Assalamualaikum w.w. Dunsanak Arnoldison dan para
dunsanak lain sapalanta,

Terima kasih atas posting riwayat hidup Syekh Ahmad
Khatib, yang jelas merupakan seorang tokoh yang besar
dan luar biasa dan besar sumbangannya bagi kita semua.
Sedangkan murid-murid beliau saja sudah menjadi
tokoh-tokoh besar, apalagi beliau yang menjadi mentor
mereka. Saya sungguh tertarik untuk mengetahui
pemikiran beliau ini lebih lanjut.

Ada beberapa pertanyaan saya, yaitu apakah sudah
pernah terbit himpunan tulisan-tulisan beliau, supaya
dapat kita kaji kembali ? Apakah beliau menullis dalam
bahasa Arab atau bahasa Melayu? Kalau dalam bahasa
Arab, apa sudah ada terjemahannya ?

Terima kasih banyak
Wassalam,
Saafroedin Bahar
--- Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
SYEKH AHMAD KHATIB
Pelopor Pembaharuan Islam di Indonesia
> 
>  
> 
>             Syekh   Ahmad   Khatib   adalah  seorang
>  ulama  besar  di
>             Indonesia.  Walaupun  namanya  kurang 
> begitu  familiar di
>             telinga   kita,   peranan   beliau  
> cukup  sentral  dalam
>             perjalanan   sejarah   perjuangan  umat 
> Islam  Indonesia,
>             terutama  pada dua dasawarsa terakhir
> abad ke-19 dan 10-15
>             tahun pertama abad ke-20.
> 
>             Beliau  dilahirkan  di  Ranah  Minang, 
> tepatnya  di Bukit
>             Tinggi,  pada  tahun  1855  dari 
> keluarga  yang  berlatar
>             belakang  agama  dan adat yang kuat.
> Ayahnya seorang hakim
>             dari  golongan  Padri  yang  sangat 
> menentang  keberadaan
>             Belanda di Minangkabau.
> 
>             Masa  kecil  Ahmad  Khatib  dihabiskan 
> untuk  belajar dan
>             menuntut ilmu. Pada usia 10 tahun, ia
> masuk sekolah rendah
>             milik Belanda. Setelah lulus, ia
> melanjutkan pendidikan ke
>             sekolah  guru  atau  kweekschool  di
> Bukit Tinggi. Seperti
>             layaknya  anak-anak dari golongan Padri,
> selain belajar di
>             sekolah formal, ia juga belajar ilmu
> agama pada pada orang
>             tuanya dan guru mengaji di meunasah
> (madrasah).
> 
>             Pada  usia  21  tahun,  Ahmad  Khatib
> pergi ke Mekah untuk
>             menunaikan ibadah haji dan memperdalam
> ilmu agama. Di sana
>             ia  mendapatkan  wawasan  baru,  tidak 
> hanya  ilmu agama,
>             tetapi  juga  wawasan  tentang  kondisi 
> dunia  Islam yang
>             sedang terpuruk.
> 
>             Melalui  pertemuan dengan jama'ah haji
> dari seluruh dunia,
>             ataupun  melalui dialog dan tukar
> pikiran dengan guru-guru
>             dan   rekan-rekannya,   Ahmad   Khatib 
> mendapatkan  suatu
>             kesadaran   akan   pentingnya  
> persatuan   dan  reformasi
>             kesadaran  umat  dalam  mengubah
> keadaan. Di Mekah, beliau
>             berhasil meraih "puncak karier" sebagai
> ulama, ia diangkat
>             sebagai  imam  Madzhab  Syafi'i  di 
> Masjidil  Haram -yang
>             merupakan  kedudukan  tertinggi dalam
> otoritas mengajarkan
>             agama- dan berhak menyandang gelar
> syekh.
> 
>             Menurut  catatan  sejarah,  Syekh  Ahmad
>  Khatib merupakan
>             salah   seorang  tokoh  penting  yang 
> memelopori  gerakan
>             pembaharuan   Islam   di   Indonesia,  
> khususnya   daerah
>             Minangkabau.  Meskipun sampai akhir
> hayatnya ia tak pernah
>             kembali  ke tanah kelahirannya, ia tetap
> menjalin hubungan
>             yang intens dengan Nusantara melalui
> orang-orang Indonesia
>             yang  menunaikan  ibadah haji atau pun
> mereka yang sengaja
>             memperdalam ilmu agama di Mekah.
> 
>             Banyak  murid  Syekh  Ahmad  Khatib 
> yang kemudian menjadi
>             ulama  besar Indonesia yang memelopori
> gerakan pembaharuan
>             agama  dan  sebagai  tokoh  perlawanan 
> terhadap  Belanda.
>             Mereka  menjadi  pembaharu-pembaharu
> pertama di daerahnya,
>             seperti  Syekh  Muhammad  Djamil
> Djambek, Haji Abdul Karim
>             Amrullah  (ayah  Hamka),  dan  Haji
> Abdulllah Ahmad, serta
>             Kiai  Ahmad  Dahlan.  Sebagian  dari 
> murid-muridnya tetap
>             merupakan   pemimpin   dalam  
> lingkungan  tradisi,  Syekh
>             Sulaiman  Ar-Rasuli  dari  Cakung 
> Bukittingi, K.H. Hasjim
>             Asj'ari,  Kiai  Wahab Hasballah , dan
> Kiai Bisri Syamsuri,
>             misalnya.
> 
>             Pada  dasarnya  ada  beberapa faktor
> yang melatarbelakangi
>             corak  pemikiran Syekh ahmad Khatib.
> Pertama, ia berada di
>             tengah-tengah   meningkatnya   Islamic  
> Revivalism   yang
>             berpusat  di Mekah. Kedua, pada masa itu
> tengah berkembang
>             perasaan   anti-kolonialisme  di  dunia 
> Islam.  Posisinya
>             sebagai  Imam  Madzhab  Syafi'i  di 
> Masjidil  Haram telah
>             memungkinkan    ia   mentransmisikan  
> pemikiran-pemikiran
>             reformasi Islam kepada murid-muridnya,
> di samping tentunya
>             pengajaran ilmu-ilmu agama.
> 
>             Setidaknya  ada  dua  bidang  yang 
> menjadi  sasaran  dari
>             pemikirannnya,  yaitu  bidang
> pendidikan/akidah dan bidang
>             politik.  Dalam  bidang  akidah, Syekh
> Ahmad Khatib banyak
>             menentang  praktek-praktek  adat  dan 
> tingkah  laku  yang
>             bertentangan  dengan  ajaran  Islam, 
> terutama  di  daerah
>             Minangkabau  sebagai  tanah 
> kelahirannya.  Hal  ini dapat
>             dilihat  dari  publikasi 
> tulisan-tulisannya, di antaranya
>             tentang  salah  satu  tarekat  (Tarekat 
> Naqsabandiyah) di
>             Minangkabau   yang  banyak  bertentangan
>  dengan  syari'at
>             Islam,  selain itu tentang penolakan
> terhadap sistem waris
>             adat Minangkabau.
> 
>             Publikasi  tulisan-tulisan  tersebut 
> telah  membangkitkan
>             semangat  dan  cita-cita pembaharuan
> Islam di Minangkabau,
>             yang  kemudian merembet ke daerah-daerah
> lainnya, terutama
>             ke Pulau Jawa.
> 
>             Di  bidang  politik,  pemikiran  Syekh 
> Khatib  juga cukup
>             berpengaruh.  Menurut Haji Agus Salim,
> dalam suatu seminar
>             di  Cornel  University  (4 Maret 1953),
> Syekh Ahmad Khatib
>             adalah seseorang yang anti Belanda.
> Perasaan itu selalu ia
>             gelorakan  kepada  murid-muridnya  di 
> Mekah.  Prinsipnya,
>             "Berperang melawan penjajah adalah jihad
> di Jalan Allah."
> 
>             Kebenciannya   terhadap   Belanda  
> dapat   dilihat   pada
>             hubungannya  yang  kurang  baik  dengan 
> Snouck Hurgronje,
>             ketika  ilmuwan  dan  orientalis 
> Belanda  tersebut sedang
>             berada di Mekah pada tahun 1885.
> 
>             Melihat fakta-fakta tersebut, nyatalah
> bahwa peranan Syekh
>             Ahmad  Khatib  tidak  bisa  dianggap
> kecil. Meskipun tidak
>             terlibat   langsung   dalam  perlawanan 
> melawan  kolonial
>             Belanda,  pemikiran dan publikasi
> tulisan-tulisannya telah
>             menjadi   "katalisator"  bagi  gerakan 
> umat  Islam  dalam
>             menemukan  jati  dirinya  kembali. Pada
> tahun 1916, beliau
>             wafat di Mekah dalam usia 61 tahun.
> 
>  
> 
>            (Sumber : Majalah Percikan Iman No. 5
> Tahun I November 2000)
> 
> 
> 
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________Building
 a website is a piece of cake. Yahoo! Small Business gives you all the tools to 
get online.
http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Berhenti (unsubscribe), kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

Konfigurasi dan Webmail Mailing List: http://groups.google.com/group/RantauNet
Tapi harus mendaftar dulu di: https://www.google.com/accounts/NewAccount dengan 
email yang terdaftar di mailing list ini.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke