Server mailing list RantauNet berjalan atas sumbangan para anggota, simpatisan dan 
semua pihak yang bersedia membantu. Ingin menyumbang silahkan klik: 
http://www.rantaunet.com/sumbangan.php
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tanyato konsep musajik sabagai islamic center alah diterapkan cukuik lamo
dan berhasil di suatu tanah papua nan panduduaknyo minoritas non-muslim.
Rasonyo
iko bisa dijadikan suatu model untuak diterapkan di musajik-musajik lainnyo
di indonesia khususnyo di ranah minang.

(.... maaf indak dikarek supayo indak ilang nuansa pasannyo....)

salam - tg

-----Original Message-----
From: Welly Hidayat [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, 18 August 2003 12:33 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [RantauNet.Com] Monumen itu yang bernama Masjid


Ass,w,wb

Jawaban dari pertanyaan Mak Duta mungkin sekarang kita perlu mengalihkan
sepersekian dari harta kekayaan kita yang biasa kita sumbangkan untuk
masjid, kenapa sekarang kita tidak memikirkan kehidupan dari saudara-saudara
muslim kita yg tidak mampu, kita bina/sekolahkan mereka, kita jauhkan mereka
dari lembah kemiskinan.  Seandainya mereka mampu kita keluarkan dari
kemelaratan Insya Allah anak keturunannya sholeh/sholehah dan terjaga dari
keinginan pindah agama hanya krn sesuap nasi..

kalau menuruik Ambo masjid sepi kita tidak bisa  hanya karena alasan bahwa
semua orang sudah sibuk, pusat informasi alah banyak jadi tidak hanyo masjid
nan diharapkan, itu hanyo semua kesalahan dari kita.  Kenapa kita tidak
mulai menjadikan Masjid sebagai pusat kesibukan sehari-hari selain sekolah.
Seperti TPA itu sudah bagus dan sudah berjalan ditempat kita, buat
perpustakaan anak-anak, atau buat semacam Playground untuk anak-anak,
mungkin satalah anak-anak panek bamain mereka akan masuk keperpustakaan
untuk baca buku ini dimulai saat-saat liburan.  Dan disaat azan tiba mereka
akan ikut sholat bersama.
Kenapa saya katakan dimulai dari anak-anak karena dari kecillah kita mulai
mngajarkan kecintaan pada anakuntuk mulai menyukai masjid.
Saya dulu tinggal dekat masjid, yang mana masjidnya sangat padat dengan
kegiatan,masjid punya toko untuk kebutuhan sehari-hari spt:gula,susu minyak
dll.
setiap seminggu sebelum gajian anak-anak remaja menelpon ibu-ibu yg sudah
jadi langganan untuk menanyakan apa saja yg akan mereka pesan untuk bulan
itu dan nanti mereka akan mengantarkan pesanan tsb kealamat. Mereka menjual
kebutuhan sehari dengan harga sedikit lebih murah dari tempat lain.Masjid
tsb punya sebuah vespa dari keuntungan toko untuk mengantar pesanan, Masjid
ini memang hanya di kota kecil di Irian jaya. Setiap 6 bulan sekali, atau
minimal setahun sekali mereka bikin bazar menjal seconhand/baru pakaian dan
semua itu sumbangan dari masyarakat sekitar masjid, dan semua keuntungan
dari segala kegiatan itu dipakai untuk perawatan masjid,dan semua itu
dilakukan oleh para remaja. mungkin dengan ini bisa menghilangkan kebiasaan
masjid menyetop kendaraan dipinggir  jalan untuk meminta-minta uang yang
kadang jujur saja kita sebagai ummat muslim malu dengan kebiasaan
meminta-minta yg sangat mengganggu kelancaran jalan raya.  
Maaf Mamak ini hanya menurut pendapat saya  maaf kalau ada dari tutur saya
yang salah itu hanya dari kekhilafan saya belaka.

wass,

Welly hidayat


dutamardin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Assalaamu'alaikum WW.,

Perjalanan mudik sebulan bulan lalu, sengaja saya sempatkan untuk
meninjau beberapa pesantren dan sholat subuh di berbagai masjid.
Khusus mengenai masjid, apa saya temui jauh dari konsep masjid
seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW. Sebutlah mulai dari masjid di desa
Tegallinggah, sebuah pemukiman asli Bali Islam di Kabupaten Buleleng, Surau
Kajai di Desa Gadang Gadang Kab. Pariaman, sampai
kepada masjid indah didalam taman yang bernama Masjid Persekutuan
di Kuala Lumpur dan masjid baru jadi Masjid Agung Granada.

Hampir semua masjid yang saya jambangi, miskin kegiatan. Hanya ramai
waktu Jum'atan. Setelah itu masjid itu kosong melompong. Jamaah sholat
fardhu sangat sepi, apalagi subuh hanya terisi tidak sampai satu shaf,
kecuali masjid di pesantren Daarut Tauhid di Bandung dan masjid di Pesantren
AlZaytun Indramayu yang luber waktu subuh (Tentu penuh, karena
dalam lingkungan pesantren).

Walaupun masjid2 sepi kegiatan, tapi masjid-masjid baru terus bermunculan.
Dalam perjalanan dengan bis Jakarta-Bali, entah berapa
puluh panitia masjid yang membuat pembatas dijalan raya, menyodorkan
tangguk jaring, meminta sumbangan. (Bagiku ini sangat memalukan Islam).
Di Maninjau, seorang menteri asal sana membangun dua masjid sekaligus.
Sebuah di Bayua dan sebuah lagi masjid raya dipinggir danau.

Memang Rasulullah dalam satu hadis menjanjikan rumah disurga bagi siapa yang
membangun masjid. Tentu masjid yang dimaksud Rasul adalah masjid
yang membawa manfaat bagi umat disekitarnya. Bukan masjid yang kosong
melompong, sepi kegiatan, bahkan ada yang sudah tak terdengar azan lagi
disana.

Saya melihat, umumnya masjid saat ini adalah hanya sekedar monumen,
ketimbang pusat kegiatan masyarakat yang mampu memberdayakan masyarakat
sekitarnya. Apakah saudara-saudaraku akan menambah lagi monumen2 bisu itu?

Apakah anda bisa membayangkan, kalau biaya masjid raya di Maninjau itu
dialihkan dananya untuk membangun sekolah. Berapa sekolah yang bisa
dihasilkan? Walaa tatafakkarun? Afala ta'qilun?

Salam dari Herndon, Virginia USA

Dutamardin Umar

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Ingin memasarkan produk anda di web RantauNet http://www.rantaunet.com 
Hubungi [EMAIL PROTECTED] atau [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Isikan data keanggotaan anda di http://www.rantaunet.com/daftar.php
----------------------------------------------------
Berhenti menerima RantauNet Mailing List, silahkan ke: 
http://www.rantaunet.com/unsubscribe.php
========================================

Kirim email ke