Waalaikumsalam w.w. Dunsanak Arifianto St Jabok,

Saya setuju dengan gagasan Dunsanak tentang
merekondisikan adat Minangkabau, yang tentunya akan
menyangkut kaji ulang tentang sistem nilai serta
tataran kelembagaannya.

Kaji ulang ini jelas bukan merupakan masalah akademik
semata, oleh karena sebagai suatu sistem, adat
Minangkabau mempunyai jajaran fungsionaris, yang
segera akan bereaksi untuk memelihara posisinya.

Oleh karena itu, mungkin sekali akan baik jika kaji
ulang ini dilakukan oleh kaum muda, terutama dari
kalangan perguruan tinggi, yang belum mempunyai posisi
dalam kelembagaan adat Minangkabau itu, sehingga tidak
akan terjadi apa yang biasa disebut sebagai 'conflict
of interest'.

Wassalam,
Saafroedin Bahar

--- "a.arifianto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> waalaikumsalam...
>    
>   pak saaf yang baik...
>    
>   mungkin umur saya masih tergolong muda, tapi untuk
> suatu pengkondisian masyarakat/organsasi dan lain
> sebagainya, ada satu hal yang saya pelajari...
> "cegah terjadinya penurunan nilai dari suatu
> sistem/kita menyebutnya dengan trust terhadap
> sistem", sehingga harga untuk menciptakan sistem
> yang baru bisa lebih effisien.
>    
>   saya memberikan masukan alangkah baiknya bila adat
> minangkabau bisa direkondisikan kembali... akan
> tetapi ada satu hal yang menurut saya melemahkan
> posisi tawar yang biasanya kita lakukan, yakni
> menurunkan nilai dari suatu sistem. dengan kata
> lain, "trust" dalam masyarakat minangkabau terhadap
> adatnya cukup besar, sehingga upaya rekondisi
> tersebut bisa dilakukan secara optimal. kenapa saya
> bilang seperti itu, mungkin yang dikatakan orang
> minang adalah saya siap menerima pembaharuan tentang
> adat minangkabau, tapi saya belum siap menerima
> adanya koreksi dari keadaan ldari uar adat,
> bagaimanapun juga saya yang masih berbau kencur ini
> masih merasa yakin pastilah dalam adat sendiri
> terdapat keadaan khusus untuk mengatasi jawaban2
> atas pertanyaan yang ada baik oleh bapak, saya, dan
> sidang palanta sejagat ini.
>    
>   jika kita bisa mengkondisikan atau mencari sebuah
> kondisi dimana keadaan2 khusus tersebut pernah
> diberlakukan, maka saya yakin upaya rekondisi yang
> sama2 kita inginkan bisa cepat dan optimal
> dijalankan.
>    
>   mengenai keadaan penghulu... [intuisi saya]
>   mungkin  layaknya seorang pemimipin dan status
> kepemimpinan, terkadang banyak orang tak mau jadi
> pemimpin tapi menginginkan status kepemimpinan...
> fungsi sosial dari panghulu dan perangkat adat yang
> lebih sosial dan sebagainya, pada satu masa pernah
> berubah menjadi fungsi2 politik... dan ini yang
> menjadi awal kerusakan satu sistem sosial...
> penalaran saya, kondisi ini pernah terjadi pada saat
> satu massa sebelum peristiwa paderi dan, dan ketika
> bonjol tertaklukan dan belanda menancapkan
> peranannya, dan satu lagi ketika upaya de-javanisasi
> sistem pemerintahan oleh pemerintah RI, dsb... pada
> sat itu fungsi sosial panghulu sudah terdegradasi
> sebagai fungsi politik, bagi panghulu2 yang bsia
> mempertahankan peranan sosial nya maka adatnya akan
> bertahan tapi perlahan eksistensinya hilang karena
> tidak adanya legitimasi dari pemerintahan yang ada.
> dan bagi panghulu yang mengakui, eksistensi sukunya
> ada tapi adatnya perlahan hilang ditelah gelombang
> modernisasi...
>    
>   sehingga upaya regenerasi kepenghuluan, dicari
> pula orang2 yang sangat berkualitas dalam suku
> tersebut, dimulai dari porsi intelektualitasnya,
> fungsi parewa [determinasi sosialnya], porsi peranan
> dan concernnya... sehingga upaya rekondisi ini bisa
> menciptakan kamanakan2 baru yang lebih berkualitas.
>   
> mungkin ini bisa jadi solusi alternatif, hemat saya,
> siapa saja yang bisa merekondisikan minangkabau baru
> dengan metode "membangkik batang tarandam", mencari
> fungsi2 dalam perangkat yang ada/pernah ada.
> menggalinya kembali dan mengaktifkan kembali
> fungsinya, ditambah dengan mengkondisikan masyarakat
> seperlunya. untuk mengulang zaman hatta, syahrir
> atau tan malaka, dan membuatnya lebih besarpun bisa
> dilakukan.
>    
>   mohon maaf atas kata2 yang salah...
>    
>   a.arifianto
>    
>   
> Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   
> Assalamualaikum w.w. Dunsanak Arifianto St Jabok,
> 
> Terima kasih atas saran Dunsanak untuk adanya kajian
> dan penelitian, yang lazimnya dilakukan secara
> empirik
> dan analitik. Maaf, saya belum terbiasa dengan
> kajian
> dan penelitian yang intuitif, yang hasilnya mungkin
> bisa menarik juga.
> 
> Saya faham bahwa dalam adat Minangkabau yang
> dinamakan
> 'keturunan' seorang laki-laki dalam sukunya adalah
> kemenakan, dan bukan anak. Namun, justru ini yang
> mengherankan saya. Lantas dimana posisi anak, yang
> menurut ajaran Islam dan menurut hukum nasional
> adalah
> keturunannya. Katanya kita menganut ABS SBK. Dalam
> bentuknya sekarang, mengenai hukum kekerabatan, adat
> bak kato adat, syarak bak kato syarak.
> 
> Tetapi, sekali lagi, saya setuju dan mendukung
> sekali
> jika hal ini kita kaji, pertama secara emperik dan
> analitik, kemudian secara intuitif. Hanya mengenai
> yang terakhir ini saya belum terlalu faham.
> 
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> 
> --- "a.arifianto" wrote:
> 
> > pak chaidir yang saya hormati...
> > entah lah pak saya sebagai yang muda juga
> > terkadang geram dengan yang terjadi, apakah
> > sedemikian lemah posisi tawar kami? 
> > seperti buya syafii mengatakan idealisme sesaat...
> > tapi klo' berbicara kajian dan penelitian secara
> > analitatif... kenapa saya justru lebih suka yang
> > intuitif... untuk jaman sekarang nampaknya kita
> > memerlukan banyak orang2 intuitif...
> > saya kutip satu hal yang menarik buat saya;
> > Pikiran Intuitif adalah karunia suci, sementara
> > pikiran rasional adalah pelayan setia. Kita telah
> > menciptakan sebuah masyarakat yang menghormati si
> > pelayan dan melupakan karunia itu.
> > -Albert Einstein-
> > 
> > pak saf yang saya hormati...
> > kepunahan, bukankah itu adalah hal yang biasa.
> > bahkan keturunan nabi pun bila mengikuti syariat
> > telah punah karena satu2nya garis keturunan hanya
> > dari fatimah ra. tapi entahlah wallahu alam...
> > 
> > mohon maaf bila saya sedikit mencoba mengulang
> > kembali bahasan yang bpk kirim kemarin...
> > seharusnya dengan metode penelitian yang bapak
> > gunakan mengenai habisnya keturunan, harusnya ada
> > ketegasan untuk menuruti akar dari sistem yang
> ada.
> > 
> > [studi case minangkabau]
> > pertama, ayah jika tidak punya anak perempuan
> > apakah keturunannya akan punah?
> > jawabnya tidak, karena jika mau konsisten dengan
> > adat minangkabau, kamanakannya lah keturunan dari
> > suku sang ayah. jika sang ayah tidak memiliki
> > kamanakan perempuan maka barulah ini yang
> dinamakan
> > punah. sedangkan jika dalam konteks ayah tidak
> > memiliki anak perempuan, maka harta yang dimiliki
> > [harta pribadi] masih ada anak laki2 sebagai
> > ashobah.
> > kedua, apakah adat minangkabau ABS-SBK tidak
> > sesuai syariat?
> > jawabnya masih perlu banyak pengkajian, satu
> > contoh real, harta pusako dalam ketentuannya
> > disebutkan oleh seorang panghulu kepada saya harus
> > memenuhi satu dari tiga syarat yang ada. 1) ada
> anak
> > perempuan mau dinikahkan 2) ada mayat yang
> terbaring
> > di rumah gadang/suku 3) kepentingan/kesejahrteraan
> > suku. lalu teringatlah saya pada sebuah dalil
> > [tolong dikoreksi], ada 3 perkara yang tidak boleh
> > ditunda 1) anak perempuan dilamar laki2 baik2 2)
> > mayat yang belum dikafani 3) kepentingan islam.
> > secara kontekstual tidak cukup berbeda dan banyak
> > dari kalangan pemangku adat [hemat saya pribadi]
> > tidak menyadari hal tersebut... 
> > 
> > sehingga kesimpulan sementara saya, banyak hal
> > yang tidak tercatat, terpublikasi dan
> > ter-regenerasi... 
> > sehingga adat minangkabau [yang sekarang] belum
> > dapat dikatakan sebagai adat yang jahiliyah.
> > 
> > patutlah kita memaklumi sejarah kebudayaan kita
> > terputus sejak jaman "kegelisahan" di minangkabau,
> > perang, pertikaian, dsb... sehingga terputuslah
> > tambo2, yang notabene yang terucap itulah yang
> lebih
> > memiliki kredibilitas kebenarannya sesuai dengan
> > kredibilitas sang individu. lain dengan jaman
> > sekarang yang lebih mengkredibiltas-kan dokumen
> dan
> > analisa. 
> > 
> > mohon maaf bila ada kata2 yang salah...
> > 
> > a.arifianto [st.jabok]
> > darah muda, darah agretifitas, darah pembaharu
> > 
> 
> 
> 
>
____________________________________________________________________________________
> Finding fabulous fares is fun. 
> Let Yahoo! FareChase search your favorite travel
> sites 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke