Pak Arnoldison yang saya hormati,

Pertanyaan2 yang saya sampaikan saya usahakan dalam keadaan netral, 
malah di paragraf terakhir malah ada keberpihakan disitu.

Saya tidak melihat kuatnya pemahaman akan perjuangan Imam Bonjol di 
tengah masyarakat akar rumput minangkabau.  Ini akan sangat berbeda 
kalau kita menanyakan Diponegoro di daerah lingkar Mataram.  Atau 
kita bertanya tentang Sakhera di masyarakat Madura.  Atau kalau mau 
lebih jauh, kita menanyakan tantang Salahuddin pada masyarakat Kurdi 
ataupun Turki.

Mari kita dudukkan Imam Bonjol ini dalam posisinya yang pas.  Bukan 
sekadar nama Jalan atau stadion Sepak Bola belaka.

Wassalam

--- In [EMAIL PROTECTED], Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> 
> 
>       Inilah yang saya khawatirkan adanya upaya-upaya untuk 
mencabut
>       akar keagamaan (agama Islam ) dari budaya minang.
>       Salah satu cara dari upaya proses kristnisasi adalah dengan 
menghilangkan
>       hubungan antara agama Islam dan adat masyarakat minang  atau 
dengan
>       jalan mempertentangkannya satu sama lain.
> 
>       Konflik terbuka (perang) sebagai tanda perlawanan rakyat 
dimulai
>       dengan hal-hal yang sepele , Perang Diponegoro dimulai dengan
>       sengketa tanah antara Antawirya dengan Belanda.
> 
>       Tapi  bukan  perkara  tanah  inilah yang menjadi sebab 
timbulnya
>       perlawanan,  sengketa  tanah  merupakan  pemicu  bara  api  
dari
>       kemarahan atas kezaliman yang dilakukan oleh penjajah 
Belanda.
> 
>       Perang  Paderi  yeng  menyeret perang melawan Belanda 
disebabkan
>       bukan karena sekedar praktek-praktek kemaksiatan masyarakat 
yang
>       suka  berjudi,  sabung  ayam,  minuman  keras - yang 
menyebabkan
>       keterlenaan  masyarakat  dan  penguasa  pada waktu - tapi 
karena
>       timbulnya kesadaran pembebasan dari penjajahan.
> 
>       Para ulama yang sehabis pulang belajar dari Mekkah mereka 
saling
>       bertukar  pikiran  dimana  selama  menimba  ilum berada di 
rantau
>       (Mekkah)  banyak bertemu dengan alim ulama dari berbagai 
penjuru
>       dunia sehingga timbul kesadaran akan pentingnya kemerdekaan.
> 
>       Perang paderi juga merupakan perang yang berskala nasional 
bukan
>       saja  melibatkan  tentara  Batavia  tapi  juga dikirimnya 
Sentot
>       Prawirodirjo  panglima  Pangeran  Diponegoro  yang  ditawan 
oleh
>       Belanda,dikirim  ke  Sumatera  Barat untuk  memerangi kaum 
paderi
>       yang ternyata berbalik memihak perang Paderi.
> 
>       Sejarah  tidak  cukup sekedar dinina bobokkan sebelum tidur 
tapi
>       harus  dipelajari,  ukuran  kecintaan masyarakat terhadap 
pelaku
>       sejarah  tidak  diukur  seperti  tambo-tambo  yang  tidak  
jelas
>       (dongeng  sebelum tidur) yang kerap beredar ditengah 
masyarakat,
>       karena sejarah sendiri sudah memiliki catatan tertulis. 
Demikian
>       halnya  perang paderi yang terjadi pada permulaan abad 19 
dimana
>       tradisi  tulis  menulis  sudah  mulai  membudaya dengan 
demikian
>       budaya tambo ikut berakhir (penyampaian berita tidak lagi 
secara
>       lisan).
> 
> 
>       Wassalam
> 
>       Arnoldison
>


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke