Ijan keras-keras benar mak, nanti berganyi pula uni kita ini lagi nanti. Terbedo kita bersama karena tidak mendapat ilmu lagi darinya.
-----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of rul_djamal Sent: Thursday, April 26, 2007 3:52 PM To: [email protected] Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: FWD: Antara Adat dan Agama >>> sanak sadoalahe di palanta ko ass wr wb lah muloi lo baliak parang tuuuuuuu!!!!!!!!! Ancak cari se biliak lain untuak parang baduo baanyoh wass sr wb cd rajosampono (58-) ----- Original Message ----- From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Wednesday, April 25, 2007 6:29 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: FWD: Antara Adat dan Agama >>> Wa'alaikumsalam Warahmatullahiwabarakaatuhu. Pertama: Maaf lari dari topik.Kalau boleh saya yang masih kecil ini menyarankan pada Uni Hanifah, ada baiknya memberi salam ataupun menjawab salam tidak disingkat seperti dibawah ini. Saran ini diterima syukur ngak diterima ngak papa.Saya rasa dik Ridha dulu pernah menjelaskan hal ini. Kedua: Saya juga berterima kasih pada Uni atas segalanya. Ketiga : Saya tidak bermaksud sama sekali menyinggung perasaan wanita Minang disini, dan setau saya ngak semua wanita Minang melakukan hal tersebut, dari awal sudah saya jelaskan bahwa secara pribadi saja saya menyampaikan bahwa saya tidak akan pernah membeli atau menjemput suami, itu sudah prinsip saya sejak awal, dan ini bukan berarti saya merendahkan wanita Minang yang membeli, karena saya tau mereka hanyalah menjalankan adat semata. Jangan ditanya bagaimana pengorbanan materil/spritual saya apabila lelaki tersebut adalah suami saya.Harta benda habis, tenaga terkuras, makan senin kamispun saya siap, tetapi itu statusnya adalah suami, bukan lelaki calon suami. Kalau dia statusnya masih calon, secara pribadi saja(ingat lho ini prinsip pribadi saya saja, saya ngak peduli dengan orang lain mau buat apa, silahkan itu hak mereka), sebelum ia menjadi suami saya ingin ialah yang datang kepada saya, semiskin dan sejelek apapun ia, silahkan datang jemput saya, saya akan siap hidup bersamanya dalam suka maupun duka. Keempat: Sebaiknya Uni Hanifah teliti dulu dan banyaklah membaca tulisan saya sebelum Uni memberikan vonis semacam itu kepada saya. Saya hanya berusaha membenarkan masalah adat yang saya tau benar ini bertentangan dalam ajaran Islam, dan masalah ini sudah panjang lebar kami bahas dulunya, silahkan sanak baca baik-baik. Kelima : Saran saya ada baiknya sebagai seorang dosen, guru, kita membiasakan diri kita jangan cepat memvonis seseorang sebelum kita tau betul kronologis, ataupun akar permasalahannya. Saya memang masih kecil, namun alhamdulillah, membiasakan diri untuk menghadapi hidup dan permasalahan ini dengan tenang, serta sangat sulit untuk cepat mengambil suatu resume dari pribadi seseorang. Biasanya dalam pergaulan saya lebih banyak menunggu/menanti, dan memperhatikan dulu siapa ini orang, apa maksudnya, apa tujuannya, dan meneliti dengan seksama dan melihat bagaimana ia sebenarnya, sehingga alhamdulillah sangat jarang menghadapi kekeliruan dalam menilai seseorang. Dan sikap teliti ini sangat dibutuhkan kalau kita berdiskusi dalam memberikan argumentasi. Saran ini ikhlas untuk saya pribadi dan untuk semuanya, karena salah satu kelebihan orang Minang adalah pintar dalam berdiskusi dan adu argumentasi.Saya banyak belajar dalam hal ini, justru dari pergaulan saya dengan orang-orang Minang. Alam takambang jadikan guru. InsyaAllah saya akan berusaha menjalankan Islam dalam warisan harta ini, karena memang itulah yang diperintahkan oleh Allah ta'ala kepada ummat Islam secara keseluruhan.Seperti kata Mak Lembang Alam,saat memberikan komentar masalah harta pusaka ini, "Mulailah dari diri sendiri". Terakhir, tak ada gading yang tak retak, tak ada manusia yang luput dari kesalahan, yang sempurna hanyalah Allah ta'ala semata.Mohon maaf bila ada kesalahan. Wassalamu'alaikum. Rahima.Sikumbang Sarmadi --- hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ass Wr Wb > > Terimakasih untuk jawaban anda yang sangat jelas. > > Biarlah orang di RN ini yang menilainya, apalagi > saya hanya membaca beberapa tulisan anda, tentu saja > info yang saya dapat tidak seberapa sehingga > menghasilkan analisa yang salah, sementara anda > sudah dikenal bertahun tahun lamanya disini. > > Tujuan saya melakukan analisa hanyalah untuk > mengetahui seberapa anda paham dan terlibat dalam > adat Minangkabau. Sebagai orang yang dibesarkan > ditengah peradaban Minangkabau, tentu saja saya tak > ingin ada orang yang tak beradat menghujat adat. > Seakan akan kami tidak tau ajaran Islam. > > Cara anda mengatakan dilamar secara Islam dan > tidak membeli suami, terus terang melukai perasaan > wanita Minang, seakan akan wanita Minang membeli > suaminya dll. Tapi ya udahlah .. kasihan wanita yang > menjemput suaminya. Kali kita yang kasihan padahal > bagi pelaku sendiri itu mungkin suatu kehormatan.. > bisa menjemput lelaki idaman. Tandanya wanita > tersebut berasal dari keluarga terhomat, paling > tidak berasal dari keluarga kaya dll. Biarlah > menjadi urusan mereka asal tidak ada ajaran Islam > yang dilanggarnya. > > Oh ya dengan rumah yang tidak berdiri di tanah > pusaka, tentunya nanti akan anda wariskan secara > Islam kepada anak-anak anda. Semoga saja anda bisa > memberikan contoh teladan untuk yang ini. > > Saya akhiri sampai disini, dan untuk selanjutnya > saya merasa tidak berkepentingan lagi untuk urusan > pribadi anda. > > Wass > > Hanifah Damanhuri (jelang 45 tahun) > > Rahima <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakaatuhu. > > Kanda Mulyadi, jangan khawatir. InsyaAllah sebagai > seorang guru yang sudah biasa menghadapi berbagai > sikap dan watak manusia, saya biasa aja koq > menanggapi > dalam banyak hal yang salah dari hampir kebanyakan > dugaan sanak Hanifah. Ok. Saya jawab dimana letak > kesalahan tersebut.Salam kanda akan saya sampaikan. > > Pertama: Suku saya bukanlah suku Dayak sama sekali. > Tidak semua orang di Palangkaraya itu sukunya > Dayak.Sebagaimana tidak semua yang berada di BKT itu > sukunya Sikumbang atau Chaniago, dllnya.Karena tidak > semua yang kuning itu emas. > > --- hanifah daman wrote: > > > Ass Wr Wb sanak Rahima > > > > Mungkin diam-diam banyak yang mengikuti diskusi > > kita ini nih. > > Mumpung libur,hanifah tanggapi langsung. > > > > Begitu tau ibunya sanak menikah dengan orang Dayak > > . hanifah sudah membayangkan .. pasti terjadi > > sesuatu dengan ibu sanak . apa kawin lari sehingga > > terbuang dari kampuang, sehingga tak lagi memiliki > > warisan. > > Ini tidak benar sama sekali. Ibu ke P. Siantar dalam > rangka mencari ayah beliau yang berada di Siantar > bekerja sebagai guru di Muhammadiyah. Jd bukan > karena > kawin lari, atau karena mencari jodoh. Jodoh ibu > ketemu setelah ibu berada dirumah ayah beliau, > kebetulan ayah saya ketika itu kost dirumah ayah ibu > saya, sehingga mereka sering ketemu dan jodoh. > > > Kenapa hanifah menebak begitu. > > Di jamannya ibu sanak sampai th 70 an, jodoh anak > > perempuan dicarikan oleh keluarga. Malu bagi suatu > > keluarga kalau anak perempuan menikah dengan orang > > di luar salingka Nagari (satu kecamatan), apalagi > > menikah dengan orang diluar Propinsi. Komentar > orang > > KAMA ANAK BABAKO. > > Itu zamannya Siti Nurbaya katanya, tetapi > alhamdulillah ibu saya tidak mengalami hal semacam > ini. > > > > Walaupun tidak diceritakan apa yang terjadi pada > > keluarga sanak, hanifah sudah bisa membaca yang > > tersirat dari yang tersurat dari cerita email yang > > kemaren, bahwa sanak tidak punya tali silaturahim > > dengan dunsanak di Kamang Hilir. Analisanya > begini: > > > > Sanak orang Kamang hilir, tapi menikah di > > Bukittinggi di rumah kakak, dan tidak pula > > dilaksanakan acara adat. Toh jarak BKT dengan > Padang > > Panjang tidak begitu jauh? Disini kelihatan sanak > > tidak akrab dengan dunsanak sasuku di kampung. > > Kelihatan sepertinya keluarga sanak terbuang dari > > kampung. Kemungkinan disebabkan karena ibu sanak > > menikah dengan orang luar propinsi tadi. > > Ini juga tidak benar sama sekali. Hubungan dengan > keluarga tidak putus sama sekali, terbukti setiap > saat > saya di jenguk oleh family yang di Kamang(Inyiak > Aki), > bahkan sampai ingin dijodohkan oleh keluarga di > kamang, dengan anak inyiak tersebut, dan kakak saya > yang pernah sekolah di sekolah Perawat Padang juga > sangat akrab dengan family dari ibu, sampai juga > ingin > dijodohkan. Lagi-lagi bagi keluarga kami, tidak ada > namanya dijodoh-jodohkan itu. > > Kami disuruh ortu kami silahkan cari sendiri jodoh > yang baik, karena kalianlah yang akan memakainya > bukan > ortu. Begitupun dengan kakak saya yang tammatan > sarjana Ekonomi, juga ingin dijodohkan, ortu > memberikan kebebasan pada kami semua.Itu prinsip > dari > kedua ortu saya. > > Saya menikah di Kamang Hilia, tepatnya di Mesjid > Wustha, pestanya baru di BKT, ditempat kakak, > dihadiri > semua kaluarga Ibu, dan setiap pulang kampung kami > tinggal di kamang hilia.Di rumah gadang. > Kami tidak mengadakan pesta secara adat, karena kami > ingin secara Islami saja.Lha kenapa tidak pesta di > rumah Ibu, kenapa dirumah kakak? > > Lha,...sayakan sudah bilang, saya juga pesta dirumah > Ibu saya di P.Siantar. > Kenapa tidak dirumah family di Kamang? Kalau kita > pesta tentu dirumah ortu kita sendiri bukan, atau > dirumah kakak, bukan dirumah family kita pesta, ini > akan menyusahkan family namanya. > > > > > Sanak orang Kamang hilir, tapi kos di panorama > > sementara suami tidak bersama sanak. Mestinya > sanak > > merasa nyaman berada di tengah suku. > > Salah lagi. Kenapa harus saya tidak di kamang Hilia, > terlalu jauh dari sekolah di Panorama dengan Kamang. > Akan memakan ongkos dan biaya, lagian tidak mau > menyusahkan familylah, kita bisa hidup mandiri, toh > tiap sebentar family datang menjenguk saya, ataupun > saya datang ke kamang, khususnya musim-musim durian. > Karena durian Kamang cukup terkenal > enaknya.mempererat > hubungan bersaudara bukan harus kita hidup > berdekatan > dan tinggal seatap, kata orang Arab: " Biarlah jauh > badan, asal hati berdekatan, ketimbang dekat badan > tapi hati berjauhan". > > > > > Umumnya orang membeli rumah di perumahan salah > > satu pertimbangannya adalah tidak adalagi tanah > > tempat membangun rumah, atau tidak ada uang untuk > > membangun langsung. Sepertimya sanak ada pada > posisi > > tidak ada tanah untuk bangun rumah. Sangat aneh > > untuk orang Kamang Hilir yang tanahnya masih luas. > > Salah lagi. Tanah masih ada di kampung, lumayan > masih > banyak. Kenapa tidak membangun rumah di kamang Hilia > itu? Hehehe...jelas suami saya ngak maulah. Itukan > tanah pusaka, sikap dan prinsip saya sudah sangat > jelas terhadap tanah pusaka itu. Saya dan suami > lebih > senang hidup dengan membangun rumah diatas jerih > payah > keringan sendiri, tidak ditanah pusaka. > > Lantas apakah family di kamang tidak menawarkan agar > kami membangun rumah di kamang itu? Banyak family > mengharapkannya. Tapi kami ambil jalan tengah saja, > Biaro sangat dekat dengan Kamang, maka alhamdulillah > dan insyaAllah dalam sebulan lagi ini, jadilah rumah > yang kami bangun tersebut di Perumahan Estate Villa > Sakinah.Yang mana kontraktornya adalah adik kandung > dari kanda Elthaf.Terimakasih kanda Elthaf telah > mengenalkan saya dengan adik kanda. > > === message truncated === __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
