Ass Wr Wb bapak Dafiq yth
   
  Senang bapak sempat berkunjung ke Sungai Tanang kampung hanifah.
  Rumah hanifah tidak jauh dari mesjid, dekat ke rumah yang atapnya masuk kolam 
?
  Rumah di sebelah rumah hanifah juga rusak tidak bisa lagi di huni, sementara 
rumah hanifah masih berdiri tapi tidak bisa juga dihuni kecuali dapur dan kamar 
dapur.
   
  Mata air Sungai tanang tidak berada di kolam tabek gadang. Tapi ada di kolam 
yang di ujung tabek gadang. Kayaknya bukan mata air biasa tapi air dari gunung 
singgalang. Mata air itu di jaga ketat. Di tutup dengan semen ... lalu dipagar 
dengan pagar berduri, dulu sekali waktu hanifah kecil belum di tutup semen.. 
cuman di beri pagar berduri sehingga bisa melihat air yang keluar .
   
  Itu saja komentar hanifah
   
   
  Wass
   
  Hanifah Damanhuri
  

Muhammad Dafiq Saib <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Assalaamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
   
  7. Di Sekitar Bukit Tinggi 
   
  Jam sembilan tepat rombongan kemarin sudah datang menjemput kami di Belakang 
Balok. Ditambah dengan Rahima Rahim, ustadzah muda yang kini tinggal di Bukit 
Tinggi. Aku baru sekarang ini bertemu muka dengan Rahima meski kami sudah 
berbicara beberapa kali di telepon. Pagi ini kami bergegas saja berangkat, 
mampir sebentar ke pasar, ke Kampuang Cino. Ustad Zulharbi mau singgah di ATM 
BCA dan aku mencoba menanyakan cassete untuk handicam. Tidak ada disana dan 
kepadaku dianjurkan melihatnya di toko dekat lapangan kantin. Kami menuju 
kesana, dan alhamdulillah mendapatkan cassete kosong tersebut. 
   
  Sekarang kami mulai kunjungan ke daerah korban gempa. Tidak jauh-jauh, di 
Koto Baru – Jambu Air di sisi ngarai Sianok. Pinggir kota Bukit Tinggi yang 
inipun baru kali ini aku tempuh. Kami jumpai jalan yang ditutup dan ditandai 
bendera merah karena berada persis di sisi ngarai yang runtuh. Jalan ini sudah 
retak-retak. Kalau dilalui kendaraan bermotor memang sangat dikhawatirkan tanah 
dibawahnya sudah tidak kuat menopang dan bisa runtuh. Di depan kami adalah 
ngarai Sianok dengan bagian tebingnya yang runtuh. Kami berjalan menuju 
perumahan penduduk dan kami dapati rumah-rumah yang rusak. Tidak hancur benar 
seperti yang tadi malam kami lihat di Sumani, tapi kerusakannya umumnya cukup 
parah. Umumnya dindingnya hancur dan dibagian dalam rumah langit-langit rumah 
terban. Ada 13 buah rumah rusak yang kami temui dan kepada pemiliknya kami 
bagikan amplop berisi Rp 100,000.- 
   
  Di kampung ini ada tenda darurat tempat masyarakat bernaung dan waktu kami 
datang masih mereka gunakan. Seorang ibu yang rumahnya juga rusak, dalam 
keadaan sakit dan bernaung di tenda ini. Kepadanya tentu saja kami berikan pula 
sumbangan. Kami selesaikan kunjungan di kampung ini.   Sekarang kami menuju ke 
arah Taluak IV Suku.
   
  Ustad Zulharbi menunjukkan mesjid Taluak yang antik yang jadi kebanggaan mak 
Amzar Bandaro. Menaranya yang anggun   terletak di luar mesjid. Menara itu kini 
retak dan kelihatan bidang retaknya. Menurut informasi yang kami dapat disana  
Dinas PU sudah menginstruksikan agar menara itu di runtuhkan. Disini kami 
berkunjung pula ke rumah mantan walikota Padang Panjang yang rupanya kenal baik 
dengan ustad Zulharbi. Kunjungan 'menyilau' rumah beliau yang juga rusak akibat 
gempa. 
   
  Setelah itu barulah kami mengunjungi penduduk yang rumahnya rusak. Kerusakan 
disini juga tidak separah di Sumani. Ada delapan buah amplop yang kami bagikan 
di Taluak   ditambah sebuah amplop untuk pengurus mesjid Taluak yang menaranya 
rusak itu.
   
  Kami terus lagi ke arah selatan ke Ladang Laweh. Disini ada tujuh buah rumah 
yang rusak yang kami bagi sumbangan. Umumnya rumah-rumah kayu. Ada juga kami 
lihat rumah gadang yang ditinggal pemiliknya (rumah kosong) yang ikut rusak 
akibat gempa di kampung ini. 
   
  Tujuan berikutnya adalah nagari Sungai Tanang yang menurut ustad Zulharbi 
cukup parah keadaannya. Sebelum melanjutkan perjalanan ke Sungai Tanang kami 
mampir sebentar di pasar Padang Lua, karena umi Yusra ingin membeli penganan 
dan buah 'nan ka digatok di ateh oto'.   Dia pergi sebentar ditemani Rahima. 
Kami menunggu di mobil di simpang arah ke Koto Tuo.
   
  Aku termangu memikirkan kerusakan yang aku lihat sejak kemarin. Kelihatan 
bahwa umumnya rumah penduduk memang tidak disiapkan untuk 'tahan gempa'. Di 
beberapa buah rumah yang rusak aku lihat bahwa rumah itu tidak mempunyai tiang 
yang memadai. Tiang di sudut rumah hanya dibuat dari batu bata merah yang 
didobelkan. Tentulah bangun seperti itu tidak memadai untuk menahan goncangan.  
 Begitu keadaan rumah-rumah lama dan begitu juga dengan rumah-rumah yang 
relatif baru di kampung-kampung. Pikiranku melayang pula ke masalah perijinan 
mendirikan bangunan. Setiap bangunan yang akan didirikan wajib mempunyai izin 
bangunan. Tapi kegunaan surat izin mendirikan bangunan atau IMB itu seringkali 
sekedar formalitas saja. Tidak ada kontrol dari dinas yang mengawasi perumahan 
yang dibangun. Masalah ini jadi sangat nyata ketidakbersungguh-sungguhannya 
ketika melihat betapa mudahnya masyarakat merenovasi rumah tinggal mereka 
sesuka-suka mereka tanpa memperhatikan aspek keamanan dan
 keselamatan. Padahal seyogianya instansi yang mengeluarkan IMB itu juga 
memperhitungkan dan mengawasi faktor-faktor tersebut. 
   
  8. Sungai Tanang jo Koto Gadang 
   
  Sejak sekolah di SR dulu sudah biasa aku mendengar lagu 'Ba bendi-bendi ka 
Sungai Tanang' tapi baru kali ini pula aku mengunjungi nagari yang sebenarnya 
sangat terkenal ini. 'Janiah ayianyo Sungai Tanang, Minuman nak rang Bukik 
Tinggi, Tuan kanduang tadanga sanang, Baolah tompang badan kami'. Dan kami 
tidak datang ba bendi-bendi kesini. 
   
  Sampailah kami di kampung Sungai Tanang di kaki gunung Singgalang. Kampung 
yang indah dengan kolam air besar yang airnya berasal dari mata air di dasar 
kolam itu. Kesibukan masyarakat di kampung ini kelihatannya sudah seperti 
biasa, tapi pemandangan rumah-rumah hancur sangat menyedihkan. Ada posko besar 
di tengah kampung. Di simpang tiga kami berbelok ke kiri. Sekarang di sebelah 
kiri kami mesjid   jami' Sungai Tanang, persis di hadapan kolam besar Sungai 
Tanang. Mesjid ini rusak parah. Di belakang mesjid ada rumah yang runtuh sampai 
atapnya mengheram ke tanah.   Masya Allah.  Di sisi lain kolam ada bangunan 
mirip mesjid bertingkat yang rupanya adalah sekolah Taman Pendidikan Al Quran. 
Bangunan ini juga rusak.
   
  Ustad Zulharbi mencari pengurus mesjid. Tidak kunjung bertemu. Kami balik ke 
samping posko, bertanya di kantor yang aku lupa entah kantor apa. Ada beberapa 
orang petugas disana. Karena tetap tidak menemukan pengurus mesjid kami 
menanyakan apakah kami boleh menitipkan sumbangan untuk mesjid jami'. Bapak 
Faisal bersedia menerimanya untuk diserahkan kepada pengurus mesjid (Rp 
200,000) dan pengurus TPA (Rp 100,000). Tapi beliau tidak bersedia memberitahu 
kepada siapa saja sebaiknya sumbangan diberikan dikalangan penduduk. Menurut 
beliau kalau beliau menyebutkan nama, dikhawatirkan nanti akan disalahtafsirkan 
masyarakat dan beliau anjurkan agar kami langsung saja melihat kondisinya di 
tengah kampung. 
   
  Kami langsung saja menemui penduduk yang rumahnya rusak di sepanjang pinggir 
jalan. Perjalanan itu kami teruskan sampai ke Sungai Tanang Ketek. Disini ada 
sebuah surau, Al Abrar namanya yang kami beri pula sumbangan. Dan kami temui 
pula  penduduk yang rumahnya rusak. Hanya dua belas buah rumah yang mendapatkan 
sumbangan kami di kampung ini. Kerusakan rumah disini memang lebih parah 
dibandingkan dengan yang kami lihat di sekitar Bukit Tinggi sebelumnya. 
   
  Belakangan aku membaca di sebuah posting yang berasal dari koran Padang 
Express tentang kejadian yang menimpa seorang ibu yang terkorban ditimpa bagian 
bangunan mesjid yang runtuh ketika sedang shalat di mesjid jami' Sungai Tanang 
itu. Pada waktu gempa kedua terjadi sekitar jam 12.45 orang sedang shalat 
berjamaah zuhur di mesjid. Pada saat gempa terjadi, jamaah lain berhamburan 
keluar menyelamatkan diri kecuali ibu itu yang tetap khusyuk dalam shalatnya. 
Akibatnya beliau syahid, meninggal dalam keadaan shalat. Dan menurut berita 
itu, jenazah beliau berbau harum ketika diselenggarakan untuk pemakaman. 
Subhanallah. Cerita ini tentu bukan dongeng karena baru saja terjadi. Dengan 
memuat di koran orang dapat mengecek kebenarannya seandainya mau. Dan aku yakin 
seyakin-yakinnya bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala menyampaikan pesan yang sangat 
jelas dalam kejadian itu.   Mudah-mudahan ibu yang terkorban itu mendapat 
keutamaan yang tinggi disisi Allah.
   
  Kami tinggalkan kampung Sungai Tanang. Sekarang kami menuju Koto Gadang 
melalui Guguak. Di sepanjang jalan ini tidak tampak pengaruh gempa. Sampailah 
kami di depan mesjid Nurul Iman Koto Gadang. Mesjid yang bagaikan terbelah, 
hancur. Saat itu masyarakat sedang bergotong royong meruntuhkan bagian yang 
'tagurajai' dan rusak-rusak dengan cara menariknya dengan tali. Sedih melihat 
pemandangan seperti itu. Dan ini entah mesjid yang ke berapa yang rusak yang 
aku lihat sejak kemarin. 
   
  Menurut cerita penduduk di situ, jamaah sedang shalat zuhur berjamaah pula 
ketika gempa kedua hari Selasa itu terjadi. Ada delapan orang bapak-bapak yang 
sedang shalat dan menyelesaikan shalat mereka sampai tuntas. Waktu mereka 
mengucapkan salam di akhir shalat, bagian belakang mesjid itu sudah menganga 
akibat runtuhnya dinding mesjid. 
   
  Ada petugas Metro TV mendatangiku dan mengatakan ingin mewawancaraiku 
sehubungan dengan musibah di mesjid itu. Aku katakan bahwa aku juga pengunjung 
dan kusuruh petugas itu mencari pengurus mesjid saja. 
   
  Kami berikan pula  sumbangan kepada pengurus mesjid untuk rehabilitasi 
mesjid. Tapi kami tidak berkunjung ke dalam kampung di Koto Gadang. 
   
  Bertambah termangu-mangu aku menyaksikan akibat yang ditinggalkan oleh gempa. 
Kalau Allah berkehendak, betapa mudahnya bagi Allah menghancurkan apa saja. Laa 
haula wa laa quwwata illaa billahi. 
   
  (bersambung) 






 
---------------------------------
We won't tell. Get more on shows you hate to love
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Kami mengundang sanak untuk hadir dalam acara: "Wartawan mengajak Berdoa 
Bersama untuk Keselamatan Negeri" pada tanggal 8 April 2007 jam 08:00 di Masjid 
Istiglal. Acara ini terpicu oleh musibah terbakarnya Ustano Pagaruyuang dan 
Gempa di Sumbar.

Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke