Assalamualaikum...
Yth. para Mamanda, Bundo, Uni2 ku yang baek2 & manis2, Uda2  & adiak2 kasadono.
Numpang singgah sabanta yo..., iko ado sekelumit kisah tentang "Muchtar Luthfi", seorang putra Minang, yang mungkin sejarahnya sudah jarang terdengar di masa kini. Dia yang sempat diperlakukan seakan tidak ramah oleh "Ranah Minang"??. 
 
Buah tangan dari "Novia Syahidah" ini semoga menambah khasanah tentang kepahlawanan seorang Putra Minang.
 
Ctt: Bagi yang alah  mambaco mohon maaf, "delete sajo". Semoga tidak terganggu
================================================================

Pantai Losari, 10 Agustus 1950

Sang Orator termangu di depan jendela rumahnya, menatap jauh ke tepi fajar subuh. Deru ombak pantai Losari seakan jadi perlambang gemuruh di dadanya. Dan ia tak sanggup menepis  ketika baying-bayang silam itu hadir  menjemputnya. Bayangan yang kadang mengundang seukir senyuman di bibirnya. Yah.., betapa masa silam itu begitu bermakna baginya, begitu penuh makna.

 Ia tak kan pernah lupa saat mengaduk -aduk seluruh kitab yang tersimpan dalam lemari Ammi Danau, sebutan untuk gurunya di Danau Maninjau sana. Ammi sering memarahinya tentang hal itu, tapi ia memang lkeras kepala. Meskipun bandel, Ammi tetap menyayanginya, bahkan ketika AMMI pindah ke Padang Panjang,  ia mengajak murid kesayangannya itu.

 Ya, itulah saat-saat yang sulit ia lupakan. Masa ketika dia menyelesaikan pendidikannya di Gauvernement, sampai akhirnya ia menulis sebuah buku �Alhimatul Muchtar�, yang menyebabkannya ia berangkat ke Malaya akibat kejaran Belanda.

 Tapi sang orator bukanlah orang yang mudah patah semangat. Dengan satu tekad ia pun berangkat ke Mesir.  Di sana ia menumpahkan hasratnya akan ilmu pengetahuan. Lima tahun di Mesir  semakin  membuka matanya tentang negerinya yang sedang terjajah. Hingga sekembali ke Tanah Air, ia langsung bergabung dengan PERMI yang berpusat di SUMBAR. Organisasi tempat ia sebagai orang pertama yang mengusulkan asa islam sebagai landasan pergerakannya.

 Segurat senyum getir  terukir di sudut bibirnya  ketika mengenang kejadian itu.  Ada kerinduan menghentak di sudut hatinya  untuk kembali berada di tengah-tengah PERMI. Sebagaimana kerinduannya akan Balingka, kampung halamannya di  Ranah Minang sana, yang telah bertahun-tahun ia tinggalkan.

 Ya, ia sedang menikmati  bayang-banyang silam yang membuatnya begitu berarti sepeti sekarang ini. Mesti bayangan itu terlihat begitu pekat, ketika yang hadir adalah saat2 ketika ia menghabiskan waktu pembuangannya di Boven Digul bersama Jalalluddin Thaib. Pembuangan yg disebabkan aktivitas  mereka akibat menentang pemerintahan belanda lewat corong Permi.

 Dan ketika pecah perang Pasifik yang mengykkihkan  kekuasaan NIPPON di Indonesia, sang Orator pun  diungsikan ke Astralia.  Di negeri  Kangguru  itu, ia dan sahabatnya Jalaluddin, direkrut oleh gubernur Belanda< van Ders Plas untuk bekerja sama.

Sang orator adalah politikus yang bisa mencium setiap rekayasa dan peluang di hadapannya. Tatapan mata yang penuh arti antara ia dan sahabatnya, telah membuat mereka mengangguk menerima  tawaran itu. Bagi mereke itulah saatnya  untuk kembali ke Tanah Air. Inilah saatnya untuk menyambung perjuangan mereka. Persetan dengan rencana busuk Belanda!

Debur Ombak Losari kembali memgiringi  gemuruh di dada sang orator. Hawa subuh yang begitu sejuk  membelai wajahnya. Meski kerinduan akan kampung halaman nyaris tak terbendung, namun tak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang. Baginya, kemerdekaan tak hanya sebatas negeri kelahirannya, tapi adalah kemerdekaan seluruh bangsa. Itulah sebabnya kenapa ia tak keberatan ketika NICA mengirimnya  ke Tanah Makasar ini.

 Gubernur Van Der Plas pernah menjadi kepala pemerintahan kolonial Belanda  di Makasar, dan mereka membutuhkan  sseorang untuk merebut simpati rakyat di Sulawesi Selatan, khususnya Makasar. Mereka tahu betul bahwa umat islam di wilayah itu kurang mendapat perhatian selama ini, dan mereka ingin menunjukkan simpati itu untuk mengambil hati rakyat  di  sana.

 Angin yang berhembus semilir dari arah pantai Losari membuat sang orator merapatkan tangan ke dada.  Tatapannya masih lurus menembus jendela, seakan ia sedang menikmati detik-detik terakhir dari kehidupannya  dan ingin mengeja kisah silam itu untuk terakhir kali pula.

 Ia masih ingat bagaimana curiganya wajah-wajah yang menyambut kedatangannya di tanah air 10 tahun silam. Keterpaksaan yang ia dan sahabatnya telan  dengan pahit. Mereka adalah orang buangan yang  tak bisa kembali  ke tanah air dengan mudah. Mereka butuh alat untuk kembali, dan alat itu kebetulan adalah kerjasama yang ditawarkan Gubernur Van Der Plas.

 Pilihan yang sulit memang,  dan itu sangat disadari oleh sang orator. Ketika kemudian kemerdekaan  Indonesia diproklamirkan, ia pun tak bisa memutuskan kerkasama itu seenaknya. Ia bukanlah orang yang berbuat tanpa pertimbangan. Setiap keputusan  dan tindakannya  selalu penuh perhitungan. Maka sikap menarik diri dari NICA pada waktu itu bukanlah tindakan yang tepat menurutnya.

 Ta pelak lagi, keyakinan teman-temannya bahwa ia adalah kaki tangan Belanda semakin menguat.  Apalagi seragam hijau dan pet  berbis emas 22 karat yang bertengger  di kepalanya sudah cukup melambangkan  pengkhiannatanitu di mata mereka.  Pet dengan symbol Leeuw  Je Maintendrai, yang ia pakai sejak  pulang dari Australia. 

 Maka Ranah Minang pun seakan tak lagi ramah padanya., bahkan sampai ketika ia dikirim ke  tanah Makasar ini.

Tidak jauh berbeda, wajah-wajah yang menyambutnya di Makasar ini juga tidak bersahabat Sorot mata pejuang Makasar seakan menuduh dirinya  sebagai pengkhianat bangsa. Sebagai antek NICA!  Sungguh, hatinya tercabik tiap kali melihat tatapan seperti itu.

 [Masih ada lanjutan...]

 

 


Do you Yahoo!?
Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software

Kirim email ke