Waalaikumsalam wr.wb
"learning by doing" nya harus dijaga dengan law enforcement.
Law kita udah punya banyak, enforcement yang belum. Untuk di jalanan,
misalnya peraturan sudah banyak banget, tapi siapa yang pernah memperhatikan
(ha ha, saya pernah baca UU lalu lintas, tapi ga khatam).
Kalau memang niat sih, semua yang sanak Syahreza sampaikan itu bisa saja.
Bahkan kalau memang "tukang law enforcement" nya kurang banyak, jaga di "hilir"
nya saja dulu, ntar baru naik ke hulu. Tangkap dan hukum beneran (sesuai
peraturan yang ada) para pelanggar. Dan lakukan itu secara intensif,
berkelanjutan dalam periode tertentu sampai masyarakat khatam "learning by
doing" nya, Abis itu pengawasan secara fisik bisa diperlonggar.
Saya pikir itu tidak terlalu sulit, kalau mau. Tapi kalau mau lho.
Tahun 85-87 saya kerja di Padang. Waktu itu Sumbar lagi serius2 nya dengan
masalah kebersihan. Orang buang sampah sedikit aja dihukum (tapi tempat sampah
disediakan, jangan lupa).
Sekarang pengawasannya kelihatan agak longgar, tetapi masyarakat Sumbar
kelihatannya sudah "lulus sekolah learning by doing". Jadi biar tidak dijaga
polisi/ kamtib, masyarakat sudah terbiasa menjaga kebersihan lingkungan. Kota2
di Sumbar - menurut saya - relatif terbersih diantara kota2 lain di Indonesia.
Riri
muhammad syahreza <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Assalamu'alaikum wr.wb.
Untuak maaja disiplin bagi kebanyakan warga Indonesia adalah dengan cara
"learning by doing"
Supayo tertib dan disiplin di jalan jadi budaya, syarat yang harus dipenuhi
warga waktu mambuek SIM harus ditingkekan dan praktek percaloan mambuek SIM
tembak harus dihilangkan. Iko tugas jajajran Kepolisian yang berwenang
mereformasi Institusinya. Kemudian dilengkapi dengan Undang-undang yang
menyediakan kepastian hukum dan sangsi yang keras dan jelas bagi pelanggarnya,
hilangkan peluang kata-kata yang bermakna bias. Ada baiknya waktu membuat SIM,
semua peserta yang ikut ujian SIM diharuskan menonton film dan melihat
photo-photo asli korban kecelakaan kereta api dan jalan raya..mungkin yang
kepalanya pecah, yang badannya terpisah, kendaraannya hancur, dll karena tidak
disiplinnya yang mengemudi kendaraan atau pengguna jalan raya. Sadis dan
ekstrim memang, tapi cukup untuk memprogram memory otak peserta ujian membuat
SIM supaya lebih hati-hati di jalan raya dan perlintasan kereta api.. Kalau
kami yang bekerja di perusahaan industri swasta asing, perusahaan membuat
peraturan sendiri bagi karyawan yang menggunakan kendaraan pribadi pergi kerja
ke kantor. Dimana tiap pengendara harus melengkapi diri dengan SIM,
perlengkapan safety berkendara, presentasi rutin tiap 3 bulan dari Direktorat
Lalu Lintas Polres, dan harus lulus ujian disiplin mengemudi kendaraan yang
diadakan khusus oleh perusahaan bagi karyawan (aturan lalu lintas dan cara
berkendara yang benar).
wassalam
Reza
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
Check outnew cars at Yahoo! Autos.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---