Server mailing list RantauNet berjalan atas sumbangan para anggota, simpatisan dan 
semua pihak yang bersedia membantu. Ingin menyumbang silahkan klik: 
http://www.rantaunet.com/sumbangan.php
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Assalamu'alaikum wr.wb
Kiro - kiro organisasi2 nan pernah di ketuai oleh Datuk Palimokayo - salain
MUI nan hinggo kini masih ado dan Masyumi nan lah lamo hilang - apo masih
ado atau lah hilang pulo?

wassalam,
harman

**** 
Mansoer Daoed Datuk Palimokayo
'Bergiat di Dakwah dan Organisasi Islam'

Ulama besar sekaligus tokoh adat Minangkabau ini dikenal pula sebagai salah
seorang diplomat ulung yang pernah dimiliki Indonesia. Dia lahir di
Balingka, VII Koto, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, pada 10 Maret 1905.
Semasa hidupnya, beliau aktif di sejumlah organisasi keagamaan demi
mengembangkan agama Islam di tanah air. 

Disebutkan pada buku Ensiklopedi Islam Indonesia, Datuk Palimokayo mengawali
pendidikannya di sekolah desa. Kemudian berlanjut ke Vervolgschool (sekolah
sambungan) di kampung kelahirannya, Balingka, dan Gouvernement Hollandsch
Inlandsche School (sekolah dasar negeri) di Lubuksikaping. Dia tidak
menyelesaikan pelajarannya di sekolah tersebut karena mesti pindah ke
Padangpanjang. Barulah setelah menetap di kota ini, pendidikan sekolah dasar
dapat dirampungkan. 

Seperti lazimnya masyarakat Sumatra Barat yang agamis, Datuk Palimokayo juga
rajin menimba ilmu agama. Pada sore hari bersama teman-teman sebayanya,
belajar agama Islam di Sumatera Thawalib serta Diniyah School asuhan
Zainuddin Labay el-Yunusy di pagi hari.

Dari segi tujuan, kedua sekolah yang diikutinya tentu berbeda. Sumatera
Thawalib lebih terfokus untuk mencetak kader ulama, sedangkan Diniyah
bertujuan menciptakan Muslim intelektual. Jadilah dua keunggulan ini menyatu
dalam diri Datuk Palimokayo. 

Berkesempatan menunaikan ibadah haji tahun 1923. Haus akan ilmu, selama
berada di Tanah Suci, dia sekaligus menyempatkan diri mendalami ilmu agama
di Masjidilharam di bawah bimbingan Syekh Abdul Qadir al-Mandili, seorang
imam besar Masjidilharam yang berasal dari Mandailing, Tapanuli Selatan,
Sumatra Utara. Akan tetapi, hal ini tidak berlangsung lama karena baru
setahun menimba ilmu, pecah perang antara Hejaz di bawah pimpinan Sultan
Abdul syarif Husein dengan Nejd yang dipimpin Sultan Abdul Aziz Ibnu Sa'ud. 

Tak berapa lama, Datuk Palimokayo memutuskan untuk kembali ke tanah air,
yaitu pada tahun 1924. Setelah tiba di Sumatra Barat, dia langsung bergabung
dengan Perguruan Islam di Parabek, Bukittinggi, di bawah asuhan Syekh
Ibrahim Musa. Namun tak lama pula, Datuk berangkat ke India guna belajar
ilmu agama, tepatnya di Perguruan Islam Lucknow pimpinan Abdul Kalam Azad,
ulama besar India. 

Usai menempuh pendidikan di Lucknow diteruskan ke Islamic College yang
dibina oleh dua bersaudara, Maulana Syaukat Ali dan Muhammad Ali. Dua orang
ini terkenal sebagai pemimpin besar Partai Khilafat India. 

Dari India, Datuk Palimokayo selanjutnya banyak bepergian dalam upaya
mencari pengalaman dan ilmu. Aantara lain ke Mesir, Suriah, Turki, Lebanon,
Irak, Yordania, Yunani, Italia, Rumania, Perancis, Jerman dan Yugoslavia.
Sempat pula beberapa waktu dia tinggal di Canton, Cina. 

Kembali ke Indonesia tahun 1930, bersamaan waktunya saat berlangsung kongres
I Sumatera Thawalib (22-27 Mei 1930) yang lantas mengubah namanya menjadi
Persatuan Muslimin Indonesia (PMI). Datuk Palimokayo ditunjuk sebagai salah
seorang anggota Pengurus Besar PMI. 

Beberapa bulan kemudian, yakni pada perhelatan Kongres I PMI di Padang (5-9
Agustus 1930), dia dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal PMI. Pun sewaktu
berlangsung Kongres II PMI di Padang (9-10 Maret 1931) yang mengubah
organisasi sosial ini menjadi partai politik bernama Persatuan Muslimin
Indonesia (Permi), posisi selaku sekjen masih disandangnya. 

Bulan Juli 1933 pada saat dilaksanakan sidang Pengurus Besar Permi, Datuk
Palimokayo dipercaya menduduki posisi ketua umum sekaligus pemimpin umum
majalah Permi, yakni Medan Rakjat. 

Lantaran aktivitas politiknya yang tegas menentang setiap kebijakan Belanda,
maka para tokoh Permi dilarang melakukan kegiatan pertemuan. Namun, larangan
ini dianggap angin lalu dan Permi masih terus bersidang. Hingga selanjutnya
pada tanggal 10 Desember 1934, Belanda menangkap Datuk Palimokayo dan
memenjarakannya di Bukitinggi. 

Penahanannya sempat berpindah ke penjara Suka Mulia di Medan. Baru pada
tahun 1935, pemerintah kolonial Belanda membebaskan Datuk Palimokayo yang
langsung kembali ke Bukittinggi. Setelah itu, kemudian dia pergi ke Bengkulu
serta memfokuskan kegiatannya dalam bidang dakwah dan pencarian dana
pendidikan agama Islam bagi daerah Sumatra Selatan. 

Aktivitas organisasi dilakoninya lagi pada tahun 1942. Bersama Syekh
Sulaiman ar-Rasuli, lantas membentuk badan koordinasi alim ulama bernama
Majelis Islam Tinggi (MIT). Ketua badan koordinasi dijabat oleh Syekh
Sulaiman, sementara Datuk Palimokayo sebagai sekretaris. Badan ini dengan
cepat berkembang tak hanya terbatas di wilayah Minangkabau, akan tetapi
telah merambah meliputi seluruh karesidenan di Pulau Sumatra. Muktamar
pertama MIT se-Sumatra berlangsung usai proklamasi kemerdekaan. Pada
kesempatan tersebut, disepakati pembentukan satu MIT Sumatra yang diketuai
Syekh Muhammad Jamil Jambek dengan Datuk Palimokayo selaku sekretaris. 

Selanjutnya, MIT memfusikan diri kepada Masyumi yang awalnya berkedudukan di
Pematangsiantar (ibu kota Provinsi Sumatra). Tahun 1947 ketika pemerintah
pusat membagi Sumatra menjadi tiga provinsi --Sumatra Utara, Tengah dan
Selatan. Partai Masyumi membentuk perwakilan di tiap provinsi itu. Datuk
Palimokayo yang kini akrab dipanggil Buya Datuk, memimpin Masyumi Sumatra
Tengah. 

Tepatnya tanggal 2-4 Mei 1953 sejumlah pemuka adat Minangkabau menggelar
musyawarah adat di Bukitinggi dan menetapkan Buya Datuk sebagai ketua umum
Badan Permusyawaratan Adat Minangkabau. Selanjutnya pada musyawarah alim
ulama dan mubaligh se-Sumatra Utara tanggal 20-21 Agustus 1953, disepakati
pembentukan Badan Permusyawaratan Alim Ulama dan Mubaligh Islam Sumatra
Tengah yang dipimpin oleh Buya Datuk Palimokayo.

Pemilihan umum pertama tahun 1955, memilihnya pula sebagai anggota Dewan
Perwakilan Rakjat. Jabatan yang tidak lama dipangku. Setelah pada 20
September 1965 pemerintah menunjuknya selaku Duta Besar RI untuk Irak. Usai
tugasnya menjadi dubes, Buya Datuk kembali aktif di Masyumi sebagai ketua
umum Masyumi untuk wilayah Jakarta Raya. Sekaligus menjadi pengurus Dewan
Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). 

Dia pun ditunjuk sebagai koordinator DDII untuk wilayah Sumatra Tengah yang
meliputi Sumatra Barat, Riau serta Jambi. Dari sejak itu, dia semakin
mengabdikan diri pada kegiatan dakwah dan pendidikan agama di Sumatra Barat.


Karier berorganisasinya makin bertambah. Pada musyarawah alim ulama
se-Sumatra Barat tanggal 16-27 Mei 1968 di Bukitinggi, terpilih pula selaku
ketu umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatra Barat. Periode berikutnya
dia terpilih kembali selaku ketua umum MUI. Tahun 1975, dia sekaligus
diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat. 

Bersama beberapa tokoh dan cendekiawan Muslim di Padang, Buya Datuk
membentuk Yayasan Dana Pembinaan dan Pengembangan Islam (Yadappi) tahun
1984. Pada yayasan yang bertujuan membantu pendanaan perguruan Islam di
Sumatra Barat, dia juga dipercaya memimpinnya. Tak lama, tokoh ini meninggal
dunia di RSU M Jamil, Padang, setelah beberapa hari dirawat karena sakitnya.
Beliau dimakamkan di Pemakaman Tunggul Hitam Padang. 

Karena berbagai kegiatan dan jasanya yang sangat besar bagi bangsa Indonesia
baik sebelum dan sesudah kemerdekaan, pemerintah telah menganugerahinya
sebagai salah seorang tokoh Perintis Kemerdekaan RI melalui SK Mensos
No.Pol.16/II/PK tanggal 20 Mei 1960. Keputusan ini dikuatkan lagi dengan SK
Mensos RI No.Pol.103/63/PK tanggal 13 Juni 1963. yus 

sumber: http://www.Republika.co.id
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ingin memasarkan produk anda di web RantauNet http://www.rantaunet.com 
Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
----------------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
========================================

Kirim email ke