Suarakarya Online  Kamis 29 Maret 2007
SAWAHLUNTO
Kembangkan Wisata Tambang 
dan Sejarah Kota Lama 


Kamis, 29 Maret 2007
Kota  Sawahlunto  merupakan satu-satunya kota yang memiliki perjalanan
sejarah  yang  unik dibanding dengan sejarah kabupaten/kota lainnya di
Sumatera Barat. Di samping sebuah kota yang dibesarkan oleh pemerintah
kolonial  Belanda,  kota  yang penuh dengan kekayaan batubara ini juga
memiliki letak geografis yang unik.

Sejak  ditemukan batubara oleh Ir De greve tahun 1867 di Batang Lunto,
di  bagian  timur  Danau Singkarak sekitar Sungai Ombilin, kawasan ini
terus  mengalami  kemajuan. Bahkan, penelitian lanjutan yang dilakukan
oleh  Ir  Verbek,  salah seorang ahli geologi Belanda tahun 1875 telah
dapat  memperkirakan  kandungan  mutiara  hitam yang ada di Sawahlunto
minimal  205  juta ton. Dan, dalam waktu singkat nama kota ini sebagai
penghasil batubara berkualitas terbaik menyebar ke mancanegara

Dengan  ditemukannya  kandungan  batubara  di  Batang  Lunto ini, maka
lahirlah istilah Sawahlunto akibat pertambangan pertama yang dilakukan
di  sawah  milik  penduduk  sekitar  Batang Lunto. Dari tahun ke tahun
Sawahlunto  terus  bergerak menjadi kawasan tambang batubara, sehingga
berdirilah pertambangan batubara terbesar sekaligus tertua saat ini di
Indonesia.

Perkembangan   pertambangan  batubara  inilah  yang  membuat  dinamika
sejarah  Kota  Sawahlunto  memiliki  ciri khas dibanding dengan daerah
lainnya.  Pada  tahun  1887  pemerintah Hindia Belanda tanpa ragu-ragu
menanamkan   5,5   juta  gulden  untuk  membangun  berbagai  fasilitas
perusahaan  tambag  Ombilin dan pemukiman bagi para pekerjanya. Dengan
fasilitas yang berkembang baik, dan ditandai oleh keberadaan Pelabuhan
Teluk  Bayur  (Emmahaven), usaha penambangan batubara meningkat pesat.
Pada  tahun  1920  saja  laba  perusahaan  mencapai  4,6  juta gulden.
Batubara  dari Sawahlunto ini dahulu banyak digunakan untuk memroduksi
semen yang berbentuk debu dan yang dipadatkan menjadi briket.

Setelah  Proklamasi Kemerdekaan RI, pemerintah tetap melanjutkan usaha
pertambangan batubara ini. Sampai tahun 2000, pertambangan batubara di
Sawahlunto   dapat   memberikan  kontribusi  yang  cukup  besar  dalam
meningkatkan   ekonomi  masyarakat.  Setelah  ditambang  sekian  lama,
cadangan  tambang  terbuka telah habis, walaupun deposit tambang dalam
masih  tersedia  lebih  kurang  100  juta  ton  lagi namun belum dapat
ditambang  waktu  itu  mengingat harga batubara sangat rendah sehingga
tidak dapat mencukup harga produksi.

Kota Wisata


Pamor Sawahlunto sebagai kota pertambangan batubara pun mulai memudar.
Namun  Sawahlunto  menolak untuk menjadi sekadar kota kenangan. Pemkot
Sawahlunto  yang  dimotori  Walikota Sawahlunto, Ir H Amran Nur, telah
merancang  strategi  lain  dengan  menjadikan  Sawahlunto sebagai Kota
Wisata  dengan menonjolkan dua potensi wisata yang menjadi kekuatannya
yaitu wisata tambang dan wisata sejarah kota lama.

Memasuki pusat kota, tiga buah silo (bangunan seperti menara berbentuk
silinder) dengan ketinggian masing-masing 40 meter milik PT Bukit Asam
Unit  Penambangan Ombilin (PT BAUPO) akan mencuri perhatian wisatawan.
Silo  yang  berdiri  kokoh merupakan bagian dari kawasan bengkel utama
dan  tempat  pencucian  dan penyaringan batubara. Meski terlihat sudah
lama  tidak  digunakan,  bangunan ini masih terawat dan dijaga petugas
keamanan.

Jika  berkunjung  ke Sawahlunto akan banyak dijumpai bangunan-bangunan
kuno  yang  masih  terjaga  dengan dua gaya indische atau kolonial dan
pecinan  yang  berbaur dengan rumah bagonjong atau ru 0mah tradisional
Sumatera  Barat. Berbagai gaya kolonial yang sepertinya menyebar seisi
kota  da  0pat  dilihat  melalui  gedung perkantoran PT BA UPO, gereja
Katolik, sekolah, penginapan dan la0 in-lain. Sedangkan nuansa pecinan
diwakili oleh deretan toko-toko dan rumah-rumah pribadi.

Bangunan-bangunan  tersebut  sangat  menarik para wisatawan, karena di
samping  masih  terlihat seperti sediakala dan belum terenovasi secara
besar-besaran, bangunan ini menyimpan nilai historis yang kuat.

Tidak kalah dalam urusan menyimpan sejarah adalah Museum Gudang Ransum
yang  patut  disinggahi.  Gudang  Ransum  atau  dapur umum untuk orang
rantai  (  pekerja  paksa)  merupakan  bagian  tidak  terpisahkan dari
prosesi  pertambangan.  Tampat  ini  melayani kebutuhan makanan ribuan
buruh  tambang  yang berasal dari Pulau Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan
daerah-daerah  lainnya  di Indonesia. Dapur umum ini mampu menyediakan
sekitar 65 pikul makanan setiap hari atau setara dengan 3.900 kg nasi.
Peralatan  masaknya  berukuran  "raksasa"  dengan jumlah pekerja dapur
sekitar 100 orang setiap harinya. (Singgih B Ssetiawan)
 
 
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=169632




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke