Waalaikumsalam Erwin dan Rahmi, Saya juga tidak sepenuhnya setuju bila budaya lokal akan mati dan juga tidak sepenuhnya setuju budaya lokal akan tetap eksis dengan definisi budaya lokal seperti saat ini.
kalau kita melihat betapa globalisasi telah menerjang semua lapisan masyarakat termasuk masyarakat MInangkabau maka kekhawatiran itu akan menjadi jadi. budaya sebagai hasil cipta karsa dan rasa manusia sekarang tergantikan oleh budaya instant yang didapatkan dari proses kloning budaya. seperti yang Rahmi paparkan sebelumnya orang timur tenggelam dalam kemegahan budaya barat. mulai dari makanan, fashion hingga teknologi informasi seperti internet yang kita manfaatkan saat ini. kalau dulu kita bersilaturahmi dengan keluarga, sahabat dan teman dengan saling mengunjungi sekarang tinggal pencet tombol dan mainkan mouse. kalau dulu pasar tradisional adalah tempat bertemunya orang sekampung dengan menampilkan wajah apa adanya dan silaturahmi yang terjaga sekarang tergantikan oleh mal-mal besar yang penuh berisi kepalsuan. dimana orang kaya berpenampilan seperti artis dan orang miskin belagak seperti orang kaya dan tanpa adanya sapa menyapa. masyarakat MInangkabau dulu terkenal dengan sifat gotong royongnya. kalau ada keluarga yang akan baralek maka tetangga akan saling membantu apakah itu memasak hingga mendirikan pentas. Prosesi adatpun berjalan dengan khidmat alua pasambahan maupun alua maajak makan menjadi perhatian dan tontonan yang sungguh menarik. begitu pula hiburan randai, talempong dan saluang adalah penyampai pesan moral yang sungguh padat dan langsung menuju sasaran. tapi sekarang budaya itu tergantikan oleh budaya instant dimana yang memegang peranan adalah catering dan even organizer. sanak saudara hanya jadi penonton dan tak lebih dari seorang tamu yang datang, salaman, duduk dan makan. tak ada lagi alua pasambahan, tak adalagi pesan moral di lagu-lagu saluang apalagi kerjasama tolong menolong layaknya beberapa dekade lalu. Bagitu juga di barat seperti rahmi sampaikan juga timbul gejala mempelajari adat dan budaya ketimuran. sehingga kloning budaya benar benar tidak hanya terjadi disalah satu tempat melainkan telah mengglobal. lalu dimanakah nanti peran budaya lokal ? budaya lokal telah beralih menjadi budaya prasmanan. aksi comot sana comot sini tak tertahankan lagi. kalau dulu saluang nan badendang kini lagu triping nan laku. kalau dulu baju kuruang adolah identitas padusi minang, kini jeans ketat dan tank top pakaian nan mudo2. namun tetap saja mereka mengaku sebagai orang minang yang berlandaskan ABS -SBK. jadi yang ada tidak lagi akulturasi budaya melainkan kloning budaya yang menghasilkan budaya prasmanan. budaya lokal semakin beringsut menjadi budaya global dimana yang akan bertahan adalah makanan, cendera mata yang tak lebih adalah produk budaya atau kembang kembang budaya itu sendiri. sedangkan isi dari budaya itu sendiri telah terbang entah kemana. dunia akan dikuasai oleh budaya global yaitu budaya prasmanan. akankah begitu ? salam Ben Erwin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Assalamu'alaikum WW Ambo bisa setuju budaya lokal tidak akan mati. Tapi, budaya lokal yang bagaimana? Manuruik ambo, budaya lokal yang tidak mati adalah budaya lokal yang memiliki visi. Visilah yang membuat suatu sistem budaya bisa bertahan, berkembang, bahkan menjulang tinggi. Sementara, sistem budaya yang tidak memiliki visi, bisa jadi budaya yang sekarat dan tinggal menunggu waktu untuk ditinggalkan. Seorang teman mengibaratkan orang yang tidak memiliki visi, sama saja orang itu telah mati, meskipun ia memiliki segala hal. Kedua, setiap budaya memiliki kearifannya (hikmah) tersendiri. Inilah yang menarik orang untuk mempelajari suatu budaya. Tapi, ketertarikan itu tidak berarti menjadikannya terikat. Yang mengikat seseorang adalah visinya sendiri. Jika budaya baru tidak sesuai jo visinya, ya ketertarikan itu sebatas hanya sekedar pembelajaran saja. Tentang hikmah ini ada hadist yang mengatakan (tolong dikoreksi redaksinya) bahwa hikmah itu adalah bagian dari seorang muslim yang terlepas, bila ia menemuinya maka ialah yang paling berhak mendapatkannya. demikian wassalam erwin z On Tuesday 27 March 2007 16:49, rahmi kasri wrote: > Dalam bukunya Modernity at large, cultural dimensions of globalization, > Arjun Appadurai membantah possibility manusia akan menjadi makhluk dengan > budaya yang seragam di dunia global ini. > > "Most often, homogenization argument subspeciates into either an argument > about Americaniation or an argument about commoditization, and very often > the two arguments are closely related. however, what these arguments fail > to consider is that at least as rapidly as forces from various > metropolises are brought into new societies they became indigenized in one > or another way". > > Appadurai menjelaskan bahwa globalisasi berpotensi untuk menyadarkan orang > tentang budayanya sendiri. Globalisasi juga memutus perbedaan-perbedaan > goegrafis sehingga kelompok etnis tertentu bisa menjalankan hidup sesuai > dengan budayanya di tempat yang sama sekali berbeda, misalnya orang tidak > harus ada di Pariaman untuk melaksanakan acara Hoyak Tabuik (seperti yang > dilaksanakan oleh Minang USA baru-baru ini). Orang padang tidak perlu ke > padang untuk makan rendang, bahkan di norway semua bumbu yang dibutuhkan > untuk membuat rendang itu ada. orang padang tidak mesti ke taman budaya > untuk menonton randai, bisa lewat video/internet, orang padang tidak harus > ada di padang untuk menjalankan semua printilan prosesi pernikahan ala > padang, bisa dilakukan di mana saja. budaya lokal tidak akan mati, budaya > itu akan tetap ada tapi memang tidak dipungkiri akan ada shifting dari > budaya lokal akibat interaksi dengan budaya global. tapi kan yang namanya > budaya itu kesepakatan atas nilai-nilai dan norma-norma sesuai dengan > tujuan hidup suatu masyarakat. Budaya minang sendiri berubah misalnya dari > animisme ke islam :-) Budaya tidak bersifat statis dan kaku, budaya lokal > kita juga tidak selamanya paling benar dan paling bagus. > > sebenarnya tidak hanya kita yang khawatir dengan budaya global, orang2 > barat juga banyak yang khawatir dengan budaya ini karena ada shifting dalam > budaya mereka, misalnya di norway anak2 muda senang sekali dengan budaya > timur, makan di restoran asia, menggelapkan kulit seperti orang asia, > latihan yoga, bahkan pindah agama ke budha ato islam. > > malahan dalan konteks development, sekarang shifting ke study tentang > budaya lokal sedang meningkat karena ukuran2 global dan rational (mis > ekonomi dan teknology) yang tidak mempertimbangkan budaya lokal terbukti > tidak sukses dalam mendorong pembangunan di negara2 miskin dan malah > semakin memiskinkan mereka. Saat ini trend ke budaya lokal dalam konteks > global sedang naik daun... so.. budaya lokal tidak akan mati, budaya minang > tidak akan mati.... seperti slogan Indonesia Bhineka Tunggal Ika, budaya > lokal juga akan unity in diversity dalam budaya global :-) > > Rahmi ;-) > --------------------------------- Never miss an email again! Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Kami mengundang sanak untuk hadir dalam acara: "Wartawan mengajak Berdoa Bersama untuk Keselamatan Negeri" pada tanggal 8 April 2007 jam 08:00 di Masjid Istiglal. Acara ini terpicu oleh musibah terbakarnya Ustano Pagaruyuang dan Gempa di Sumbar. Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
