Bapak Saaf yang baik
   
  Betul sekali pak kita sepaham betul itu sekiranya kesadaran identitas 
keminangan itu perlu dirawat dan dijaga. Saya juga turut prihatin dengan etek 
bapak yang telah beralih pilihan agama. Namun bagi saya sendiri masalah religy 
dan cultural sesungguhnya membutuhkan pembahasan terpisah betapapun dalam adat 
Minang kalau sudah tidak Islam berarti sudah tidak Minang.
   
  Saya pikir mengenai pertanyaan Bapak lebih tepat kiranya ditujukan kepada 
suku Minang yang di rantau. Kalau masyarakat di Kampuang sendiri silaturahmi 
antar masyarakat masih sangat bagus sekali terutama di lapau lapau, pengajian 
ataupun buru babi. Dalam kehidupan sehari haripun aman aman saja belum ada saya 
mendengar terjadi pertikaian yang berdarah darah akibat kurangya silaturahmi 
kecuali di sumani tempo lalu. Apakah ini gejala yang berbeda di tiap nagari 
atau kan memang titik tolak yang berbeda. Kalau memang titik tolak yang berbeda 
itu sudah susah untuk bertemu..
   
  Mengenai sindrom arab lagi lagi kok pandangan kita beda..sepanjang 
pengetahuan saya arab dari dulu sifat wathoniyah, kebangsaan dan kesukuan 
mereka sangat kental. Sehingga amat sering terjadi pertikaian antar suku. Suatu 
hal yang rasanya tidak pernah kita temukan di Minang. Bahkan ketika ada 
perbedaan antara  Datuak katumanggungan dan datuak Prapatiah, suatu perbedaan 
yang fundamental sekali mereka bisa menyelesaikan dengan cara bijaksana dan 
elegan. Beda sekali dengan Arab yang penyelesaiannya gak jauh dari pedang dan 
panah. Jadi saya pikir kekhawatiran itu tidak akan terjadi di Minang..
   
  Saya pikir saat ini Minangkabau dalam masa transisi baik itu 
pemerintahan/birokrasi maupun pola adat dan budaya. Peralihan dari sistem orde 
baru dan mencoba kembali ke pola yang ada sebelumnya. Saya pikir ini adalah 
bagian dari dialektika. Ketika ternyata pola lama ini tidak berjalan sepetri 
yang diharapkan tentu akan muncul antitesa baru. Dan itu proses yang akan 
berjalan karena bagaimanapun kalau dilakukan  perubahan secara radikal oleh 
kelompok yang kecil maka resistensi masyarakat Minang itu akan besar sekali. 
Tapi ketika masyarakat sendiri sudah merasa butuh ada perubahan maka mereka 
tidak akan menjalan “defense mechanism” (istilah bapak saaf) yang antipati 
terhadap perubahan dari dalam maupun luar. Jadi sekali lagi ini masalah 
waktu..masyarakat saat ini sedang merasa tidak ada sesuatu yang dikhawatirkan 
karena mereka sedang dalam luapan kegembiraan akibat desentralisasi yang 
memberikan kewenangan untuk kembali kepola masa silam yang pernah membawa 
“kejayaan”.
   
  Pada intinya saya sepakat dengan ide perubahan yang bapak sampaikan karena 
perubahan suatu keharusan jika ingin bersaing dengan kemajuan jaman yg makin 
edan. Namun perubahan itu hendaknya dimulai dari kesadaran dari dalam 
masyarakat dulu baru kemudian di percepat dengan ide besar dan SDM dari rantau. 
Saat ini saya belum melihat kearah itu ..yang bisa kita lakukan saat ini 
menurut saya adalah penetrasi bidang ekonomi karena yang dibutuhkan masyarakat 
kita adalah ide dan kreativitas. Sumbar bukannya tidak punya uang tapi tidak 
memiliki ide dan kreativitas untuk menghasilkan uang. Saya pikir itu adalah ide 
yang paling mungkin untuk dibawa ketataran praktis ketimbang merubah pola adat 
dan budaya kita.
   
  Sekian dulu pak, mohon maaf
   
  Wassalam
   
  Ben
   
  

Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 
Waalaikumsalam w.w. Ananda Benni,

Saya memang berharap demikianlah hendaknya. Namun agak
sukar juga untuk mengabaikan gejala sebaliknya, yang
demikian sering dirisaukan, baik dalam pembicaraan
sehari-hari maupun dalam milis ini.

Satu hal adalah jelas, yaitu bahwa perasaan dan
kesadaran keminangan itu perlu dirawat, dimutakhirkan,
dirapikan, untuk kemudian didayagunakan untuk
kepentingan bersama. Kita hidup bersama dengan
suku-suku bangsa lain, yang juga mempunyai pengaruh
dan daya tariknya sendiri, yang bisa mengalahkan daya
tarik keminangan itu sendiri. Dengan kata lain, saya
ingin mengajak kita untuk sadar, bahwa keminangan itu
jangan sampai dianggap sebagai sesuatu yang 'given'
yang dapat dianggap akan bertahan tanpa dirawat
baik-baik. Keminangan itu bisa sirna !

Dalam hubungan ini, izinkan saya menginformasikan,
bahwa dua adik Ayah saya sebapak, yang satu laki-laki
bermukim di Amerika Serikat [sekarang sudah meninggal]
dan seorang lagi perempuan, bermukim di Jakarta, telah
masuk kristen, karena lingkungan pergaulannya dengan
orang luar, dan sangat sedikit dengan urang Minang
sendiri. Yang perempuan sekarang bahkan menajdi
penginjil, dan tidak bosan-bosannya mencoba menarik
saya, yang sudah barang tentu saya hadapi saja dengan
senyum, karena bagaimanapun juga  beliau adalah etek
saya. Dalam tahun 1968 dahulu, sebagai perwira Kodam
III/17 Agustus `saya pernah mewawancarai seorang
penginjil orang Lintau (!) dari Yayasan Maleachi,
Bandung, tentang mengapa beliau sebagai orang Minang
kok masuk kristen. Jawabnya sangat sederhana, yaitu
karena sewaktu ia dalam keadaan sakit berat, tak
seorangpun orang Minang yang datang menjenguknya.
Hanya seorang pendeta Kristen yang bukan saja datang
menghibur tetapi juga memberikan bantuan.

Jika demikian, ada `pertanyaan saya: apa memang tak
perlu kita pererat hubungan silaturrahmi antar warga
Minang sebagai suatu suku bangsa, tanpa mengaitkannya
dengan suatu tujuan khusus dan berjangka pendek ?
Atau, pertanyaan ini lebih nakal lagi: apakah kita
merasa sebagai suatu suku bangsa, ataukah tidak, dan
terkesan bersatu hanya karena kita sama-sama berbahasa
Minang ? 

Sekedar catatan, saya menduga salah satu faktor
mengapa orang Arab amat sukar disatukan adalah karena
memang mereka bukan merupakan suatu komunitas. Mereka
hanya kebetulan berbahasa`Arab yang sama. Saya
khawatir kita orang Minang sudah lama terjangkit
dengan apa yang bisa sebut sebagai 'sindrom Arab',
yaitu kelihatannya bersatu, tetapi nyatanya tidak. 

Karena itulah saya selalu menghimbau, jangan puas
diri, sudah lama kita orang  Minang bermasalah, hanya
heran koq sulit amat mengajak para dunsanak untuk
melihat kenyataan, karena lebih suka 'berdiang dengan
kegemilangan masa lampau' yang entah ada entah tidak
pula.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

--- benni inayatullah 
 wrote:

>   Assalamualikum Pak Saaf..
>    
>   Memang betul apa yang Bapak sampaikan sejak tahun
> 1958 itu memang gejala penyembunyian identitas
> kultural sudah mulai marak tidak terlepas dari
> pemberontakan PRRI yang bagi sebagian kalangan
> dianggap pemberontakan setengah hati itu. Bapak
> tentu paham sekali bagimana hancurnya segala aspek
> kehidupan orang minang ketika itu mulai dari
> infrastruktur dan yang paling parah mental yang
> jatuh selain karena pemberontakan juga lebih
> diakibatkan oleh tekanan dari Partai Komunis
> Indonesia /PKI yang tiba tiba memiliki kekuasaan
> lebih yang didapatkan dari pemerintah pusat yang
> menerapkan doktrin “musuh lawan adalah kawan”.
>    
>   Jadi pada kasus ini saya menganggap lunturnya
> kebanggan sebagai identitas disebabkan oleh tekanan
> tekanan tersebut dan itu hanya terjadi dalam tataran
> formal seperti nama anak yang berubah ke jawa jawaan
> namun semangat kecintaan kepada ranah saya pikir
> tidak berubah sama sekali buktinya seiring perubahan
> waktu hingga saat ini identitas itu sudah kembali
> muncul dan kita masih ingat betapa lagu pop minang
> belasan tahun lalu yang dinyanyikan Elly Kasim dkk
> sempat merajai lagu tanah air.
>    
>   Bapak Saaf saya memahami sekali kekecewaan Bapak
> tentang semangat masyarakat Minang saat ini yang
> selalu beromantika dengan keberhasilan masa lampau.
> Fenomena baliak ka nagari yang retrogresif dan
> seringkali gamang tanpa user manual memang sesuatu
> yang patut mendapat perhatian. Namun bagi saya belum
> sampai ke taraf yang mengkhawatirkan karena ini
> masih tahap transisi, euforia sementara akibat
> desentralisasi politik dan kewenangan ke daerah
> daerah. Sehingga daerah berhak untuk menentukan
> langkahnya sendiri demi mencapai pembangunan yang
> mensejahterakan rakyatnya. 
>    
>   Bagaimanapun juga kita masih mencari cari format
> baru yang lebih sesuai menyatukan adat dan budaya
> kita yang kuno dengan kemajuan jaman yang semakin
> “edan” tentu butuh perubahan yang barangkali
> sesungguhnya telah Bapak pikirkan dan simpulkan.
> Permasalahannya saat ini masyarakat kita masih
> senang beromantika dan saya percaya euforia ini
> tidak akan lama. Sesudah ini mereka akan
> mempertanyakan kenapa pola masa lampau tidak juga
> bisa menjawab problematika kehidupan masyarakat saat
> ini. dan ketika itulah mereka akan mau membuka diri
> demi perubahan dalam segenap sendi kehidupan
> bermasyarakat. 
>    
>   Jadi Bapak Saaf tak usah berkecil hati. Pemikiran
> Bapak Saaf sangat baik sekali dan berpotensi besar
> memberikan perubahan bagi masyarakat. Persoalannya
> hanyalah masalah waktu..seperti halnya teori evolusi
> Darwin yang dicimeehkan orang ketika itu namun
> seiring perjalan waktu orang mulai menyadari bahwa
> evolusi itu memang ada. Dan begitu juga dengan
> pemikiran Bapak seiring perjalan waktu masyarakat
> akan mulai memahami dan sanggup menerima perubahan
> terhadap budaya mereka yang “kuno”. Sejarah akan
> mencatat perubahan itu… 
>   salam
> 
> Ben
> 
> 


 
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
 Try the free Yahoo! Mail Beta.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke