M.Arifin Ilham
"Syariat Tak Akan Tegak Dengan Caci Maki"

Kegelapan tidak akan terang dengan caci maki. Bawakan lentera, cahaya. Korupsi tidak akan selesai dengan caci maki, karena dia akan melawan.

Siapa tak kenal M. Arifin Ilham? Dai muda ini kerap kita dengar lewat gebrakannya yang mengundang dan mendatangi tokoh-tokoh umat dan politik untuk berzikir bersama, meski mereka dinilai berseberangan. Dengan cara seperti itu Ustadz muda ini berhasil mengumpulkan mereka.
Sepintas dari penampilannya orang akan melihat bahwa Arifin Ilham adalah sosok orang yang asyik dengan zikir dan lupa dengan yang lainnya, termasuk gonjang-ganjing politik negeri ini. Tapi begitu kita berhadapan dengan Pimpinan Majelis Zikir Az Zikra ini, kesan itu sirna. �Dia sebenarnya Umar yang berpakaian Ali,� begitu kesan teman dekatnya.
Di pagi yang sejuk usai shalat subuh di Masjid Al-Amru Bittaqwa, Sawangan, Bogor, kepada Eman Mulyatman dari SABILI, dai yang di masa Orba pernah 4 kali dilarang khutbah ini bicara panjang lebar. Berikut petikannya:

Dalam suasana krisis multi dimensi, penculikan aktivis dan berbagai fitnah, Ramadhan tiba?
Setiap kali bicara ibadah, berarti di situ kita bicara kesungguhan. Sejujurnya kita melihat ibadah hanya rutinitas belaka. Belum melahirkan ritual yang berkualitas. Mestinya negeri ini benar-benar Islam banget karena mayoritas penduduknya kaum muslimin.

Di mana salahnya?
Karena ibadahnya mabuk. Kita shalat, tapi shalatnya tidak membuat orang mencegah dari berbuat zina. Ane pernah ceramah di suatu hotel, yang jaga hotel itu cerita: dia tahu, tamunya mau berzina. Tapi orang itu tanya, �Arah kiblatnya ke mana?� �Hebat� enggak?

Lalu, perihal Ramadhan?
Berapa kali kita melewati Ramadhan? Mestinya maju banget negeri ini. Tapi nyatanya enggak, Illa ju� wal athos, kecuali lapar dan haus. Kalau shalat cuma capek aja. Bahkan celaka, karena fa waylul lil musholliin. Haji, kita minta quota terus, tapi ternyata korupsinya paling besar. Ini semua karena (kurang) pemahaman.

Kuncinya pemahaman?
Ya, pemahaman, penghayatan.

Kita terjebak pada rutinitas?
Dimulai dari pemahaman, Ramadhan artinya pembakaran. Sesuatu yang dibakar itu biasanya yang tidak bermanfaat, seperti sampah. Nah, dengan Ramadhan, yang kotor-kotor dalam diri kita dibakar. Berarti kita senang banget masuk, lebur dalam telaga Ramadhan. Dibakar untuk apa? La�allakum tattaquun (agar bertakwa). Besi dibakar, jadi gergaji paku dan sebagainya. Pembakarannya cukup lama, satu bulan. Karena Allah ingin mencetak pribadi yang canggih, pribadi takwa.

Sungguh istimewa sekali Ramadhan ....
Kalau sudah takwa, dunia seperti surga. Kalau susah, ditolong Allah. Penjara pun bagi dia istana. Dalam hidupnya senang terus. Misalnya, orang mau ketemu (Abu Bakar) Ba�asyir susah. Tapi, siapa bilang dia susah?

Menurut hasil survei, kita ranking ke-6 dalam korupsi?
Sebenarnya krisis di negeri ini adalah krisis akhlak, multi dimensi itu bersumber dari akhlak. Dalam kancah internasional kita sudah tidak punya wibawa. Kenapa, karena tidak ada quwwah (kekuatan).

Jangan jauh-jauh, dengan Singapura saja kita....
Kita tidak punya quwwah karena tidak ada wahdah (persatuan). Kenapa tidak bersatu karena tidak ada ukhuwah, karena tidak ada iman. Iman kita krisis. Iman ada tapi nafsu lebih besar.

Sebagai bangsa kita sudah tidak punya harga diri?
Ini yang terjadi selama ini. Dengan Ramadhan, yang dibakar itu empat. Pertama, dosa kita pada Allah. Kedua, dosa antarkita. Makanya sebelum Ramadhan ini kita introspeksi, ada tidak orang yang belum kita mintai maaf. Ketiga, dosa mendarah daging, dosa beku. Yaitu dari makanan yang tidak halal. Baik zatnya atau dari cara mencarinya. Keempat, dibakarnya sifat-sifat tidak terpuji. Itulah kemampuan dari Ramadhan.

Kesimpulannya?
Jadi yang merusak dunia, karena perut dan yang di bawah perut. Orang perang gara-gara perut. Amerika dan Israel itu kan, target mereka perut dan di bawah perut. Mereka simbol dari manusia hewan, targetnya hewan itu hanya perut dan di bawah perut. Indonesia ini rusak gara-gara apa? Perut dan yang di bawah perut. Orang itu kenapa tidak ke masjid, enggak ke masjid? Itu karena perut dan yang di bawah perut. Udah, titik!

Sekarang ada MOU antara Muhammadiyah dan NU untuk memerangi korupsi dan juga PK Sejahtera mencanangkan Ramadhan Hidup bersih tanpa Korupsi. Apakah tidak berlebihan kalau kita berharap dengan Ramadhan ini kita....
Ya diteruskan saja. Tapi kalau tidak ada kesadaran kuat secara bersama maka akan kosong lagi. Kembali lagi. Jadi yang punya kesadaran itu secara serentak bersama-sama (aktif), jadi bersihnya total. Tentu yang membersihkannya itu harus total juga.

Biasanya menjelang Ramadhan FPI bergerak?
Ini kan (maksiat) penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan kata-kata. Karena, coba buka surat al-A�raf : 176, Allah ingin muliakan manusia dengan hidayah (Qur�an dan sunnah) tapi sayang mereka lebih cinta dunia dan memperturutkan hawa nafsunya�perut dan yang di bawah perut�maka tak ubahnya seperti anjing. Tetap saja menjulurkan lidahnya. Makanya al-Qur�an banyak bercerita tentang hewan. Bukannya kita belajar teknologi dari hewan. Indonesia juga punya analog hewan:; Rampok truk, bajing loncat. Yang suka pindah-pindah, kutu loncat. Koruptor paling banyak: tikus, cacing tanah, gurita, monyet penggerogot.

Bangsa ini sudah kronis?
Bukan lagi membudaya, bukan melembaga, tapi fungsional!

FPI dan KPKPN cukup vokal memerangi kemaksiatan dan korupsi, tapi korupsi makin subur?
Ya. Makanya salah satu program dari Majelis Az-Zikra adalah zikir. Karena, melihat keadaan sudah begini koma, ngomong sudah enggak didenger lagi.

Apa kegiatan Anda di Ramadhan ini?
Mengajak semua untuk ingat Allah, ingat hidup ini sesaat. Ingat azab Allah. Ingat azab Allah tapi ingat surga yang dijanjikan bagi orang yang taat. Jadi kasarnya begini, kalau benar Ramadhannya, apa sih susahnya sabar sesaat. Kan ada saatnya bedug berbunyi. Ini kan dunia, apa sih susahnya bersabar sesaat. Orang yang korupsi dan berzina itu orang yang tidak sabar.

Anda akan melakukan safari Ramadhan?
Iya. Kalau tahun lalu kita ke Nusakambangan, LP Cipinang, Tangerang, kalau sekarang dengan grupnya Iwan Fals, Slank. Dakwah harus universal kan? Karena kegelapan tidak akan terang dengan caci maki. Bawakan lentera, cahaya. Korupsi tidak akan selesai dengan caci maki, karena dia akan melawan. Kecenderungan manusia maksiat (ketika dinasihati) itu melawan, karena setan itu tidak menyukai yang hak dan membenci yang halal. Jadi ketika ada orang mengarahkan pada yang hak maka dia akan melawan. Apalagi dia punya power, punya kekuasaan. Yang teriaknya tidak punya apa-apa.

Punya Allah?
Makanya kembalikan kesadaran tadi, kesadaran bahwa kita punya Allah.

Itu artinya kita kembali pada syariatnya?
Jelas! Syariat tak akan tegak dengan caci maki.

Saat ini perjalanan penegakan syariat Allah berjalan ke arah yang benar atau sebaliknya?
Ya, kembali zikir, membuka hati. Kalau sudah terbuka hatinya, taubatnya asyik banget. Setelah lahir akhlak mulia, dorong kepada dakwah. Terus berdakwah dan mengamalkan. Nah setelah senang dakwah, amar makruf sambil tanamkan keberanian nahi munkar. Tidak bisa tidak harus bersamaan. Karena kalau nanam benih bersamaan akan datang hama. Setelah itu baru penegakan syariat Allah. Makanya jamaah zikir di sini kalau disebut syariat Allah, mereka akan takbir, Allahu Akbar! Bergetar hati mereka, mereka rindu dengan syariat Allah.

Jadi antara aktivitas dengan kebersihan hatinya harus sesuai?
Ya akhi, di sini kekeliruan kita. Pertama, ada kekeliruan pada orang yang berzikir, mereka menganggap sebatas permainan ruhani saja. Padahal zikir kalau dilakukan dengan benar akan dahsyat sekali. Imperium Romawi dan Persia tumbang. Kaisar Cina bingung ketika Persia minta bantuan. �Lho kamu kan hebat segala-galanya. Tapi kok tumbang oleh umat Islam?� Apa istimewanya orang Islam? Ketika orang Persia menginteli, (mereka berkesimpulan), ternyata ada dua kekuatannya (kaum muslimin): Malam kayak pendeta, siang jadi singa. Berarti kekuatan ruhani, akhi. Maka sejarah mencatat perjuangan Islam tidak dibayar oleh darah saja, tapi juga oleh linangan air mata. Sekarang teriaknya, �Jihad! Jihad! Jihad!� Tahajjudnya kagak!

Lalu?
Ada lagi kelemahannya, mencibir!

Anda meragukan politikus Islam?
Saya, alhamdulillah, dikasih kesempatan untuk silaturahim. Niatnya baik, tapi ketika saya ke rumah tokoh-tokoh tadi, hanya sedikit yang subuhnya ke masjid. Jadi apa yang bisa diharapkan?

Kenapa subuh yang jadi ukuran?
Itu ukuran iman, akhi. Kenapa saya mengukur dari masjid, orang Yahudi sendiri mengukur kekuatan kita dari masjid. Jika jamaah subuh umat Islam sama banyaknya dengan jamaah shalat Jum�at maka itu badai (bagi Yahudi). Tapi jika jamaah subuhnya tidak sebanyak shalat jum�at, we can sleep.

Meski demikian kita tentu tidak boleh skeptis?
Melihat anak muda sekarang, saya optimis. Ajak mereka kepada ibadah yang benar, yang khusyu�. Kami mengajak, merayap terus. Menyebar, maka berzikirlah negeriku. Karena, orang diajak taubat biasanya pada enggak mau. Diajak zikir orang mau. Nah, dalam zikir itu ada taubat.

Dulu ada istilah Taubat Nasional?
Iya, orang enggak mau. Dipancing dulu dengan zikir. Nah, orang selama ini terkecohkan, bayangannya cuma zikir saja. Padahal jauh ke depan. Kalau terus dengar ceramah-ceramah saya, Anda akan menangkap, ada empat ajakan: ikhlas, akhlak Mulia tampilkan, Kasih sayang dan tawakkal.

Ikhlas kuncinya?
Kalau sudah kepegang Allah Ghoyatuna (tujuan kita), maka tidak akan ini-itu. Saya bisa ngomong tegas saja. Saya sayang dengan Ayahanda Hamzah Haz tapi lebih sayang Ba�asyir, lebih sayang Habib Rizieq, lebih sayang Ja�far Umar.

Apakah lembaga yang ada, entah itu ormas, orpol Islam, majelis zikir, itu berjalan sinergi?
Selama niat kita lurus karena Allah, kita akan dipersamakan. Kuncinya selama niat karena Allah. Banyak aktivis, sebelumnya niat berjuangnya untuk Allah, untuk umat, tapi akhirnya untuk dirinya sendiri. Kenapa, karena tidak ada tarbiyah (pembinaan). Harusnya tarbiyah.

Tapi di tengah suasana yang belum apa-apa kita di cap teroris�.
Kita dicap teroris karena kita menampakkan gaya teroris. Padahal Islam itu rahmat, maka buktikan bahwa kita itu rahmattan lil�alamin. Kenapa orang memfitnah kita, karena memang kita punya peluang untuk difitnah. Maka jauhkan peluang itu, selamatkan. Karena kita muslim, penyelamat. Kanan kirinya harus diselamatkan. Makanya, ayo berzikir, rangkul dulu. Jangan langsung main pukul.

Nabi Muhammad yang lembut, mengatakan pada sahabatnya siapa yang bisa membawa kepala si anu maka akan mendapat surga?
Kalau sekarang kita bilang seperti itu, maka kepala kita yang dibawa. Makanya ayat perang itu turun di Madinah. Sekarang mau perang? Habis duluan! Makanya ada strategi. Ada watawaa showbil haq, kalau sudah haq (benar) tujuannya, sabar starteginya. Terus watawaa showbil marhamah, tarik, kumpulkan, dihimpun dulu. Sekarang kan sudah kumpul Amien Rais, Hamzah Haz, walaupun cuma baru mau kumpul. Ja�far Umar Thalib, Farid Okbah sudah mau duduk, sudah saling menyayangi.

Mengapa kita saling curiga?
Silaturrahimnya tidak ada. Kita sudah su�udzhon duluan, belum ketemu udah main cap bid�ah!

Jadi menurut Anda politik yang Islami itu bagaimana?
Cara Islam, kalau haq (benar) tujuannya, sabar strateginya. Sabar jangan diartikan berdiam diri. Bukan pasrah. Kita sekarang ini bergerak, kita ajak negeri ini berzikir, terus menghimpun potensi, menghimpun kekuatan. Kemudian penuh dengan kasih sayang, ajak orang untuk tahajjud. Kalau orang sudah tahajjud semua, berhimpun lalu berdoa.

Jadi perlu ada koreksi terhadap metode dakwah kita selama ini?
Jelas, hasil memang revolusi, tapi gaya harus evolusi, akhi.

Maksudnya?
Sebab kalau salah strategi dakwah, mengulangnya susah banget! Amrozi, salah strategi dia. Harusnya sudah ke langkah sembilan, balik lagi ke nol. Waduh! Amsori (I am sorry) sekarang dia.... Iyakan? Padahal niatnya baik.

Tapi radikalisasi itu tercipta karena tekanan?
Iya, karena dibiayai, dipelihara dan itulah keunggulan mereka. Coba lihat, setan kapan datang? Waktu orang sedang bernafsu kan? Makanya kalau perjuangan dilandasi nafsu, setan akan menguasai kita. Itu yang diinginkan setan. Nabi kalau bernafsu saat itu, sudah habis. Seandainya ketika itu di Thaif nabi ditimpukin sudah tidak sabar, emosi, Islam enggak sampai di Indonesia.

Artinya, radikalisasi seperti di Mesir, Indonesia, Aljazair�.
Ya, terprovokasi juga oleh keadan itu.

Supaya tidak jatuh lagi?
Himpun kekuatan bersama. Jamaah! Wahai akhi, tidak ada yang bisa mengalahkan jamaah! Hayya alas sholaah, hayya alal falaah! Jadi yang bisa mengembalikan (kejayaan) adalah jamaah shalat. Bagaimana jamaah shalat? Yang khoo syi iin, yang khusyunya berjamaah! Bukan khusyu sendirian. Kalau orang sudah khusyu semua maka qod aflahal mu�minuun (sungguh menanglah orang beriman).

Sekarang kita kehilangan ulama panutan?
Sudah enggak usah bicara tokoh panutan dulu deh. Kita perbaiki diri masing-masing, nanti Allah akan munculkan tokoh itu.

Bush mengundang empat tokoh Islam, kalau Anda diundang apa yang akan Anda sampaikan?
Kita katakan bahwa sikap Anda salah. Bahwa apa yang Anda lakukan itu mengundang kehancuran bagi Anda sendiri.

Anda tidak diundang?
Arifin tidak kagum pada orang yang bisa terbang, capung juga bisa terbang. Saya justru kagum pada orang yang menegakkan syariah Allah. Makanya saya berharap mereka (keempat tokoh) mau mengatakan itu. Jadi dengan cara yang halus kita kasih tahu kesalahan standar gandanya. Memerangi teroris tapi dengan cara-cara teroris, sehingga dia menciptakan teroris sendiri. Karena terorisme itu buah dari provokasi tadi. Yang kedua, jangan sampai dia sering menggunakan kata-kata teroris. Karena akhirnya jadi perang kata-kata. Seperti kata �subversif� di zaman Soeharto. Kemudian yang ketiga, kita kasih tahu bahwa musuh sebenarnya adalah Yahudi.

 wasalam

Malin Bandaro


Do you Yahoo!?
Exclusive Video Premiere - Britney Spears

Kirim email ke