunikasi kami kurang begitu intens , karena sedikit sekali penguasan bahasa Inggeris olehnya , dan ia lebih lancar menggunakan bahasa ibunya bahasa Yugoslavia . Tak lama kemudian waitres datang menawari minuman dan makanan kecil , saya hanya pesan segelas bir dan Evanda dan Salsa masing masing wine .
Kami terus ngobrol ngalor ngidul sambil sekali bercanda , dan Evanda bercerita bahwa dirinya terdampar / mengungsi ke Austria akibat pergolakan perang saudara beberapa waktu yang lalu di negaranya . Entah cerita ini benar atau tidak adalah hal yang tidak perlu diklarifikasi..
Tak terasa jam telah menunjukkan jam dua pagi , berarti telah lebih tiga jam saya berada di bar ini , maka saya ingin kembali ke hotel . Setelah menyelesaikan pembayaran atas bil sebesar 98 Euro perorang termasuk tip untuk si Evanda saya kembali ke hotel , dengan suatu kenangan yang lain , dan selamat tinggal Wiena dan selamat tinggal Austria .
Zul amry piliang di kuta bali.
Do you Yahoo!?
Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software

