jaaannggaann pergi dari ku, tinggalkan ku...
bawa daku kemana kau pergi...
jjaaaannngggaaaannnn lari dari ku...
 
Halo Bang Zul,
 
Lho...apa Bang Zul belum denger peraturan di bawah ini :
 
peraturan 1 : _____ nggak pernah salah
 
peraturan 2 : kalau _____ melakukan kesalahan, maka lihat peraturan 1.
 
(isi sendiri deh ____ nya)
 
 
setelah Bang Zul pergi dari palanta ini, apakah ada niatan untuk buka milis yg boleh posting dengan bahasa apa saja ?
kalu iya, ajak2 kita duuoonnggg....
 
sebab saya juga punya kesulitan bahasa. (padahal bendera kita sama2 merah putih, lagunya masih ciptaan WR. Soepratman dan presidenya masih Megawati. trus, tau depan mau pemilu langsung).
meskipun orang tua saya pemangku adat, ternyata saya nggak bisa bikin pantun.
beliau juga nggak ngajarin itu sih.
beliau lebih mementingkan anaknya untuk tau 'tumpak'. tau kampung.
itu aja.
 
sebab saya cuma tau bahwa saya harus memajukan kampung saya sekuat2nya tenaga saya. ini seperti beban moril.
saya liat pancaran mata mereka kalau saya membawa ide untuk kampung kepada mereka dan mereka lihat ketika proses pelaksanaannya.
bagi mereka ini lebih penting.
 
kata mereka otak lebih penting. karena dengan otak yg ber-nalar bisa berkreasi sebaik2nya.
mereka demokratis ya ?
mereka juga mementingkan regenerasi ya ?
hm...saya sayang dan hormat sekali kepada orang tua saya ini.
 
tapi skala kepentingan kan sangat relatif terhadap subyek dan obyek nya.
jadi ....
hiks hiks hiks...
doa ku menyertaimu.
 
 
Selamet nunggu buka puasa
"C"
 
 
----- Original Message -----
From: zulkifli  Saya minta ma'af sebelumnya, sebenarnya saya sudah cukup lama juga berada di milis Rantaunet ini, sejak pertengan thn 2000. selama ini saya hanya memantau karena ngak bisa menulis berbahasa Minang apalagi akhir2 ini Bapak Mulyadi mengharuskan milis ini berbahasa Minang.
 
Namun akhir2 ini sering terjadi gesekan yang kadang bersumber karena yang bicara tidak mempunyai kapasitas
dibidang tersebut tetapi kekeh merasa benar, emosional dalam menanggapi tulisan sehingga belom memahami tulisan
secara keseluruhan sudah emosi dulu.
 
Akhir2 ini nampaknya sebagian Mamak2, ibu2 kita mulai alergi dengan diskusi yang sudah hilang nuansa keminangannya yang menurut saya juga tidak jelas benang merahnya, sama dengan saudara Z Chaniago sampai mintak penjelasan benang merah dari nuansa minang itu, Uni Evi sampai minta yang tua untuk introspeksi diri juga karena disatu sisi diskusi agama dibiarkan merajalela sementara diskusi lain dibilang kehilangan nuansa keminangannya. Nyata sekali terlihat like and dislike.

Sampai bundo mengeluarkan pantun bahasa minang, diiringi dengan pernyataan harus belajar bahasa minang kalau tidak
mau palanta ini bukan tempat yang cocok, kasarnya mengusir.

Untuk itu kepada moderator mak Darul dan Pak Miko tolong di unsubscribe kan email saya ini karena saya tidak bisa
berpantun dan tentu pula tidak bernuansa minang, saya tidak bisa berbahasa minang dan saya tidak mau juga mamak2
dan ibu2 terganggu kenyamanan dalam bernostalgia dengan adat istiadat minang, terutama bayangan palanta seperti
yang diceritakan bapak saya sudah tidak dapat saya lihat lagi. Sayang sekali munculnya diskusi Uni Evi, Cecille,
Cysca, Rarach dimana dulu perempuan tidak ada ke palanta tapi bisa ke palanta maya sekarang ini ternyata pola
pikiran mereka lebih kritis daripada laki2 hal ini juga harus diberangus karena mengganggu keyamanan tetua
rantaunet.

Kirim email ke