Assalamu'alaikum wr.wb.
 
Rang sanak kasadonyo, mudah mudahan artikel iko bermanfaat.
 
Wassalam
 
Adrisman Yunus (41)

<[EMAIL PROTECTED]>============================================================
Serial Taujihat Ramadhan - Hari Ke-9
Pusat Informasi PK-Sejahtera di Amerika Utara (PIPKA)

RAMADHAN BULAN KELUARGA

"Jika datang bulan Ramadhan, maka dibuka pintu-pintu
Surga dan ditutup pintu-pintu Neraka, dan
syaithan-syaithan dibelenggu." (HR. Bukhari dan
Muslim)

Kajian tentang hikmah puasa dan Ramadhan akan berujung
kepada satu kesimpulan bahwa ia merupakan bulan yang
dipilih Allah SWT, bulan yang penuh dengan kemuliaan,
rahmat dan berkah. Kemuliaan, berkah dan rahmat
tersebut tidak hanya melingkupi orang yang berpuasa
tapi juga akan tersebar dirasakan oleh lingkungan
sistem sekitar, mulai dari keluarga, masyarakat dan
bangsa. Lingkup lingkungan yang terkecil adalah
keluarga, lalu bagaimana kita bisa memanfaatkan
Ramadhan untuk membangun dan menata kembali
sendi-sendi keluarga kita?

Keluarga islami yang sakinah, mawaddah dan rahmah
(samara) merupakan dambaan semua. Tipe keluarga
dambaan ini mungkin bisa dimodelkan sebagai berikut.
Yakni sebuah rumah yang dibangun dengan dasar iman dan
kesamaan visi, kokoh berdindingkan komunikasi dan
kerja sama amal dari penghuni rumah tersebut, serta
berpayungkan maaf dan ridho. Tiga sendi dalam model
tersebut yang dengan harmonis membentuk dasar
(fondasi), tiang atau dinding, dan atap dari rumah
itu.

Landasan keimanan merupakan fondasi utama keluarga.
RasululLah SAW mengisyaratkan pentingnya faktor
keimanan dalam pembentukan keluarga jauh sebelum
keluarga itu terbentuk. Dimulai dari proses pemilihan
pasangan. Faktor keimanan haruslah menjadi parameter
pertama dibandingkan harta, kecantikan, atau
keturunan. Apa peran Ramadhan? Alhamdulillah, dalam
bulan ini sangatlah kondusif untuk meningkatkan
tingkat keimanan kita. Karena itu diharapkan fondasi
keluarga kembali terkokohkan di bulan ini. Alangkah
berbeda, interaksi antar penghuni rumah yang dilandasi
dengan keimanan dibandingkan dengan interaksi yang
kering tanpa adanya nilai di dalamnya.

Iman yang kuat tumbuh dari ilmu dan pemahaman yang
baik. Ia berbeda dari iman yang dibentuk dadakan oleh
kondisi dan lingkungan. Sehingga ketika Ramadhan
pergi, keimanan itu turun kembali. Contoh lain
misalnya, ketika di masjid keimanan naik karena
melihat ketaatan orang lain, namun langsung drop
begitu keluar. Pengajian dan halaqoh ilmu yang
cenderung banyak available di bulan ini perlu
dioptimalkan, sehingga iman berbuah dari ilmu dan
pemahaman. "Maka punyalah keilmuan (tentang) bahwa
sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan
Allah" (49:7)

Tiang dan dinding keluarga kita di bulan ini juga akan
semakin kuat. Ramadhan semarak dengan berbagai kerja
sama amal antar anggota keluarga. Mulai dari aktivitas
bersama dalam menghias dan mengkondisikan rumah
menyambut Ramadhan, saling membangunkan untuk sahur,
menyiapkan hidangan buka, dan sebagainya. Komunikasi
yang mungkin selama bulan-bulan sebelum Ramadhan
sempat terbatas dan layu, kembali hidup dalam sahur
dan buka puasa bersama. Taushiah (saling mengingatkan
sesama anggota keluarga untuk mengoptimalkan Ramadhan)
juga bersemi. Rumah pun bercahaya seperti masjid di
mana semua anggota kelurga berada di satu lingkaran
dalam majelis baca Al Qur'an (tadarus), dalam majelis
zikir kepada Allah, hingga satu jamaah dalam shalat
tarawih misalnya. Inilah yang kita butuhkan untuk
menguatkan sendi keluarga kita dengan bulan Ramadhan.

Ridho dan kemaafan adalah atap keluarga samara yang
didambakan. Berbagai kelemahan, kekurangan, dan
kesalahan yang mucul dalam interaksi di keluarga akan
tertutupi oleh payung ini. Begitu indahnya Ramadhan
yang dimulai dan diakhiri dengan saling bermaafan dan
do'a antar anggota keluarga. Ini merupakan langkah
untuk mendidik jiwa kita agar lapang dan mudah meminta
maaf sekaligus memaafkan. Hal ini akan semakin
kondusif di dalam bulan Ramadhan, misal selepas shalat
tarawih bersama. Anak memohon ma'af kepada orang tua,
isteri kepada suami dan sebaliknya, dan demikian juga
adik kepada kakak dan seterusnya.

Dalam hadis di atas disampaikan bahwa adalah kemuliaan
Ramadhan sehingga para syetan terbelenggu. Seharusnya
dalam bulan ini keluarga juga terbebas dari berbagai
penyakit, malas, marah, kikir dan penyakit hati yang
menghalangi ridho dan ma'af, seperti iri dan dengki.

Tidak bisa dibantah, bahwa berbagai aktivitas ramadhan
kalau dikelola dengan baik akan memperkuat sendi-sendi
kehidupan keluarga, insya Allah. Ialah Ramadhan, bulan
keluarga!

------

Kirim email ke