Konsumsi Ikan Asin Dapat
Menyebabkan
Kanker Nasofaring
|
Cara pengawetan ini merupakan usaha yang paling mudah dalam menyelamatkan hasil tangkapan nelayan. Dengan penggaraman proses pembusukan dapat dihambat sehingga ikan dapat disimpan lama. Penggunaan garam sebagai bahan pengawet terutama diandalkan pada kemampuannya menghambat pertumbuhan bakteri dan kegiatan enzim penyebab pembusukan ikan yang terdapat dalam tubuh ikan. Kalau ikan asin mampu "menyehatkan" daging ikan, sehingga menjadi menu favorit bagi rakyat kebanyakan. Tetapi menyehatkankah bila ikan ini menjadi konsumsi kita sehari-hari ?. Mungkin kita harus lebih berpikir panjang untuk mengkonsumsi ikan asin, jika mendengar keterangan dr Aswaldi Ahmad SpTHT dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, yang berpendapat bahwa mengkonsumsi ikan asin bisa memicu timbulnya Kanker Nasofaring. Nasofaring adalah bagian dari tenggorokan paling atas, tepatnya di belakang rongga hidung. Di daerah Nasofaring terdapat muara saluran yang menghubungkan tenggorokan dan telinga (Tuba Eustachius) dan Adenoid, yaitu jaringan Limfoid yang sering membesar pada anak. Nasofaring berbatasan dengan rongga otak. Beberapa jaringan saraf yang mengatur fungsi mata dan menelan serta lidah terdapat di sekitar nasofaring.
Selain nitrosamin, faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kanker Nasofaring adalah kedaaan sosial ekonomi, lingkungan, dan kebiasaan hidup yang rendah. Udara yang penuh asap di rumah yang kurang baik ventilasinya, misalnya pembakaran dupa, obat nyamuk, meningkatkan insiden kanker nasofaring. Demikian juga kontak dengan bahan kimia seperti gas kimia, asap industri dan asap kayu. Penyebab lain adalah radang kronis (menahun) di daerah Nasofaring. Peradangan menyababkan selaput lendir nasofaring lebih rentan terhadap karsinogen. Menurut dr. Aswaldi, Kanker Nasofaring termasuk lima besar tumor ganas di Indonesia. Survei Departemen Kesehatan menunjukkan prevalensi 4,7 per 100.000 penduduk per tahun. Lebih dari 50 persen tumor ganas daerah kepala dan leher adalah kanker Nasofaring. Penyakit ini ditemukan terutama pada usia 40-50 tahun. Sejauh yang ditemukan, penderita paling muda delapan tahun, yang tertua 83 tahun. Walau insidennya tinggi, kanker ini kurang populer karena tumbuh di tempat tersembunyi dan pada stadium dini tak menimbulkan gejala yang khas, sehingga pasien ataupun dokter tak menyadari. Ras kulit putih sangat jarang terkena penyakit ini. Di Asia yang terbanyak adalah bangsa Cina, baik di negara asal maupun di negara perantauan. Ras Melayu-Indonesia dan Malaysia-termasuk yang agak banyak terkena. Gejala dini kanker ini antara lain rasa penuh di telinga, karena tumor tumbuh di muara saluran yang menghubungkan telinga dan tenggorokan, rasa berdenging kadang disertai kurang pendengaran. Gejala lain, sumbatan hidung yang menetap akibat pertumbuhan tumor dalam rongga hidung. Hal ini menyerupai pilek kronis, kadang disertai gangguan penciuman dan adanya ingus kental. Juga perdarahan ringan pada hidung akibat rapuhnya dinding tumor. Semua gejala itu bukan gejala khas untuk kanker nasofaring, karena juga dijumpai pada penyakit infeksi biasa, misalnya pilek kronis, sinusitas. Anak yang kena juga sering mimisan. Namun jika keluhan timbul berulang tanpa penyebab jelas atau menetap walau telah diberi pengobatan, harus diwaspadai dan dilakukan pemeriksaan lebih teliti sampai terbukti bukan kanker nasofaring penyebabnya. Pada stadium lanjut, terjadi pembesaran kelenjar getah bening yang tampak sebagai benjolan pada leher bagian samping. Karena tak terasa nyeri, benjolan ini sering diabaikan. Sehingga, kanker akan meluas ke otak, menekan saraf yang mengatur mata dan daerah muka. Jika meluas ke arah belakang, mengganggu saraf yang mengatur tenggorokan, rongga mulut serta otot muka, sehingga sulit menelan, mudah tersedak atau lidah tertarik ke satu sisi. Pemeriksaan nasofaring dilakukan dengan nasofaringoskop berupa teropong kecil dan panjang yang dimasukkan lewat rongga mulut atau hidung. Sementara pengobatannya dilakukan melalui radioterapi (penyinaran). Biasanya lima kali seminggu selama kurang lebih enam minggu. (A.Rizal) |

