________________________________

From: jamaludin mohyiddin [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Sunday, May 27, 2007 11:47 PM
To: Rasyid, Taufiq (taufiqr); [email protected]
Subject: RE: [EMAIL PROTECTED] Mohon bantuan Manjaok Tanyo


Pak Cik Rasyid,

Sesungguhnya saya berterima kasih dengan kesegeraan posting bapak. 

Tentang jawapan kepada soalan 3A, adakah tafsiran sejarah ini satu yang
definitive? Melalui milis
http://www.asianinfo.org/asianinfo/indonesia/pro-history.htm, tafsiran
bapak tepat dan benar. 

Dalam pemakaian Bahasa Melayu lama/kuno, berdagang dan merantau memberi
pengertian menuntut/menimba ilmu dan memperluaskan wawasan agar menjadi
maanusia. Selain itu ianya juga berperngertian mencari kekayaan dan
bertapak kukuh dalam personal financial standing samaada di perantauan
dan semasa pulang kekampong. Tujuan dan fungsi merantau dan berdagang
orang Minang yang bapak sebutkan itu berlainan dari suku lain. Dan saya
setuju. 

 Dari tambo adat kita juga melihat Datuk Perpatih Nan Sabatang, sewaktu
masih muda dan bernama Sutan Balun juga merantau dan memperoleh kayu/
bambu perpatih didalam perantauannya .
 
 Bagi daerah saya merantau ke Tanah Semenanjung yang saya ketahui sudah
ada sejak abad ke 19. Ini saya temukan dari sejumlah lampu kristal
dirumah inyiak yang katanya dibawa innyiak/ mamak mereka dari Kolang (
Pelabuhan Klang ??) walau mereka banyak yang meneruskan perjalanan ke
Kuala Pilah Negeri Sembilan, Kelantan bahkan membuka madrasah di tanah
Siam. Sampai tahun 60an masih ada komunikasi dengan orang tua yang
merantau ditanah Siam sejak jaman Belanda ini. ( Beliau dicari  Belanda
karena ikut pergerakan kemerdekaan yang meresahkan Belanda, tapi polisi
Belanda yang mencarinya dan berpapasan dengannya tidak mengenali Tuan
Syech ini).
Itu yang positivenya. 
 
Hal Negative dari  para perantau ini terutama yang dinamakan kaum
Smokel/ penyelundup barang ex luar negeri untuk dimasukkan kedalam
negeri sampai tahun 60an, ada pula yang disebut minum se-sloki mabuk
sebotol. Mereka dengan mulut bau minuman keras menceracau dikampung
menceritakan keberhasilannya dirantau tidak lupa pertemuan ini diselingi
judi kecil2an
 
 Sekitar tahun 70 an kegiatan ini makin terorganisir, para cukung cukup
ongkang kaki dan monitor saja lagi. Apakah barang yangnya yang berasal
dari Singapura akan masuk via sungai Siak, Kampar, Indragiri atau
Batanghari. Untuk diteruskan ke Jakarta, sedangkan yang kelas kakap
bisa juga liwat pantai Sumatra Timur dengan pelabuhan yang sering
seperti daerah tak bertuan.
Dilapangan barang ini  cukup banyak yang dibawa oleh para tukang cangkuk
( Kapal yang mulai masuk sungai Siak di Riau, sambil berjalan dicangkok
oleh beberapa sampan.) Barang dari kapal dipindahkan ke sampan yang
menempel tsb , menjelang pelabuhan tujuan sampan memisahkan diri dari
kapal dan membawa barangnya ke gudang/rumahpenduduk dipinggir sungai.
 

Adakah landscape/alam tabii Ranah Minang atau social rural agrarian
settingnya mengentalkan adat berdagang dan merantau? 
Secara rata-rata ranah Minang cukup subur . Tapi mungkin karena
semua/sebagian besar merupakan harato -tuo/pusaka tinggi. Banyak lahan
tesebut sudah terlebih dahulu diusahakan para mamak atau inyiak/ mamak
dari ibu. Sehingga si kemenakan/cucu kurang mendapat kesempatan berusaha
pada lahan milik kaum. Hal ini juga sering menimbulkan konflik antara
mamak dan kemenakan. Apalagi kalau si mamak membawa semua hasil
sawah-ladang untuk anaknya tanpa memperhatikan saudara dan kemenakan
 
Disini banyak tercipta pengangguran terselubung. Keponakan yang banyak
luntang lantung dan lalok disurau, sering  menerima info mengenai rantau
dari keberhasilan para perantau yang pulang kampung.  Ini membuat
keinginannya untuk ikut merantau menjadi tumbuh.
Mereka yang merantau ini ada yang mengikuti famili yang sudah ada
diperantauan. Ini  disebut ado yang ditepati. Atau bisa juga dia nekad
sendiri keperantauan. Bagi yang nekad ini umumnya mereka terlebih dahulu
mencari mesjid atau mushalla sebagai posko. Ini karena  biasanya mereka
akan jadi muazzin untuk menyampaikan azan kalau waktu shalat sudah masuk
. Setelah bersosialisasi sesama jamaah disana.  Bisa juga mereka menjadi
Gharim dulu disana. 
 
Sehingga sebelum dapat induk semang mereka biasa numpang tidur dirumah
ibadah tsb.  Ini termasuk tunjuk ajar dari orang tua sebelum melepas
anak pergi merantau.
 
Sayang sekarang hal ini sudah mulai pudar, sama seperti kaum urban lain
para pendatang juga mulai tidur di emperan toko.
 
 
 Soalan E dan F. Berdasarkan sistem ekonomi yang berjalan ribuan tahun,
boleh tidak kita katakan bahwa, pada keseluruhannya, masyarakat Minang
berpotensikan masyarakat penghasil/producer society lebeh dari
masyarakat pengguna/consumer society? Dimana letaknya enterpreneurship
orang Minang?faktor dalam atau luaran. Nampaknya Bapak lebeh bersetuju
mengkaitkan kata 'pitih' dari kerja kepada erti dagang, merantau atau
enterpreneurship masyarakat Minang.  
 
Salah satu ajaran yang menghindari pola konsumtif adalah :
 
Kalau ado jangan dimakan, indak ado baru dimakan.  Maksudnya kita harus
selalu berhemat. Kalau memang kondisinya sudah emergency barulah "puro"
(tabungan itu dibuka). Ini berlaku untuk tabungan berupa uang yang biasa
juga dijadikan rupiah/ringgit emas atau    bahan makanan baik padi/
jagung dll. Cukup banyak kami yang  sawahnya berupa  tadah hujan dan
hanya punya musim tanam sekali dalam setahun, dimasa panen dan harga
beras agak turun , membeli beras untuk dimakan. Kemudian dimusim
paceklik barulah lumbung itu dibuka dan padinya dijadikan beras, dijual
dengan harga yang lumayan.  

Salah satu inti keMinangan yang Bapak ertikan disini ialah tanpa
identiti Islam masyarakat dan kepolitikan Minang tidak akan wujud.
Wujudnya keMinangan itu ialah dengan kehadiran Islam sebagai Cara
Hidup/Addin ul Islam.

Terima kasih dengan menjelaskan inti Minang culinary arts:pedas,
bersantan dan senang dengan isian dalam binatang.

Boleh jelaskan ma'ana dua ayat yang terbawah. Ma'af saya tidak mengerti.
 
Ungkapan makan "nan anyia"  adalah makanan yang berasal dari
daging/hewani. karena daging baunya agak anyir tidak seperti sayur yang
lebih tawar saja.
 
Jadi orang yang belum sanggup beli makanan yang berasal dari kelompok
daging, dianggap masih pra-sejahtera. Belum cukup mampu untuk beli yang
mahal.
 
Makanan urang kuntarak, adalah menu makanan dari kelas bawah (apa adanya
tanpa memperhatikan gizi dan cita rasa) karena itu untuk orang yang
kerja kontrak misalnya di tambang batu bara Sawahlunto.
Untuk makanan yang berasal dari hewani ini juga digunakan kulit bahkan
tulangnya. Namanya  tulang patah untuk campuran sambel/ cabe merah.
Disini yang berperan juga aroma hewani daging/ tulang   itu.  

Kalau ada tambahan silakan. Terima kasih daun keladi, kalau ada tambah
lagi.


"Rasyid, Taufiq (taufiqr)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:


                Khas makanan ini rasa pedas dan bersantan,  lebih banyak
berasal dari daging serta bagian dalam tubuh hewan ( jeroan, hati,
jantung, limpa,dll).  
                Sayur manis/tumis kurang dominan.
                 
                Bahkan kalau indak makan " nan anyia"  rasonyo belum di
wong-kan.
                Kecek inyiak ambo dulu samo jo makan "urang kuntarak"  (
koeli kontrak)


                





________________________________

Pinpoint customers
<http://us.rd.yahoo.com/evt=48250/*http://searchmarketing.yahoo.com/arp/
sponsoredsearch_v9.php?o=US2226&cmp=Yahoo&ctv=AprNI&s=Y&s2=EM&b=50> who
are looking for what you sell. 

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke