Bisnis suara :

 Belakangan ini dunia bisnis kita bertambah selangkah lebih kaya. Kena apa? Komoditi yang beredar  dipasaran bertambah satu jenis mata dagangan lagi yakni suara . Komoditi suara ini tidak ada sangkut pautnya dengan tarik suara maupun goyang pinggul ,  namun lebih akrab dengan jargon ulur suara  Masalahnya pemilik yang jumlahnya satu bisa menjual  komoditi ini kepada satu dua ataupun lebih lagi pembeli . Bisnis suara ini , pada dasarnya emang berkaitan dengan apa yang dinamakan �money politik� .atau politik uang , namun perbedaan yang cukup mendasar dan istilah yang lebih lugas adalah dagang suara dan bisa juga politics for money. Awalnya sejumlah partai politik memang berkantong tebal , menawarkan sejumlah uang untuk membeli suara rakyat dalam bentuk perorangan maupun berkelompok . Si pemilik suara menerima tawaran tersebut dengan kesetiannya . Namun penawaran datang bukan hanya dari satu parpol  , tapi dua tiga atau lebih . Rakyat sudah mulai cerdik dan cerdas serta berpengalaman , menerima semua penawaran dan mengucapkan janji setia , tetapi  tetap berpegang pada satu sikap . Money bisa saja diterima dari berbagi parpol , tapi jatuhnya pilihan soal lain . Itu masalah dan kepentingan politik yang tentu lebih luas ketimbang penerimaan uang . Dengan  demikian rakyat bisa mendapatkan keuntungan finansial selama masa masa menjelang pemilu .

Makin banyak money politik yang dilakukan parpol , makin banyak uang yang bisa dikantongi rakyat . Uang bisa saja datang dari atas (top) , tapi kendali suara tetap pada rakyat (bottom) . Tetapi apakah hanya itu arti politics for money ? nggak juga sih . Parpol khususnya tokoh tokohnya juga menerapkan filsafat hidup politics for money . Mereka tejun ke politik , giat berpolitik ujung ujungnya juga duit . Dan tahu nggak isu terbaru yang hangat dibicarakan saat ini apa ? Yakni pemberian bonus khusus bagi anggota dewan yang sebentar lagi akan menjadi purnabakti / pensiun . Dan besarnya bonus yang mereka tuntut ratusan juta rupiah dan bervariasi disetiap daerah . Padahal fasilitas yang mereka nikmati selama ini jauh lebih besar dari pada gaji pegawai negeri atau rakyat biasa . Coba lihat , kalau  pegawai negeri pensiun hanya dapat apa ? tak lebih dari uang taspen ( tabungan  pensiun pegawai negeri yang jumlahnya  hanya menyentuh angka puluhan juta rupiah saja , sedangkan masa kerja mereka , maksudnya pegawai negeri tersebut ada yang hampir 35 tahun , sedangkan anggota dewan masa tugasnya tak lebih dari 5 tahun .Kondisi semacam itu tentu saja tidak mendukung terciptanya kehidupan politik yang bersih dan sehat . Namun tindakan rakyat yang demikian juga tidak bisa dilepaskan dari perilaku para tokoh partai politik . Sebuah pertanyaan yang muncul adalah , masihkah bangsa ini memiliki �moral politik� barang sedikitpun walau hanya sagadang miang ?

Wassalam : zul amry ( 55 + ) di kuta bali

 Website :  http://geocities.com/zulamry/

Kumpulan tulisan: http://zulamry.blogspot.com/

 

 


Do you Yahoo!?
Free Pop-Up Blocker - Get it now

Kirim email ke