Kini sdg intend diskusi parawisata Minang di biliak potensi Minang, kalau lai ado nan ka ikuik bisiakkan ka [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Republika, 21 Mar 1999 Bangga Mengenal Kaum Santri Muda (Ade Armando) Pekan lalu saya beruntung bisa hadir dalam pertemuan dengan sejumlah mahasiswa Muslim Ambon di kantor Republika. Sebagian besar dari mereka adalah keturunan asli Maluku, yang untuk sementara terpaksa meninggalkan tanah kelahiran karena kondisi yang semakin memburuk. Dengan getir mereka bercerita tentang rangkaian penderitaan yang harus dialami masyarakat Muslim di sana -- sesuatu yang sebenarnya telah berulangkali diangkat sejumlah media, namun semakin terasa kepahitannya ketika diungkapkan langsung oleh korban yang mengalaminya. Namun semakin banyak mereka bercerita, ada satu hal yang semakin dapat saya tangkap: mereka bukanlah orang-orang pendendam. Mereka sedih, mereka marah, dan ada semacam kebingungan yang amat dalam mengenai apa yang terjadi. Mereka tak mengerti mengapa ada begitu banyak kebencian di sebagian kalangan umat beragama lain. Mereka tak habis pikir mengapa seolah-olah penghancuran dan pembantaian itu dibiarkan terus terjadi oleh pihak-pihak yang sebenarnya bertanggungjawab menghentikannya. Mereka sedih bahwa ada banyak corak analisa dan pengungkapan di media yang mereka khawatir sengaja dikembangkan untuk mengaburkan apa yang sebenarnya terja di. Tapi, setelah itu semua, yang tampak dari mereka adalah kepriha tinan, bukan dendam. Dengan eksplisit, mereka mengungkapkan harapan agar konflik itu tak berkembang menjadi perang antar umat beragama, baik di Ambon maupun di wilayah-wilayah lain. Tak sedikit pun kebencian terhadap kaum Nasrani mereka lontarkan. Atau dengan cara pengungkapan berbeda dari wakil mahasiswa Muslim di Jakarta yang mendampingi mereka: yang terjadi bukanlah pemban taian umat Islam, melainkan pembantaian nilai-nilai kemanusiaan, dan segenap bangsa harus bersatu melawannya. Bagi para mahasiswa Ambon itu, yang diperlukan bukanlah mencari cara untuk membalas perlakuan terhadap mereka. Yang mereka minta sederhana: ketertiban, perlakuan yang adil terhadap semua pihak, pemulihan keadaan, serta perlindungan terhadap rakyat. Saat ini sudah ribuan orang keluar dari Ambon, dan ribuan orang itu kini harus mendapat perlindungan untuk bisa kembali dan hidup tenteram di Ambon. Demikian pula kaum Muslim di Ambon yang kini hidup dalam ketakutan -- mereka harus mendapat jaminan perlindungan untuk bisa hidup dalam keadaan aman dari gangguan dan ancaman dari pihak manapun di Ambon, untuk selama-lamanya. Mereka marah, tapi tidak hidup dalam kemarahan. Mereka disakiti, tapi rasa sakit itu tak membuat mereka larut dalam dendam. Mereka percaya salah satu tujuan utama tragedi Ambon adalah pengusiran besar-besaran umat Islam dari wilayah itu, namun mereka berharap semua yang hadir dalam pertemuan berupaya mencegah jangan sampai ada pengusiran besar-besaran umat Kristen di wilayah lain. Mu ngkin saya salah dan berlebihan, namun bagi saya, mereka adalah Muslim sesungguhnya. Dan saya percaya, sikap mereka itu tak mereka tunjukkan sekadar dalam rangka menciptakan kesan baik di kalangan lain. Pertemuan di Republika itu bersifat terbatas. Pesertanya adalah kaum Muslim sendiri, dari kalangan yang dipersepsikan paling peduli pada nasib Muslim Ambon. Dengan kata lain, saat itu tak ada kebutuhan untuk sekadar bermanis-manis kata. Dan toh, mereka bicara seperti itu. Bagi saya, pertemuan itu mengkonfirmasi penilaian bahwa sebe narnya ada dasar yang cukup untuk menumbuhkan optimisme tentang Indonesia di masa depan. Negara ini sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Baik buruknya Indonesia di masa datang akan sangat bergantung pada kualitas dan corak keberaga maan kaum committed Muslim (santri) muda, terutama dari kalan gan yang terdidik di kota yang potensial menempati posisi-posisi menentukan dan menjadi panutan di masyarakat. Sejarah negara ini menunjukkan bahwa sejak Demokrasi Terpimpin sampai masa kejayaan Soeharto, kaum ini terpinggirkan dan ditindas -- dan lihatlah Indonesia seperti apa yang diwariskan pada kita semua. Kaum santri tidak pernah berada pada posisi menentukan, karena struktur yang dikembangkan memang tidak memberi tempat bagi mereka. Kini, setelah kendala struktural itu perlahan-lahan dilenyapkan, ada harapan besar bahwa kaum committed Muslim ini akan berperan besar. Karena itu, menurut saya, kedewasaan kaum mahasiswa Muslim Ambon itu pantas digunakan sebagai landasan optimisme tentang Indone sia. Tumbuhnya kaum santri yang pintar, kritis, rela berjihad untuk mempertahankan hak-haknya, namun juga sangat terbuka dan bersedia menyayangi kalangan lain, adalah anugerah bukan hanya untuk kaum Muslim, namun juga bagi keseluruhan bangsa ini. Dan saya merasa tak berlebihan bila saya mengatakan ada cukup bukti bahwa di negara ini bertumbuhan generasi muda Muslim dalam corak seperti itu. Sejak masa-masa menjelang jatuhnya Soeharto, saya beruntung bisa hadir dalam berbagai acara di mana beragam wakil dari berbagai gerakan hadir. Dan sulit bagi saya untuk tidak terkesan pada kalangan muda santri. Mereka umumnya pintar, kritis, memiliki artikulasi baik, namun pada saat yang sama, santun dan mau mendengarkan pendapat orang lain -- jauh dari kesan yang ditimbulkan gerakan mahasiswa radikal di mana mereka memang bukan bagian darinya, namun sayangnya lebih banyak diekspos oleh media sehingga terkesan sebagai gaya utama kaum muda. Mereka umumnya datang dari perguruan tinggi, dengan latar belakang spesialisasi sangat beragam, dari teknologi informasi, kedokteran, ilmu politik, sampai filsafat Islam. Bahwa perkembangan intelektual mereka umumnya berlangsung pada tahun 1990-an membuat mereka tidak tumbuh menjadi generasi pemarah, mengingat tingkat ketertindasan umat Islam oleh negara pada era itu justru relatif rendah. Namun pada saat yang sama, mereka tidak menjelma menjadi kelompok status quo, karena saya rasa mereka banyak terekspos -- melalui seminar, buku, majalah, koran, televisi, radio -- pada gagasan-gagasan yang dikembangkan apa yang disebut sebagai gerakan pembaharuan dalam wacana Islam yang sangat menekankan kritisisme. Mereka umumnya tidak suka pada kecenderungan eksklusif, menutup diri yang lazim diikuti radikalisme di kalangan sebagian Muslim. Namun pada saat yang sama, mereka mengakui itu adalah bagian dari proses, dan tanggungjawab kaum Muslim adalah justru bersama-sama mengembangkan corak keberagamaan yang lebih inklusif, terbuka, dan toleran dalam memandang dunia. Di sisi lain, toleransi tinggi itu juga tak membuat mereka menutup mata bahwa memang ada perlakuan-perlakuan tak pantas oleh sebagian kalangan non-Muslim selama ini -- sesuatu yang harus diluruskan sekarang dan di masa datang. Semula banyak lontaran sinis ditujukan pada kelompok-kelompok tersebut. Dulu kalangan committed Muslim ini kerap dijuluki 'Taliban' -- merujuk pada kalangan muda garis keras yang berkuasa di Afghanistan. Kini terbukti penyamaan semacam itu jauh panggang dari api. Ada banyak ilustrasi. Sebagian dari mereka melakukan safari kunjungan ke berbagai media massa karena keprihatinan atas cara pemberitaan pers yang dikhawatirkan terlalu berpihak; bukan untuk mencaci maki dan mengacungkan kepalan tangan, melainkan untuk berdiskusi dan bertukar pendapat. Sebagian berdiskusi tentang apa masih relevan sekarang untuk mempersoalkan ucapan Selamat Natal. Sebagian lain menyelenggarakan acara dengan mengundang berbagai gerakan mahasiswa, termasuk yang dicap anti-Islam, untuk membi carakan agenda bersama. Sebagian lain menjadi pihak yang, Januari lalu, terus menekan agar DPR tidak menggolkan rangkaian UU Poli ik yang akan menguntungkan kelompok status quo. Dan Partai Keadilan, sebuah representasi yang bagus dari gerakan ini, menggunakan motto yang sangat Amerika: 'And Justice for All'. Saya percaya, bila Indonesia baru yang dibangun adalah Indonesia dimana mereka banyak berperan, kita akan memperoleh Indonesia yang jaya, makmur, dan bahagia. ---------- _____________________________________________ "Yaa Allah, sampaikanlah kami kepada Ramadhan dengan aman, keimanan, keselamatan, Islam, kesehatan, dan terhindar dari penyakit serta bantulah kami untuk mengerjakan sholat, puasa, dan tilawah Al Qur'an padanya." _____________________________________________ PK Sejahtera - Harapan Baru Indonesia PK Sejahtera - Jujur dan Cerdas ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Mailing List Keadilan4all http://groups.yahoo.com/group/keadilan4all Situs resmi DPP Partai Keadilan Sejahtera di http://www.pk-sejahtera.org http://www.keadilan.or.id PK SEJAHTERA Partai Wong Cilik, Musuh Wong Licik �������������������������������������������� Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/ -- This e-mail may contain confidential and/or privileged information. If you are not the intended recipient (or have received this e-mail in error) please notify the sender immediately and destroy this e-mail. Any unauthorized copying, disclosure or distribution of the material in this e-mail is strictly forbidden. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Ingin memasarkan produk anda di web RantauNet http://www.rantaunet.com Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED] ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php ----------------------------------- Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php ===========================================

