aSSWRwB, APA MEMANG  Inu urang awak, namanya Inu.. spt Sundanese, pak H.Messa 
tentu lbh tahu yg mmberitakan lbh dulu. Kalau memang Inu di sisngkir kan kita 
perlu dukung be;liau, utk emmbuat petisi ke pihak2 yg terkait.. mis. Masyarakat 
Utk Inu Knecana, baa ajak e tuu, sanak dan sanak semua.
Saya forward kan berita Padaek.

Wass. Muzirman
-------------------------------------------------------------------------------

Kampus Ini Tak Beres 
Selasa, 10-April-2007, 08:12:28
Telah dibaca sebanyak 35 kali
 
 
 
Dosen IPDN Inu Kencana diskors oleh kampusnya. Inu-lah yang mengungkap kasus 
tewasnya Wahyu Hidayat pada 2003 hingga kematian Cliff Muntu pekan lalu.  
 
 
Berikut petikan wawancara Radar Bandung (Grup Jawa Pos) Yugi Prasetyo dengan 
Inu di rumah dinasnya yang sederhana di Jatinangor Sumedang: 
Anda dipecat? 
Tidak. Saya diminta untuk berhenti sementara mengajar hingga penyelidikan kasus 
tewasnya Cliff Muntu tuntas. 
Sikap Anda? 
Kok saya yang diselidiki. Mereka dong, yang menyuntikkan formalin ke tubuh 
Cliff Muntu. 
Anda berhenti mengajar? 
Tidak. Saya nggak mau dan ingin terus mengajar karena saya hanyalah korban 
pesakitan dari pejabat yang tidak ingin bertanggung jawab. 
Kampus IPDN memang sarat kekerasan? 
Ya. Saya pikir kultur di sini tidak pernah berubah, baik praja maupun 
pejabatnya. Seharusnya kematian Wahyu Hidayat jadi pelajaran. Eh, malah 
kecolongan seperti sekarang. 
Anda berani sekali? 
Kebenaran kan harus diungkapkan. Ini juga untuk kebaikan masyarakat agar mereka 
tahu, bahwa di dalam sini (kampus IPDN, Red) ada yang tidak beres. 
Anda kok tahu data praja yang tewas di IPDN? 
Saya kebetulan menjadi anggota senat IPDN sejak tahun 2000. Tentu saya tahu 
data praja siapa saja yang meninggal secara tidak wajar. Saya tulis secara 
terperinci, berikut penyebabnya. 
Berapa sih yang sebenarnya meninggal tidak wajar? 
Ada 35 praja. (Inu memaparkan nama-nama praja yang tewas lengkap dengan data 
dan tanggal peristiwanya). Misalnya, tanggal 8 Mei 1993. Madya praja Aliyan, 
kontingen Kalimantan Barat, jatuh dari barak Bengkulu karena tengah menyiram 
bunga yang diletakan di lantai atas. Dia mengalami geger otak, tetapi ketika 
berobat ke Klinik KSA STPDN, ia dipukul pengasuhnya hingga meninggal karena 
dianggapnya cengeng. 
Ada juga pada 25 Juni 2000. Madya Praja Arizal asal kontingen Sulawesi Selatan 
meninggal dunia. Pihak IPDN mengabarkan kepada keluarga Arizal bahwa dia 
tenggelam di danau Toba. Ketika jenazah tiba di Sulsel, keluarga Arizal 
dilarang membuka peti dengan dalih bau mayat sudah busuk. Padahal jenazah tidak 
busuk. 
Banyak yang menyalahkan Anda karena membongkar kasus IPDN ke media? 
Saya sampaikan apa adanya sesuai fakta, ini bukan masalah data walapun lebih 
satu atau kurang satu. Ini kan menyangkut nyawa orang lain. 
Data Anda diberikan kepada siapa? 
Tadi pagi (kemarin, Red) saya sudah sampaikan kepada presiden melalui Juru 
Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng. Mudah-mudahan bisa menjadi bahan 
pertimbangan presiden menyikapi masalah ini. 
Harapan atas IPDN ke depan? 
Saya berharap semuanya akn terungkap dengan sendirinya. Sepintar-pintarnya 
menyimpan bangkai pasti akan terungkap juga. Dan tidak lupa, kita harus mencari 
tikusnya yang menggerogoti lumbung, bukan malam membakar lumbungnya. Dengan 
begitu, tidak akan ada lagi kasus-kasus serupa yang akan terjadi.(*) 
 
   Kirim Data


       
____________________________________________________________________________________
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396546091

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke