Seperti kita ketahui, bahwa hubungan antara penghulu / ninik mamak dengan adat 
sangatlah erat kaitannya, apabila adat itu kuat, maka kuat pulalah kedudukan 
penghulu atau ninik mamak itu. Apabila penghulu itu tidak berwibawa, maka 
masyarakat akan meremehkan pula peraturan adat, sebaliknya bila penghulu 
berwibawa, maka masyarakat akan patuh pula menjalankan peraturan adat. Karena 
penghulu / ninik mamak berkewajiban menjaga dan mengawasi pelaksanaan aturan 
adat agar dijalankan dan dipatuhi oleh anggota kaumnya atau masyarakat dalam 
nagari.
   
  b.         Kajian Sistem Kepemimpinan menurut Adat Budaya Minang
  Pemimpin menurut Adat Budaya Minangkabau adalah ninik mamak / beliau adalah 
yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting nan dianjung tinggi nan 
diambah gadang, tumbuhnyo ditanam gadangnyo diambah oleh anak kemenakan atau 
masyarakat dalam nagari, beliau didampingi oleh imam katik atau bilal 
maulana,manti dan dubalang.
  Dalam kepemimpinan menurut alur adat menganut sistem bajanjang naik batanggo 
turun, naik dari janjang dari bawah turun dari tango nan di ateh.
  Seperti, kemenakan barajo ka mamak, mamak barajo ka penghulu, penghulu barajo 
ka musyawarah mapakaik, mapakaik alur jo patuik, alur jo patuik barajo ka bana, 
bana berdiri sendirinyo dan benar menurut aturan islam. Nan rajo kato mufakat 
dan bana kato saiyo.
  Penghulu adalah pemimpin tertinggi dalam pasukuan, beliau diibaratkan sebagai 
nan gadang basa batuah, sebagai kayu gadang di tangah koto, nan ureknyo 
mancukam bumi, pucuaknyo ewang ka langik pedoman anggang tabang tinggi kok 
inggok tampek mancukam kok tabang tampek basitumpu. Ka pai tampek batanyo ka 
pulang tampek babarito, baliau banamo urang kayo, bukannyo kayo dek ameh 
perakadolah kayo akal budi.
  Beliau berkewajiban mengayomi dan melindungi anak kemenakan, kok kusuik 
disalasaikan, kok karuah dijaniahkan, kok anyuik dipinteh, kok tabanam 
diapuangkan, kok ilang dicari, kok luluih disalami.
   
  II.        Sistem Kekerabatn di dalam Nilai-nilai Adat Budaya Minangkabau
              Suku merupakan wadah bagi masyarakat Minangkabau dan sekaligus 
sebagai alat pemersatu yang telah terpola secara baik di dalam kehidupan 
masyarakat di Minangkabau. 
              Suku didasarkan pada garis keturunan ibu (matrilineal), sebuah 
system kekerabatan yang telah berlangsung sejak zaman dahulu kala.
              Suku juga disebut kaum, didalam kaum ada yang namanya pariuak, 
dibawah pariuak ada yang namanya paruik, jadi ada yang sapariuak, ada yang 
namanya saparuik. Pimpinan suku adalah seorang penghulu dengan dibantu oleh 
stafnya, yaitu imam katik, atau malin, manti dan seorang mamak yang disebut 
sebagai cerdik pandai, dan semuanya ini disebut dalam istilah adat urang nan 
ampek jinih. 
              Pariuak dikepalai oleh seorang mamak, yang bernama mamak kepala 
warih, beliau bertanggung jawab ke dalam dan harus memahami ranji serta asal 
usul keluarga, dan mengetahui pula tampak harta dan batasan-batasannya.
              Dan paruik dikepalai oleh seorang mamak tungganai yang biasa 
disebut  mamak tungganai rumah gadang. Dalam kehidupan masyarakat, suku atau 
kaum telah ada aturan-aturannya, aturan tersebut adalah sebagai berikut :
  a.       Bajanjang naik batanggo turun, naik dari janjang nan dibawah turun 
dari tango nan di ateh. Artinya semua pekerjaan itu harus melalui salurannya, 
dari kemenakan kepada mamak, dari mamak kepenghulu, sampai dipenghulu 
dimusyawarahkan dan baru diturunkan ke bawah.  Bulek bak limau baruang-ruang 
bak durian, artinya masing-masing tidak boleh memasuki yang bukan wilayahnya, 
kecuali diminta atau dengan kata mufakat.
  b.      Suku indak dapek dianjak malu indak dapek dibagi, orang sekaum atau 
sepasukuan merasa sehina semalu, Jika ada salah satu dari anggota kaum yang 
membuat kesalahan dengan melanggar adat, maka akan mengakibatkan malu seluruh 
kaum, dan rasa malu ini akan sangat dirasakan oleh pimpinan kaum dan seluruh 
mamak didalam kaum. Tagak di suku pertahankan suku, tagak di kampung 
pertahankan kampung, tagak dinagari pertahankan nagari, tagak dinegara 
pertahankan negara, namun cakak basuku lipek bakampuang, cakak bakampuang lipek 
banagari, cakak banagari lipek bernegara. Hal ini mencerminkan rasa bertanggung 
jawab seseorang terhadap kelompoknya atau lingkungannya, namun tetap berusha 
mendahulukan kepentingan yang lebih besar dari pada kepentingan yang lebih 
kecil.
  c.       Pada umumnya setiap pasukuan itu satu turunan, yang mempunyai 
silsilah atau ranji yang dapat ditelusuri, dan mereka diam diatas harta pusaka 
yang mereka warisi dari ninik moyang yang dahulu. Harta pusaka itu bukanlah 
milik pribadi, akan tetapi milik bersama seluruh anggota yang tidak boleh 
dijual atau digadai begitu saja, dijual tidak dimakan bali digadai indak 
dimakan sando.
  Dan harta pusaka itu sekaligus sebagai alaty pemersatu di dalam suku atau 
kaum itu sendiri. Didalam istilah adat disebutkan, pusako salingka kaum, adat 
salingka nagari. Artinya harta pusaka itu hanya boleh dimanfaatkan oleh nan 
sakaum atau sapasukuan atau nan saeto sajangka, nan satampuk sabuah jari.   
  Selain dari pada itu, kekerabatan dapat timbul melalui hubungan perkawinan 
satu suku dengan suku lain, yaitu terbentuknya hubungan ando sumando, atau 
hubungan ipar bisan, serta anak  pusako atau ujuang ameh atau ada juga yang 
menyebutnya anak pisang.
   
  III.                         Sako Pusako dan Nilai-nilai Adat Budaya 
Minangkabau
  Bagi orang Minangkabau ada dua hal yang harus diwariskan kepada kemenakan 
secara turun menurun yaitu sebagai warih nan ka dijawek pusako nan ka ditolong 
dari ninik turun ka mamak, dari mamak turun ka kamanakan, tiba di kamanakan 
dipelihara dan kemudian diturunkan pula ka bawah begitulah seterusnya. Hal itu 
adalah Sako dan Pusako, sesuai dengan pepatah di bawah ini :
   
  Biriak-biriak tabang ka samak,
  Dari samak tabang ka halaman,
  Patah sayok tabang baranti,
  Maraok ka tanah banto
                                   
   
  Dari ninik turun ka mamak,
  Dari mamak turun ka kamanakan,
  Patah tumbuh hilang baganti
  Pusako dibao dek nan mudo     
  1.      Sako adalah gelar, yang harus diturunkan kepada kemenakan laki-laki, 
konon kabar dahulu jika kita mengetahui gelar seseorang kita dapat menebak apa 
sukunya, karena disetiap suku itu gelarnya berbeda-beda, dan gelar itu 
sekaligus menunjukan apa sukunya. Tetapi sekarang hal itu tidak demikian, 
karena gelar itu sudah bercampur aduk satu dengan yang lain. Hal itu disebabkan 
sudah banyak keluarga bako memberikan gelar kepada anak pisangnya atau anak 
ujung ameh, yang mana sudah jelas sukunya berbeda.
  2.   Pusako adalah harta, sawah lading benda buatan, banda baliku turun 
bukik, sawah bajanjang dinan lereng, lading batumpak dinan data, cancang tarah 
urang saisuak tambilang basi urang tuo-tuo, yang hanya diwariskan kepada 
kemenakan yang perempuan, sebagai harta berjalan, pewarisan dalam bentuk 
pemampaatan, bukan hak milik.
  Harta pusaka ini tidak boleh dijual digadaikan, dijual indak dimakan bali 
digadai indak dimakan sando. Kok hilang dicari, kok anyuik dipinteh, kok luluih 
disalami, kok sumbing batitik.
  Seminar ini bertema mencari strategi sosialisasi adat basandi syara’, syara’ 
basandi kitabullah untuk generasi muda. Sebelum kita menentukan dan mencari 
strategi sosialisasi adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah untuk 
generasi muda, ada beberapa hal yang harus terlebih dahulu kita lakukan, hal 
tersebut adalah sebagai berikut :
   
  1.      Memberdayakan ninik mamak, agar dapat melaksanakan tugas serta 
tanggung jawabnya sebagai pamangku adat, karena beliaulah yang bertanggung 
jawab secara langsung terhadap pelestarian, pengembangan, pelaksanaan adat 
secara utuh di tengah-tengah dunsanak kemenakan atau masyarakat Minangkabau.
        Beliau sebagai yang didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting, 
dan beliau juga sebagai tauladan yang semua gerak peerbuatan, ucapan dan 
tingkah laku beliau akan diikuti dan ditiru oleh anak kemenakan serta 
masyarakat nagari atau masyarakat Minangkabau. Beliau sebagai bulu budi talago 
undang pincuran tanjunan aka.
  2.      Memberikan pengertian kepada masyarakat Minang, bahwa hubungan antara 
ninik mamak dengan adat, sangatlah erat kaitannya, jika adat kuat dilaksanakan 
orang, maka akan kuat pula kedudukan ninik mamak, jika ninik mamak berfungsi 
dan berwibawa, maka berarti adat dipatuhi dan dilaksanakan oleh anak kemenakan, 
dan ninik mamak berkewajiban mengawasi tentang pelaksanaan adat terutama di 
dalam kaumnya dan dimasyarakat pada umumnya.
  3.      Para ninik mamak diharapkan tidak hanya sekedar lambang saja, namun 
diharapkan dapat berperan aktif mengurus dunsanak kamanakan sesuai dengan 
fungsi dan harapan dunsanak kamanakan. 
  4.      Penghulu diharapkan dapat mengetahui berapa jumlah anak kemenakannya 
dan dimana mereka bertempat tinggal.
  Setelah hal-hal tersebut di atas dapat terlaksana dengan baik, maka kita 
masuk kepada bagaimana mencari “mencari strategi sosialisasi adat basandi 
syara’, syara’ basandi klitabullah untuk generasi muda”. Disamping itu tugas 
kita adalah untuk meminangkan orang Minang. Hal ini adalah sebagai berikut :
   
  1.      Melaksanakan diskusi-diskusi adat, sesama ninik mamak atau urang nan 
ampek jinih untuk mendapatkan kebersamaan pendapat dalam menyikapi, memahami 
serta melaksanakan adat Minangkabau, dan kepada yang dianggap berkemampuan di 
bidang adat, dijadikan sebagai penceramah atau sebagai nara sumber.
  2.      Dan kemudian mengembangkan dalam bentuk ceramah-ceramah, diskusi 
terutama dikalangan dunsanak atau masyarakatMinangkabau pada umumnya.
  3.      Menyusun dan menerbitkan buku-buku yang berisi tentang adat istiadat 
serta menterjemahkan pantun, pepatah, gurindam dan lain yang merupakan filosifi 
adat Minangkabau, sebagai runding bakliyeh kato bamisal, kaji badalil, sehingga 
jelas mana yang tersurat, tersirat dan tersuruk.
  4.      Memberikan pengertian secara jelas serta keseimbangan tentang tali 
sa-alai bapilin tigo, tungku tigo sajarangan, yaitu aturan adat, agama dan 
aturan pemerintah.
  5.      Membuat wadah pemangku adat atau urang nan ampek jinih, kota-kota 
besar seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain-lain, untuk bermusyawarah 
dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab dalam membina anak kemanakan 
menurut tata cara adat Minang.
  6.      Diharapkan kepada pemerintah daerah Sumatera Barat, kiranya dapat 
memfungsikan masyarakat hukum adat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, 
sesuai dengan Pasal 1 huruf g. Perda no. 9 tahun 2000.
  Demikianlah sumbang saran ini disampaikan, kok lai ado nan elok kironya dapek 
dipakai jo mufakat, kok ado nan baruak dapek dibuang jo parundingan. Kok indak 
tasusun nan bak siriah, indak ta-atok nan pagaran, maaf dimintak 
sebanyak-banyak atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   

       
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Daftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke